
Kinara menata piring-piring saji di meja makan. Semuanya sudah siap tersaji, ada pepes ayam, mie goreng, cah sayuran, dan perkedal kentang, tak lupa buah jeruk dan potongan mangga sebagai pelengkap. Selepas dari pasar, ia segera mengeksekusi hasil belanjanya dibantu oleh Ajeng.
"Wuuuaahh, Ra, ini enak banget baunya. Aku jadi lapar berat", mata Ajeng berbinar-binar melihat deretan menu di meja makan.
Krucuk....krucuk....
Terdengar suara perutnya demo minta diisi. Kinara yang mendengar suara perut Ajeng tersenyum, "Yuk, makan Jeng", ajak Kinara sambil melepas celemek yang melekat di tubuhnya. Ia baru selesai mencuci wajan dan alat memasak lainnya yang tadi digunakan.
"Seriusan nih aku boleh makan ini semua? tapi ini kan buat nyambut keluarga kamu, Ra. Aahh....aku gak enak makan duluan", kata Ajeng.
Kinara tersenyum, dia membuka lemari kitchen set dan mengeluarkan beberapa piring sedang yang isinya lauk-pauk serupa dengan yang ada di meja makan.
"Nih, aku udah pisahin lauknya khusus buat kita makan sekarang", Kinara memperlihatkan isi piring-piring itu.
Wajah Ajeng sumringah melihatnya. Tanpa menunggu instruksi, dia segera mengambil piring makan untuknya dan Kinara.
Kinara mengajak Ajeng menikmati santap siang mereka di ruang keluarga. Mereka terlihat lahap menikmati makanan itu sambil memanjakan mata menonton film detektif.
"Wiiihh....asli lho Ra, masakan kamu enak banget", Ajeng memuji sambil mulut mengunyah.
"Iihh....jangan bicara dulu, Jeng. Kunyah dulu makanannya yang betul", Kinara geli melihat beberapa nasi bececeran keluar dari mulut Ajeng.
Ajeng segera menelan makanan di mulutnya, "Sorry sorry, tapi seriusan ini enak semua, Ra. Kamu udah cocok jadi nikah, istri idaman", goda Ajeng.
Kinara mengernyitkan dahinya, "Ddiihh....apaan sih Jeng. Istri jidatmu bening", mulut Kinara mengerucut.
Ha....ha....ha.....
Ajeng tertawa lepas, "Eh beneran Ra. Kata mamaku ya, kalau perempuan itu harus bisa masak, biar nanti kalau nikah, suami gak doyan jajan di luar. Kamu udah ok nih masaknya, tinggal cari suaminya aja", lagi, Ajeng masih menggoda.
Kinara mencubit lembut paha sahabatnya itu, Ajeng mengaduh.
"Nikah itu gak segampang kelihatannya kali Jeng", Kinara menarik nafas berat. Ia kembali teringat dengan pinangan Erlangga dan Farhan. Sampai saat ini, ia belum memberikan jawaban kepada mereka.
__ADS_1
"Yeee....gak usah gloomy gitu juga kali ah mukanya", Ajeng melihat perubahan air muka Kinara. Kinara terhenyak, ia mengganti ekspresinya dengan tersenyum.
Ajeng masih asyik mengunyah makanan, sedangkan selera makan Kinara agak berkurang karena perbincangan soal menikah itu.
Tak butuh waktu lama, mereka menghabiskan semua makanan, sebagai tanda terimakasih, Ajeng yang membereskan dan mencuci semua piring kotor.
"Waaahh....kenyang aku. Semoga aja nanti nih kalau aku punya kakak ipar, dia bisa jago masak kek kamu, Ra. Biar tiap hari aku bisa makan enak", seru Ajeng sambil mengelus-elus perutnya yang terasa penuh.
Kinara tersenyum, geleng-geleng kepala. Heran dengan tingkah sahabat baiknya itu.
"Masakan mama kamu juga udah pasti enak kali, Jeng. Gak usah nunggu punya kakak ipar biar bisa makan enak", respon Kinara.
Kini mereka sudah duduk di sofa ruang keluarga, menikmati segelas jus mangga yang baru saja Kinara buat.
