Unknown Love

Unknown Love
Tatapan Mata


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Bu Asri sudah nampak sibuk. Di bawanya keranjang belanjaan yang biasa digunakannya ke pasar.


"Ibu mau kemana pagi-pagi begini?", tanya Farhan yang tengah berolah raga di teras depan.


"Ibu mau ke pasar dulu, Han. Belanja untuk pesanan catering nanti sore", jawab Bu Asri yang sudah mengenakan sandalnya.


"Farhan ikut bu", seru Farhan cepat. Dia segera menghentikan olahraganya, diambilnya handuk kecil untuk menyeka keringat yang bercucuran di dahi.


"Lho, kamu kan lagi olah raga, Han. Tak apa, ibu bisa pergi sendiri kok. Lagi pula akhir pekan begini baiknya kamu gunakan untuk istirahat saja", saran Bu Asri.


Farhan menenggak cepat air putih yang sudah disiapkannya sebelum berolah raga, "Ibu tunggu dulu di sini, Farhan bersih-bersih sebentar, ya. Pokoknya Farhan mau menemani ibu ke pasar".


Bu Asri hanya tersenyum melihat putra semata wayangnya itu berlalu ke dalam rumah.


Lima belas menit kemudian Farhan sudah nampak rapi dan wangi. Stelan kaos lengan panjang berwarna hitam dengan celan jeans biru membuat tampilannya semakin sempurna.


"Anak ibu nih, mau ke pasar aja gantengnya minta ampun", puji Bu Astri saat melihat penampilan Farhan yang begitu rapi.


"Ibu bisa aja. Anak siapa dulu dong?", Farhan menggoda ibunya.


Bu Asri tersenyum, "Udah ah bercandanya. Ayo berangkat sekarang biar gak terlalu siang", ajak Bu Asri.


Farhan mengangguk dan segera mengeluarkan mobilnya.


Tak lama, Farhan dan Bu Asri sudah sampai di pasar. Seperti biasa, Farhan selalu siap dan sigap membawakan keranjang dan keresek belanjaan ibunya.


"Pesan cateringnya apa bu?", tanya Farhan saat sang ibu nampak sibuk memilah dan memilih daging sapi.


"Ini lho, yang pesan mau dibuatkan bistik, capcay, sambal goreng kentang dan pepesan", jawab Bu Asri tanpa mengalihkan pandangan matanya.


"Oh...", jawab Farhan pendek. Dia setia menunggui ibunya setiap kali berhenti di stand pedagang.


"Bu, Farhan mau beli jeruk dan semangka ya, di sana", tunjuk Farhan ke stand penjual buah.


"Boleh. Ibu mau ke pedagang sayuran dulu ya nak. Di sana, nanti kalau sudah, kamu bisa susul ibu ke sana", jawab Bu Asri. Farhan mengangguk dan segera berlalu, berpisah dengan ibunya.


"Aduh, ibu, maaf, saya gak sengaja", seseorang baru saja menyenggol tangan Bu Asri yang sedang memilih kentang, membuat kentang di dalam keranjang berjatuhan.


"Oh, gak apa-apa, nak", jawab Bu Astri. Dia segera membungkukan badannya, bermaksud memunguti kentang yang jatuh tadi.


"Maaf ya bu, biar saya saja yang ambil, bu", tawar orang yang tadi menyenggol tangan Bu Asri, dengan cepat orang itu memunguti kentang yang berserakan.


"Ini bu, kentangnya, sekali lagi ma...af", kalimat akhirnya menggantung karena orang itu terkejut melihat sosok perempuan yang tadi tak sengaja disenggolnya itu.

__ADS_1


"Bu Asri? ini Bu Asri kan? ibunya Farhan", matanya membelalak dan segera mencium tangan wanita paruh baya di depannya.


"Iya nak, ini ibu. Lama ya kita tidak bertemu. Gak nyangka kita bisa bertemu di sini", ucap Bu Asri setelah Kinara mencium punggung tangannya.


"Iya bu. Ibu lagi belanja? sendirian?", tanya Kinara melihat sekitar Bu Asri, tak ada siapapun.


"Iya nak. Biasalah, ada pesanan catering. Ibu ke sini ditemani...", belum seleai Bu Asri bicara, Farhan sudah datang menghampirinya.


"Bu, lihat, aku dapat buah jeruk yang sangat manis", serunya tanpa memperhatikan orang yang berdiri di samping ibunya.


"Farhan?", suara yang tak asing di telinga Farhan tiba-tiba saja mengejutkannya.


"Kinara?", seru Farhan lirih.


Mata mereka saling beradu, seolah tak percaya mereka berdua bisa bertemu lagi setelah sekian lama tak saling mengabari.


Bu Asri memperhatikan Kinara dan putranya.


