Unknown Love

Unknown Love
Kejujuran


__ADS_3

Beberapa kali Farhan menarik nafas dalam sebelum dia turun dari mobilnya. Setelah cukup untuk meyakinkan diri, Farhan segera bergegas mengetuk pintu rumah Kinara. Alisa yang membukakan pintu itu.


"Eh, ini...Kak Farhan kan ya?", tanya Alisa mencoba mengingat-ingat kembali sosok lelaki yang tak asing itu.


Farhan tersenyum menunjukkan kedua lesung pipinya, "Iya. Apa bapak, ibu dan Kinara ada?".


"Ada kak. Silahkan masuk. Kakak duduk di sini dulu ya, aku panggil dulu bapak, ibu sama Kak Kinara", Alisa berlalu setelah mempersilahkan Farhan duduk di kursi ruang tamu.


Tak lama, Pak Prastowo dan Bu Hasna datang. Terlihat Bu Hasna membawa secangkir teh di nampan.


Farhan segera berdiri, menyapa dan mencium tangan kedua orang tua Kinara. Pak Prastowo dan Bu Hasna menerima kesantunan Farhan dengan ramah.


"Jadi, ada apa Han datang ke sini malam-malam?", tanya Pak Prastowo tanpa basa-basi.


"Mmm...begini pak, bu, kedatangan saya ke sini bermaksud untuk meminta izin mengajak Kinara makan malam di luar", jawab Farhan tenang.


Pak Prastowo dan Bu Hasna saling beradu tatap. Bu Hasna mengangguk pelan kepada suaminya.


"Oh begitu. Boleh, tapi jangan pulang terlalu malam, ya dan hati-hati", jawab Pak Prastowo.


"Baik, pak, bu, terimakasih".


"Sebentar ya, ibu coba cek dulu Kinara di kamarnya karena dia tidak bilang kalau dia mau kamu ajak keluar malam ini", Bu Hasna segera berdiri dan berlalu menuju ke kamar putrinya.


Pak Prastowo mempersilahkan Farhan untuk menikmati teh yang dibawakan oleh istrinya.


"Han, apa ibumu sudah berbicara tentang pernikahanmu dengan Kinara?", Pak Prastowo bertanya lagi tanpa basa-basi.


Beruntung, Farhan kali ini tidak tersedak karena dia sudah mengetahui hal itu sebelumnya dari ibunya.


"Iya, pak, sudah. Tadi sore ibu sudah menyampaikan hal itu kepada saya", jawab Farhan, dia meletakkan kembali cangkir teh di tempatnya.


"Bagaimana? apa kamu siap untuk menikahi Kinara?", pertanyaan Pak Prastowo semakin tajam.


Farhan menatap Pak Prastowo dengan penuh keyakinan.


"Jujur saja pak, kalau saya pribadi sebetulnya siap untuk menikahi Kinara karena memang tujuan saya melamar Kinara juga untuk menjadikannya istri saya. Tapi saya tidak tahu bagaimana dengan Kinara sendiri, itulah kenapa saya meminta izin mengajaknya keluar malam ini adalah untuk membahas hal tersebut, pak. Apapun keputusan Kinara nanti, saya akan menerimanya", suara Farhan terdengar mantap.


Pak Prastowo tersenyum tipis, dia senang dengan sosok Farhan. Sedari awal mengenal Farhan, Pak Prastowo berharap besar lelaki itu bisa mendampingi, menjaga dan membahagiakan putrinya.


Tak lama, Bu Hasna datang bersama dengan Kinara yang nampak cantik dan anggun dengan dress floral berlengan sesikut dan rambut tergerai ala slide-up braids. Farhan tersenyum ke arah Kinara. Kinara membalas senyuman itu dengan gugup.

__ADS_1


"Sudah siap pergi, Ra? hati-hati ya, bapak dan ibu titip Kinara ya, Han dan satu lagi, Han, yakinkan dia", ujar Pak Prastowo membuat jantung Kinara berdebar.


Farhan dan Kinara segera berpamitan dan mereka pun pergi.


Selama dalam perjalanan, suasana hening. Farhan dan Kinara memilih menyibukkan diri dengan pikirannya masing-masing. Sesekali Farhan melirik ke arah Kinara yang hanya diam, menatap keluar jendela dan sesekali menundukkan pandangannya.


"Kenapa tegang gini sih?", batin Kinara.


Entah apa yang terjadi dengan hati dan pikirannya, baru kali ini dia benar-benar merasa tidak nyaman berada di dekat Farhan. Padahal dulu, semasa kuliah, mereka berdua sering menghabiskan waktu bersama, berbincang, bercanda dan tertawa tanpa ragu. Tapi setelah Kinara menikah dan sekian lama tidak bertemu, kebersamaan mereka berdua terasa begitu kaku.


"Terimakasih kamu sudah bersedia pergi denganku malam ini", akhirnya Farhan memecahkan keheningan.


Kinara tersenyum tipis, matanya hanya melirik sebentar ke arah Farhan lalu dia memilih kembali menatap jalanan dan pemandangan malam di luar sana.


"Maaf sudah merepotkan karena kamu harus menjemputku", hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Kinara sebelum Farhan memarkirkan mobilnya di sebuah restoran.


Farhan bergegas membukakan pintu untuk Kinara dan mereka pun berjalan beriringan masuk ke dalam restoran itu.


Seorang pelayan dengan sigap segera menyambut dan mengantarkan mereka ke tempat yang sudah Farhan pesan sebelumnya.


Suasana malam ini terlihat indah. Langit dihiasi bintang, alunan biola dan piano romantis dari pengisi acara malam ini mengiringi kebersamaan Farhan dan Kinara.