"Iya sih, masakan mama aku emang gak ada duanya. Cuma tuh ya Ra, aku ngebayangin aja gitu kalau punya kakak ipar kan enak, aku bisa request pingin dimasakin apa aj sama dia. Nah, kalau ke mama, hmm....suka bilang gini, makan itu jangan milih-milih Jeng", Ajeng menirukan ekspresi mamanya tiap kali Ajeng protes soal makanan.
Ha....ha....ha....
Kinara tertawa, "Ya kamu juga ngerepotin, makan aja banyak milihnya. Mending kalau masak sendiri", seloroh Kinara.
"Emangnya kenapa sih kakak kamu itu, Jeng? perasaan kalau kamu cerita soal dia, keknya gak ada bagus-bagusnya deh. Gak akur terus ya kalian ini", ujar Kinara.
"Diih....malas aku tuh Ra akur sama kakakku itu. Jadi tuh kalau aku lagi merajuk pingin makan sesuatu, dia gak ada inisiatifnya banget. Beliin kek atau apa gitu", ekspresi Ajeng terlihat kesal.
Lagi, Kinara tertawa, "Ya ampun, cuma karena gak dibeliin makanan, kamu segitu kesalnya sama kakakmu", Kinara menggelengkan kepalanya.
Ajeng mengangguk, "Nah makanya aku mikir, kalau punya kakak ipar kan enak, bisa jadi teman buat aku, bisa jajanin aku juga, bisa segalanya deh".
"Kamu kira kakak ipar itu ibu peri apa yang bisa kasih kamu segalanya? dasar, Ajeng, Ajeng", Kinara tak habis pikir mendengar celotehan Ajeng.
"Ya siapa tahu kan Ra, aku dapat kakak ipar yang kek ibu peri. Yaaahh, pada akhirnya aku cuma bisa berdo'a aja biar kakakku cepat nikah dengan perempuan yang jago masak kek kamu", wajah Ajeng penuh harap.
Kinara hanya tersenyum saja merespon kata-kata Ajeng.
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB, Ajeng berpamitan pulang tepat ketika pintu gerbang depan terbuka, nampak seseorang turun dari mobil sedan berwarna hitam, membukakan gerbang untuk memasukan mobil.
"Lho, Alisa, udah sampai sini lagi", seru Kinara. Ia terkejut melihat ada adiknya di sana. Alisa nampak tersenyum setelah membukakan pintu gerbang.
"Iya kak, nih bapak sama ibu ada di mobil juga", tunjuk Alisa.
Mobil sedan itu pun masuk ke halaman rumah. Alisa membuka pintu belakang untuk mengambil tas ranselnya bersamaan dengan bapak dan ibu yang terlihat turus bersamaan dari mobil.
"Assalamualaikum....", ucap sang ibu.
"Waalaikumusalam....", Kinara dan Ajeng menjawab salam bersamaan.
Kinara segera menghampiri ibunya, diikuti oleh Ajeng. Mereka mencium tangan ibu dan bapak.
"Ada barang yang harus Nara bantu bawa, bu, pak?", tanya Kinara.
"Itu di bagasi, ada tas baju sama oleh-oleh. Ambil ya nak", jawab bapak.
Kinara segera membuka bagasi, dibantu Ajeng, mereka membawa tas dan beberapa kantung berisi oleh-oleh khas Semarang.
"Mmm....om, tante, saya mau permisi pulang dulu ya", Ajeng membuka suara setelah membantu Kinara membawakan barang-barang ke dalam rumah.
"Lho kok pulang, tak apa main di sini aja, nak", jawab ibu.
Ajeng tersenyum, "Ajeng sudah di sini dari pagi, tante. Kalau main lagi, nanti dicariin orang rumah".
"Oh gitu. Yo wis, nak Ajeng, ini bawa pulang ya", ibu memberikan tote bag berisi makanan khas Semarang dan kain batik.
"Aduh jadi ngerepotin gini", malu-malu Ajeng menerima buah tangan itu.
"Lha, katanya tadi pagi bilang mau oleh-oleh dari Semarang", seloroh Kinara. Ajeng nyengir mendengar ucapan sahabatnya itu, malu.
"Terimakasih ya om, tante, saya pamit pulang. Ra, aku pulang ya. Alisa, kakak pulang ya", Ajeng berpamitan kepada semuanya.
__ADS_1
Semua orang di rumah mengangguk, mereka mengantar kepulangan Ajeng dengan senyuman.