
Kinara menggeliat, dia mengerjapkan kedua matanya. Diliriknya jam di dinding, pukul tiga sore.
"Hhooaamm...aku ketiduran ternyata", gumamnya pelan.
Ia segera beranjak dari tempat tidur, mengambil wudhu dan sholat ashar.
Selepas sholat, Kinara termenung lagi. Dia mengingat kedatangan Viona tadi siang.
"Tuhan, tolong jaga suamiku...", do'anya.
Kinara melirik lagi jam di kamarnya, sudah hampir pukul empat dan dia merasa heran karena suaminya belum kembali pulang.
Kinara segera menuju dapur, dia menyiapkan makan malam mereka. Berkutat hampir satu jam, opor ayam dan sambal goreng kentang sudah tersaji di meja makan.
"Hallo, mas...", Kinara membuka suara sesaat setelah panggilannya diterima.
"Ya, kenapa sayang?", tanya Erlangga.
"Mas kok belum pulang? masih ada kerjaan ya?", tanya Kinara balik.
Diujung telepon, Erlangga tersenyum. Tak biasanya istrinya menghubungi dia lebih dulu dan nampak khawatir karena dirinya belum kembali.
"Kenapa? kamu kangen?", goda Erlangga.
Pipi Kinara merona, "Bu...bukan...bukan gitu maksudku, mas. Biasanya kan jam segini kamu sudah pulang", jawabnya malu-malu.
Terdengar suara tawa kecil Erlangga, "Kalau kangen juga tak apa, sayang. Aku masih di kantor, ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan, maaf ya tak mengabarimu kalau aku pulang terlambat hari ini".
"Oh iya mas, hati-hati dan cepat pulang ya".
"Ok sayang".
Hati Kinara terasa lebih tenang saat tahu dimana suaminya saat ini.
'Hmm...sebaiknya aku mandi dulu saja. Lengket badanku', pikirnya.
Kinara asyik memanjakan dirinya di kamar mandi. Dia memilih berendam agak lama, melepaskan kepenatannya hari ini.
Ceklek
Pintu apartemen terbuka.
"Dasar ceroboh, pintu dibiarkan tak terkunci. Bagaimana jika ada orang asing masuk?", gumam Erlangga yang datang tanpa disambut Kinara.
Dia melihat ke sekeliling, tak ditemukannya sosok istri kesayangannya itu.
__ADS_1
'Kemana dia?'.
Erlangga masuk ke dalam kamar dan didengarnya gemericik suara air dari dalam kamar mandi. Kinara masih ada di dalam sana.
Erlangga tersenyum tipis, dia membuka jasnya. Melepas kemejanya dan hanya menyisakan kaos dalam serta celana panjang saja yang dia kenakan.
Erlangga menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Memeriksa beberapa email yang masuk hari ini.
Kinara tak menyadari kedatangan suaminya. Merasa sudah cukup menyegarkan diri, dia membilas tubuhnya dan mengambil handuk lalu melilitkannya di badan.
'Kalau Mas Erlangga belum pulang, aku bisa seleluasa ini', pikirnya senang.
Dia membuka pintu kamar mandi dan saat pintu itu terbuka, Erlangga menoleh. Matanya dan mata Kinara bertemu. Kinara terkejut karena suaminya ada di sana, menatapnya dengan tajam, memperhatikan dirinya dari atas sampai bawah.
Kinara berniat kembali masuk ke kamar mandi, tapi tiba-tiba sebuah tangan kekar menahan langkahnya.
Erlangga menarik tangan istrinya hingga jarak mereka begitu dekat. Wajah Kinara mulai terasa panas.
"Mau berapa lama kamu mandi, hm?", tanya Erlangga setengah berbisik. Tangan kekarnya sudah mengunci pinggang Kinara.
"Ma...ma..maaf mas, aku...aku tak tahu kalau kamu sudah di sini. A...aku kira kamu belum pulang", jawab Kinara gugup.
Jantungnya berdebar kencang. Bagaimana tidak, selama menikah, ini kali pertama dirinya terlihat seperti itu di depan suaminya. Biasanya Kinara akan membawa baju ganti setiap kali dia mandi, sehingga keluar dari kamar mandi dengan sudah berpakaian. Tapi kali ini dia tak melakukannya, karena dia kira Erlangga tak akan pulang dengan cepat.
Erlangga menyentuh rambut Kinara yang basah. Menciuminya beberapa kali.
Kinara masih menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah di dada bidang Erlangga.
Erlangga tersenyum, "Kenapa menunduk, sayang? apa kamu malu?", dia mengangkat dagu istrinya.
Terlihat wajah Kinara yang begitu merona, membuat Erlangga merasa gemas.
"Kamu menggoda...", bisik Erlangga di telinga Kinara. Ada gelenyer aneh yang tiba-tiba menyeruak saat Kinara mendengar bisikan itu.
"Dan kamu juga ceroboh, membiarkan pintu depan tak dikunci. Bagaimana kalau orang asing yang masuk dan melihatmu seperti ini?", tanya Erlangga, dia memencet lembut hidung kecil Kinara.
