
Sudah satu minggu Erlangga pergi, dan semenjak kepergiannya ke Surabaya dia masih belum juga menghubungi Kinara. Pesan-pesan dari Kinara pun tak ada yang dibalasnya.
Kinara merasa sedih, bingung dan khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada suaminya. Tapi dia masih berusaha berpikir positif jika keadaan Erlangga baik-baik saja di sana. Erlangga hanya terlalu sibuk dengan pekerjaan barunya, pikirnya begitu.
Ddrrtt....drrtt....ddrtt
HP Kinara bergetar, ia lihat nama yang ada di layar, kali ini dia tak ingin salah orang lagi. Tertulis My Lovely di sana. Mata Kinara berbinar, tangannya segera menerima panggilan masuk itu.
"Hai sayang", terdengar suara Erlangga menyapanya dari jauh.
"Mas kemana aja sih? seminggu pergi gak ada kabar buatku. Teleponku gak pernah mas angkat, pesanku pun gak ada yang mas jawab", Kinara memberondong Erlangga dengan segudang keresahannya selama ini.
Erlangga terkejut dengan ucapan istrinya yang tak biasa, "Maafkan aku ya sayang. Aku benar-benar sibuk sekali di sini. Ada banyak hal yang harus aku urus dan aku pelajari. Aku sampai lupa mengabarimu. HP hanya aku cek untuk melihat pesan atau menerima telepon dari klien. Aku baru agak luang sekarang", terang Erlangga mencoba menenangkan Kinara yang ia tahu pasti sedang kesal kepadanya.
"Mas bilang aku gak boleh susah dihubungi, tapi mas sendiri sulit sekali untuk aku hubungi. Mas tahu, aku khawatir sekali di sini. Setiap saat aku memikirkan keadaanmu mas", Kinara rupanya merasa belum cukup meluahkan keresahannya.
"Iya sayang, maaf ya. Setelah ini aku janji gak akan susah kamu hubungi lagi", ujar Erlangga yang berhasil membuat senyuman Kinara mengembang.
"Mas...aku...mmm...", Kinara tak melanjutkan kalimatnya membuat Erlangga penasaran.
"Aku? kamu kenapa sayang? kamu baik-baik saja kan di sana?", tanya Erlangga khawatir.
Kinara terdiam sejenak, dia malu untuk mengatakannya, tapi ia juga tak tahan jika sampai tak bicara.
"Aku...aku baik-baik aja kok mas di sini. Aku cuma mau bilang kalau aku...aku kangen sama mas, kangen berat", jawab Kinara malu-malu di balik telepon, padahal suaminya tak melihatnya langsung.
Erlangga tersenyum senang dengan ungkapan hati Kinara, "Aku pun sangat merinduimu, sayang. Kalau kamu kangen aku, itu artinya kamu sudah benar-benar mencintaiku", goda Erlangga.
Kinara makin tersipu seolah suaminya ada di depannya. Ia merasakan buncahan rasa yang tak biasa di hatinya.
"Aku rindu dengan segala yang ada padamu, sayang. Wajahmu, senyummu, tubuhmu, semuanya", kata Erlangga lagi.
"Mas gombal ya", ejek Kinara.
Terdengar suara tawa Erlangga di ujung sana.
"Gombal ke istri sendiri, boleh dong", jawabnya enteng.
Menit-menit berikutnya Erlangga terus menggoda Kinara, sesekali membuatnya tertawa dengan lelucon dadakan yang ia buat. Kinara begitu menikmati perbincangan hangat dengan suaminya.
Ia memberikan kecupan sayang diakhir telepon yang dibalas dengan hal sama oleh suaminya. Malam ini Kinara tidur dengan perasaan bahagia.
**
__ADS_1
Keesokan harinya, sekolah nampak ramai dengan kehadiran para ayah yang memang sengaja diundang untuk menghadiri peringatan hari ayah.
Meskipun judulnya hari ayah, para ibu tetap hadir tak mau kalah. Mereka memberikan dukungan kepada para ayah dalam perlombaan yang akan berlangsung sepanjang hari ini.
"Lho, Alya kenapa menangis?", Kinara membungkukkan badannya ketika ia mendapati Alya duduk termenung sendirian di balik rak buku ruang perpustakaan sekolah.
"Alya sedih bu. Papa Alya gak ke sini", jawabnya sambil terisak.
Kinara segera memeluk Alya dan mencoba menghapus air matanya.
"Alya jangan sedih. Tak apa kalau papa Alya gak ke sini, kan masih ada Oma Diah", bujuk Kinara.
Alya menggelengkan kepalanya, "Tapi ini kan hari ayah, bu, bukan hari oma", jawabnya polos membuat Kinara tersenyum dibuatnya.
"Iya, tapi Alya masih bisa ikut lomba kok sama Oma Diah", terang Kinara.
Alya menatap wajah gurunya itu, "Benar bu boleh?", tanya Alya.
Kinara menganggukan kepalanya, "Boleh dong sayang. Tuh di kelas ada Rasya, Fika, Doni, juga Bobi yang datang sama ibunya. Papa mereka juga sama gak ada, tapi mereka tetap boleh ikut semua lomba", Kinara mencoba menenangkan Alya.
