Unknown Love

Unknown Love
Season 1 - #5


__ADS_3

Alvin Scott merupakan anak sulung Arthur, dari pernikahan sebelumnya dengan Dona. Alvin semenjak lulus dari sekolah SMAnya melanjutkan studi S1 di luar negeri tidak di tempat kelahirannya ini. Alvin membereskan studi hingga S2 dan akhirnya setelah lulus dia pun kembali pulang untuk menjalakan bisnis yang sebelumnya sudah dia lakukan selama melanjutkan studi S2nya. Alvin sebenarnya tinggal di apartement miliknya sendiri, namun terkadang dia suka menginap pulang ke rumah Eva jika merasa rindu dengan Omanya tersebut. Dia jarang berkunjung kerumah Mama Kandungnya, Dona. Alvin tak suka melihat lelaki yang hilir mudik di rumah Mamanya tersebut yang merupakan kekasihnya. Namun Alvin merupakan anak kesayangan dari Dona, jadi apapun yang Alvin inginkan Dona akan memberikan demi kebahagiannya.



Alvin pun mendekati Papanya tersebut dan memeluknya. Arthur membalas pelukannya dan mencium rambut Alvin.


"Sudah lama ya sayang!" ucap Arthur dengan melepaskan pelukannya dan menatap wajah Alvin.


"Iya Pa." balas Alvin dengan tersenyum, dia pun melihat kepada Eva dan kemudian menghampirinya untuk memeluk dan menciumnya.


"Morning sayang." ucap Eva membalas pelukan dan mencium rambut Alvin.


"Morning Oma." balasnya dengan tersenyum.


"Mimpi indah kah?" ucap Eva dengan menatap wajah cucunya tersebut.


"Tentu." balas Avin dengan menatapnya juga.


"Dimana Clara?" tanya Alvin kembali dengan melihat sekitaran. Arthur pun baru menyadari juga putri bungsunya tidak ada disitu.


"Dimana Ma?" tanya Arthur yang ikut melihat sekitaran.


"Clara sedang mengajak Chiro jalan-jalan. Biasa kalo Chiro bertemu dengan majikannya kan suka manja ingin diajak main dan jalan." terang Eva sambil menghidangkan minuman.


"Aku pikir anjing itu sudah mati Oma." celetuk Alvin dengan terkekeh.


"Hush! Kamu itu Alvin! Clara begitu sayang dengan Chiro kalau dia mendengarnya kamu pasti akan diomelin olehnya." ucap Eva sambil menepuk pelan pundak Alvin. Dia membalas dengan tertawa terkekeh saja.


"Kamu tadi ngomong apa?" ucap sesorang yang baru masuk dapur.


"CLARA sayangku!" ucap Arthur yang senang melihat putri bungsunya, begitupun dengan Clara dia pun segera berlari menghampiri Arthur dengan sedikit berlari.



Clara Scott merupakan anak bungsu Arthur dan anak perempuan yang sangat disayangi olehnya. Clara masih sekolah SMA dan dia tinggal di asrama sekolahannya tersebut. Alasannya? Karena Arthur menyadari bahwa Mamanya Eva sudah tak muda lagi dia tak ingin merepotkan Mamanya itu. Clara jarang pulang kerumah Dona, karena dia merasa tak suka dengan sikap Mamanya tersebut terlebih dia suka melihat kekasih Mamanya tersebut. Dona menyayangi Clara namun tidak seperti kepada Alvin. Jika Clara libur sekolah maka dia akan segera memutuskan pulang ke rumah Omanya Eva.



"Papa!! I miss you..." ucap Clara dengan memeluk dan mencium pipi Arthur.


"Hahaha.., sayangku! Cintaku! Permata hatiku! Papa juga merindukan dirimu sayangku!" balas Arthur dengan menciumin terus pipi Clara kanan dan kirinya.


"Kebiasaan deh berlebihan, mulai kan mulai..." celetuk Alvin dengan mimik muka sok mengiri.


"Biarin!" balas Clara dengan menjulurkan lidahnya.


"Tadi aku dengar kamu berharap Chiro mati? Aku akan menyuruh Chiro untuk menghantui kamu Alvin kalau kamu berlaku jahat begitu pada Chiroku!" ancam Clara dengan memicingkan kedua matanya pada Alvin.


