
"Akhirnya selesai juga", Kinara melirik jam di tangannya, pukul delapan malam.
Dia bergegas mengganti seragam yang dikenakannya saat bekerja part time.
"Terimakasih ya Ra untuk hari ini", ujar Tante Rosse, ibunda Ananta.
Kinara tersenyum, "Sama-sama tante. Terimakasih juga karena tante masih mengizinkan aku untuk part time di sini", balas Kinara.
"Mmm...Ra, setelah ini apa kamu ada acara?", tanya Giovani.
Kinara menggelengkan kepalanya.
"Bagus, kalau kamu tidak keberatan, aku mau mengajakmu makan malam, sama Aja juga", tawarnya.
Kinara dan Ananta saling beradu tatap.
"Tumben Kak Gio ajak aku makan di luar, sama Kinara lagi", tatap Ananta heran.
"Ya kalau kamu gak mau ikut, bagus", jawab Gio enteng.
"Ih jahat. Ya mana mungkin sih aku nolak. Jarang-jarang kan Kak Gio ajak aku makan di luar. It's a chance", seru Ananta senang.
Mereka berpamitan pada Mommy Rosse yang masih merapikan beberapa pekerjaan di ruangannya.
Tak butuh waktu lama, Giovani, Kinara dan Ananta sudah sampai disebuah resto. Alunan musik romantis menyambut kedatangan mereka bertiga.
Seorang pelayan datang dengan buku menu dan berlalu setelah Gio, Kinara dan Ananta selesai memesan.
"Kalau ada Kinara aja, kakak makan di tempat bagus begini. Giliran ajak aku, paling ok juga makan hanya di cafe", Ananta mengamati seisi resto itu.
Giovani tak ingin menanggapi keluhan adiknya itu.
"Terimakasih ya Ra, kamu sudah mau pergi denganku malam ini", Giovani menatap Kinara yang memilih diam sedari tadi.
__ADS_1
Kinara tersenyum tipis, "Terimakasih kembali sudah mengajakku dan Ananta kemari", balas Kinara.
Ananta memperhatikan kakaknya dan Kinara.
"Tatapan Kak Gio sedalam itu ya kalau melihat Kinara", goda Ananta pada kakaknya yang tak lepas memandangi Kinara.
Kinara menyikut Ananta yang duduk di sebelahnya, dia merasa malu dengan ucapan sahabatnya itu.
"Anak kecil dilarang berisik!", Gio memberikan peringatan pada adiknya.
Ananta mengerucutkan bibirnya, kesal. Kinara tersenyum melihat hubungan kakak adik itu.
Pelayan datang membawa menu pesanan mereka, dengan lahap, Ananta menyantap makannya.
"Ck, kamu itu, An, anggun lah sedikit kalau makan", komentar Giovani saat melihat nafsu makan Ananta.
"Orang tua dilarang protes!", balas Ananta.
Giovani menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya, sesuai dengan harganya", jawab Kinara pendek.
Giovani tersenyum mendengar jawaban itu.
Jam sembilan tiga puluh malam, mereka baru selesai menghabiskan makan malam.
"Wah kenyang. Kak, aku pulang naik taksi ya", kata Ananta.
"Ok", jawab Giovani.
"Lho, kok naik taksi, An? kita kan bisa pulang bareng. Lagi pula Giovani kakakmu, kalian pulang searah, bukan?", tanya Kinara heran.
Ananta tersenyum, "Aku mau mampir dulu ke tempat lain. Kak Gio akan mengantarmu pulang", Ananta beralasan. Dia mengerti jika kakak lelakinya itu butuh waktu berdua bersama Kinara.
__ADS_1
"Janji ya kak, antar Kinara sampai ke tempat tinggalnya dan jangan macam-macam", ancam Ananta sebelum dia meninggalkan resto itu lebih dulu.
"Ok adikku sayang, terimakasih atas pengertiannya", ujar Giovani senang.
Perjalanan pulang terasa berbeda karena hanya ada Kinara dan Giovani di dalam mobil.
Sesekali Giovani menatap Kinara yang memilih untuk diam sepanjang perjalanan pulang.
"Ra, may I asking something to you?", tanya Giovani memecah keheningan.
Kinara melirik ke arahnya sebentar, "Sure", katanya pendek.
"Sebelumnya maaf jika ini begitu tiba-tiba dan ya aku terpaksa menanyakannya di jalanan seperti ini. Aku ingin tahu saja, apakah saat ini kamu sedang dekat dengan seseorang?".
"Tidak", jawab Kinara cepat.
Senyum Giovani mengembang.
"Kenapa?", tanya balik Kinara.
"Aku hanya ingin memastikan saja. Jika kamu sedang tidak dekat dengan siapapun, artinya aku masih punya kesempatan untuk mendekatimu", ucap Giovani tanpa ragu.
Kinara mencoba untuk tersenyum mendengar kejujuran Giovani.
"Aku harap kamu mau memberiku kesempatan untuk dekat denganmu. Aku yakin kamu tahu, aku tertarik padamu dari semenjak pertama kali kita bertemu. Aku melihatmu sebagai seorang wanita yang spesial, entah, tapi aku merasakan sesuatu yang berbeda denganmu", imbuh Giovani lagi.
Kinara menghela nafas berat, "Terimakasih, aku menghargai perasaan dan kejujuranmu, tapi...aku tak bisa menjanjikan apapun, jangan terlalu banyak berharap padaku".
"Tak masalah. Aku akan memberimu waktu untuk memikirkannya. Apapun nanti keputusanmu, aku akan terima. Aku hanya ingin mengutarakan perasaanku apa adanya, itu saja", Giovani berujar tanpa beban.
Mobil mereka pun sudah tiba di depan sebuah apartemen tempat tinggal Kinara.
"Terimakasih untuk makan malamnya dan sudah mengantarkanku pulang", Kinara melepas seat beltnya.
__ADS_1
Giovani tersenyum dan menganggukkan kepalanya, menatap kepergian Kinara.
'Aku harap suatu saat kamu bisa membuka hatimu untukki, Kinara Cyzarine', harap Giovani dalam hati.