Unknown Love

Unknown Love
Cinta?


__ADS_3

Keenan kembali ke kantor setelah Kirana menyuruh nya pergi, ia masuk kedalam ruangan Altezza dan terdiam melihat barang-barang yang berserakan.


Ia melihat Altezza yang duduk di pojokan dengan tatapan kosong dan menghampirinya, "Al apa yang terjadi?."


"Izumi." Ucap Altezza pelan kemudian menatap Keenan, "Izumi akan menikah. Dia akan menikah Keenan."


Altezza menggaruk rambutnya kasar, "Dia akan menikah!."


"Lalu kenapa?." Tanya Keenan dengan suara yang kecil, "Kau juga sudah menikah, maka dia juga harus menikah. Fokus saja dengan pasangan mu."


"Altezza bahkan jika kau mendengar kabar Izumi menikah kau tidak harus menampar Kirana didepan umum." Ucap Keenan dan menyadarkan Altezza.


"Aku terlalu terbawa emosi." Balas Altezza dengan rasa bersalah.


"Sekarang Kirana dibawa oleh Alva."


Altezza bangkit berdiri, ia menghela nafas pelan dan meminta kunci mobilnya.


"Kau akan menjemput Kirana kan?." Tanya Keenan.


Altezza terdiam sejenak dan menggeleng, "Aku akan ke rumah Izumi."


Keenan menatap Altezza yang mulai menjauh dengan rasa tak percaya. Dibandingkan menenangkan Kirana, ia malah pergi menemui Izumi?.


..._&_&_...


"Kau mengatakan padaku bahwa kau tidak akan menikah namun sekarang kau menikah dan malah mempunyai suami yang dengan mudah memukul mu dan mempermalukan mu didepan umum." Ucap Alva ia kemudian melanjutkan dengan senyum sedih, "Kami menjagamu selama tiga tahun itu seperti sia-sia saja."


"Aku juga tidak akan menikah jika bukan karena terpaksa." Balas Kirana.


Alva mengetuk jarinya dan menatap Kirana dalam, "Aku sudah dengar keadaanmu saat itu, tapi untuk menikah? Kirana apa benar-benar tidak ada jalan keluar?."


"Kau menyukainya bukan makanya kau menikahinya?."


Kirana menggenggam kuat tangannya lalu tersenyum tipis, "Mungkin, sedikit."


"Berapa banyak orang yang kusukai, pada akhirnya kau menyukai yang buruk. Sebagai sahabatmu aku tidak bisa untuk tidak kasihan pada dirimu." Balas Alva, ia mengalihkan pandangannya dan menghela nafas pelan, "Maaf aku tadi agak marah."


Kirana mengangguk memahami, "Aku sangat tau sifat mu. Orang yang kusukai selama 3 tahun, ucapannya selalu berbisa."


"Suka?." Alva terdiam sejenak, "Benar, suka. Kau hanya menyukai pria itu sekarang dan itu pasti karena banyak wanita yang menyukainya. Seperti aku dulu bukan?."


Kirana mengangguk, "Bukankah dulu aku terlalu aneh?."


"Kau memang aneh, tapi tetap saja banyak yang menyukaimu. Kau terlalu banyak disukai hingga kau memilih orang yang tak menyukaimu." Balas Alva.


Kirana memutar gelas nya, "Apakah aku salah? Rasa suka itu datang begitu saja."


"Tapi kau adalah orang yang lebih mementingkan logika daripada rasa."


Kirana terdiam, dirinya adalah orang yang paling rasional. Bahkan saat menyukai Alva dan Satria ia juga dapat dengan mudah melepas keduanya.

__ADS_1


Tapi Altezza? Bahkan berapa kali pun disakiti, Kirana tak benar-benar bisa membencinya. Karena ketika ingin berpisah ada rasa tak rela didalam hatinya.


Apa itu Cinta? Sesuatu yang melebihi rasa suka?


Cinta yang buta hingga tak memakai logika.


"Aku terlalu lelah saat itu, banyak masalah yang datang hingga aku tak ingin berpikir lagi."


Alva menggenggam tangan Kirana namun tiba-tiba seorang wanita datang dengan wajah marah, membuat Alva melepaskan tangannya.


"Alva kau bilang kau akan ke Kantor. Tapi lihat sekarang kau- kau." Wanita itu menunjuk Kirana dan Alva secara bergantian, wajahnya merengut sedih dan berbalik pergi.


