Unknown Love

Unknown Love
Rencana Masa Depan


__ADS_3

Pukul empat sore, Kinara dan Ajeng sudah sampai di apartemen.


"Seru juga ya hari ini", Ajeng merebahkan dirinya di sofa.


Kinara pun melakukan hal yang sama.


"Serasa masih ABG ya kita. Weekend jalan-jalan, nonton, belanja, jajan", katanya.


Ajeng tertawa kecil, dia pun menikmati akhir pekannya dengan baik. Apalagi tadi Erik tiba-tiba datang dan membuat akhir pekannya semakin berwarna.


Terdengar pintu diketuk dari luar. Ajeng dan Kinara saling tatap, lalu Kinara segera beranjak membukakan pintu.


"Mama, papa", sambut Kinara. Dia langsung mencium tangan papa dan mama mertuanya itu.


"Ayo masuk pa, ma", ajak Kinara.


Ajeng yang sudah dalam posisi duduk pun segera menyambut kedatangan papa dan mamanya.


"Wah, kalian habis darimana ini? banyak tas belanja begitu", kata Bu Tria saat mendapati beberapa tas belanja tergeletak di sofa.


"Kita habis nonton sekalian jalan-jalan, ma. Biar gak bosan", jawab Ajeng.


"Bagus itu, Jeng. Sering-sering ajak kakakmu keluar, biar dia semangat lagi", tambah Pak Wijaya.


Kinara sudah kembali dari dapur dengan membawa empat gelas sirup dan camilan.


"Kamu gak usah repot-repot, nak", kata Bu Tria saat Kinara menata gelas dan camilan itu di meja.


"Gak repot kok, ma. Maaf ya Nara hanya bisa menyajikan ini".


"Tak apa, jangan dipikirkan. Ada hal penting yang ingin papa dan mama sampaikan sama kamu", Pak Wijaya membuka suara lagi.


Kinara duduk memperhatikan, begitu pun dengan Ajeng yang mulai penasaran.

__ADS_1


"Begini, semenjak kepergian Erlangga, posisi pimpinan perusahaan kosong. Selama ini Leo yang menghandle posisi itu. Nah, papa dan mama sudah sepakat kalau kamu yang akan meneruskan posisi Erlangga di kantor", terang Pak Wijaya to the point.


Kinara terkejut mendengar apa yang dikatakan papa mertuanya itu.


"Kenapa gak Ajeng aja pa? Nara sama sekali belum ada pengalaman bekerja kantoran. Lagi pula, ada hal lain yang ingin Nara lakukan".


"Ajeng kan sudah bekerja di perusahaan yang lain. Biar dia fokus sama kerjaannya itu. Papa yakin kamu bisa. Lagi pula nanti ada Leo yang akan membantu, kamu bisa belajar sedikit demi sedikit untuk bisa memimpin perusahaan itu", tambah Pak Wijaya lagi.


"Iya kak, lagi pula aku udah betah banget kerja di kantorku sekarang. Bidangnya sudah sesuai passion aku", Ajeng beralasan.


"Meskipun Erlangga sudah tidak ada, tapi kamu tetaplah putri kami, sama seperti Ajeng. Papa sama mama percaya kamu bisa mengelola dan memimpin perusahaan dengan baik", bujuk Bu Tria.


Kinara terdiam. Bukan hal ini yang dia harapkan. Beberapa hari setelah kepergian Erlangga, Kinara sudah bertekad untuk hidup mandiri dimasa depan, dia juga berencana melanjutkan kuliahnya ke luar negeri. Meskipun dia tahu, papa dan mama mertuanya tidak membiarkannya begitu saja. Terbukti, meskipun Erlangga sudah tidak ada, tapi semua kebutuhan Kinara selalu terpenuhi setiap harinya. Leo ditugaskan untuk mengurus hal itu.


"Bagaimana?", tanya Pak Wijaya menyadarkan Kinara yang sejenak hanyut dalam pikirannya sendiri.


"Nara berterimakasih sekali papa sama mama sudah begitu percaya sama Nara. Tapi mohon maaf, kali ini Nara benar-benar tidak bisa memenuhi permintaan papa sama mama. Semenjak Mas Erlangga pergi, Nara sudah bertekad untuk memulai lagi lembaran hidup Nara yang baru".


Kinara menarik nafas dalam, "Nara berencana untuk bekerja lagi dan menabung untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri".


