
Hari ini tepat satu bulan kepergian Erlangga. Kinara nampak sibuk mengemasi beberapa barangnya di kamar. Hari ini, dia berencana untuk kembali ke apartemennya.
"Nara, apa kamu yakin mau tinggal di sana lagi?", Bu Hasna yang melihat kesibukan putrinya datang menghampiri.
Kinara masih fokus berkemas, "Iya, bu. Nara yakin untuk kembali tinggal di sana. Ibu jangan khawatir".
Bu Hasna menghirup nafas dalam, "Apa gak sebaiknya aja kamu tetap di sini, Ra? biar bagaimana pun ya ibu gak bisa untuk gak khawatir sama kamu. Terlebih nanti kamu tinggal sendirian di sana", Bu Hasna masih berusaha membujuk putrinya.
Kinara menghentikan sejenak aktivitasnya, dia memilih duduk di kasur, di samping ibunya yang sedari tadi memperhatikan dirinya yang tengah sibuk berkemas.
"Bu, Nara janji, Nara pasti akan baik-baik aja di sana. Lagi pula apartemen itu adalah peninggalan Mas Erlangga yang sengaja dia belikan untuk Nara. Sayang jika tidak ditempati", terang Kinara meyakinkan ibunya.
"Iya ibu tahu, tapi kan kamu bisa menyewakan apartemen itu atau membayar orang untuk mengurusnya. Ibu lebih tenang kalau kamu tinggal di sini", bujuk Bu Hasna lagi.
Tapi sepertinya tekad Kinara sudah bulat. Setelah ibu dan anak ini berbincang cukup panjang, akhirnya Bu Hasna mengizinkan putrinya kembali ke apartemen itu meskipun hatinya merasa begitu berat.
"Padahal bapak sudah mengizinkan ibu untuk tinggal di sini menemani kamu".
Kinara tersenyum tipis, "Tak apa bu, Nara kan sudah dewasa dan sudah terbiasa mandiri. Kasihan bapak sama Alisa kalau ibu tinggal".
Akhirnya, sesuai kesepakatan, hari ini Kinara berangkat ke apartemennya, sedangkan Bu Hasna akan kembali ke Semarang besok pagi. Rumah yang mereka tempati akan diurus oleh Mang Diman dan Bi Wati, orang yang sengaja bapak pekerjakan untuk merawat rumah itu.
"Bu, Nara mau ziarah dulu ya sebentar", Kinara izin pamit kepada ibunya setelah dia selesai berkemas.
"Mau ibu temani?", tawar Bu Hasna yang masih terlihat sibuk mengemas beberapa makanan untuk Kinara bawa ke apartemen.
Kinara menggelengkan kepalanya, "Gak usah bu, Nara gak lama kok", dia pun segera berlalu ditemani motor kesayangannya.
Hanya butuh waktu sepuluh menit saja untuk sampai ke TPU dimana Erlangga dimakamkan. Kakinya melangkah hingga sampai ke pusara suaminya.
"Assalamualaikum, mas. Mas apa kabar? semoga mas bahagia ya di sana. Maaf, lama aku tidak datang ke sini. Aku melalui hari yang sangat berat setelah kepergianmu, tapi sekarang aku sudah lebih tegar, mas. Oh ya, hari ini aku berencana untuk kembali ke apartemen kita. Pasti suasana di sana akan berbeda sekali tanpa kehadiranmu, mas. Aku akan menjaga tempat tinggal kita dengan baik, aku janji", Kinara berbincang seolah Erlangga ada di depannya.
"Mas...aku sangat merindukanmu. Maafkan aku ya mas, belum menjadi istri yang baik saat kamu masih ada. Kamu selalu membuatku bahagia dan merasa istimewa. Semua yang aku minta selalu kamu penuhi, sedangkan aku banyak mengabaikanmu", matanya mulai berkaca-kaca, rasa bersalah dan penyesalan yang dalam itu kembali hadir di benaknya.
Setelah merasa cukup meluahkan isi hatinya, Kinara berdo'a dengan khusyu, berharap do'a itu Tuhan sampai pada suami Erlangga. Tak lupa, dia menaburkan bunga di atas pusara suaminya, dan menyimpan sebuket mawar putih yang tadi sengaja dia beli di toko bunga yang tak jauh dari lokasi TPU.
"Dulu kamu yang sering memberikan buket bunga ini kepadaku. Mulai sekarang, giliranku yang membalasnya. Aku pamit pulang ya mas, nanti aku akan mengunjungimu lagi. Assalamualaikum...", Kinara tersenyum tipis, lalu mencium nisan suaminya sebelum dia benar-benar berlalu.
Setibanya di rumah, Kinara segera memesan taksi online. Bu Hasna mengantar kepergian putrinya itu sampai di pintu gerbang.
"Hati-hati ya nak, maaf ibu tidak mengantarmu ke sana. Ibu harus menunggu Mang Diman dan istrinya datang untuk ibu sampaikan tugas mereka di rumah ini", ucap Bu Hasna setelah melepas pelukannya pada Kinara.
__ADS_1
"Iya bu, tak apa. Nara berangkat ya", pamitnya sambil mencium tangan ibunya.
"Kalau ada apa-apa, segera kabari ibu, ya", pesan Bu Hasna lagi. Kinara tersenyum dan mengangguk.
Taksi online yang dipesannya pun segera melaju, menuju apartemen.
Butuh waktu hampir satu jam untuk sampai karena lalu lintas padat dan ada beberapa titik kemacetan.
