Unknown Love

Unknown Love
Kepergian Farhan


__ADS_3

Erlangga nampak sibuk merapikan jasnya. Seperti janjinya tadi sore, malam ini dia akan mengajak Kinara makan malam.


"Jadi pergi, nak?", terdengar suara mama di belakang Erlangga.


"Iya, jadi ma", jawab Farhan pendek. Bu Tria tersenyum lalu berlalu meninggalkan putranya itu.


Farhan berjalan menuju pintu depan, terlihat Pak Wijaya tengah duduk santai di ruang keluarga ditemani ibu dan Ajeng.


"Ciiieee....yang mau dinner. Ngabisin parfume sepabrik nih kayaknya", goda Ajeng.


Mata Erlangga menatap sinis ke arah adiknya yang nampak cekikikan sendiri.


"Berisik", respon Erlangga ketus.


"Salam ya nak dari mama sama papa buat Kinara dan keluarganya", pesan ibu.


Erlangga mengangguk, ia mencium tangan mama dan papanya. Tak lupa ia sempatkan menjitak kepala adiknya yang pecicilan itu.


"Aduh, sakit tahu", seru Ajeng sambil berdiri berusaha membalas.


"Sudah, kalian ini ribut terus, kapan akurnya sih kakak sama adik?", kalimat ayah mereka, Pak Wijaya, menghentikan aksi Ajeng.


Erlangga tersenyum penuh kemenangan, sedangkan Ajeng melihat kepergian kakaknya dengan wajah kesal.


'Semoga aja dia insyaf kalau udah nikah nanti', harap Ajeng dalam hatinya.


Tak butuh waktu lama, Erlangga sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah Kinara. Ia turun dari mobil itu, dilihatnya Kinara sedang berpamitan kepada ayah dan ibunya.


"Hati-hati ya nak. Pulangnya jangan larut", pesan ibu sebelum Erlangga dan Kinara berlalu. Erlangga dan Kinara tersenyum, lalu berpamitan.


Sepanjang perjalanan, Kinara hanya terdiam. Erlangga pun melakukan hal yang sama, sesekali dia mencuri pandang lewat kaca spion di dalam mobil.


'Dia memang selalu tampil cantik', bisik hatinya dibalik kemudi.


Erlangga dan Kinara sampai di resto yang sudah Erlangga booking. Kini mereka tengah duduk menikmati hidangan sambil menyaksikan view city light dari tempat mereka duduk.

__ADS_1


"Sedari tadi kamu diam terus, Ra. Kenapa? kamu masih marah soal kejadian tadi siang di kampus?", Erlangga mulai membuka percakapan.


Kinara mencoba tersenyum, "Gak kenapa-kenapa kok mas. Aku gak marah", jawabnya singkat.


"Aku minta maaf ya Ra. Tadi siang itu, aku benar-benar khilaf, aku gagal mengendalikan diriku sendiri, aku terlalu takut dan cemburu", terang Erlangga jujur.


Kinara menatap Erlangga dengan dalam. Ia tahu Erlangga tak sepenuhnya salah.


"Maafin aku juga ya mas. Mungkin aku pun salah, dan soal Farhan, percayalah, aku tak pernah ada hubungan apapun dengannya. Sejauh aku mengenalnya, kami hanya berteman baik, itu saja. Farhan orang yang humble dan sering sekali membantuku, Ajeng juga tahu kok soal itu", Kinara menjelaskan.


"Ajeng?", Erlangga bertanya, heran.


Kinara menganggukan kepalanya, "Iya. Kita bertiga sudah berteman baik sejak lama. Ajeng tahu betul aku dan Farhan seperti apa".


Erlangga menghela nafas, "Oh begitu. Ya sudah kita lupakan soal itu. Aku juga sudah minta maaf kan sama kamu. Sekarang kita makan dan kita bahas rencana pernikahan kita, ya".


**


Sementara itu Farhan baru saja memarkirkan mobilnya di garasi.


"Capek ya nak", Farhan dikejutkan oleh suara ibunya yang ternyata sedari tadi menunggu kedatangannya.


Ibu mengajak Farhan duduk di kursi yang ada di teras. Di sana ada dua cangkir teh mawar dan kue bolu pisang kesukaan Farhan.


"Ibu sengaja membuatkan ini semua untukku?", tanya Farhan. Tangannya sudah mulai mengambil cangkir teh yang tercium harum bunga mawar.


"Iya, kamu pasti capek kan seharian ini bekerja. Ini semua kesukaan kamu, nikmatilah", jawab ibu dengan penuh senyum.


Farhan mengangguk senang.


