Unknown Love

Unknown Love
Elena Morris


__ADS_3

"Sorry, I'm late", sosok itu terlihat terburu-buru menarik punggung kursi yang ada di depannya.


"Never mind, El", jawab lelaki berkemeja warna coklat muda yang sedari tadi nampak sudah duduk di sana.


"Aku sudah memesankan makanan untuk kita. Tak apa jika aku yang memilihkan menu untukmu juga?", lelaki itu membuka perbincangan mereka.


Perempuan berpostur tinggi, berambut hitam panjang dengan kulit putih dan mata berwarna coklat itu tersenyum mendengar pertanyaan lelaki yang tengah menunggu jawabannya.


"Oh, come on Farhan. It's ok. Aku pasti suka apapun makanan yang kamu pilihkan", jawabnya dengan penuh senyuman.


Farhan senang mendengar jawaban itu.


Tak terasa, sudah enam bulan lamanya Farhan menjalani hidup di Jerman.


Perempuan yang kini ada di depannya adalah Elena Morris. Teman kuliah Farhan.


Elena adalah pribadi yang cerdas, supel dan periang. Ia tak segan memperkenalkan diri terlebih dahulu kepada Farhan saat mereka pertama kali bertemu di kelas.


Elena pun fasih berbahasa Indonesia. Dia wanita Jerman yang memiliki ibu orang asli Indonesia, bahkan Elena pernah menghabiskan masa kecilnya di Indonesia. Itulah kenapa, dia sangat cepat akrab dengan Farhan.


"Hei, I think you're smart man. This place so comfort and friendly for us", ujar Elena. Sedari duduk tadi dia menatap ke seantero restoran yang menjadi tempatnya menghabiskan makan malam bersama Farhan.


Farhan tersenyum mendengar pujian dari Elena.


"You're successed make me flattered, El. Hmm...kamu orang sini, El, tentunya tempat ini sudah tak asing lagi bagimu, bukan?", Farhan ikut mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru restoran itu. Ia pun terkesan dengan penataan dan dekorasi yang ada di dalamnya.


Tempat itu bernama Buschbeck's Restaurant, lokasinya ada di pusat keramaian Kota Berlin, tak jauh dari apartemen tempat tinggal Farhan. Tempatnya memang tak terlalu besar untuk ukuran sebuah restoran, tapi suasana di dalam restoran ini sangat nyaman dan hangat. Beberapa meja juga ada yang ditata di luar restoran. Suasana malam di Kota Berlin sangat indah, apalagi sekarang musim panas, udara terasa lebih nyaman dinikmati disaat malam.


Tak lama, seseorang datang mengantarkan makananan yang sudah dipesan oleh Farhan.

__ADS_1


"Sorry, this your ordered", pria bertubuh tegap dengan senyum ramah menata satu per satu pesanan Farhan di meja.


"Danke, sir", Farhan menganggukan kepalanya sedikit sesaat setelah semua pesanannya tersaji.


"Danke nochmal, genieben", pria itu menjawabnya dan berlalu.


"Wow, sekarang kamu sudah fasih ya berbahasa Jerman dan dialeknya pun sudaj cukup bagus", puji Elena lagi.


Farhan hanya menjawabnya dengan menyunggingkan senyuman, "Let's try this foods".


Elena dan Farhan nampak menikmati hidangan mereka. Mereka terlihat berbincangan dengan sangat akrab dan dekat, sesekali mereka tertawa bersama dan saling memuji.


***


Sementara itu, di Indonesia, Kinara terlihat sibuk memilah-milah undangan yang akan dia sebarkan. Semua undangan itu sudah dia kelompokkan berdasarkan tujuannya.


Kinara tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya, "Udah semua kok Al".


Alisa pun berlalu dari balik pintu kamar Kinara.


Kinara menghempaskan tubuhnya di kasur. Ia benar-benar merasa lelah sekali dengan semua ini.


Dua bulan lalu dia sudah wisuda, setelah itu dia semakin disibukan dengan berbagai persiapan pernikahannya, dan satu minggu dari sekarang dia akan menikah, meresmikan dirinya menjadi istri dari Erlangga Pratama Wijaya.


Kinara beranjak dari rebahannya, dia mendekati lagi tumpukan undangan pernikahannya, dicarinya nama Farhan.


Ia menatap lekat undangan itu, "Kamu itu kemana sih Han? terakhir kita ketemu pas aku sidang, itupun kamu hilang dan gak ada kabar sampai sekarang. Saat wisuda pun, kamu gak ada. Apa kamu marah karena aku tidak juga memberikan kepastian?", gumam Kinara. Ia merasa bersalah dengan sikapnya sendiri yang memilih tidak menjawab pinangan Farhan, tapi dia justru menjalani semuanya dengan Erlangga.


***

__ADS_1


"Aku feel full sekali", seru Elena sambil mengelus-elus perutnya. Ia benar-benar merasa kenyang dengan menu yang dinikmatinya malam ini.


"Syukurlah kalau kamu kenyang. Tak sia-sia aku memesan semua makanan ini", respon Farhan sesaat sebelum dia menyeruput teh miliknya.


"Yes, apalagi ini kamu yang traktir. Ich habe gluck, danke", Elena tersenyum senang.


Farhan membalas senyuman itu. Entah kenapa, Farhan merasa nyaman ada di dekat Elena, begitu pun dengan Elena. Dia tak tahu sejak kapan, tadi kebersamaannya selama ini dengan Farhan, menghadirkan banyak kekaguman.


"Do you know, Farhan. Kamu lelaki yang sangat baik dan cerdas. Aku belum tahu banyak tentangmu tapi...mmm...Ich mag dich", Elena menatap Farhan dengan lekatnya.


Farhan terdiam sejenak, ia menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.


"Danke, El, sudah menyukaiku. Aku pun menyukaimu. Sejauh ini kamu adalah teman yang baik, aku merasa nyaman kita seperti ini", jawaban Farhan membuat Elena merasa agak kecewa.


'Hmm...I just a best friend for him?', Elena berharap Farhan bisa membuka hatinya lebih dari itu, tak hanya menganggapnya sebagai teman baik saja. Tapi mungkin butuh waktu yang lebih lama untuk bisa menyentuh hati Farhan, dan kedekatan mereka selama ini memang masih terlalu singkat untuk bisa lebih dalam menjalin sebuah hubungan.


Elena menarik tubuhnya ke depan, matanya beradu dengan mata Farhan.


"It's ok, Han. Aku juga senang bisa berteman baik denganmu", Elena berusaha merespon Farhan dengan menekan perasaannya.


Perbincangan mereka pun berlanjut. Farhan mulai membicarakan beberapa tugas kuliah dan beberapa proyek kerja sama dengan Elena.


Keluarga Elena adalah keluarga pengusaha. Ayahnya memiliki sebuah hotel mewah dan ibunya adalah seorang pemilik butik ternama di Kota Berlin.


Elena lahir dari keluarga yang serba berkecukupan, tapi kesederhanaannya membuat sosok Elena begitu disukai banyak orang, termasuk Farhan. Tapi sayang, sejauh ini Farhan menyukai Elena masih sebagai seorang teman.


Farhan memang mencoba memulai dan menata kembali hidupnya di Jerman, tapi ia tidak bisa memungkiri, setengah bagian hatinya masih tersemat di Indonesia.


'Bukan aku tak paham maksudmu, El. Aku tahu kamu wanita yang baik dan luar biasa. Tapi kehadiranmu belum bisa menggesernya dari hati dan ingatanku sepenuhnya', batin Farhan.

__ADS_1


__ADS_2