
"Sayang, aku berangkat dulu ya. Selama aku pergi, berhati-hatilah di rumah. Kalau ada apa-apa jangan sungkan datang ke rumah mama. Ajeng sudah aku minta untuk selalu membantu dan menjagamu. Pastikan HP-mu selalu aktif agar mudah ku hubungi", pesan Erlangga sebelum tubuhnya masuk ke dalam mobil.
"Iya mas, aku akan baik-baik saja di sini. Kamu hati-hati ya, jaga makan, istirahat dan sholatmu selama di sana. Kabari aku jika kamu sudah sampai Surabaya", jawab Kinara sebelum mencium tangan suaminya.
Erlangga tersenyum, ia kecup mesra kening istrinya. Meninggalkan Kinara yang mengiringi kepergiannya dengan lambaian tangan.
Kinara segera masuk ke dalam rumah. Ada sedikit kehampaan di hatinya melihat suaminya pergi untuk waktu yang cukup lama.
'Baru saja kamu pergi, mas, aku sudah merasa kesepian begini. Apa aku sudah mulai mencintaimu?', batin Kinara sendiri.
**
Keesokan harinya Kinara sudah kembali beraktivitas di sekolah. Ia disambut dengan banyak ucapan selamat dari para orang tua siswa dan mendapatkan banyak kado pernikahan. Kinara merasa senang menerima itu semua.
"Bu Nara, minggu depan kita akan mengadakan acara Hari Ayah di sekolah. Siang ini selepas mengajar, kita rapat dewan guru, ya untuk persiapan acara itu", kata Bu Rosa ketika ia berpapasan dengan Kinara yang hendak masuk ke ruang kelas.
"Baik, bu", jawab Kinara pendek.
Kinara menjalani sepanjang hari ini dengan ceria di sekolahnya. Ia lihat jam di tangannya, 10.30 WIB. Ada jeda istirahat, dia sempatkan menghubungi suaminya.
Kinara mencoba menelepon nomor suaminya, tapi tak ada jawaban.
'Mungkin dia sibuk sampai lupa untuk menghubungiku', gumamnya sendiri. Ada keresahan di hati Kinara karena sedari kemarin suaminya belum juga memberikan kabar.
Akhirnya Kinara memutuskan untuk mengirimkan pesan pendek kepada Erlangga.
Me:
Mas, kenapa kamu belum mengabariku dari kemarin? aku khawatir, mas 😔 apa kamu baik-baik saja di sana? tolong hubungi aku atau jawab pesanku.
Ia harap suaminya akan segera membaca pesan dan membalas teleponnya.
__ADS_1
Hari ini Kinara pulang terlambat, jam lima sore dia baru mendaratkan dirinya di rumah.
"Huufftt...lelah juga ternyata, baru cuti beberapa hari begitu masuk serasa harus adaptasi lagi", keluhnya sambil menghempaskan diri di atas sofa ruang keluarga.
Ia tengok HP-nya, masih belum ada balasan pesan atau pun panggilan dari Erlangga.
Ddrrtt...ddrrtt...drrtt
HP Kinara bergetar, dengan cepat Kinara mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
"Hallo mas, kenapa kamu baru sekarang menghubungiku? apa kamu baik-baik saja? aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu di sana, kamu jahat", berondong Kinara sesaat setelah dia mengangkat panggilan yang masuk ke HP-nya.
"Maaf, aku Farhan", terdengar suara yang tak asing lagi bagi Kinara.
Deg...
Jantung Kinara berdegup. Ia lihat layar ponselnya, memang nama Farhan yang tertera di sana.
Farhan menelan salivanya di balik ponsel. Ia tak menyangka Kinara sudah benar-benar melupakannya.
"Tak apa. Maaf sudah membuatmu kecewa", kata Farhan lagi.
Kinara terdiam sejenak, ia masih berusaha meyakinkan dirinya jika benar yang menghubunginya ini adalah Farhan. Teman baiknya yang hampir setahun terakhir hilang begitu saja dan tak bisa dihubungi.
"Apa kabar, Han?", tanya Kinara kikuk. Dia seperti berbicara dengan orang asing.
"Kabarku baik, bagaimana kabarmu dan kabar suamimu?", tanya Farhan balik.
