Unknown Love

Unknown Love
Malam Pertama


__ADS_3

Farhan melirik pintu kamar mandi, sudah tiga puluh menit Kinara tidak keluar dari sana.


"Hmm...apa dia baik-baik saja di dalam sana?", gumam Farhan khawatir.


Tok...tok...tok


Farhan mengetuk pintu kamar mandi untuk memastikan keadaan istrinya.


"Nara, apa kamu baik-baik saja di dalam?".


Hening


"Nara, tolong jawab aku".


Masih tidak ada jawaban.


"Apa aku harus membuka paksa pintu ini?", Farhan bertanya pada dirinya sendiri.


Clek


Terdengar sudah pintu terbuka, Kinara menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


"Syukurlah, aku bisa melihatmu. Lama sekali kamu di dalam sana", Farhan mengusap dadanya, lega.


Kinara sedikit menundukkan wajahnya, "Mmm...maaf, aku tidak bisa keluar".


Farhan mengenyitkan dahinya, "Kenapa?". Matanya menatap wajah Kinara dengan rambutnya yang basah tergerai.


Ekor mata Kinara melirik sebentar ke arah Farhan, "A...aku...aku butuh pakaian", jawabnya malu-malu.


Farhan tersenyum tipis, "Aku ambilkan, ya", dia bergegas menuju lemari pakaian yang ada di kamar itu. Farhan berusaha menahan debaran di dadanya. Ini kali pertama Farhan melihat Kinara seperti itu, menggoda sekali. Padahal dia hanya melihat wajah malu-malu istrinya dari balik pintu. Farhan segera menepis pikirannya yang sudah melayang kemana-mana.


Tadi sore sebelum acara pernikahannya dimulai, Ajeng sudah mengabarinya jika dia sudah mempersiapkan pakaian untuk Kinara di lemari itu.

__ADS_1


Kinara terdiam, dia masih setia menunggu di balik pintu. Saat ini dia hanya mengenakan handuk hotel yang melilit tubuhnya. Dia merasa sangat malu jika harus keluar dalam keadaan seperti itu, dan tadi dia lupa membawa baju ganti ke dalam kamar mandi karena terlalu terkejut dengan ciuman pertamanya dengan Farhan.


Farhan membuka lemari dan heran melihat isi lemari itu. Semuanya pakaian yang ada di sana dia yakini itu bukan selera Kinara. Tapi akhirnya Farhan mengambil salah satu pakaian yang tergantung itu.


"Aku hanya menemukan baju seperti ini di dalam lemari", Farhan memberikan baju itu pada Kinara.


Kinara segera mengambil baju yang Farhan berikan, dia tak ingin ambil pusing tentang baju yang kini ada di tangannya.


"Terimakasih", ujar Kinara yang segera menutup pintu kamar mandi tanpa menunggu respon dari Farhan.


Farhan tersenyum tipis, dia memilih untuk merebahkan dirinya di sofa, menunggu Kinara keluar dari kamar mandi karena dia pun ingin membersihkan diri.


Kinara segera mengeringkan tubuhnya dan mengeringkan rambutnya yang basah. Dia memandang dirinya di depan cermin, pakaian yang tadi Farhan berikan sudah dia kenakan.


"Kenapa aku bisa lupa membawa baju-bajuku ke sini? ini juga, baju macam apa? masa iya aku harus keluar dengan penampilan seperti ini di depan Farhan?", sejuta tanya berkecamuk dalam diri Kinara.


Kinara merasa risih dengan pakaian yang ia kenakan. Sebuah gaun tidur yang panjangnya hanya sepaha, kainnya tipis dan transparan. Tali dikedua bahunya pun tipis sekali, belum lagi bagian depan gaun tidur itu berbentuk V yang menunjukkan area dada Kinara.


Farhan sudah beberapa kali melirik ke arah pintu kamar mandi, tapi masih tidak ada tanda-tanda Kinara akan segera keluar dari sana.


"Hmm...dasar wanita, selalu betah berlama-lama di kamar mandi", keluh Farhan. Sudah hampir satu jam, Kinara belum juga keluar membuat Farhan menunggu dan tanpa sadar dia tertidur di sofa karena lelah yang mendera.


Kinara berpikir, akhirnya dia memilih handuk hotel yang tadi dia kenakan untuk dia jadikan penutup bagian atas tubuhnya.