Jantung Kinara berdebar, dia merasa kikuk menikmati sebuah makan malam yang terasa begitu romantis.


Farhan menatap Kinara, membuat Kinara membenamkan wajahnya karena malu. Selama ini, tak pernah Farhan menatapnya sedalam itu.


"Kinara, terimakasih kamu sudah mau aku ajak ke sini. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan, dan maaf, aku tidak bisa berbasa-basi", Farhan mulai membetulkan posisi duduknya.


Tubuh Farhan lebih tegap, tatapannya dalam, teduh, dan serius. Beberapa kali terdengar Farhan menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, Kinara bisa menebak, apa yang akan Farhan sampaikan adalah hal yang lebih dari sekedar penting.


"Permisi, tuan, nona, ini pesanannya", kedatangan dua orang pelayan sejenak membuyarkan kebekuan antara Farhan dan Kinara.


"Terimakasih", ujar Farhan kepada kedua pelayan itu yang berlalu dengan hormat.


"Sebaiknya kita makan dulu saja", Farhan mengajak Kinara untuk menikmati sajian di meja.


Suasana indah dan romantis itu terasa beku bagi Farhan dan Kinara. Mereka berusaha menenangkan hati masing-masing sambil menikmati sajian makan malamnya.


Setelah selesai, Farhan kembali menatap Kinara dengan dalam. Kali ini Kinara berusaha untuk tidak menyembunyikan pandangannya.


"Jadi, hal penting apa yang ingin kamu sampaikan, Han?", Kinara mencoba memberanikan diri untuk bertanya.

__ADS_1


Farhan tersenyum tipis, guratan lesung pipinya masih terlihat, "Mmm...aku...aku ingin melamarmu".


Deg


Jantung Kinara berdegup kencang. Degupannya berkali-kali lebih kencang daripada pertama kali saat dia mendengar hal serupa disampaikan ayahnya beberapa waktu yang lalu.


"Maaf jika caraku menyampaikan hal ini terlalu mendadak dan tidak romantis", Farhan bisa membaca perubahan air muka Kinara.


"Jujur saja, Ra. Aku sudah menyampaikan niatanku ini kepada kedua orang tuamu dan...", kalimat Farhan menggantung.


Kedua mata Kinara menatap tajam, seolah menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan oleh Farhan.


Farhan menarik nafas dalam, "Dan aku pun sudah menemui keluarga Erlangga untuk meminta izin melamarmu".


Wajah Kinara terasa panas, dia yakin wajahnya saat ini merona karena menahan debaran di dadanya.


"Aku dan ibuku sudah datang untuk melamarmu. Sekali lagi aku minta maaf jika caraku ini salah", Farhan merasa tak enak hati kepada Kinara yang masih terdiam.


Alunan melodi romantis mengalun membersamai angin malam yang menyapu lembut wajah Kinara.


Kinara mengepalkan kedua tangannya di meja, dia meremasnya sejenak. Pikirannya kalut dan hatinya pun tak karuan.


"Aku sudah mendengar hal itu dari kedua orang tuaku. Jujur saja, Han, aku sangat terkejut", jawab Kinara.


"Jadi, kamu sudah tahu tentang hal ini, Ra. Lalu, apa jawabanmu atas lamaranku?", kedua bola mata Farhan dan Kinara saling beradu.


Kinara bisa melihat besarnya kesungguhan Farhan. Tapi hatinya masih begitu berat untuk bisa memberikan jawaban.


"Kenapa kamu melamarku, Han? kamu tahukan aku ini seorang janda. Lelaki baik sepertimu berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik daripada aku. Kamu berhak mendapatkan wanita yang belum pernah terikat dengan pernikahan".


Jleb


Ucapan Kinara menusuk hati Farhan.


"Ra, aku tidak peduli dengan statusmu saat ini. Aku hanya tahu bahwa niatku baik dan aku...jujur saja, Ra, aku sangat mencintaimu. Dulu aku pernah gagal mendapatkan kesempatan untuk memilikimu, aku menerima pernikahanmu yang lalu. Tapi pertemuan kita saat ini, aku percaya Tuhan memberiku kesempatan kedua. Aku hanya ingin bisa mencintaimu dengan halal dan utuh, bisa menjaga dan mendampingimu selamanya", terang Farhan lirih.


Ucapan Farhan terasa bagai sembilu di hati Kinara. Disaat yang sama, Kinara tidak bisa membohongi dirinya sendiri, dia merasa senang dengan niat baik Farhan tapi di sisi lain, dia tidak ingin mengkhianati cinta dan kesetiaannya pada Almarhum Erlangga.


"Tapi Ra, aku tidak akan memaksamu untuk menerimaku. Bagiku, kali kedua aku menyampaikan niat baikku, itu sudah membuatku bahagia. Aku paham dengan keadaan dan posisimu saat ini, tentu bukan hal mudah bagimu menerima laki-laki lain di hati dan hidupmu, termasuk menerimaku. Jika kamu masih berat dengan semua itu, ambilah keputusan yang bisa membuatmu bahagia", lanjut Farhan.


Sembilu itu semakin menyayat-nyayat hati Kinara. Dia bisa melihat kesungguhan Farhan, bahasa cinta dari Farhan begitu menyesakkan hatinya. Kinara tahu Farhan lelaki yang sangat baik, dia yakin semua yang diucapkan Farhan tentang perasaannya adalah hal yang tidak mungkin Farhan langgar. Tapi lagi, separuh hati Kinara masih terikat dengan Erlangga. Semua kejujuran ini menjadi hal yang menyakitkan.

__ADS_1


__ADS_2