Kinara menggigit bibir bawahnya, "Mmm...kabar kami baik. Aku terkejut setelah sekian lama kamu gak bisa aku hubungi, sekarang kamu meneleponku. Maaf soal yang tadi, aku kira Mas Erlangga yang meneleponku", jawab Kinara jujur.
Ada raut kekecewaan di wajah Farhan atas jawaban Kinara.
__ADS_1
"Maaf sudah membuatmu kecewa. Apa kamu tak suka aku menghubungimu seperti ini?", tanya Farhan lagi.
"Oh, enggak Han. Bukan begitu maksudku. Aku tadi ceroboh gak lihat panggilan di HP. Sedari kemarin suamiku belum mengabariku, dia pergi ke Surabaya dan aku khawatir, itu saja", jawab Kinara merasa tak enak dengan prasangka Farhan kepadanya.
'Suami? dia sudah memanggil laki-laki itu dengan sebutan suami. Mungkin kamu sudah benar-benar mencintai dan menerima kehadirannya di hidupmu, Ra', pikir Farhan tak terkatakan.
"Han, sebetulnya selama ini kamu kemana sih? terakhir kali kita ketemu waktu aku ujian sidang dulu. Selepas itu kamu pergi tak ada kabar kepadaku. Aku coba menghubungimu berkali-kali, tak pernah ada respon. Kamu gak ada saat wisuda, bahkan dihari pernikahanku pun kamu tak datang", Kinara meluapkan unek-uneknya selama ini kepada Farhan.
Farhan terdiam mendengar ucapan Kinara. Dia bisa merasakan ada getar kesedihan, kemarahan dan kekecewaan dalam ucapan Kinara.
"Apa kamu marah sama aku? apa karena aku tak menjawab lamaranmu lalu kamu bersikap seperti itu kepadaku? apa sekarang kamu membenciku karena aku sudah menikah dengan laki-laki lain?", lagi, Kinara memberondong Farhan dengan pertanyaan yang menyesakkan hatinya sendiri.
Buliran bening dari mata indahnya mulai menetes. Dia sendiri kesal kepada Farhan yang hilang tanpa kabar, tapi disisi yang lain, dia merasa senang akhirnya setelah sekian lama Farhan menghubunginya.
Farhan bisa mendengar suara isakan kecil tangisan Kinara di ujung sana. Hatinya tetiba saja merasa begitu bersalah kepada Kinara.
"Ra, please, jangan nangis. Aku minta maaf karena sudah pergi dan tak mengabarimu. Aku tak pernah marah atau membencimu, percayalah. Aku hanya ingin kamu bahagia dengan utuh, itu saja", jawab Farhan.
Kinara masih terisak, tetesan air mata kini berubah menjadi tangisan. Ia tak tahu kenapa hatinya merasa sekacau ini saat Farhan menghubunginya.
"Ka...kamu jahat, Han. Kalau kamu mau aku bahagia, tak seharusnya kamu bersikap seperti kemarin-kemarin itu kepadaku", Kinara masih terisak.
"Aku minta maaf jika caraku ternyata melukai perasaanmu. Aku mohon, berhentilah menangis, aku tak mau mendengarmu terisak seperti itu", pinta Farhan. Sedari dulu dia memang tak bisa melihat Kinara kesulitan apalagi sampai bersedih seperti ini, terlebih Kinara menangis karena perbuatannya.
"Aku akan berhenti menangis, tapi berjanjilah kamu tak akan mengacuhkanku lagi", Kinara menghapus deraian air matanya dan mencoba berbicara dengan lebih tenang.
Farhan menarik nafas dalam, ia tak tahu harus memenuhi permintaan Kinara atau tidak.
"Aku tak pernah mengacuhkanmu sedikit pun. Aku hanya tak ingin keberadaanku mengusik kebahagiaanmu. Aku akan selalu ada untukmu, percayalah", kalimat Farhan mengguratkan senyuman di wajah Kinara.
"Aku senang mendengarnya. Terimakasih ya Han. Kamu selalu menjadi teman terbaikku", jawab Kinara.
__ADS_1
Ada rasa pilu di hati Farhan mendengar perkataan Kinara yang ternyata masih menganggapnya tak lebih dari sekedar teman baik. Tapi Farhan tahu diri, keadaanya sekarang sudah berbeda. Kinara sudah menjadi milik sah Erlangga, dan tak seharusnya dia berharap lebih kepada Kinara.