Unknown Love

Unknown Love
Rencana Gila


__ADS_3

"Mau kemana, Ra?", tanya Bu Hasna saat Kinara terlihat bersiap untuk pergi.


"Nara mau ziarah dulu, bu. Sudah sangat lama Nara tidak mengunjungi pusara Mas Angga", Kinara berpamitan pada Bu Hasna.


"Iya, hati-hati", pesan Bu Hasna melepas kepergian putri sulungnya itu.


Kinara melajukan motor kesayangannya yang juga sudah begitu lama tidak dia gunakan. Tak butuh waktu lama, Kinara sudah sampai di pemakaman.


Setelah memarkirkan motornya, Kinara bergegas, dia berjalan melalui beberapa pusara. Ingatannya kembali ke kenangan beberapa tahun lalu saat diri dan hatinya begitu hancur dan sedih mengantarkan Erlangga ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Kilatan kenangan kebersamaan mereka yang memang tak lama kembali membayang dalam ingatan Kinara. Langkah kakinya terhenti saat dia melihat dua sosok orang yang sedang berjongkok di samping pusara suaminya.


"Assalamualaikum...", sapa Kinara. Kedua orang yang ada di depannya menoleh.


Ternyata itu adalah Viona dan Alya. Kinara terkejut melihat keduanya dan sebaliknya.


"Waalaikumusalam, Kinara...", jawab Viona. Dia beranjak dan mensejajarkan dirinya dengan Viona.


"Ibu guru Kinara", seru Alya yang spontan memeluk guru kesayangannya itu.


Kinara menurunkan tubuhnya untuk mengimbangi Alya, lalu membalas pelukan dari Alya.


"Hallo, Alya apa kabar? wah sudah besar ya sekarang", tanya Kinara ramah. Matanya menatap Alya dari atas sampai bawah, melihat perubahan muridnya itu.


"Kabarku baik, bu guru. Sekarang aku sudah SD lho", jawab Alya riang. Kinara tersenyum mendengar jawaban Alya. Anak itu masih sama, tak banyak berubah dalam keramahan dan kelekatannya pada Kinara.


"Lama ya kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?", Viona yang sedari tadi mematung melihat putrinya dan Kinara kini mulai membuka suara.


"Iya. Kabarku baik. Semoga kabarmu juga baik", jawab Kinara pendek.


Viona tersenyum, "Aku mau minta maaf atas kejadian terakhir saat kita bertemu dulu".


Kinara berdiri, "Tak apa. Kita lupakan saja semua hal yang sudah lalu", jawab Kinara.


"Jujur saja, aku merasa begitu terguncang dengan kepergian Erlangga. Aku baru mengetahuinya setelah satu bulan kepergiannya", wajah Viona terlihat sendu.


"Maaf aku tak mengabarimu. Saat itu, keadaanku pun tidak baik", ujar Kinara.


Viona spontan memeluk Kinara. Air matanya tiba-tiba tumpah. Kinara membalas pelukan Viona yang menangis sesegukan.


"Erlangga beruntung bisa mendapatkan istri sepertimu", suara Viona terdengar lirih di tengah tangisannya.


Kinara tak menjawab apapun, dia lebih memilih untuk menenangkan Viona juga dirinya sendiri.


"Mama kok nangis?", tanya Alya polos. Sedari tadi dia hanya menyimak percakapan antaranya ibunya dan gurunya.


Kinara melonggarkan pelukannya, begitu pun dengan Viona, dia menarik perlahan tubuhnya dari pelukan Kinara.


"Mama gak kenapa-kenapa, sayang. Mama hanya terharu karena bisa ketemu lagi sama bu guru", jawab Viona dengan mencoba menyunggingkan senyum kepada Alya.


"Ayo kita do'akan papa Alya sama-sama. Papa pasti senang kita datang berkunjung ke sini", ajak Kinara.


Akhirnya mereka bertiga kembali ke pusara Erlangga. Melantunkan do'a sekaligus mengenang sosok lelaki yang kini sudah tenang di alam sana.


"Ra, apa kamu masih mau di sini?", tanya Viona sesaat setelah dia melirik jam di tangannya.


"Iya, aku masih mau di sini", jawab Viona pendek.


"Kalau gitu, aku sama Alya pamit duluan ya", Viona berpamitan. Alya segera mencium tangan Kinara dan memeluknya. Keduanya pun berlalu.


Angin semilir meniup lembut wajah Kinara. Suasana sunyi membuat ingatan Kinara kembali melayang jauh mengenang sosok Erlangga.

__ADS_1


Air matanya mulai menggenang, "Maaf ya mas, aku baru menjengukmu lagi".


Kinara menundukkan wajahnya, berusaha menahan tangis yang sudah tak bisa dia bendung.


