
Kinara sudah sampai di depan gerbang rumah Farhan. Ada rasa ragu untuk mengetuk gerbang itu.
"Lho, Kinara ya? kenapa berdiri di sana? ayo sini masuk, nak", suara yang tak asing bagi Kinara terdengar membukakan pintu gerbang. Bu Asri, ibunya Farhan baru saja berniat duduk di bangku teras sesaat sebelum melihat Kinara ada di balik pintu gerbang itu.
Bu Asri nampak tersenyum menyambut kedatangan Kinara.
"Assalamualaikum, maaf, bu, saya ganggu", ujar Kinara malu-malu.
"Waalaikumusalam. Ndak kok nak, ayo masuk-masuk", Bu Asri menuntun tangan Kinara dan mengajaknya duduk di bangku teras.
"Ibu buatkan minum dulu ya", kata Bu Asri, bersiap masuk ke dalam.
"Oh, tak apa bu. Jangan repot-repot saya hanya mampir sebentar kok ke sini. Saya mau memberikan ini", Kinara menahan Bu Asri dan segera mengeluarkan undangan dari dalam tasnya.
Bu Asri menerima undangan itu, ia membuka dan membacanya dengan seksama. Hati Kinara benar-benar campur aduk, menunggu respon dari Bu Asri.
'Bagaimana respon ibunya Farhan ya?' gumamnya dalam hati.
Bu Asri tersenyum, "Selamat ya nak, akhirnya kamu akan segera menikah. Ibu dan Farhan turut bahagia. In shaa Allah nanti ibu sampaikan undangan ini ke Farhan", janji Bu Asri.
Kinara mencoba tersenyum, kikuk sekali rasanya ia mendengar jawaban itu.
"Mmm...saya minta maaf ya bu tiba-tiba saya datang dan memberikan undangan ini, dan soal lamaran Farhan waktu itu....", belum selesai Kinara bicara, Bu Asri sudah memotongnya.
"Tak apa, nak, jangan dipikirkan. Ibu dan Farhan gak apa-apa kok. Namanya jodoh, yang atur kan yang di atas", Bu Asri mengusap lembut punggung tangan Kinara. Dia tahu, Kinara pasti tak enak hati dengan pernikahannya itu.
"Kalau begitu, saya pamit ya bu. Saya harap ibu dan Farhan bisa datang nanti", kata Kinara sambil mencium tangan Bu Asri..
Sebetulnya ingin sekali dia menanyakan keberadaan Farhan, karena sudah snagat lama dia tak bertemu dengan Farhan dan tak ada kabar apapun dari Farhan. Tapi Kinara sudah terlanjur tak enak hati dengan Bu Asri, ia ingin segera berlalu dari rumah itu.
Bu Asri melepas kepergian Kinara sambil tersenyum. Bu Asri segera masuk ke dalam rumah, dia menghubungi Erik untuk menyampaikan soal undangan tersebut.
**
Malam itu Farhan terlihat sibuk. Tugas magisternya benar-benar menyita waktunya. Farhan ingin segera menyelesaikan semua tugas itu karena malam ini dia pun sudah ada janji dengan Elena.
Ddrrtt...drrtt...ddrrrtt
HP Farhan bergetar, diliriknya ada nama Erik di layar.
"Hallo Rik, ada apa?", tanya Farhan to the point.
__ADS_1
"Buset Han, basa-basi dulu kenapa sih?", jawab Erik yang agak terkejut dengan respon Farhan.
"Gue lagi banyak tugas nih, deadline. Lain kali aja kalau cuma mau basa-basi", jawab Farhan ketus, mata dan tangannya masih sibuk menatap layar laptop di meja.
"Wohoo....my bro sibuk ternyata. Nih, Bukde Asri mau bicara", kata Erik lagi.
Mendengar nama ibunya disebut, Farhan menghentikan pekerjaannya sejenak. Ia rindu sekali mendengar suara wanita lembut itu.
"Hallo nak, ini ibu. Bagaimana kabarmu di sana?", terdengar lirih sekali suara ibu di balik telepon.
"Kabar Farhan baik, bu. Ibu apa kabar? maaf, Farhan jarang menghubungi ibu", kata Farhan.
Di balik HP, Bu Asri tersenyum, "Alhamdulillah kalau kamu sehat. Ibu juga sehat kok di sini. Tak apa nak, jangan pikirkan soal itu, ibu tahu kamu pasti sibuk dengan kuliahmu".
Farhan tersenyum mendengar perkataan ibunya, "Ibu selalu pengertian. Ada apa ibu meneleponku? apakah Erik tidak baik mengurus dan menjaga ibu di sana?", tanya Farhan lagi.
Bu Asri melirik ke arah Erik yang nampak asyik menikmati beragam kue kering yang tersaji di meja. Erik memang lahap kalau urusan nge-meal, apalagi jika dia ke rumah Farhan, semua sajian bukdenya pasti disikat habis.
"Bukan nak. Erik baik sekali merawat dan menjaga ibu. Ini ibu mau sampaikan undangan dari Kinara. Tadi dia ke sini, mengantarkan undangan pernikahannya satu minggu lagi", Bu Asri berusaha menata kata agar tak membuat Farhan sedih.
Farhan terdiam sejenak, dadanya tetiba saja terasa sangat sesak mendengar berita pernikahan Kinara.
'Akhirnya aku benar-benar gagal memilikimu, Ra', gumam Farhan dalam hati.
"Eh, iya bu. Maaf. Farhan masih di sini. Jadi gimana bu?", tanya Farhan terperanjat.