"Biarin aja! Aku akan panggil pendeta untuk mengusir roh jahat termasuk kamu! Hahahaha rasakan!" balas Alvin yang tak mau kalah.


"ALVIN! KAMU NYEBELIN BANGET!" ucap Clara dengan menggerutu kesal. Alvin membalas dengan menjulurkan lidahnya tanda bahwa impas.


Arthur dan Eva hanya tertawa ringan melihat kelakuan mereka berdua yang menjadi hiburan tersebut.



"Sini si cantik Papa! Si gemesinnya Papa!" celetuk Arthur dengan memegang kedua pipi Clara sambil menabrak-nabrakkan hidungnya pada anaknya tersebut dengan bercanda. Clara merespon dengan tertawa ringan, dia sangat suka jika Arthur melakukan hal itu padanya.


"Sudah, aku sudah besar Papa!" protes Clara dengan memegang kedua tangan Arthur.


"Hm, masa sih? Masa sih?" balas Arthur dengan menciumi pipi Clara tanpa henti karena saking rindu dengan putrinya.


"Papa akan menginap dirumah Oma?" tanya Clara dengan menatap wajah Arthur berharap dia akan memenuhi kemauannya itu.


"Kurasa Papa akan pulang! Tapi Papa akan disini sampai malam untuk kamu!" nego Arthur dengan tersenyum tulus.


"Hhhhhh..., aku kan kangen Papa!" rajuk Clara dengan muka sedihnya.


"Papamu banyak kerjaan sayang, mungkin nanti dia akan menginap disini. Tenanglah liburan sekolahmu masih sisa 2 bulan lagi, masa Papamu tak ada waktu sedikitpun?" jelas Eva sambil membujuk Clara dan melihat kearah Arthur dengan pengharapan bahwa dia akan menuruti maunya Clara.

__ADS_1


"Yaaaa, oke! Papa akan mencari waktu untuk bisa menginap dirumah Oma dan bisa bersama mu seharian!" ucap Arthur berusaha menghibur Clara dan melirik pada Eva tanda bahwa dia setuju dengan ucapannya. Eva membalasnya hanya dengan tersenyum.


"Tapi Papa kamu kapan akan mau main ke kantorku juga?" ucap Alvin yang ikut nimbrung dan merasa ingin diperhatikan oleh Arthur juga.


"Tentu nak jika Papa tak sibuk, akan Papa sempatkan bermain kekantormu sekalian makan siang!" ucapnya dengan senyum.


"Oke kutunggu Papa!" balas Alvin dengan harap.


"Anak-anakmu sedang ingin diperhatikan olehmu Arthur! Buatlah waktu untuk mereka..." tambah Eva sambil tersenyum padanya.


"Ya Papa akan meluangkan waktu untuk kalian.." balasnya dengan tersenyum kepada semuanya.


"Ya sudah kita sarapan dulu! Aku banyak membuat muffin hari ini." ucap Eva yang merubah topik, dia pun segera menyajikan kue buatannya dan menyuguhkan teh madu lemon buatannya yang sangat dirindukan oleh anak dan cucunya.


"Ma, teh buatanmu memang juara!" puji Arthur dengan menyeruputnya.


"Berlebihan!" balas Eva dengan menepak halus pundak Arthur.


"Papa gak makan kue muffin Oma?" tanya Alvin yang melihat Arthur tak menyentuhnya dari awal.


"Papa sudah sarapan nak. Lagian aku kurang suka juga, dan Oma mu pun sudah tau." jelas Arthur sambil melirik pada Eva, dia membalas dengan tersenyum.


"Ya dia memang tak suka muffin Oma karena itu tak aneh dia hanya memuji aromanya enak tapi gak mau mencicipinya..." ucap Eva yang sudah hafal dengan sifat anaknya itu.


"Tapi ini enak Papa." tambah Clara dengan mulut yang penuh kue muffin.


"Ya aku tau kue buatan Oma pasti enak, beruntungnya kalian anak Papa suka dengan kue Cinnamon Muffinnya Oma. Jadi Oma tak terlalu bersedih, hahaha...." jelas Arthur dengan tertawa riang.


"Kau ini..." celetuk Eva dengan melihat Arthur.