"Maaf Kirana, aku harus-"


"Istrimu?." Tanya Kirana dan diangguki Alva.


"Dia seperti seorang bocah, aku harus membujuknya."


"Kau kejar saja dia." Ucap Kirana.


Alva pergi meninggalkan Kirana sendiri, ia menatap banyak kue didepannya lalu tersenyum kecil.


Saat mood nya tidak bagus maka yang akan ia lalukan adalah makan yang banyak.


Kirana tak berhenti memasukkan kue itu kedalam mulutnya, ia teringat ketika Altezza menamparnya.


Duarrr


Kirana menangis dan menunduk dalam, "Aku begitu bodoh, bagaimana aku bisa mencintai dia??."


Waktu berlalu begitu cepat, matahari sudah tenggelam namun hujan tak juga reda.


Orang-orang sudah mulai meninggalkan cafe hingga hanya tinggal Kirana disana.


Kirana memegang Hp nya, ia tidak tau ingin menghubungi siapa.


Altezza tak peduli kepadanya, membuat dirinya merasa terbuang. Hingga orang yang peduli padanya tak lagi ia hiraukan.


"Maaf, Nona setengah jam lagi kami harus tutup." Ucap pelayan cafe.


"Aku pesan Americano, jika kalian akan tutup katakan saja padaku." ucap Kirana.


"Baik."


Tak lama setelah pelayan itu pergi, ia kembali dan memberikan segelas Americano pada Kirana.


Kirana meminumnya lalu menjelirkan lidahnya, "Sangat pahit."


"Kau tau itu memang pahit tapi tetap membelinya."


Kirana mengangkat wajahnya menatap Ravindra yang kini duduk didepannya, "Aku menghubungimu tapi kau tak menjawabnya."

__ADS_1


Kirana membulatkan matanya lalu mengecek Hpnya, "Maaf Hp ku dalam mode pesawat. Aku juga lupa bahwa aku ada janji denganmu."


"Tidak apa, lagipula Liam tiba-tiba demam dan aku juga punya pekerjaan. Aku hanya khawatir karena kau tidak ada kabar." Ucap Ravindra kemudian memiringkan kepalanya menatap Pipi Kirana yang merah, "Ada apa dengan pipimu?."


"Tidak ada apa-apa."


"Kau tak ingin menjawab tak apa, tapi malam ini kau mau menginap di rumah ku? Sekalian menjaga Liam."


"Tentu saja." Jawab Kirana semangat.


....


Kirana menyandarkan kepalanya ke kaca mobil dan menatap hujan yang terus turun.


"Kirana Altezza baik padamu bukan?."


"Em." Kirana bergumam dan menoleh pada Ravindra, "Dia baik- Tapi hanya saat aku menjadi Izumi." lanjutnya dalam hati.


"Jika kau memiliki masalah jangan sungkan mengatakan nya padaku."


Kirana tertawa kecil, "Kau juga mengatakan itu sebelumnya. Tenang saja aku tidak akan sungkan padamu."


"Kau harus berjanji."


Kirana menatap Ravindra dengan senyum tipis dan mengangguk, "Setelah ini aku tidak akan sungkan padamu. Sungguh Ravindra."


"Aku tak sabar menjadi repot karena mu."


Ravindra dan Kirana tertawa bersama, setidaknya walau hari spesial nya dipenuhi kesedihan tetap saja ada kebahagiaan didalam nya walau agak terpaksa.


..._&_&_...


Altezza pulang dengan keadaan kacau, ia mabuk dan emosi nya tak stabil.


Hal pertama yang ia lakukan setelah masuk ke dalam rumah adalah mencari Kirana.


"KIRANA."


"KIRANA."


Ia berteriak memanggil Kirana kemudian membuka pintu kamar Kirana.


Mendapati kamar itu kosong ia berteriak lagi namun tak ada jawaban.


Kirana tak ada di rumah.


Altezza mengambil Hpnya dan menghubungi Kirana namun berapa kali pun ia menghubungi Kirana tak menjawabnya.


"Si*l." Altezza membanting Hpnya, Kirana wanita yang bertugas menggantikan Izumi agar terus di samping nya kini tak ada.


Ia lalu berjalan ke kamarnya dengan langkah gontai namun sebelum sampai di kamarnya ia terjatuh dan tidur di lantai.

__ADS_1


__ADS_2