
Semua mata seolah menatap ke arah Kinara, mereka menunggu jawaban Kinara.
"Jawablah, jangan diam", suara Erlangga memecahkan keheningan di tengah-tengah makan malam keluarga besar itu.
Kinara menelan salivanya, ia masih berusaha membenahi perasaannya yang terasa kacau.
'Enteng sekali dia bicara, menyebalkan', batin Kinara mendengar ucapan Erlangga.
"Nak, bagaimana?", Kinara merasakan sentuhan lembut tangan ibu di bahunya.
Kinara mengangkat kepalanya, ia melihat satu per satu wajah orang-orang di sekitarnya.
Deg...
Lagi, debaran itu terasa saat tatapannya beradu dengan tatapan Erlangga yang masih menunjukkan ekspresinya yang datar.
"Ini tuh apa sih, pakai acara jodoh-jodohan segala. Nikah itu kan bukan hal gampang, pa, ma. Kasihan dong sama Kinara, tiba-tiba dipaksa begini", Ajeng angkat suara. Ia tahu betul seperti apa perasaan Kinara, terlebih selama ini perbincangan mereka tentang menikah membuat Ajeng sadar betul seperti apa pandangan Kinara soal pernikahan. Ia juga tahu betapa menyebalkannya kakak laki-lakinya itu, Ajeng pun jengkel dengan sikal Erlangga sedari makan malam tadi.
"Ajeng, kamu gak sopan!!!", terdengar suara Bu Tria membentak Ajeng. Ia tak suka dengan ucapan anaknya itu.
"Tapi ma....", belum sempat Ajeng berbicara lagi, Kinara sudah menggenggam tangannya, seolah meminta Ajeng tak bersuara untuk kedua kalinya. Ajeng terdiam menatap sahabat baiknya itu, ada rada kasihan di hatinya.
"Na....Nara ikut saja apa yang menurut bapak dan ibu baik buat Nara", akhirnya Kinara membuka suara.
Ibu segera memeluk putri sulungnya itu. Bapak pun terlihat sumringah. Pak Wijaya dan Bu Tria tersenyum senang.
"Akhirnya, kita jadi besanan ya Pras", ujar Pak Wijaya. Pak Pras mengangguk cepat.
"Nah, nak Erlangga sendiri bagaimana? bersedia menerima Kinara sebagai calon istri?", tanya Bu Hasna memastikan Erlangga pun memang siap menerima perjodohan ini.
__ADS_1
Erlangga memperbaiki posisi duduknya, ia rapikan sedikit kemeja yang dikenakannya, "Tentu saja, bu, saya bersedia", matanya melirik ke arah Kinara. Ia bisa melihat rona merah di wajah perempuan yang mulai disukainya itu. Erlangga menyunggingkan senyum tipisnya.
'Menggemaskan sekali melihat wajahmu seperti itu', bisik hati kecil Erlangga.
"Bagus kalau begitu, pertunangan mereka akan kita laksanakan secepatnya", ujar Bu Tria.
Kinara hanya terdiam, ia tak tahu apakah keputusannya ini tepat atau tidak. Ia memberikan jawaban karena tak ingin terlalu lama terombang-ambing dalam perasaan yang kacau, ditambah lagi soal Ajeng, ia tak ingin sahabatnya itu berdebat panjang dengan keluarganya hanya karena membela dirinya.
"Ra, kamu yakin mau nikah sama kakak aku? dia itu nyebelin total lho", bisik Ajeng mendekatkan bibirnya ke telinga Kinara.
Kinara menatap ke arah Ajeng, ia mencoba tersenyum, sekilas Ajeng melihat mata Kinara nampak berkabut.
Kinara memegang erat tangan Ajeng, "Do'akan ini yang terbaik ya Jeng", jawabnya pendek.
Ajeng mengangguk pasti dan ia segera memeluk sahabatnya itu. Entah kenapa ia tak merasa senang dengan keadaan ini. Meskipun ia tahu Kinara akan menjadi kakak iparnya nanti, tapi Ajeng tak rela jika caranya harus seperti ini.
"Kak, kakak yang ikhlas ya", giliran Alisa yang berbisik pada Kinara. Sebagai adik perempuan satu-satunya, Alisa mencoba menghibur kakaknya. Alisa memang tak terlalu paham dengan keadaan di depannya, tapi ia bisa melihat guratan kesedihan yang dalam di pelupuk mata kakaknya. Kinara mengangguk dan memeluk Alisa, mereka bertiga akhirnya berpelukan.