Mereka pun kembali menikmati sarapan yang sedang berlangsung. Menikmati obrolan dan menu makanan dipagi itu. Tanpa terasa waktu berjalan terus dan sudah menunjukkan pukul 9 malam. Arthur melihat jam tangannya dan dia pun memberikan tanda pada Eva bahwa dia akan pulang. Eva pun mengerti dia pun segera menyudahi obrolannya, Arthur berpamitan pada anaknya Alvin dan Clara. Dia pun mencium dan memeluk kedua anaknya, sebagai tanda perpisahan. Eva mengantarkan Arthur ke pintu mobilnya, dia pun memberikan bungkusan padanya.


"Apa ini Ma?" tanyanya sambil menerima bungkusan kotak yang sudah Eva siapkan untuknya.


"Untuk Anya." ucapnya pelan


"Kau ini, aku memberikan untuk menantuku kau sendiri yang malah melarangnya!" kata Eva dengan menepuk bahu Arthur, dia memebalas dengan muka sok kesakitannya.


"Iya Ma..., sudah akan aku berikan pada Anya." jelasnya dengan membuka pintu belakang mobilnya dan meletakkan bungkusan tersebut.


"Salam untuknya ya? Dia suka dengan muffin buatanku itu! Beruntungnya aku punya menantu seperti dia, tidak seperti Dona..." celetuk Eva dengan mimik sebalnya, Arthur yang melihat hanya tersenyum dan memeluk Eva.


"Sudah, dia masa lalu oke? Kau sudah tua Ma, jangan memikirkan hal yang berat untukmu! Aku titip anak-anakku ya Ma?" ucap Arthur dengan mengecup kening Eva.


"Ya, aku akan menjaga anakmu! Berikan aku cucu dari Anya, oke?" pinta Eva dengan mimik muka serius.


"Ya ampun Ma, kamu memang masih mau mengurus bayi lagi?" tanya Arthur dengan menatap wajahnya.


"Tentu! Biar rumah ini menjadi ramai lagi." ucap Eva dengan berharap


"Nanti aku pikirkan! Lagian anak-anak belum tau aku sudah menikah kembali dan terutama pada Alvin..., aku belum siap Ma." ucap Arthur dengan menatap lurus. Eva yang menyadari bahwa dia berkata salah menjadi tak enak, dia lupa bahwa Alvin pernah dekat dengan Anya. Seharusnya tadi dia tak usah berceletuk ingin cucu dari Anya.


"Sudahlah Arthur maafkan Mama ya, aku kadang lupa akan hal itu." ucap Eva sambil mengusap pundaknya.


"Tak apa Ma, santai saja." balas Arthur dengan meraih tangan Eva yang ada dipundaknya tersebut.


"Ya sudah aku pamit ya? Bye Ma..." pamit Arthur dengan membuka pintu mobilnya.


"Bye sayang, hati-hati..." ucap Eva dengan melambaikan tangannya pada Arthur.



Arthur menyalakan mobilnya dan kemudian beranjak pergi meninggalkan rumah Eva menuju apartemennya. Sepanjang perjalanan Arthur termenung sejenak tentang hubungan Anya dan Alvin. Dia masih bingung untuk mengatakan pada anaknya itu bahwa dia telah menikah dengan Anya, mantan gebetan anaknya tersebut. Anya dan Alvin pernah saling suka sama lain, namun keduanya memutuskan untuk tidak pacaran karena Alvin akan melanjutkan studinya di luar negeri. Dan Anya saat itu dia membutuhkan orang yang benar-benar bisa melindungi dan mengangkat kehidupannya lebih baik.



"Bagaimana jika Alvin justru membenciku?" gumam Arthur sendiri, dia memandang kedepan dengan tetap fokus menyetir melintasi hiruk pikuk suasana malam itu.

__ADS_1



Arthur membuka lift dan segera menuju pintu apartemennya. Dia pun segera mengeluarkan kartu akses untuk masuk, dan menutup kembali pintunya. Dia melihat sekitar sepertinya Anya sudah masuk kamarnya, karena lampu di seluruh ruangan dimatikan. Dia pun meletakkan kunci mobilnya di nakas tak jauh dari pintu masuk, dan segera berjalan menuju dapur untuk meletakkan kue muffin buatan Eva. Namun ketika melewati ruang tv dia menyadari tv masih menyala, dia pun segera menghampiri dan Anya tertidur disitu dengan pulasnya.