"Ah sudahlah, biarkan saja bagian tubuh bawahku terlihat, setidaknya masih ada bagian tubuh lain yang tertutup", begitu pikir Kinara. Setelah dia menarik nafas beberapa kali, Kinara mencoba memberanikan diri membuka pintu kamar mandi. Ia menyembulkan kepalanya perlahan, memastikan Farhan tidak ada di depan pintu itu dan melihatnya keluar.


Setelah merasa aman, Kinara melangkahkan kakinya keluar. Kakinya yang jenjang dan pahanya yang putih nan mulus itu pun terlihat jelas, sungguh dia merasa malu.


"Farhan kemana? kok sepi begini", batin Kinara saat dirinya tidak menemukan sosok suaminya itu.


Meskipun Kinara merasa risih dengan penampilannya, tapi dia tetap mencari keberadaan Farhan.


"Ya ampun, dia tertidur di sini", gumam Kinara sesaat setelah dia menemukan Farhan nampak lelap di sofa.

__ADS_1


Kinara tersenyum tipis, "Syukurlah, dia tidak melihat penampilanku yang memalukan ini".


Kinara merasa lega, tapi dia pun merasa sedih dan kasihan karena sudah membuat suaminya menunggu lama hingga tertidur.


Kinara ingin membangunkan Farhan, tapi niat itu dia urungkan karena akan sangat memalukan jika Farhan melihat dirinya seperti itu, berpakaian sangat terbuka. Kinara akhirnya memilih memejamkan kedua matanya, dia pun merasa lelah setelah jadi ratu malam ini.


Pukul tiga dini hari, Farhan terbangun saat dia merasakan udara dalam ruangan itu begitu dingin. Farhan melangkah ke tempat tidur, dia sempat melihat kepala Kinara yang menyembul dari balik selimut. Tanpa pikir panjang, Farhan segera masuk ke selimut yang sama setelah dia memaksakan dirinya melepaskan jas dan kemeja yang masih dia kenakan. Setelahnya, Farhan kembali tertidur dengan lelap.


.


Sementara itu, di tempat yang berbeda, Erik dan Ajeng tengah asyik menikmati malam pertama mereka. Keduanya benar-benar hanyut dalam kemesraan.


"Terimakasih, sayang", Erik mengecup pucuk kepala Ajeng setelah mereka berdua menyelesaikan aktivitas malamnya. Nafas Erik masih terengah-engah, begitu pula dengan Ajeng. Ini kali pertama mereka menunaikan kewajibannya sebagai sepasang suami istri.


Ajeng tersenyum dan mengangguk. Dia merebahkan tubuhnya dalam dekapan Erik.


"Apa kamu menikmatinya, sayang?", tanya Erik sambil mengusap lembut bahu istrinya yang terbuka.


Ajeng menyembunyikan wajahnya dan mengangguk kecil. Rasanya dia malu sekali harus mengakui hal itu di depan suaminya.


"Rasanya sakit, tapi aku suka", jawab Ajeng malu-malu.


Senyum Erik mengembang. Dia merasa senang saat mengetahui Ajeng menyukai pergumulan mesra mereka berdua. Erik tahu, kali pertama melakukannya pasti tidaklah mudah bagi Ajeng, sebisa mungkin dia memainkannya dengan lembut tapi tetap memberikan kepuasan untuk diri mereka berdua.


"Sayang, besok pagi aku ada meeting penting dengan klien. Tak apa ya jika kamu aku tinggal", ucap Erik lagi, kali ini kedua mata mereka saling beradu.


Ajeng mengerucutkan bibirnya, "Kenapa kamu harus meeting disaat kita baru menikah? apa Farhan tidak mengizinkanmu libur", Ajeng merajuk.


Erik tersenyum, dengan gemas dia mencubit pipi Ajeng, "Farhan juga besok pagi meeting. Klien kita kali ini sudah diajak negosiasi, sekalinya menjadwalkan meeting ya tidak bisa diubah lagi. Aku janji, setelah meeting selesai, aku segera pulang dan kita pergi jalan-jalan berdua, ya", bujuk Erik.


Ajeng hanya mengangguk kecil. Dia mencoba menerima dan mengerti kesibukan suaminya meski hatinya sendiri berat harus ditinggal meeting disaat mereka seharusnya masih bisa menghabiskan waktu berdua.


Malam semakin larut, rasa lelah yang menerpa sepasang pengantin baru ini pun menyergap. Kedua akhirnya tertidur dengan lelap dan saling berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2