"Maaf, mas...", hanya itu yang bisa Kinara ucapkan.
Mata mereka saling menatap. Perlahan, kedua tangan Erlangga mulai menyentuh wajah Kinara. Mengusap lembut pipinya. Dia mengecup kening Kinara dan memagut bibir merah muda yang menggoda itu.
Akal Kinara ingin menolak, tapi entah kenapa tubuhnya menerima.
"Mmhh...mas...", desah Kinara saat bibir Erlangga ******* bibirnya.
Erlangga menciumnya dengan begitu lembut dan dalam, membuat tubuh Kinara terasa tersengat listrik dan gemetar.
__ADS_1
"Kamu sengaja ya menyambutku seperti ini, hm?".
"Ti...tidak mas. Aku...aku hanya lupa membawa baju ganti saat mandi tadi", Kinara gelagapan. Erlangga menciumnya lagi.
Perlahan tubuh mereka bergerak mendekati tempat tidur. Sedikit demi sedikit Erlangga menjatuhkan tubuh Kinara di sana dengan tak melepaskan pautan bibirnya. Kini posisi Kinara sudah terkunci. Erlangga melepaskan ciumannya.
Menyadari dirinya sudah berada di atas tempat tidur, Kinara terkejut dan panik. Dia berusaha bangun dan menghindari suaminya, tapi Erlangga sudah mengungkungnya. Menjepit kedua paha Kinara yang terbuka.
"M...ma...mas, a...aku...aku mau berpakaian dulu", pernyataan konyol.
Erlangga menyeringai, dia tak menjawab. Matanya nampak liar memandangi tubuh istrinya yang hanya berbalut handuk itu.
"M...mas, tolong lepaskan aku. A...aku...aku mau berpakaian", lagi, Kinara mengulang permintaannya.
Erlangga makin menyeringai saat tubuh Kinara bergerak, mencoba melepaskan kunciannya.
"Kenapa harus berpakaian, sayang? aku lebih suka melihatmu seperti ini. Kamu benar-benar menggoda", jawab Erlangga dengan nafas yang terlihat memburu, menahan gejolak dalam dirinya.
"Ta...tapi, mas....mmmhh", Kinara mendesah saat bibir Erlangga kembali mengunci bibirnya.
Kedua tangan mereka bersatu, saling meremas. Erlangga benar-benar tak bisa lagi menahan dirinya.
"Mas...aku mohon lepaskan aku", jerit kecil Kinara saat ada kesempatan berbicara. Tapi Erlangga tak menggubrisnya.
Bibirnya kini mulai menjelajahi leher Kinara, meninggalkan beberapa jejak di sana.
"Aaahh...mas...", desah Kinara saat merasakan hisapan yang kuat di lehernya. Ikatan handuknya mulai terlepas, menunjukkan bagian atas tubuh Kinara.
Erlangga menyunggingkan senyum kemenangan. Dia semakin menikmati momen itu, pemandangan yang indah dan desahan istrinya membuatnya semakin bergairah. Kedua tangannya kini sudah bermain-main dengan sesuatu yang sensitif milik Kinara.
Tubuh Kinara semakin terasa panas. Dia ingin sekali melawan sekuat tenaga, melepaskan genggaman tangan Erlangga di dadanya, tapi tubuhnya seolah menikmati itu.
"Sayang, bisakah kita melakukannya sekarang?", bisik Erlangga lembut. Gairahnya sudah memuncak.
Wajah Kinara yang merona itu menunjukkan kecemasan saat mendengar permintaan suaminya. Dia tahu maksdunya kemana. Tapi saat ini dia masih belum siap untuk melakukannya. Kinara menggeleng kecil.
"Kenapa? aku janji akan melakukannya pelan-pelan", bujuk Erlangga. Tapi Kinara masih menggelengkan kepalanya. Dia sudah tak bisa berkata-kata lagi. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Perasaan bersalah tiba-tiba saja menyeruak dalam hati Erlangga saat melihat wanita yang dicintainya berurai air mata karena ulahnya.
Dia segera melepaskan cengkeramannya, dan duduk di sisi tempat tidur, membiarkan Kinara bangun dan bergegas berpakaian. Kinara segera mengambil pakaiannya dan masuk ke kamar mandi.
"Ma...mas...", setelah berpakaian, Kinara segera menghampiri suaminya yang masih terduduk diam, menundukkan kepalanya di ujung tempat tidur itu.
"Aku mau membersihkan diri dulu...", jawab Erlangga pendek dan berlalu dari hadapan Kinara yang masih mematung.
__ADS_1
Entah kenapa, ada luka di hatinya melihat sikap Erlangga yang seperti itu. Tapi dia juga sadar atas sikapnya yang salah pada Erlangga. Menolak sesuatu yang sebenarnya itu adalah hak suaminya.
Air mata Kinara kembali mengalir, antara sedih dan merasa bersalah. Dia awalnya bermaksud meminta maaf, tapi...ah, sudahlah. Kinara memilih keluar dari kamar itu, mengambil alat sholatnya dan sholat maghrib di ruang tamu.