"Hoo begitukah? ternyata kau bergerak lebih cepat dari perkiraan papa dan mama", Pak Wijaya menepuk pundak Erlangga. Erlangga tersenyum.
Lagi, semu mata menatap ke arah Kinara. Perlahan Kinara mengeluarkan sebuah kotak merah berbentuk hati dari dalam tas kecilnya. Ia membuka kotak itu, nampak sebuah cincin berpermata hijau ada di sana.
"Ini cincin yang pernah Pak Erlangga berikan untuk saya", ucap Kinara sendu sambil menyimpan kotak merah itu di meja.
"Lho, kok manggilnya 'pak' sih kak?", Alisa yang sedari tadi coba menyimak, merasa aneh dengan panggilan kakaknya kepada Erlangga.
"Eh, iya, maaf, maksud saya, ini cincin yang diberikan Mas Erlangga kepada saya. Maaf, saya terbiasa memanggil pak karena Mas Erlangga itu dosen sekaligus pembimbing skripsi saya di kampus", Kinara menjelaskan.
"OMG, Ra, Unbelievable lho ini. Kamu gak pernah cerita kalau kakak aku dosen kamu, kakak juga, kok gak bilang-bilang sama aku sih", Ajeng terkejut lagi dengan apa yang didengarnya. Erlangga hanya tersenyum melihat ekspresi adiknya seheboh itu.
__ADS_1
"Wah, kalau jodoh memang gak kemana. Yo wis, bagaimana kalau malam ini nak Erlangga dan keluarga meminang putri kami secara resmi?", tanya Pak Pras.
Pak Wijaya dan Bu Tria segera mengangguk bersamaan.
Akhirnya cincin berpermata hijau itu resmi melekat di jari manis tangan kiri Kinara. Cincin itu dipasangkan oleh Bu Tria, setelah memasangkan cincin tersebut, Bu Tria memeluk Kinara dengan erat. Akhirnya keinginannya selama ini terwujud.
"Terimakasih ya nak sudah mau menerima Erlangga", kata Bu Tria dengan air mata yang menetes dari pelupuk matanya. Kinara tersenyum sambil mengangguk kecil.
"Nah mulai sekarang, kamu dan Kinara harus mulai bersiap mengurus pernikahan kalian. Papa dan mama gak mau kamu berlama-lama mengikat Kinara dengan pertunangan. Papa sama mama ingin segera menimang cucu", Pak Wijaya menggoda Erlangga dan Kinara. Ucapan ayahnya itu membuat Erlangga merasa kikuk.
"Iya pa, besok, Angga dan Kinara akan mulai mengurus persiapan pernikahan kami", jawab Erlangga pasti.
"Awas ya kak, jangan karena sekarang kakak berhasil melamar Kinara, kakak bisa berlaku seenaknya sama dia. Berani kakak main-main atau menyakiti sahabat sekaligus calon kakak iparku, aku gak segan kasih kakak ini", Ajeng menunjukkan kepalan tangannya.
Semua orang tertawa melihat tingkah Ajeng, sedangkan Erlangga memberi jitakan kecil di kepala adiknya itu, membuat Ajeng mengaduh kesakitan.
"Bagaimana kalau sekarang kita foto bersama?", ajak Pak Pras. Dua keluarga itu pun berfoto dibantu oleh pelayan yang dipanggil Bu Hasna.
"Nah sekarang giliran calon pengantinnya nih yang foto berdua", teriak Bu Tria.
Kinara merasa canggung berdiri bersebelahan dengan Erlangga.
"Tenanglah, aku tak akan memaksamu bergaya", bisik Erlangga sesaat sebelum Ajeng mengambil foto mereka berdua. Kinara hanya terdiam merespon perkataan Erlangga.
"Aduuhh, ini gimana sih, jauhan terus. Kak, deketan sedikit bisa kan", teriak Ajeng sang fotografer dadakan.
"Begini", tanpa ragu, Erlangga merapatkan bagian samping tubuhnya ke arah Kinara.
"Nah, agak romantis dikit dong gayanya. Ra, bisa kan kalian saling berhadapan?", Ajeng masih cerewet mengarahkan gaya.
__ADS_1
Kinara tak bisa menolak. Ia akhirnya mengikuti arahan Ajeng. Erlangga dan Kinara saling berhadapan juga bertatapan, Erlangga memegang kedua tangan Kinara, dan pose itu menjadi pose final yang mengabadikan ikatan mereka.