"Sudah toh saling tatapnya", ujar Bu Asri membuyarkan keterkejutan Farhan dan Kinara. Bu Asri kembali sibuk memilih sayuran dan berbagai macam bumbu dapur yang akan dibelinya. Dia membiarkan Kinara dan Farhan untuk berbincang.


Farhan nampak kikuk, begitu pun dengan Kinara, wajahnya memerah.


"Apa kabar?", tanya Kinara mencoba menetralisasi keterkejutannya.


"Kabarku juga baik. Lama ya kita gak ketemu", Kinara nampak begitu canggung.


Deg deg deg


Entah kenapa degup jantung Kinara terasa begitu cepat sesaat setelah matanya beradu dengan mata Farhan.


'Perasaan apa ini?', batinnya sendiri.


"Oh ya, bagaimana kabar suamimu, Ra?", tanya Farhan, membuat Kinara terhenyak dari pikirannya.


"Oh suamiku, kabarnya baik", jawab Kinara tergagap.


Farhan tersenyum manis, menunjukkan lesung pipinya yang mengesankan.


'Aahh...senyumnya masih sama', lagi, perasaan Kinara dibuatnya tak menentu.


"Kamu sendirian, Ra?", Farhan tak melihat orang lain membersamai Kinara.


Kinara tersenyum tipis, "Iya, suamiku sedang dinas di Surabaya".

__ADS_1


Farhan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ayo Han kita pulang. Ibu sudah selesai belanja", ajak Bu Asri sambil menunjukkan beberapa keresek di tangannya.


"Oh, iya bu", kata Farhan sambil mengambil alih keresek-keresek itu.


"Nak, ibu sama Farhan pamit duluan ya", kata Bu Asri pada Kinara.


"Oh iya, bu. Hati-hati", jawab Kinara sambil kembali mencium punggung tangan ibunda Farhan.


"Kita pamit duluan ya, Ra. Hati-hati juga", pesan Farhan sebelum dia dan ibunya berlalu dari hadapan Kinara.


Kinara melihat kepergian ibu dan anak itu dengan perasaan yang tak menentu.


'Senang sekali bisa melihatmu lagi, Han', bisik hati Kinara, mengulaskan senyuman di wajahnya.


Selama di mobil, Farhan terdiam. Ada perasaan aneh yang tak bisa dijelaskannya saat tadi bertemu dengan Kinara.


Farhan tak bisa membohongi perasaannya sendiri, dia merasa sangat bahagia saat tadi bertemu dengan wanita yang pernah dia cintai. Hampir tak ada yang berubah dari Kinara selain statusnya yang sudah menjadi istri orang.


Tanpa disadari, Farhan mengulaskan senyum, membayangkan kembali wajah dan senyuman Kinara saat tadi mereka berbincang.


"Kamu mikirin apa sih Han, sampai senyum-senyum sendiri begitu?", Bu Asri melirik putranya.


"Eh...enggak kok bu. Farhan gak mikirin apa-apa", jawab Farhan cepat. Dia malu karena sang ibu melihat tingkahnya.


Bu Asri tersenyum lembut, ditatapnya Farhan yang fokus menyetir mobil.


"Kamu itu anak ibu. Ibu yang mengandung, melahirkan dan merawatmu, nak. Ibu tahu betul kalau kamu berbohong. Kamu pasti memikirkan Kinara ya?", tebak Bu Asri membuat Farhan merasa kikuk.


Farhan menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia semakin malu karena tebakan ibunya benar.


"Eh, oh, enggak kok bu. Farhan gak mikirin Kinara", jawabnya gelagapan.


Lagi, Bu Asri tersenyum, "Hmm...masih coba berbohong nih sama ibu. Ibu tahu perasaan kamu sama Kinara tidak pernah berubah sampai sekarang. Ibu juga tahu, kamu pasti sudah berusaha keras dan melalui masa yang sulit untuk melupakan Kinara, betul?", ucapan Bu Asri terasa sesak bagi Farhan.


Farhan melirik ibunya sebentar, "Aku memang gak bisa berbohong sama ibu. Farhan juga bingung bu dengan perasaan Farhan sendiri".


"Apa yang kamu rasakan, itu fitrah manusia, karunia dari Tuhan. Tapi kamu harus ingat bahwa perasaan seperti itu tak semestinya kamu pertahankan pada wanita yang sudah menjadi milik orang lain, ya", Bu Asri menasehati putranya dengan lembut.


Farhan terdiam mendengar perkataan ibunya.


"Iya bu. Do'akan Farhan ya agar Farhan tak melakukan hal yang tak semestinya", ucap Farhan sambil menatap wajah sang ibu.

__ADS_1


Bu Asri mengangguk dan tersenyum, "Ibu selalu mendo'akanmu, nak. Semoga Tuhan segera memberikan jodoh yang baik dan terbaik untukmu", Bu Asri mengelus lembut pundak Farhan.


__ADS_2