
Kirana menghitung baju di lemarinya, ia memisahkan baju yang ia kira sudah terlihat lusuh dan model lama.
Menyisakan Pakaian dan Gaun yang dibelikan oleh Altezza untuknya. Dan juga beberapa Pakaian lama nya yang masih sangat cantik.
Tiba-tiba terdengar suara keributan di depan rumahnya, ia segera keluar dan melihat beberapa orang dengan jas hitam yang kini berdebat dengan Papanya.
Kirana mendekati Mamanya dan bertanya apa yang terjadi.
"Paman kamu, Papanya Chika kabur keluar negeri meninggalkan hutang lebih dari 1 milyar."
Kirana menaikkan alisnya, "Benarkah? Lalu bagaimana dengan pernikahannya?."
"Arya membatalkannya setelah mengetahui hal itu, sekarang mereka kesini karena ingin kita yang membayarnya."
Kirana membulatkan matanya terkejut, "Kenapa? Kenapa harus kita?."
"Dia menjadikan Papa kamu sebagai jaminan, dulu Papa kamu kira mereka sudah membayar hutangnya ke bank karena dilihat-lihat kehidupan mereka tampak mewah kan." jawab Mamanya.
"Rumah nya bagaimana? Mereka kan bisa menyita rumah nya saja, daripada meminta Papa yang membayarnya."
"Rumah itu hanya sewa, itu bukan milik paman kamu."
"Nek, nenek lihat anak kesayangan nenek. Membuat susah kita saja." tambah Kirana yang tak tahan lagi. Neneknya selalu menyanjung pamannya dan menjelek-jelekkan papanya sekarang lihat siapa yang kesulitan dan siapa lagi yang akan disalahkan, jelas itu Papanya lagi.
Neneknya membuang muka, "Bukankah itu karena Papa kamu mau dijadikan jaminan."
Kirana menebak dengan benar, ia duduk di samping Papanya dan menepuk pundaknya, "Apa Papa tidak punya simpanan lain?."
Papanya menggeleng, "Di Kartu Papa hanya tersisa 130 juta. Di kartu lainnya itu gaji pegawai, tidak mungkin Papa mengambilnya."
"Selama bertahun-tahun Papa berbisnis apa tidak ada lagi hal lainnya? Maksudku bukankah hidup kita juga hanya sederhana, tidak mungkin Papa tidak punya properti lain." Tanya Kirana.
Setidaknya dulu dalam sebulan keuntungan Papanya dapat mencapai ratusan juta.
Setelah di sisihkan pun Papanya pasti menabung uang, tidak mungkin hanya 130 juta.
Papanya menghela nafas pelan dan menatap Kirana meminta maaf.
Drrt...drtt..drtt...
Ponsel Papa nya bergetar, ia segera mengangkat telfonnya.
Wajahnya yang awalnya sendu kini menjadi terkejut, "Kenapa seperti itu?."
"Bagaimana bisa mereka mengembalikannya begitu saja?."
....
Kirana menunggu di rumah dengan sabar, ia menatap baju yang sudah ia pisahkan.
Jika keadaan memburuk mau tidak mau ia harus menjual Pakaian mewah itu.
Bukankah sebelumnya ia bilang pada Altezza akan menjualnya, jadi tidak apa-apa bukan jika dia melakukannya.
Namun sekarang Kirana penasaran apa yang dilakukan Altezza sekarang.
__ADS_1
..._&_&_...
"Semua pembeli nya sudah mengembalikan Kuenya, dia tidak akan jadi pemasok lagi. Dan juga beberapa orang kita sudah menyebarkan berita buruk tentang kue yang ia jual. Jadi kupikir tidak ada yang berani membeli kuenya." Ucap Keenan.
Sebenarnya ia tak ingin melakukan hal ini, namun ini adalah perintah Altezza. Jika diberi 1000 keberanian pun dia tidak akan menolaknya jika tidak... Siapa yang tau apa yang akan di lakukan pria licik dan kejam itu.
Bahkan pada Mamanya sendiri saja dia dapat berlaku kejam.
"Baiklah, kita akan melihat bagaimana dia beberapa hari ini. Aku tidak sabar menunggu bagaimana dia meminta bantuan dariku." Ucap Altezza dengan senyum licik.
"Ouh iya selama kita di luar negeri biarkan seseorang mengawasi Kirana. Aku juga ingin membawanya ke keputusasaan sebelum aku membantunya. Biarkan dia menyesal karena tidak menyadari betapa pentingnya aku." Lanjut Altezza lagi.
..._&_&_...
Kirana memfoto Pakaian yang ia miliki dan menjualnya di situs jual beli online.