Kinara kini sudah berdiri di depan pintu apartemennya. Ada rasa ragu dan berat untuk membuka pintu itu. Tapi dia segera menepisnya.
"Bismillah...", gumamnya.
Ceklek
Pintu itu pun terbuka. Udara di dalam ruangan agak pengap karena cukup lama tak ada sirkulasi. Sejenak, Kinara berdiri mematung didaun pintu, ia memperhatikan setiap jengkal ruangan itu.
Bayangan Erlangga yang biasa duduk di sofa atau menikmati hidangannya di meja makan tiba-tiba menyeruak. Kenangan Erlangga yang hampir selalu memeluk Kinara saat ia memasak pun hadir begitu saja.
Spontan, air matanya menetes lagi.
'Mas...aku pulang ke rumah kita dan sekarang aku sendirian di sini. Sepi sekali rasanya', batin Kinara.
Dia berusaha menguatkan diri, segera disekanya air mata itu dan bergegas membuka gordin dan pintu kaca yang mengarah ke balkon agar udara segar masuk ke dalam.
Kinara melangkah masuk menuju kamarnya.
Kamar bernuansa krem itu masih terlihat sama. Beberapa foto dirinya dan Erlangga masih menghiasi dinding.
Meskipun ada rasa sesak di dadanya, Kinara tetap menegarkan diri. Ia masuk, membuka lemari untuk menyimpan beberapa pakaian yang ia bawa kembali ke sana.
Baju-baju Erlangga masih tersusun rapi, begitupun dengan kemeja dan jasnya, semua masih sama seperti sebelumnya. Kinara mengambil sebuah jas yang terakhir kali dikenakan Erlangga sebelum dia pergi ke Surabaya.
Jas berwarna abu silver itu Kinara elus dan di peluknya. Samar-samar Kinara mencium bau harum suaminya. Dia semakin mengeratkan pelukannya.
"Mas...aku merindukanmu. Sungguh, aku rindu sekali..." lagi, air matanya berderai.
Kesenduan Kinara buyar sesaat setelah terdengar suara adzan dzuhur berkumandang. Dia bergegas beranjak dari tempat tidur, menyimpan kembali jas suaminya ke lemari, lalu mengambil wudhu dan melaksanakan sholat.
Selepas sholat, Kinara membuka beberapa kotak makanan yang tadi disiapkan oleh ibunya dan segera melahapnya.
Ddrrtt...ddrrtt...drrttt
__ADS_1
"Ya Jeng", Kinara menerima sebuah panggilan telepon.
"Aku sudah di depan pintu nih kak. Ayo buka".
Kinara yang sedang menikmati makan siang bergegas menuju pintu depan. Dibukanya pintu itu dan nampak Ajeng ada di sana dengan penuh senyuman.
"Lho, kok kamu ke sini, Jeng?", tanya Kinara heran.
"Iihh...kakak gak ajak adiknya masuk dulu nih", ucap Ajeng manja. Baru saja sampai tapi dia sudah ditanyai oleh Kinara.
"Oh ya, ayo masuk".
Mereka duduk berdua di sofa.
"Kamu ngapain ke sini? di jam kerja lagi", tanya Kinara setelah melirik jam di dinding, pukul satu siang.
"Ya aku nyusulin kakak lah. Kan tadi kakak yang kabari aku kalau kakak udah balik ke apartemen. Urusan kerjaan aku gak usah dipikirin kak, aku udah izin kalau hari ini aku masuk cuma setengah hari", jawab Ajeng enteng.
"Iya sih tadi aku ngabarin kamu, tapi gak berarti aku minta kamu ke sini lho".
"Jadi kakak gak suka nih aku datang?", goda Ajeng sambil memasang wajah cemberut.
"Eh bukan gitu, Jeng. Maksud aku, tadinya kan aku cuma mau kasih kabar aja, biar kalau kamu cari aku, kamu tahu aku ada di mana. Aku malah senang lihat kamu ke sini", terang Kinara dengan senyum.
"Syukurlah kalau kakak suka aku datang. Rencananya mulai hari ini aku akan tinggal di sini sama kakak, bolehkan?".
Kinara agak terkejut dengan pertanyaan Ajeng.
"Tenang aja kak, aku udah bilang kok sama papa dan mama. Mereka mengizinkan. Asalkan aku gak ngerepotin kakak. Malah mereka yang minta aku buat nemenin kakak di sini setelah tahu kakak kembali ke apartemen", Ajeng menjelaskan soal permintaannya saat menyadari keterkejutan Kinara.
"Aku belum kasih kabar ke papa sama mama kalau aku balik ke sini".
"Kata mama sih Bu Hasna yang kabari di telepon", jawab Ajeng lagi.
Kinara menganggukkan kepalanya. Ternyata ibunya yang mengabari mama dan papa mertuanya.
"Jadi...gimana kak? boleh ya aku tinggal di sini?", tanya Ajeng lagi.
"Tentu boleh, Jeng. Aku malah senang kalau kamu mau tinggal sama aku. Aku jadi punya teman. Tadi saat aku sampai dan masuk ke sini, rasanya lain sekali", jawab Kinara agak sendu.
Ajeng segera memeluk Kinara yang baginya kini lebih dari sekedar kakak ipar.
__ADS_1
"Kakak jangan sedih lagi ya, jangan merasa kesepian. Ada aku di sini. Aku pasti selalu menemani kakak", ucap Ajeng tulus. Kinara mengangguk, dia merasa damai.