Unknown Love

Unknown Love
Kenapa?


__ADS_3

"Kenapa terlambat?."


Altezza membuka sedikit matanya, memergoki Kirana yang masuk diam-diam.


Dirinya hanya menutup mata, namun wanita itu begitu polosnya mengira ia tidur?


"Kau tidak menjawab pertanyaan ku." Altezza membuka mata sepenuhnya dan menatap Kirana tajam.


"Maafkan aku." Kirana mendekat dan duduk didepan Altezza dengan hati-hati, "Kau pulang dengan Jessica jadi aku terlambat."


"Apa hubungannya? Kau juga membawa mobil sendiri."


"Mobilku rusak ditengah jalan." Jawab Kirana.


"Kenapa tidak menelfonku?."


"Tidak ingin merepotkan mu."


"Darimana kau tau aku akan repot?."


Kirana mengerutkan dahinya, kenapa dia begitu cerewet?


"Aku tidak ingin menganggu mu." Ucap Kirana mengganti jawabannya.


"Baiklah." Altezza beranjak berdiri dan berbalik akan ke kamarnya.


Sudah cukup, dia tidak ingin mengatakan masalahnya maka Altezza juga tidak akan mengatakan apapun.


Tapi tetap saja, ia merasa penasaran kenapa ia menangis.


.........


Kirana menatap Altezza sembunyi-sembunyi namun tatapan nya itu diketahui oleh Altezza, "Ada apa?."


Kirana menarik nafas panjang, ia mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan Altezza.


"Aku akan bekerja lagi."


Altezza mengerutkan dahinya, "Lalu?."


"Aku tau selama ini kau berusaha menghalangiku bekerja, namun kali ini tak bisa. Aku sudah diterima bekerja dan kau juga tidak akan bisa memengaruhi keputusan itu." Ucap Kirana dengan wajah berpura-pura tegas, "Aku akan melakukan kewajiban ku berpura-pura sebagai Izumi untuk memuaskan obsesimu tapi di belakangmu aku juga harus punya kebebasan sebagai Kirana."


"Perlahan aku akan membayar hutangku dan sampai saat itu aku ingin kita bercerai." Tambah Kirana lagi.


"Baiklah." Altezza menyetujuinya dengan cepat.


"Baiklah?." Kirana mengulangi nya dengan nada tak percaya, "Hanya baiklah?."


Altezza mengangguk dan beranjak berdiri, "Lagi pula aku tak yakin kau bisa bertahan dengan pekerjaanmu itu."


Kirana mengerucutkan bibirnya menatap punggung Altezza yang perlahan menjauh.


Setelah Sarapan, Kirana pergi menuju Sekolah tempat dimana ia akan mengajar.


Awalnya ia tersenyum lebar karena ia  hanya akan menjadi guru mata pelajaran saja tapi ternyata ia juga diminta menjadi Wali kelas XI-11 dengan murid yang terkenal nakal.


Kirana memikirkan kembali ucapan Altezza ditambah lagi Sekolah memberikannya waktu untuk pulang ke rumah dan bertepatan dengan waktu mengantar bekal untuk Altezza.


"Wuah Pria itu benar-benar."


..._&_&_...


Altezza tersenyum kecil melihat Kirana datang dengan membawa bekal.

__ADS_1


Setelah meletakkan nya dimeja Kirana mendekat dengan senyum kecil, "Apa kau membutuhkan hal lain lagi, Al?."


Altezza terdiam kaku ia menatap Kirana yang bahkan cara bicara nya saja sudah mirip dengan Izumi.


"Tidak ada lagi." Balas nya kemudian mengelus rambut Kirana.


"Kalau begitu aku pergi."


"Tunggu." Ucap Altezza membuat Kirana berhenti melangkah.


"Bagaimana dengan Sekolah mu?."


Kirana menoleh dan menaikkan alisnya, "Sekolah? Al, aku ke sini sebagai Izumi."


Usai mengatakan hal itu Kirana melanjutkan langkah nya pergi meninggalkan, ia berjalan dengan penuh percaya diri dan angkuh seperti Izumi.


"Ouh bukankah ini Nyonya Al?."


Langkah Kirana terhenti ia melirik Jessica yang sepertinya akan menuju ke ruangan Altezza.


"Ah aku bertemu artis besar lagi namun sayangnya dia tak punya harga diri."


"Apa maksud kata-katamu?." Amarah Jessica mulai tersulut dan ia mendorong Kirana pelan.


Kirana memiringkan kepalanya, tersenyum mengejek, "Beberapa kali aku melihatmu ke sini, bahkan saat tidak ada pekerjaan. Jessica jika kau punya harga diri kau tidak akan mengganggu suami seseorang."


