Unknown Love

Unknown Love
Keputusan yang Berat


__ADS_3

Suara adzan subuh yang saling bersahutan membuyarkan keheningan di ruang perawatan Erlangga yang ada di lantai lima.


Kinara yang semenjak kemarin menjaga suaminya, masih tertidur lelap bangku samping tempat tidur pasien. Dia tak beranjak sedikit pun dari sana, satu tangannya menopang dahinya, sedang satu tangannya lagi menggenggam tangan Erlangga.


Ajeng yang bangun lebih dulu begitu terharu melihat pemandangan itu. Perlahan dia menghampiri kakak iparnya, mengusap lembut pundaknya, "Bangun kak, subuh dulu yuk".


Kinara sedikit terperanjat, genggaman tangannya melonggar. Dia mengucek matanya sebentar lalu meregangkan sejenak otot tubuhnya yang terasa kaku dan nyeri.


"Iya", jawabnya pelan.


Ajeng dan Kinara bergantian mengambil wudhu di kamar mandi yang ada dalam ruang perawatan itu. Setelahnya mereka sholat subuh bersama.


"Tuhan, terimakasih sudah menyelamatkan suamiku dari masa kritisnya, tapi sampai saat ini suamiku belum sadarkan diri. Aku mohon Tuhan, sadarkan lah dia, sembuhkan lah dia. Aku merindukannya, merindukan senyumnya. Aku mohon sehatkan dia seperti sedia kala", do'a Kinara berurai air mata.


Ajeng meng-aamiin-kan do'a kakak iparnya. Hatinya begitu terenyuh setiap kali mendengar do'a dan harapan yang selalu diucapkan Kinara pada Tuhan.


Ajeng memeluk erat tubuh Kinara yang mulai berguncang karena menahan tangis. Matanya sudah benar-benar sembab dan bengkak karena sedari hari pertama mereka sampai hingga hari ini, deraian air mata selalu hadir di wajah Kinara. Setiap kali hatinya resah dan cemas, dia berdo'a dengan sepenuh hati hingga menangis.


"Tuhan pasti mendengarkan do'a kita, kak", hibur Ajeng. Kinara hanya mengangguk kecil masih dalam pelukan Ajeng.


"Kak, nanti aku keluar dulu ya cari sarapan. Kakak mau makan apa?", tanya Ajeng sambil merapikan perlengkapan sholatnya.


"Gimana kamu aja, Jeng", jawab Kinara pendek.


Setelah langit mulai terlihat terang, Ajeng berpamitan keluar mencari sarapan pagi untuknya dan Kinara.


Sementara itu, Kinara sedang menerima telepon dari ibunya di Semarang.


"Bagaimana kondisi suamimu sekarang, Ra?", tanya Bu Hasna.


"Mas Erlangga masih belum sadar, bu. Nara takut hal buruk terjadi sama Mas Erlangga", air matanya mulai menetes lagi.


"Kamu jangan putus asa. Do'akan terus suamimu, ya. Bapak, ibu sama Alisa rencananya besok mau nengok ke sana".


"Iya bu, kalau nanti ibu mau berangkat ke sini, kabari Nara ya bu. Mohon do'anya juga buat Mas Erlangga", pinta Kinara.


"Iya Ra. Pasti ibu kabari. Soal do'a tak usah diminta, bapak, ibu sama Alisa selalu mendo'akan. Kamu yang sabar, yang kuat, ya. Jangan sampai kamu lupa makan dan kurang istirahat. Disaat seperti ini kamu harus sehat", pesan Bu Hasna.


Kinara meng-iya-kan pesan ibunya, telepon pun berakhir.


Tak lama, terdengar suara pintu terbuka, rupanya Pak Wijaya dan Bu Tria yang datang.

__ADS_1


"Kamu sendirian, Ra. Ajeng mana?", tanya Bu Tria sesaat setelah melihat di ruangan itu hanya ada Kinara dan Erlangga yang belum sadarkan diri.


"Ajeng lagi keluar ma, beli sarapan", jawab Kinara.


"Kamu pasti lelah dari semenjak kita datang kamu terus di rumah sakit. Selepas sarapan, pulang lah dulu ke hotel dengan Ajeng. Kamu harus istirahat. Biar papa sama mama yang gantian jaga Erlangga", pinta Pak Wijaya.


Kinara tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya, "Kinara di sini saja pa, ma. Di sini juga Kinara bisa kok istirahat. Kinara gak mau ninggalin Mas Erlangga", ada cairan bening yang tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya.


Bu Tria yang menyadari hal itu segera memeluk erat menantunya, "Mama tahu kamus cemas, tapi kamu jangan sedih terus. Erlangga pasti sembuh. Dia pasti tak ingin melihatmu seperti ini, ya", bujuk Bu Tria.


Kinara mengangguk pelan, mencoba menghapus air matanya.


Tak lama, Ajeng datang. Dia segera membuka dua bungkus nasi uduk yang tadi dibelinya dan membawa dua gelas teh manis hangat.


"Maaf ya Ajeng cuma beli dua sarapannya", Ajeng merasa bersalah karena tak membelikan sarapan untuk orang tuanya.


"Kalian makan yang lahap, papa sama mama tadi sudah sarapan sebelum ke sini. Ini mama bawakan camilan dan buah untuk kalian", jawab Bu Tria menunjukkan kantong keresek yang sudah sedari tadi disimpan di meja.


Kesedihan Kinara agak terobati karena ruangan itu menjadi ramai.


Pukul sembilan pagi, Dokter Andi dan seorang perawat datang ke ruangan untuk memeriksa kondisi Erlangga. Kinara memperhatikan bagaimana suaminya diperiksa dan dia menanyakan tentang keadaan suaminya yang belum sadarkan diri.


