
"Lho, Al, bapak sama ibu kemana?", tanya Kinara setibanya dia di rumah. Suasana rumah terlihat sepi.
"Oh tadi ibu sama bapak pergi, kak. Katanya sih mau ketemu sama keluarganya Pakde Wijaya", jawab Alisa yang nampak asyik menonton TV di ruang keluarga.
"Holla Alisaaa...kita makan rujak bareng yuk", Ajeng yang baru saja masuk ke rumah Kinara langsung menghebohkan suasana.
"Nih, tadi aku beli rujak buat kita bertiga", lanjut Ajeng.
"Wah, Kak Ajeng tahu aja sih jam segini cocok makan yang segar-segar", Alisa bergegas menghampiri Ajeng.
"Aku ke kamar dulu ya sebentar. Tak apa kalau kalian yang siapkan rujaknya?", tanya Kinara sebelum berlalu.
Ajeng dan Alisa kompak menganggukkan kepalanya. Mereka berdua bergegas ke dapur untuk menyiapkan sajian rujak.
Kinara merebahkan badannya sejenak. Hari ini dia benar-benar lelah.
Ddrrtt...ddrrtt...drrttt
Gawai Kinara bergetar, ada nama Farhan di layar.
Tetiba saja Kinara merasa gugup, dia berpikir sejenak sebelum menerima telepon itu.
"Hallo...", akhirnya Kinara bersuara.
"Hallo, Ra. Apa kamu sedang sibuk?", tanya Farhan di seberang sana.
"Mmm...enggak, Han. Kenapa?".
"Bisakah malam kita bertemu? ada hal penting yang ingin aku sampaikan".
"Ok. Jam berapa? dan di mana?".
"Jam 7 malam, nanti aku jemput kamu, ya".
"Ok".
__ADS_1
Panggilan itu pun berakhir. Perasaan Kinara tak karuan setelah menerim telepon dari Farhan. Dia berpikir keras, hal penting apa yang akan Farhan sampaikan kepadanya nanti malam? apakah itu soal lamaran seperti yang bapak sampaikan? ah, Kinara larut dengan pikirannya sendiri.
"Kak, ayo keluar. Ini rujaknya udah jadi", suara Alisa terdengar dari luar pintu.
"Iya", jawab Kinara. Dia segera bergegas keluar kamar dan sejenak melupakan rasa penasarannya.
Kinara, Ajeng dan Alisa asyik menikmati rujak buah itu. Mereka menghabiskan siang bersama dengan menonton film juga.
.
Sementara itu, di rumah Pak Wijaya sudah ada Pak Prastowo, Bu Hasna dan Bu Asri. Mereka duduk bersama untuk membahas pernikahan Ajeng dan Erik juga tentang Farhan dan Kinara.
Pak Wijaya sudah menyampaikan usulannya agar dihari yang sama dengan pernikahan Erik dan Ajeng, Farhan dan Kinara juga menikah.
"Jadi, bagaimana? saya perlu pertimbangan dari keluargamu, Pras juga dari Bu Asri selaku ibu dari Farhan. Kalau saya pribadi dan keluarga, kami sangat setuju dan bahagia jika rencana ini bisa berjalan seperti apa yang diharapkan", terang Pak Wijaya.
"Saya sudah bicara dengan Kinara soal lamaran Farhan kepadanya beberapa waktu lalu. Dia memang belum memberikan jawaban apapun, mungkin karena dia masih butuh waktu untuk mempertimbangkannya. Tapi ya saya pribadi berharap besar Kinara bisa bersanding dengan Farhan, bukan begitu, bu?", Pak Prastowo melirik istrinya. Bu Hasna mengangguk tanda setuju.
"Kalau Bu Asri, bagaimana?", Bu Tria bertanya.
Pak Wijaya menghela nafas dalam, "Itulah kenapa saya meminta kita untuk bermusyawarah. Masih ada waktu tiga hari lagi dari sekarang untuk kita semua berbicara dengan Kinara dan Farhan, terutama meyakinkan mereka berdua agar siap menikah dihari yang sama dengan hari pernikahan Erik dan Ajeng".
"Saya akan coba berbicara dengan Kinara. Kalau saya lihat, sebetulnya Kinara sendiri sudah bisa membuka hati, hanya butuh waktu untuk benar-benar bisa menerima kehadiran sosok pengganti Erlangga", Bu Hasna angkat bicara.