"Iya itu, ada undangan dari Kinara. Apa kamu akan pulang ke sini dan hadir ke pernikahan Kinara? atau ibu dan Erik saja yang mewakili?", ibu balik bertanya.
Farhan menarik nafas berat, "Farhan gak mungkin pulang, bu. Tugas Farhan banyak sekali di sini. Jika tak keberatan, ibu dan Erik beserta Paman Erwin dan Bibi Sari saja ya yang datang ke sana, mewakili Farhan juga".
Bu Asri meng-iya-kan permintaan Farhan. Sebelum telepon di akhiri, Bu Asri menyerahkan HP itu kepada Erik.
"Rik, siapkan kado pernikahan buat Kinara, ya dan please temani ibu gue ke sana", perintah Farhan.
"Siap bos. Mau beli kado apa nih?", tanya Erik.
Farhan terdiam, dia berpikir sejenak memikirkan kado yang tepat untuk Kinara.
"Beli buku catatan aja. Nanti gue kirim buku macam apa yang harus lo cari dan beli, ok?", tanya Farhan memastikan kalau Erik siap memenuhi permintaannya.
"Ck, masa kadonya buku catatan sih Han. Ini orang mau rumah tangga lho, bukan mau masuk sekolah", Erik merasa heran dengan ide kado dari Farhan.
__ADS_1
"Gak usah banyak bantah. Belum tentu juga lo nemu buku catatan yang gue mau", jawab Farhan ketus.
"Iya iya bro, gue cari itu buku catatan itu sampai ke ujung dunia sekalipun", Erik tak mau kalah.
Terdengar suara tawa Farhan di ujung sana. Tak lama, telepon itu pun di akhiri.
Farhan menempelkan punggungnya ke sandaran kursi, kedua tangannya melintang di belakang kepala, matanya menerawang jauh, memikirkan rasa sesak di hatinya.
'Aku ikut berbahagia dengan pernikahanmu, Ra. Mungkin memang sudah seharusnya aku merelakanmu dan menata hidupku sendiri', gumamnya perlahan. Tanpa Farhan sadari, air mata menetes. Hatinya terlalu berat menerima ini, tapi dia harus merelakan semuanya.
Tok...tok...tok
Terdengar suara pintu apartemen Farhan diketuk seseorang dari luar.
Lamunan Farhan buyar, dia segera menyeka air matanya, merapikan penampilannya sebentar, dan bergegas membukakan pintu.
"Hai, gute nacht", senyum manis Elena nampak di depan wajah Farhan.
"Hai, gute nacht schone frau. Come in, El. Could you waiting me there?", Farhan menyunggingkan senyumnya lengkap dengan dua lesung pipi yang membuatnya terlihat menggemaskan.
Elena tersipu dengan pujian Farhan. Ia tersenyum kembali, mengangguk dan segera duduk di tempat yang Farhan tunjuk.
"Mmm...I will go to prepare my self. But, mau minum apa, El?", tanya Farhan sebelum dia berlalu ke dalam.
Elena menggelengkan kepalanya, "No thank's, Han. Aku tunggu kamu bersiap-siap saja".
Farhan pun mengangguk, ia segera masuk kembali ke dalam kamarnya dan membiarkan Elena menunggu di ruang tamu.
Ini kali pertama Elena masuk ke apartemen Farhan. Sebetulnya agak canggung dia datang sendiri seperti ini. Tapi dia terlanjur berjanji akan menjemput Farhan ke apartemennya. Malam ini mereka akan berkunjung ke resort milik ayah Elena.
Seminggu yang lalu, Elena bercerita kepada ayahnya soal Farhan. Ayah Elena, James Morris, nampak tertarik ingin bertemu dengan teman baik anak semata wayangnya itu, oleh karenanya, ayah dan ibunya Elena sengaja mengundang Farhan untuk datang ke hotel mereka untuk mengenal Farhan dan membahas peluang kerja sama bisnis dengannya.
Elena masih memperhatikan ruang tamu di apartemen Farhan. Ruangan itu tak terlalu besar, tapi semuanya terlihat rapi dan bersih. Elena kagum, Farhan seorang laki-laki tapi dia bisa sangat apik dengan tempat tinggalnya.
Elena berjalan perlahan mendekati sebuah frame duduk yang ada disebelah TV. Di frame itu terlihat Farhan sedang memeluk seorang wanita yang sudah nampak berumur. Elena yakin itu adalah ibunya Farhan.
"I'm ready to go, El", suara Farhan yang tiba-tiba membuat Elena agak terkejut.
Ia membalikan badannya, menatap Farhan yang terlihat begitu rapi, tampan dan maskulin. Farhan mengenakan stelan semi formal, kemeja lengan panjang berwarna cream yang ia padukan dengan rompi rajut berwarna coklat tua. Rambutnya nampak kelimis dan tertata rapi, tak lupa jam tangan di pergelangan kirinya membuat tampilan Farhan nampak lebih gagah dari biasanya.
"Hei El, come on, wir gehen jetzt", lagi-lagi Farhan mengejutkan Elena yang masih terpukau dengan penampilannya.
__ADS_1
Elena mengangguk, dan mereka pun pergi bersama.
Sepanjang perjalanan Elena lebih memilih untuk diam, ada debaran aneh yang Elena rasakan di dadanya, sedangkan Farhan sibuk menata perasaannya, mencoba melupakan apa yang sudah membuat dadanya begitu sesak. Malam ini, dia ingin membuka lembaran baru yang sebenarnya, mencoba menerima kehadiran Elena di hatinya.