"Mas, aku rindu sekali. Sudah lama mas tidak mengunjungiku dalam mimpi. Aku harap mas bahagia ya di sana", Kinara berbicara sesegukan.


"Mas...a...aku...aku sedang bingung, mas. Mas tentu tahu tentang Farhan, bukan? apa yang harus aku lakukan dengan pinangannya, mas? aku tidak ingin mengkhianatimu", bahu Kinara berguncang hebat menahan sesak di dadanya.


"Dulu, saat kita masih bersama, aku gagal menjadi istri yang baik bagimu. Rasanya tak adil jika sekarang aku harus menerima laki-laki lain meski aku tahu Farhan adalah lelaki yang baik", Kinara melanjutkan curahan hatinya.


"Aku pun sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menjaga hatiku setelah kepergianmu, mas", lirih Kinara.


"Kak...", sebuah suara mengejutkan Kinara. Dilihatnya Alisa sudah berdiri tak jauh dari pusara Erlangga.


Kinara segera menyeka air matanya. Alisa menghampirinya dan segera memeluk kakak kesayangannya itu.


"Maaf, tadi aku mendengar ungkapan hati kakak ke Kak Angga", bisik Alisa sambil mengelus lembut punggung kakaknya.


Kinara hanya terdiam dalam dekapan adiknya itu.


"Aku tahu kakak pasti melalui hari-hari yang berat setelah kepergian Kak Angga. Tapi aku percaya, kakak adalah perempuan yang kuat dan aku juga yakin Kak Angga pun ingin kakak bahagia. Apapun pilihan hidup kakak, aku pasti selalu mendukung kakak", Alisa mencoba menyemangati kakaknya.


"Terimakasih, Al", jawab Kinara. Ucapan adiknya itu cukup membuatnya kembali menerima kenyataan hidup.


"Tadi sepulang jalan-jalan dengan ayah, aku mencari kakak, tapi gak ada. Ibu bilang kakak ziarah ke sini. Jadi aku menyusul", Alisa menjelaskan kehadirannya yang begitu tiba-tiba di sana.


Kinara mencoba tersenyum, dia mengelus lembut kepala adik kesayangannya itu.


"Sekali lagi terimakasih kamu udah dukung kakak", giliran Kinara yang memeluk Alisa.


Keduanya berdo'a dengan khusyu sebelum meninggalkan pusara.


"Mas, aku sama Alisa pulang dulu ya. Nanti aku pasti akan berkunjung lagi ke sini. Mas yang tenang di sana, aku selalu mencintaimu, mas", ucap Kinara, dia mencium nisan Erlangga sebelum kakinya melangkah pergi dari pusara itu.


.


"Ck, Jeng, kenapa sih aku harus coba baju ini?", keluh Kinara setelah dia keluar dari ruang ganti. Di tubuhnya melekat gaun berwarna silver yang terlihat mewah dan elegan.


"Wwooww...cantiknya kakakku ini", seru Ajeng saat melihat penampilan Kinara di hadapannya.


Kinara merasa risih melihat dirinya sendiri. Gaun itu memang terlihat cantik, mewah dan elegan. Tapi dia merasa terlalu berlebihan jika harus mengenakan gaun itu di acara resepsi pernikahan Ajeng dan Erik.


Keberadaannya di butik awalnya adalah menemani Ajeng fitting baju untuk akad nikah dan resepsi, tapi Ajeng memaksanya untuk ikut mencoba beberapa gaun di sana, termasuk gaun berlengan yang saat ini Kinara kenakan.


"Masa bridemaid bajunya seheboh ini, Jeng. Ini sih udah mau menyaingi pengantinnya", keluh Kinara lagi.


"Udah, jangan protes terus. Pokoknya aku mau kakak nanti pakai baju ini pas resepsi, ya", Ajeng bersikeras, Kinara pun pasrah.


"Ayo sekarang berpose dulu, aku mau ambil foto kakak", Ajeng sudah bersiap dengan gawainya.


"Ya ampun, ngapain juga sih Jeng pakai acara difoto segala. Ini kan cuma fitting", keluhan Kinara yang kesekian kalinya.


"Please, ini permintaan calon manten lho", Ajeng seolah tak ingin mendengarkan lagi keluhan dari kakak iparnya itu.


Akhirnya, sepanjang hari itu Kinara benar-benar mengikuti semua kemauan Ajeng.


Ajeng dengan sigap mengarahkan Kinara untuk bergaya di beberapa sudut butik itu.


"Yes, sudah selesai", seru Ajeng senang setelah lebih dari lima kali dia mengambil foto Kinara dengan gaun itu.