"Nah itu dia tugas kita semua. Kalau untuk kesiapan Farhan, kami percayakan kepada Bu Asri selaku ibunya dan terkait Kinara, mohon ya Pras dan Yu Hasna bisa meyakinkan Kinara. Saya paham, bukan hal mudah baginya membuka hati dan menerima kehadiran orang baru untuk menggantikan Erlangga, tapi keluarga kami benar-benar ingin Kinara bahagia. Tidak terkungkung selamanya dengan rasa kehilangan, Erlangga pun tentu akan ikut bahagia di sana", ucapan Bu Tria mengakhiri musyawarah keluarga itu.
.
Farhan baru saja tiba di rumah. Dia mengucapkan salam, mencium tangan ibunya dan segera pergi merebahkan tubuhnya sebentar. Diliriknya jam dinding di kamar, pukul lima sore.
"Han, bisa ibu bicara sebentar?", Bu Asri mengetuk pelan pintu kamar putranya itu.
Farhan segera beranjak dari tempat tidurnya dan membukakan pintu.
"Bisa kita bicara sebentar, nak?", tanya Bu Asri lagi setelah Farhan ada di hadapannya.
__ADS_1
Farhan tersenyum dan menganggukkan kepala. Mereka duduk bersama di ruang keluarga. Bu Hasna sudah menyiapkan teh hijau dan beberapa potong kue.
"Apa yang mau ibu bicarakan?", tanya Farhan setelah dia menyeruput teh hijau miliknya.
Bu Hasna tersenyum, "Ibu tidak bisa berbasa-basi, Han. Ibu ingin menanyakan tentang rencanamu melamar Kinara. Mmm...bagaimana jika kamu dan Kinara langsung menikah saja?".
Uhuukk...uhuukk
Farhan tersedak dengan pertanyaan ibunya. Bu Hasna segera membantu menenangkan Farhan.
"Maaf, jika ibu mengejutkanmu, nak", Bu Asri merasa bersalah.
"Tak apa, bu", Farhan sudah mulai tenang.
"Tadi siang Erik pun menanyakan hal yang serupa, bu. Farhan bingung harus menjawab apa karena Farhan belum tahu apakah Kinara bisa menerima Farhan atau tidak. Pernikahan itu bukanlah hal yang mudah, terlebih bagi Kinara yang pernah mengalami kehilangan seseorang yang dicintainya, tentu butuh waktu untuk dia bisa menerima kehadiran orang baru seperti Farhan", Farhan mengungkapkan keresahannya.
Bu Hasna sudah bisa menebak apa yang akan diucapkan oleh putra kesayangannya itu.
"Iya nak, ibu pun paham tentang hal itu. Erik ternyata berpikir sama. Tadi siang ibu baru saja bertemu dengan keluarga Kinara dan keluarga Pak Wijaya, kami membahas tentang acara pernikahan Ajeng dan rencana ini, Han. Ibu pun mulanya berpikiran sama denganmu, maka dari itu ibu berbicara denganmu untuk meminta pertimbanganmu, nak. Sekiranya kamu memang belum siap, tak apa, bertunangan dulu saja", Bu Hasna menatap dalam kedua mata Farhan.
Farhan menarik nafas berat, sebenarnya di hatinya dia pun ingin sekali langsung menikahi Kinara, tapi di sisi yang lain, Farhan memikirkan juga perasaan dan keadaan Kinara.
"Bu, Farhan sebetulnya ingin sekali langsung menikahi Kinara tapi...beri Farhan waktu untuk membicarakan hal ini dengannya, ya", giliran Farhan yang menatap dalam kedua mata ibunya.
Bu Hasna menganggukkan kepala, dia mengerti posisi putranya saat ini.
Selepas perbincangan itu, Farhan bergegas membersihkan diri, sholat maghrib dan bersiap untuk pergi menjemput Kinara.
"Rapi sekali, Han. Mau kemana?", tanya Bu Asri saat Farhan keluar dari kamarnya.
Farhan tersenyum, "Malam ini Farhan ada janji dengan Kinara. Ibu do'akan Farhan ya agar semuanya berjalan dengan baik".
"Kamu selalu meminta do'a dari ibu, tentu saja ibu akan selalu mendo'akanmu. Pergilah dan bicaralah padanya. Yakinkan hatinya", pesan Bu Asri sebelum Farhan benar-benar pergi.
Sepanjang perjalanan, Farhan berusaha menenangkan dirinya. Pikirannya sibuk memilah dan memilih perkataan yang nanti akan dia sampaikan pada Kinara.
__ADS_1
"Tuhan, jika memang dia jodohku, tolong mudahkan semua ikhtiarku", do'a Farhan sebelum dia menghentikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang rumah Kinara.