"Mengganggu? Hah? Aku tidak menganggu nya."


"Ouh benarkah? Lalu apa Al menyukai kedatangan mu itu?."


"Kirana? Benarkan? Apa kau takut aku merebutnya nya darimu?." ejek Jessica.


"Takut?." Kirana menutup mulutnya tertawa kecil, ia lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Jessica, "Aku harap kau berhasil merebutnya dariku."


Kirana menoleh menatap Altezza yang kini menghampirinya.


"Ada apa?."


"Kau ingin aku antar?." Tawar Altezza.


"Tidak perlu, aku harus mengambil mobilku setelah ini. Kau lanjutkan saja pekerjaanmu." Kirana memeluk Altezza singkat, "Sampai Jumpa."


Altezza menatap punggung nya yang semakin menjauh dengan senyum tipis, namun kemudian senyum nya luntur menyadari Jessica disampingnya, "Jika kau tidak memiliki urusan kau bisa pergi."


"Tapi Tuan Al aku disini untuk-"


"Pergi sekarang." Altezza menatap Jessica dengan penuh peringatan hingga ia pergi dengan kesal.


"Bidadari ku." Keenan keluar dari Ruangan Altezza dan mengulurkan tangannya seolah-olah ingin menggapai Jessica, "Bos kau mengusirnya?."


"Lalu apa?."


"Aish." Keenan melirik tajam Altezza namun ia tetap membukakan pintu untuk Altezza.


"Bagaimana?." Tanya Altezza.


"Apanya?." Keenan balik bertanya dengan kesal, kemudian tersadar, "Ah ini."


"Dia adik dari pendiri Kiit Food. Aku tidak tau hubungan mereka apa, tapi sepertinya tidak ada dendam." Ucap Keenan.


"Tapi kenapa dia menangis kemarin malam?."


"Aku juga tidak tau." Balas Keenan.

__ADS_1


"Maka dari itu cari tau."


"Kenapa?."


"Kenapa?." Tanya Altezza balik, "Cari tau saja."


"Baiklah, baiklah."


..._&_&_...


Kirana pulang larut malam, ia akan masuk kedalam kamarnya namun kemudian ia berhenti dan melihat cahaya lampu dari kamar Altezza.


"Kenapa pintu nya terbuka?." Kirana menuju kamar Altezza dan sedikit mengintip, ia melihat Altezza yang berdiri sambil membaca bukunya.


"Apa yang kau lakukan disana?." Altezza menoleh dan memergoki Kirana yang sedikit mengintip.


Kirana tergagap, ia menunjukkan dirinya dan tersenyum kecil pada Altezza, "Kau tidak tidur?."


"Kau baru pulang?." Tanya Altezza balik.


Kirana mengangguk, "Berkat kau."


"Masuklah." Ucap Altezza dan langsung ditolak Kirana, "Aku akan kembali ke kamarku saja."


Altezza mendekat dan menarik tangan Kirana masuk kedalam kamarnya.


"Aku tidak bisa tidur."


"Lalu?."


"Temani aku."


Kirana mengerutkan dahinya menatap Altezza lalu menghela nafas pelan, "Baiklah.'


"Kau tidur saja, aku akan membaca didekatmu." Ucap Kirana dan menjauh dari Altezza, ia melihat koleksi buka Altezza dan memegang salah satunya, "Apa aku boleh meminjamnya?."


Altezza mengangguk dan duduk bersandar di atas kasurnya dengan tangan yang masih memegang buku.


"Kau tidak tidur?."


"Jika kau duduk lebih dekat denganku, mungkin aku akan tidur."


Kirana tertawa pelan, tawa yang persis dengan Izumi, "Baiklah."


Kirana duduk di samping tempat tidur Altezza, sesekali ia akan tertawa namun melihat Altezza yang fokus membaca ia kembali mencoba menahan tawanya.


"Apa yang kau baca? Begitu lucu?." Tanya Altezza penasaran.


Kirana mengangguk, "Sangat lucu, tapi kenapa kau bisa punya buku ini?."


Altezza melihat sampul buku itu, "Sepertinya itu hadiah, aku hanya meletakkannya sembarangan."


"Kau bisa membaca dengan keras? Aku juga ingin mendengarnya." Ucap Altezza lagi.


Kirana menatap Altezza heran dan mengangguk setuju.


"Kau sangat menyebalkan, aku akan melempar mu dengan kursi ini."


"Lempar saja." Balasnya.


Tutu melempar kursi hingga meja, namun Tata yang mendapat lemparan bahkan tidak merasa sakit."


"Kenapa bisa?." Tanya Altezza dengan alis mengkerut.

__ADS_1


"Karena yang dilempar Kursi mainan." Ucap Kirana menahan tawa.


__ADS_2