"Sini kak, lihat. Tuh, kakak cantik banget kan. Model gaun ini dan warnanya pas buat kakak, tinggal nanti ditambah riasan sedikit, wah sempurna", cerocos Ajeng yang mengomentari hasil jepretannya.

__ADS_1


Kinara tersenyum tipis, "Kamu ya Jeng, bisa aja buat aku GR", wajah Kinara merona.


Ajeng hanya menunjukkan cengiran khasnya.


"Aku ganti baju dulu ya, Jeng", pamit Kinara pada Ajeng yang masih sibuk melihat satu per satu foto Kinara di gawainya.


"Ok", jawabnya pendek.


.


Terimakasih sayangku


Erik membalas pesan dari Ajeng. Dia baru saja menerima beberapa foto Kinara dari calon istrinya itu.


Erik bergegas menemui Farhan yang sedang berkutat dengan pekerjaannya.


"Bro, bisa stop dulu kerjaannya?", tanya Erik yang entah sejak kapan sudah duduk di depan Farhan.


"Gue sibuk, Rik", jawab Farhan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop dan berkas yang ada di tangannya.


"Ck, bentar doang lah Pak Boss", bujuk Erik.


"Kalau ada yang penting, tinggal bilang aja, Rik. Gue dengerin kok", lagi, Farhan masih tak menatap Erik.


"Gue butuh dilihat bukan didengar", seloroh Erik.


Farhan melirik sebentar ke arah sahabat sekaligus sepupunya itu.


"Ok, apa yang harus gue lihat dari lo?", Farhan menutup sejenak berkas di tangannya.


Erik tersenyum, "Ini", dia menyodorkan gawai miliknya.


Farhan memajukan badannya dan meraih gawai milik Erik. Ada beberapa foto di sana. Potret seorang wanita yang sudah sangat dia kenal, Kinara.


"Ini Kinara?", tanya Farhan heran saat melihat Kinara begitu berbeda dengan balutan gaun yang dia kenakan di foto itu.


Erik menganggukkan kepalanya.


"Kenapa gue harus lihat foto ini?", Farhan masih tak mengerti.


"Ah Lo gak peka, Han. Coba dilihat, gimana menurut lo?".


Farhan menggeser beberapa foto Kinara dan jujur saja di hatinya dia merasa kagum melihat semua foto itu. Kinara terlihat cantik dan anggun meski dia tak bermake up sama sekali dalam potretnya.


"Hello....Han", Erik menggerak-gerakan kedua tangannya di depan wajah Farhan. Farhan terperanjat. Erik tersenyum jahil.


"Udah bisa gue tebak isi hati lo melihat foto itu".


Farhan melemparkan pulpen di tangannya ke arah Erik yang lebih cepat berkelit.


"Han, sorry kalau gue melampaui kehendak lo. Tapi gue pikir di hari pernikahan gue yang sebentar lagi ini, gue mau lo gak cuma melamar Kinara tapi di hari yang sama, lo nikahi Kinara", celoteh Erik tanpa basa-basi.


Farhan membelalakan kedua matanya, "Ah gila lo, Rik", Farhan menyimpan gawai Erik di meja.


"Gue gak gila, Han. Justru niat gue baik buat bantu lo. Apa bedanya lo nikah sekarang sama nanti habis tunangan? gue gak mau lo kecolongan lagi, Han. Gue dan Ajeng udah bahas soal ini, kita juga udah ngobrol sama keluarga Ajeng dan orangtuanya Kinara. Semua setuju", terang Erik.


"Tapi Rik, gue belum tahu Kinara mau nerima gue apa enggak? masa iya gue tiba-tiba nikahi dia", jawab Farhan serius.


"Percaya sama gue, Kinara pasti nerima lo. Lo jangan ragu sama diri lo sendiri, Han. Selama ini lo udah mencoba buat menjalani takdir yang lain, tapi kenyataannya Tuhan mengantarkan lo dan Kinara untuk ketemu lagi kan dengan keadaan kalian berdua tidak terikat lagi dengan siapapun. Apa lagi yang mau ditunggu? nunggu lelaki lain ngambil Kinara? jangan melewatkan kesempatan ini, Han. Kalau lo bisa langsung nikahi Kinara, kenapa lo merasa cukup hanya dengan tunangan aja? semua persiapan udah gue urus sama Ajeng. Siapkan diri lo buat ijab kabul nanti", Erik berdiri mengambil gawainya dan berlalu dari ruang kerja Farhan.


Farhan terdiam, dia mencoba mencerna semua ucapan Erik dan mencoba memahami keadaan yang tak mudah ini. Hati dan pikirannya kacau.

__ADS_1


"Tuhan, aku harus berbuat apa? rencana ini terlalu gila", batin Farhan.


__ADS_2