Unknown Love

Unknown Love
Apartemen


__ADS_3

"Sayang, bersiap-siaplah. Malam ini aku akan mengajakmu ke suatu tempat", terdengar suara Erlangga di ujung telepon.


"Kemana, mas?", tanya Kinara yang baru saja merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia baru saja pulang mengajar.


"Ikut saja. Ini kejutan untukmu. Aku pulang jam empat sore ya dari kantor", jawab Erlangga diakhir teleponnya.


Kinara hanya meng-iya-kan saja perintah suaminya itu. Rasa lelahnya hari ini di sekolah membuatnya tertidur tanpa sadar.


.


Sementara itu, di kantor, Erlangga terlihat sumringah. Dia membayangkan betapa bahagianya Kinara dengan kejutan yang akan diberikannya nanti malam.


"Leo, apakah siang ini saya masih ada jadwal meeting?", Erlangga menanyakan jadwalnya kepada Leo, asisten pribadinya di kantor.


"Tidak ada, tuan", jawab Leo cepat.


"Ok. Kalau begitu, tolong kamu pastikan lagi kejutan untuk istri saya nanti malam sudah siap, ya", perintahnya.


"Baik, tuan", Leo segera berlalu dari hadapan bossnya itu.


Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul empat tepat. Sesuai dengan janjinya, Erlangga segera pergi meninggalkan kantornya.


Sementara di rumah, Kinara masih enggan membuka kedua matanya. Dia masih tertidur lelap, lengkap dengan blazer yang masih ia kenakan dan tas selempangnya yang tergeletak begitu saja di atas kasur.


"Tumben kakak pulang cepat?", Ajeng yang menyambut kedatangan Erlangga.


"Iya. Kinara kemana?", tanya Erlangga melihat sekeliling.


"Mungkin di kamarnya, kak. Aku juga baru pulang, dari tadi rumah sepi", kata Ajeng sambil berlalu, kembali ke dalam kamarnya.


Erlangga segera menuju kamar tidurnya, perlahan dibukanya pintu kamar dan dia melihat Kinara yang nampak tertidur lelap.


"Tidur ternyata", gumam Erlangga.


Dia melepas jasnya, membuka kancing kemeja dan menggulung lengan kemeja yang dikenakannya.


'Cantik', batinnya saat menatap wajah polos Kinara.


Erlangga mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Dielusnya lembut pipi istrinya itu. Kinara menggeliat sedikit, merasakan ada sesuatu yang menyentuhnya. Tapi kedua matanya masih tertutup rapat.


Erlangga membiarkan istrinya tetap seperti itu. Dia memilih untuk membersihkan diri.


Pukul enam tepat, Kinara baru mencoba membuka kedua matanya. Ia menggeliat sebentar, lalu mengerjapkan matanya dan menggeliat lagi.


"Kamu menggoda sekali, sayang...", Kinara terkejut mendengar suara yang sangat dikenalnya itu.


Ia segera membalikkan tubuhnya, dilihatnya Erlangga berdiri di dekat pintu.

__ADS_1


"Mm...mas, kapan pulang?", tanya Kinara terbata-bata.


Erlangga tersenyum, "Sudah sedari tadi aku sampai, bahkan aku sudah membersihkan diri. Hmm...tapi istriku masih seperti ini. Bukannya tadi aku sudah memintamu untuk bersiap-siap, bukan?".


"Ma...maaf mas, tadi aku gak sengaja tertidur. Maaf, aku gak tahu kalau mas sudah pulang", jawab Kinara.


Erlangga menghampiri istrinya, "Tak apa. Aku suka melihatmu tertidur seperti tadi, dan melihatmu bangun dengan menggeliat, itu lebih aku suka. Ayo, bersiap-siaplah", Erlangga menyentuh dagu Kinara, membuat debaran kuat dalam diri pemiliknya.


Kinara segera bergegas, butuh waktu tiga puluh menit untuk dirinya membersihkan diri dan bersiap pergi.


"Kalian mau kemana?", Pak Wijaya menatap heran anak menantunya yang sudah nampak rapi.


"Kita mau keluar dulu ya pa, ma", jawab Erlangga cepat.


"Ciiieee...mau pacaran ya?", goda Ajeng.


"Huuss...sudah sana kalau mau pergi. Jangan banyak ditanya dong pah, kamu juga Jeng, usil aja sama kakakmu", sela Bu Tria.