Keadaan rumah sangat tenang, Mama dan Neneknya kembali ke desa berjaga-jaga jika nantinya rumah di sita mereka bisa menempati rumah lama.
Deringan Telfon rumah mengejutkan Kirana, ia segera mengangkatnya.
Mata nya yang awalnya tenang kini tak tergerak lagi, Kirana menjatuhkan Telfonnya dan berdiam diri seperti patung selama beberapa saat.
Kakinya melemah dan ia terjatuh kelantai dengan suara keras.
"Bagaimana mungkin?."
"Kenapa?." Tanya Kirana pelan dengan suara tercekat.
..
"Dimana Pak Lingga?." Tanya Pak Harun yang bekerja dibawah Papanya.
"Papa masih di rumah, dia sedang istirahat."
Pak Harun mengangkat alisnya, "Aku sudah menghubunginya dan dia bilang dia akan datang."
"Apa? Pak Harun kenapa menghubungi Papa?."
Kirana berdecak pelan, jika mengetahui kabar buruk ini Kirana takut Papanya akan sakit.
Setelah menunggu setengah Jam dengan dibantu pemadam kebakaran Api berhasil di padamkan.
Namun selama itu juga Papa nya tidak muncul, Kirana menjadi khawatir.
Ia mencoba menelfon Papanya namun tak ada jawaban.
Kirana menjadi sangat khawatir tidak ada tanda-tanda kedatangan Papanya.
Hingga kemudian sebuah telfon masuk dari Papanya.
"Hallo Pa..."
Kirana terdiam mendengar suara diseberang telfon lagi lututnya melemah dan ia terduduk.
.....
__ADS_1
Kirana menatap Papanya yang terbaring di ranjang dengan perasaan kalut.
Taksi yang Papa nya naiki kecelakaan dan saat ini Papa nya sedang dalam keadaan koma.
Hutang, Kebakaran lalu kemudian kecelakaan.
"Kirana, aku hampir lupa menyerahkan ini padamu." Ucap Pak Harun tiba-tiba datang dan menyerahkan sebuah Dokumen.
Kirana menerimanya dan membukanya lalu menatap Pak Harun dengan tatapan bertanya, "Apa ini?."
"Surat kepemilikan Toko dan juga rumah."
"Ini yang Papa kamu belikan atas nama kamu." Ucap Pak Harun
"Ouh Iya aku tau keadaan ini sangat buruk untukmu, tapi gaji karyawan dan sewa toko harus segera dibayarkan."
Kirana terdiam sejenak, kemudian menyerahkan sebuah kartu, "Ini Gaji Karyawan, Papa sudah menyisihkan nya diawal bulan."
"Tapi kurasa ini tidak akan cukup." Ucap Pak Harun.
"Kenapa?."
"Papa kamu memakai keuntungan uang pesanan untuk membeli Toko itu, kau tau harganya hampir mencapai 3 milyar. Ya jika saja mereka tak membatalkan pesanan maka tak masalah, tapi semua pelanggan telah membatalkan pesanan. Dan Papa kamu sudah memotong Uang yang ada disini. Kirana ini tidak akan cukup." Ucap Pak Harun menjelaskan.
Kirana memijit dahinya semua masalah ini membuat kepalanya pusing, "Tolong beri aku waktu, aku akan mencari cara lain."
.....
Kirana melihat Toko yang Papanya beli, di sana bahkan sudah ada Logonya sendiri dan sebuah tulisan besar didinding 'Candy'.
Candy
Impian nya dulu yang semanis gula-gula.
Toko ini bahkan tidak ada yang mau membelinya entah kenapa, mereka seakan-akan tak berani ingin membeli nya.
Kirana membuka Ponselnya beberapa baju yang ia punya sudah terjual. Walau dengan harga rendah setidaknya ia punya uang.
......
Kirana memegang erat tangan Papanya dan memandanginya, setidaknya ia tetap berada disisinya walau sakit.
Jika tidak entah untuk siapa lagi Kirana berjuang.
Tiba-tiba suara keributan terdengar, beberapa orang masuk dalam keadaan marah.
"Non kami tau kau dalam keadaan sulit, namun setidaknya berikan hak kami."
Kirana mengangkat alisnya, "Aku sudah memberikan gaji kalian kepada pak Harun. Ya walau belum sepenuhnya tapi-"
"Pak Harun?."
"Non Apa non gak tau kalau Tuan Lingga akhir-akhir ini bertengkar dengan Pak Harun. Pak Harun terlilit banyak hutang dan dia mengambil uang perusahaan, Nona memberikan uang itu padanya?."
Kirana menjadi gugup, tidak lagi.
__ADS_1
Kenapa dia sangat bodoh?