Arthur mendekatinya dan sekarang posisinya dia sudah dipinggir kursi tempat Anya tertidur. Dia menatap Anya sangat dalam, dia mengusapkan tangannya pada pipi Anya dan menyibakkan rambutnya.



"Kau cantik Anya, aku sungguh jatuh cinta padamu." gumam Arthur pelan sambil terus mengelus pipi Anya yang sangat halus tersebut.


"Inginku mencium pipimu, tapi aku ragu kamu pasti akan marah jika aku melakukannya!" gumamnya kembali dengan tatapan harap.


Anya masih terbaring pulas dan tak menyadari akan kehadiran Arthur saat itu. Arthur melihat kearah tv dan mencari remote tv untuk memindahkan acara yang sesuai dengan seleranya.



Tanpa terasa Arthur tertidur di depan tv dengan posisi masih duduk disamping Anya dengan meselonjorkan kedua kakinya yang lelah. Anya pun akhirnya terbangun karena dia mencium aroma parfum yang khas dari seseorang yang dia kenal yaitu Arthur. Anya terkejut melihat siapa yang ada disampingnya saat ini, tanpa sengaja badan Arthur sudah ambruk dan berada disamping Anya.



(Kapan dia pulang?)



Pikir Anya yang kemudian dia bangun dari posisinya. Arthur yang merasa ada seseorang yang bergerak disampingnya terpaksa bangun dan membuka kedua matanya yang lelah tersebut.


"Anya?" ucapnya sambil mengusapkan kedua matanya.


"Kamu pulang jam berapa?" tanya Anya yang menatap Arthur.


"Jam 10 tadi aku sampai sini." balasnya dengan menguap, Anya melirik jam dinding yang berada diruang tersebut menunjukkan pukul 11 malam.


"Sudah satu jam yang lalu kamu pulang?" tanya Anya dengan memastikan.


"Ya kurasa, aku tertidur dan tak sadar Anya." jelas Arthur sambil melihat jam tangannya.


"Apa yang kamu bawa?" tanya Anya yang melihat bungkusan yang berada di meja depannya.


"Oh, ini Mama membungkuskan kue muffinnya untukmu. Mau coba?" tanya Arthur dengan mengambil bungkusannya dan menyodorkan pada Anya.


"Cinnamon Muffin kah?" tanya Anya memastikan.


"Yup! Kesukaan kamu!" ucap Arthur dengan tersenyum manis.



Anya membuka bungkusan kotaknya dan benar itu kue muffin kesukaannya. Dia pun segera mencicipi kue muffin tersebut, seketika ekspresi mukanya langsung ceria. Dia suka sekali dengan kue muffin buatan Eva ini, makanya tak heran Eva suka membuat banyak hanya untuk Anya saja.



"Kamu gak mau?" tanya Anya sambil mengunyah kuenya.


"Gak usah, lihat kamu aku kenyang." jawab Arthur dengan senyum menggoda.


"Gak aneh..." balas Anya yang sudah tau bahwa Arthur pasti tak akan mau memakannya.


"Hari ini kamu ketemu Alvin?" tanya Anya kembali sambil fokus melahap kue muffinnya.


"Ya, aku ketemu dia." balas Arthur dengan menyelipkan rambut ke sela-sela telinga Anya. Anya yang menyadari sikap manis Arthur ini langsung salah tingkah sendiri dan membuang muka sekilas.


"Kenapa? Terlalu manis ya?" sindir Arthur dengan sedikit mengejek Anya. Dia pun terdiam tanpa kata dan tetap lanjut menghabiskan muffin yang berada ditangannya itu.


"Habiskan kue muffinnya ya? Aku mau ke kamarku..." ucap Arthur yang beranjak berdiri dan meninggalkan Anya diruang tv.



Anya memegang kedua tangannya pada dadanya, rasanya begitu aneh. Sekian lama dia tinggal dengan Arthur tapi baru kali ini dadanya berdegup dengan kencang. Apakah mungkin dia sudah mulai memcintai Arthur? Ataukah memang karena kondisi badannya saja yang tak sehat? Anya menepis pikirannya yang berharap itu, kembali menghabiskan muffinnya.

__ADS_1



*****


__ADS_2