Pak Wijaya dan Bu Tria saling beradu tatap. Ajeng lebih memilih diam, mendengarkan saja.


"Kenapa kamu harus mencari pekerjaan lain, nak? apa kebutuhanmu selama ini ada yang kurang?", selidik Bu Tria.


Kinara cepat menggelengkan kepalanya, "Bukan begitu ma. Nara hanya ingin mandiri, itu saja. Nara gak mau selamanya menggantungkan hidup Nara sama papa dan mama. Maafkan Nara".


"Baiklah kalau itu sudah jadi keputusanmu. Papa tahu dari sebelum menikah pun kamu memang anak yang mandiri. Begini saja, soal posisi pimpinan di perusahaan, itu akan papa percayakan sama Ajeng. Tapi dengan catatan, kamu jangan mencari pekerjaan lagi, tapi kuliah saja ke luar negeri. Semua biaya kuliah dan bekal kamu selama di sana, biar papa sama mama yang urus. Papa hanya minta kamu belajar dengan baik, dan setelah kamu selesai kuliah, papa dan mama akan membebaskan pilihan hidupmu".


Kinara ingin menolak lagi, tapi Pak Wijaya sudah memberikan kode tak ingin menantunya itu menolak permintaannya kali ini.


"Yaaahh...masa aku sih pa yang harus ngurus perusahaan. Kenapa papa gak cari orang lain aja atau angkat Leo jadi direktur, bisa kan?", giliran Ajeng yang protes.


"Kalau bukan kamu, siapa yang akan melanjutkan perusahaan kita kalau nanti papa sama mama sudah tidak ada? kamu harus belajar dari sekarang atau kamu mau ikut kakakmu kuliah juga ke luar negeri?", ujar Pak Wijaya.

__ADS_1


"Ck, aku belum minat kuliah lagi tapi aku juga belum mood ngurusin perusahaan kita. Papa kan tahu aku udah betah banget sama kerjaanku yang sekarang", Ajeng masih ngotot.


"Tinggal resign aja Jeng, apa sih susahnya? lebih enak kamu kerja di perusahaan sendiri, jadi bossnya", timpal Bu Tria.


Wajah Ajeng cemberut.


"Maaf ya Jeng", Kinara jadi merasa bersalah karena dia menolak tawaran mertuanya, Ajeng yang menjadi korban.


Ajeng mencoba tersenyum, "Gak apa-apa kok kak, yang penting aku gak nganggur", Ajeng nyengir.


Perbincangan itu pun berlanjut, membahas rencana kuliah Kinara.


Pukul delapan malam, Bu Tria dan Pak Wijaya pulang.


"Hmm...bentar lagi aku harus resign deh", keluh Ajeng. Ternyata dia masih keberatan memenuhi permintaan kedua orang tuanya.


"Maafin aku ya Jeng", lagi, Kinara merasa bersalah.


"Gak apa-apa kak. Cuma aku...yaaahh...tahu deh", jawab Ajeng bingung.


"Soal Erik?", tebak Kinara.


Ajeng membelalakkan matanya, tebakan Kinara tepat.


"Percaya deh Jeng, biarpun nanti kamu sama Erik gak sekantor lagi, kalau jodoh pasti gak akan kemana kok", Kinara yakin tebakannya tadi benar.


Ajeng merebahkan kepalanya ke sandaran sofa. Matanya menerawang, mencoba meresapi kata-kata Kinara.


"Aku masuk kamar duluan ya Jeng, mau mandi dulu, lengket", Kinara berlalu.


Ajeng hanya mengangguk kecil. Ingatannya sedang menjelajah, memikirkan kedekatannya dengan Erik dan memikirkan apa yang harus dia lakukan nanti jika tiba saatnya mengambil alih perusahaan.


"Mas...maaf ya, aku gak bisa menggantikan posisi kamu di perusahaan. Aku merasa gak pantas ada di sana. Aku memilih untuk kuliah lagi. Aku harap mas mengizinkan aku untuk itu. Papa dan mama baik sekali, mereka benar-benar menyayangi dan memperhatikanku. Aku beruntung punya dua orang tua yang semuanya menyayangi dan selalu mendukungku. Do'akan aku ya mas, semoga pilihanku kali ini tepat", ucap Kinara sambil menatap foto Erlangga yang ia pegang di tangannya. Matanya kembali berkaca-kaca, mengenang sosok lelaki yang sudah tak mungkin lagi dia lihat.

__ADS_1


__ADS_2