"Ternyata jadi direktur itu berat ya bu. Ayah luar biasa sekali bisa merintis perusahaan sampai bisa sebesar sekarang", mata Farhan menerawang, mengingat kembali wajah ayahnya.


Lagi-lagi ibu tersenyum, ditatapnya lembut wajah anak semata wayangnya itu.


"Ayahmu memang lelaki yang luar biasa. Dia seorang yang jujur, mandiri, pembelajar dan pekerja keras. Setelah kepergiannya, ibu belajar banyak, berjuang untuk tetap bertahan hidup dengan usaha ibu sendiri. Sekalipun ayahmu mewariskan semua kekayaannya, ibu lebih senang kamu yang bisa menikmati itu semua", ibu pun terlihat mengenang kembali sosok suami tercinta yang sudah lama meninggalkannya.

__ADS_1


Farhan memegang tangan ibunya. Ia bisa melihat guratan kerinduan yang dalam dan perjuangan hidup yang keras di wajah ibunya. Itulah kenapa ia tak pernah ingin mengecewakan sang ibu.


"Farhan janji akan mengelola dan membesarkan perusahaan kita. Paman Erwin dan Erik sudah sangat baik mengurus perusahaan itu selama ini, bahkan sampai sekarang pun mereka masih terus mendukung dan membantu Farhan. Farhan juga janji akan selalu berusaha membahagiakan ibu", matanya mulai berkaca-kaca.


Ibu mengelus lembut kepala putranya, dipeluknya dengan hangat.


"Ibu percaya, nak, kamu selalu bisa memberikan yang terbaik. Kejarlah mimpimu di Jerman, sekolah yang serius di sana dan soal Kinara, tak apa, jadikan itu sebagai pelajaran agar kamu semakin kuat. Ibu selalu bangga sama kamu", ucapan ibu mengejutkan Farhan.


"Bagaimana ibu tahu soal ini semua?", tanya Farhan penuh kebingungan.


Ibu tersenyum, "Pamanmu tadi ke sini, cerita sama ibu. Erik menyampaikan semuanya ke ayahnya itu. Ibu, Paman Erwin, Erik, kami semua mendukungmu, nak. Jangan khawatirkan soal ibu, ibu tak merasa kecewa sedikit pun padamu. Percayalah, jika jodohmu, dia tidak akan kemana-mana. Tapi kamu juga jangan menutup hati ya kepada wanita baik lainnya".


Air mata Farhan akhirnya menetes. Hal yang ia takutkan bahkan tak sanggup ia sampaikan kepada ibunya ternyata sudah diketahui. Farhan bersyukur Paman Erwin dan Erik membantunya sampai sejauh ini.


"Kapan kamu berangkat ke Jerman, nak?", tanya ibu sambil menyeka air mata di pipi Farhan.


"Minggu depan, bu. Apa ibu akan baik-baik saja kalau Farhan tinggal?", ia masih meyakinkan dirinya.


Ibu mengangguk pasti.


"Jangan khawatirkan soal ibu, ya. Ada Erik dan keluarganya yang akan jagain ibu selama kamu di sana", ibu tersenyum.


Farhan membalas senyuman itu, ia memeluk ibunya dengan erat. Selalu ada rasa nyaman dan tenang saat di dekatnya, semua masalah seolah hilang begitu saja setiap kali ibu berbicara dengan Farhan.


Satu minggu berlalu, hari ini Farhan akan berangkat ke Jerman. Ibunya, Paman Erwin, Erik dan Bu Sari mengantar kepergian Farhan sampai bandara.


Farhan mencium tangan ibunya, lalu memeluknya dengan erat. Setelah itu dia mencium tangan paman dan bibinya, Pak Erwin dan Bu Sari.


"Fokus ya Han di sana. Kamu jangan khawatir soal perusahaan, ada paman dan Erik yang urus", pesan Pak Erwin.


"Kamu juga jangan khawatir soal ibumu. Bibi akan sering berkunjung dan menemaninya", timpal Bu Sari, ibunya Erik.


"Iya bro. Keep calm aja, enjoy with your study, ok? selama ada gue, semua urusan beres dan aman", giliran Erik yang bersuara sambil menempuk pundah Farhan.


Farhan tersenyum bahagia mendengar semua kata-kata dari keluarganya itu.

__ADS_1


"Kalau sudah sampai, kabari ibu ya, nak. Jaga sholatmu di sana, istirahat dan makan yang baik", pesan terakhir ibunya.


Farhan mengangguk tegas, ia berjalan sambil melambaikan tangan kepada keluarganya. Meski ada kabut di hatinya, tapi ia memutuskan untuk menghapus kabut itu, menata kembali hidupnya di Jerman.


__ADS_2