"Siang ini saya sudah menjadwalkan untuk CT scan. Kita akan melihat bagaimana kondisi luka di kepalanya. Jika ada kendala, maka kami akan segera mengambil tindakan dengan izin dari keluarga", terang Dokter Andi.


Selepas pemeriksaan, Kinara menatap dalam wajah suaminya yang masih nampak tertidur. Wajahnya agak pucat, perban masih melilit di kepalanya. Nafasnya terlihat lemah. Selang infus menempel di tangannya pun dengan beberapa alat yang menempel di tubuhnya membuat Kinara sedih melihat suaminya dalam kondisi seperti itu.


"Mas, sadarlah. Aku di sini", gumam Kinara lirih, diciumnya tangan suaminya. Dia genggam dengan erat.


Bu Tria dan Pak Wijaya terenyuh melihat pemandangan itu.


"Jeng, terus temani dan hibur kakakmu, ya", pesan Pak Wijaya.


"Iya pa", jawab Ajeng.


"Mama sama papa keluar dulu. Ada hal penting yang harus kami urus dengan Leo", kata Pak Wijaya lagi.


Ajeng hanya mengangguk. Pak Wijaya dan Bu Tria berpamitan kepada Kinara juga.


Sesampainya di lobi rumah sakit, Leo terlihat sudah menunggu di bangku dekat resepsionis.


"Selamat pagi Tuan dan Nyonya besar", sapanya. Dia segera berdiri saat melihat kedatangan Pak Wijaya dan Bu Tria.

__ADS_1


"Pagi. Bagaimana hasil penyelidikannya?", tanya Pak Wijaya. Bu Tria menyimak.


"Mari kita ke taman rumah sakit tuan, nyonya. Di sini terlalu banyak orang", saran Leo.


Mereka bertiga akhirnya memutuskan pergi ke taman. Pagi hari taman rumah sakit terlihat lengang. Mereka bertiga duduk di sebuah gazebo yang ada di sana.


"Jadi bagaimana?", tanya Bu Tria tak sabar ingin mengetahui hasil penyelidikan kecelakaan Erlangga.


"Dari hasil penyelidikan, kejadian ini murni kecelakaan, tuan, nyonya", jawab Leo.


"Oh begitu", Pak Wijaya menghela nafas dalam.


"Iya tuan. Saya dan tim dari kantor juga dari kepolisian sudah melakukan pengecekan beberapa kali, dan memang jatuhnya penyangga bangunan yang ada di proyek itu dikarenakan kondisi tanah yang tidak stabil. Jadi pihak kepolisian pun menyimpulkan ini sebagai peristiwa yang murni kecelakaan", terang Leo lagi.


"Baiklah kalau begitu. Terimakasih. Tolong kamu urus dulu semua urusan di kantor, ya", perintah Pak Wijaya.


Leo mengangguk, menundukkan badannya sebagai tanda hormat dan undur diri dari hadapan tuan dan nyonya besar.


"Sekarang kita sudah lebih tenang, ma. Kita sudah tahu bahwa semua kejadian ini murni kecelakaan. Tugas kita sekarang tinggal berdo'a yang terbaik untuk putra kita, ya", Pak Wijaya menatap Bu Tria yang duduk di sampingnya.


Sesuai jadwal, siang ini Erlangga akan menjalani pemeriksaan CT scan. Semua anggota keluarga sudah ada di sana untuk mendampingi. Tapi hanya Kinara dan Pak Wijaya yang diizinkan masuk bersama Dokter Andi.


Perawat sudah masuk membawa tubuh Erlangga yang masih belum juga siuman.


Dokter Andi mengambil beberapa gambar bagian dalam kepala Erlangga. Sekitar empat puluh lima menit mereka ada di dalam ruangan itu. Setelah selesai, Dokter Andi mengajak Pak Wijaya dan Kinara ke ruangannya dan membahas hasil CT scan tersebut.


"Sepertinya kami harus melakukan operasi lagi. Ada syaraf yang mengalami pembengkakan. Ini harus segera dilakukan tindakan karena jika tidak, syaraf ini akan akan pecah dan semakin memperburuk pendarahan di otak. Itulah kenapa Pak Erlangga masih belum siuman sampai saat ini", terang Dokter Andi sambil menunjukkan bagian kepala yang membutuhkan tindakan itu.


Mata Kinara berkaca-kaca mendengar penjelasan Dokter Andi.


"Jika itu yang terbaik, lakukan saja dok. Lakukan semuanya semaksimal yang dokter dan rumah sakit ini bisa usahakan", jawab Pak Wijaya pasti.


"Baik, pak. Kami akan berusaha melakukan yang terbaik. Pembengkakan syaraf di bagian serabut transversal retikularis ini di luar dugaan kami saat operasi pertama kemarin. Awalnya tidak ada masalah di bagian itu, tapi sepertinya pembengkakan syaraf terjadi pasca operasi", lagi, Dokter Andi menjelaskan.


"Berapa persen keberhasilan operasi kedua ini, dok?", tanya Kinara penuh kecemasan.


"Saya tidak bisa memastikan. Tapi saya dan rekan-rekan akan mengusahakan yang terbaik", jawab Dokter Andi


Setelah perbincangan itu selesai, Dokter Andi segera meminta perawat untuk menyiapkan ruang operasi.


"Percayalah, Erlangga pasti sembuh. Kita berdo'a bersama ya", Bu Tria mencoba menenangkan diri dan anak menantunya.

__ADS_1


'Ini keputusan yang berat, tapi mas, berjuanglah. Aku percaya kamu lelaki yang kuat. Aku akan tetap di sini menunggumu', bisik hati kecil Kinara. Matanya nanar melihat tubuh suaminya kembali ke ruang operasi.


__ADS_2