Alya tersenyum senang, dia memeluk erat guru kesayangannya itu.
"Terimakasih ya bu guru. Alya jadi semangat lagi. Tadi Alya sedih karena papa gak bisa datang, mama juga pergi keluar kota. Alya takut diejek sama teman-teman kalau gak sama papa ikut lombanya", ungkap Alya dengan jujur.
Kinara menuntun Alya keluar dari perpustakaan untuk menghampiri Oma Diah, nenek Alya yang sedari tadi nampak kebingungan membujuk cucunya agar mau mengikuti lomba diperingatan hari ayah.
"Terimakasih Bu Nara sudah berhasil bujuk Alya", ucap Oma Diah yang dibalas dengan senyuman dan anggukan dari Kinara.
Kini Alya dan Oma Diah sudah bersiap untuk mengikuti berbagai perlombaan yang ada di sekolah.
**
Pagi itu Erlangga baru menyelesaikan pertemuannya dengan klien penting bernama Pak Burhan. Ia seorang pengusaha yang memiliki banyak perusahaan, satu diantaranya adalah perusahaan logistik yang menangani kegiatan ekspor-impor.
Erlangga dan Pak Burhan sudah menyepakati beberapa bentuk kerja sama yang saling menguntungkan keduanya.
"Terimakasih Pak Erlangga, Anda sudah mau bekerja sama dengan perusahaan saya", kata Pak Burhan diakhir pertemuan mereka.
"Sama-sama, pak. Saya juga berterimakasih kepada bapak atas semua bentuk kesepakatan kita. Semoga ini bisa menjadi awal bisnis yang baik untuk kita", jawab Erlangga.
Pak Burhan tersenyum dan menganggukan kepalanya, "Oh iya Pak Erlangga, nanti semua berkas yang belum lengkap akan dikirimkan oleh sekretaris saya ke sini. Saya sudah memintanya untuk menyiapkan semua berkas kerja sama kita dan akan dia kirimkan tepat jam sepuluh siang langsung ke ruangan Pak Erlangga", katanya lagi.
"Baik pak, saya akan tunggu kedatangan sekretaris bapak. Kebetulan hari ini meeting saya hanya dengan bapak saja, jadi selepas ini saya ada di kantor", Erlangga pun berjabat tangan dengan Pak Burhan. Pertemuan mereka pun usai.
__ADS_1
Setibanya di ruang kerja, Erlangga mengambil HP. Dicarinya nomor Kinara yang ia namai Lovely Wife. Ia hanya mengirim pesan saja karena ia tahu ini masih jam kerja Kinara, terlebih semalam Kinara bercerita jika hari ini ada acara peringatan hari ayah di sekolah, dia pasti sibuk.
Me:
Hai sayang, kamu pasti lagi sibuk ya. Jangan sampai lupa makan lho. Nanti malam aku akan menghubungimu lewat VC, I 💗 you 😘
Erlangga tersenyum saat mengirimkan pesan itu. Setelahnya ia kembali berkutat dengan pekerjaannya.
Tok...tok...tok
Terdengar suara seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya dari luar.
"Ya, masuk", Erlangga mempersilahkan orang itu masuk tanpa mengalihkan matanya dari layar laptop dan beberapa berkas yang tengah ia pelajari.
"Selamat siang pak, maaf mengganggu waktunya. Saya sekretaris Pak Burhan, beliau meminta saya mengirimkan beberapa berkas kepada bapak", seorang wanita menyapa Erlangga yang masih nampak fokus membaca berkas di tangannya.
Erlangga mengangkat kepalanya, "Viona".
Erlangga terkejut saat dia melihat sekretaris Pak Burhan yang tak lain adalah mantan istrinya.
Viona pun tak kalah terkejut, matanya membelalak melihat Erlangga ada di depannya.
"M...Mas Erlangga", ucap Viona lirih.
Sejenak, keduanya saling bertatapan merasa tak percaya dengan apa yang sama-sama mereka lihat.
"Oh, silahkan duduk", Erlangga sadar dari kediamannya.
Viona mengerjapkan matanya dan ia segera duduk di kursi yang ada tepat di depan meja Erlangga.
"Mana berkas-berkasnya?", pinta Erlangga sambil mengulurkan tangannya.
Viona menyerahkan beberapa file yang dia bawa.
Erlangga tak bersuara, ia langsung fokus kepada semua berkas yang baru saja ia terima. Viona pun memilih menunduk, perasaannya campur aduk. Dia tak menyangka jika atasannya bekerja sama dengan perusahaan milik Erlangga.
"Mau minum apa?", tanya Erlangga tanpa melepaskan matanya dari berkas yang tengah ia baca.
"Oh, tidak perlu pak, saya hanya ingin mengantarkan berkas itu saja untuk bapak tandatangani", jawab Viona formal.
Erlangga melirik sebentar kearah Viona, dia memencet telepon di atas mejanya, "Tari, tolong bawakan dua gelas orange juice ke ruangan saya sekarang", Erlangga menghubungi sekretarisnya.
"Baik pak", terdengar suara Tari menjawab perintah Erlangga.
__ADS_1
Suasana kembali sunyi. Erlangga dan Viona sibuk dengan pikirannya masing-masing.