Pak Wijaya dan Ajeng kompak tersenyum jahil. Tak lama, Erlangga dan Kinara pun pergi.


"Mas, sebetulnya kita ini mau kemana sih?", Kinara masih penasaran.


"Kan aku sudah bilang, malam ini aku mau memberimu kejutan. Kalau kejutan, ya berarti gak bisa dikasih tahu sekarang dong", jawab Erlangga enteng.


Akhirnya Kinara memilih untuk diam, menikmati alunan lagu-lagu romantis yang sengaja Erlangga putar selama perjalanan mereka.


"Ayo Nyonya Erlangga, silahkan turun".


"Di sini?".


"Iya sayang. Ayo kita turun", ajak Erlangga lagi.


Keduanya masuk ke dalam lift yang ada di basement. Erlangga memencet tombol lantai tujuh.


"Mas, sebetulnya ini gedung apa?", Kinara masih saja penasaran.


Erlangga tak menjawab pertanyaan itu. Dia memilih lebih mengeratkan pegangan tangannya pada Kinara.


Tak lama, keduanya sampai di depan sebuah pintu berwarna coklat. Erlangga memencet beberapa tombol yang ada di samping pintu itu dan pintu pun terbuka.


"Ayo kita masuk sayang".


Kinara mengikuti langkah suaminya. Dia terpesona dengan isi ruangan itu. Semuanya tertata sangat rapi dengan nuansa hitam putih yang memberikan kesan elegan.


"Mas, ini...".


"Ini kejutan untukmu. Apartemen yang akan menjadi rumah kita berdua", jawab Erlangga cepat.

__ADS_1


Kedua mata Kinara nampak berbinar bahagia. Dia tak menyangka suaminya akan memberikan kejutan seperti ini.


"Apartemen ini sengaja aku beli untuk kita berdua. Kepemilikannya atas namamu. Apa kamu suka, sayang?".


Tanpa disadari, air mata bahagia menggenang di pelupuk mata Kinara.


"Iya mas, aku...aku, suka sekali. Terimakasih", Kinara spontan memeluk erat suaminya.


Erlangga membalas pelukan itu dengan erat, "Kamu tidak harus menangis karena ini, sayang", bisiknya lembut.


"Maaf mas, aku terharu. Terlalu bahagia", jawab Kinara lirih.


"Aku sudah kembali ke sini, dan seperti janjiku sama kamu, setelah aku kembali, kita akan tinggal di tempat milik kita sendiri. Minggu depan, kita akan pindah ke sini, ya".


Kinara menganggukkan kepalanya. Erlangga melonggarkan pelukannya, dia mengangkat lembut dagu istrinya. Kedua mata mereka saling bertemu.


"Aku sangat mencintaimu", bisik Erlangga sesaat sebelum dia ******* lembut bibir istrinya. Kinara tak menolak ciuman itu, entah kenapa dia begitu menikmatinya.


"Terimakasih...", bisik Kinara setelah pautan bibir suaminya lepas.


Erlangga tersenyum, menatap dalam istri kesayangannya itu.


"Kamu terlalu banyak berterima kasih, sayang. Sudah kewajibanku memastikan kamu mendapatkan tempat tinggal yang baik dan nyaman. Aku sengaja membeli apartemen dulu untuk menikmati kebersamaan kita. Nanti setelah kita punya anak, aku akan memberikanmu rumah", janji Erlangga.


"Mas, bagiku tak masalah apartemen atau rumah. Ada kamu di sisiku, aku sudah merasa sangat bahagia dan cukup".


"Aku bersyukur memiliki istri sepertimu", Erlangga mendekap lagi istrinya. Mereka kemudia berkeliling, melihat seisi apartemen itu.


Ddrrtt...ddrrtt...drrt...


Ponsel Erlangga bergetar, memecahkan kelekatan mereka berdua.


"Ya, hallo...".


"...".


"Ok, terimakasih. Saya akan segera ke sana".


"Ada apa mas?".


"Masih ada lagi kejutan untukmu, sayang. Ayo kita pergi".


"Kejutan apa lagi, mas?".


"Lihat saja nanti. Semoga kamu juga suka dengan kejutan ini".


Mobil yang dikendarai Erlangga pun melaju, meninggalkan rumah masa depan mereka.

__ADS_1


__ADS_2