
3 Bulan Sebelumnya...
"Anya!" tegur seseorang sambil menepuk pundakku.
Aku yang dari tadi keasikan berjalan sendiri, sedikit terkejut ke arahnya.
"Hai, Meta!" balasku dengan menepuk halus pundaknya.
"Sendirian aja kamu jalan ke kantin?" tanyanya memastikan.
"Iya, tadi aku ada kerjaan dulu jadi baru sempat makan. Kamu sendiri kok baru makan jam segini?" kataku sambil mengecek jam tangan.
"Ya sama kek kamu aku juga ada kerjaan dulu tadi, biasalah.." balasnya santai.
"Ya udah bareng ya ke kantinnya kita?" ajakku pada Meta.
"Yuk!" balasnya dengan senyum.
Namaku Anyelir Pradana, panggil saja aku Anya. Aku saat ini berusia 25 tahun, masih terbilang muda kan? Aku saat ini bekerja diperusahaan swasta ibukota. Aku sehari-hari tinggal di apartement yang tak jauh dari kantorku, yang ku sewa setiap bulannya.
Teman yang berada disampingku ini adalah Harmetta Harun, panggil saja Meta. Kami berdua bekerja diperusahaan yang sama. Hanya saja aku dan Meta berbeda divisi, aku divisi Operasional sedangkan Meta di divisi Marketing. Awal mula kenapa kami bisa bertemu? Karena aku dan Meta kebetulan bertemu saat penerimaan karyawan baru di perusahaan ini dan ternyata kami berdua pun masih berhubungan satu sama lain diperusahaan ini, makanya kami saling berkontakan.
"Kamu udah jarang ke lantai 3 sih Nya?" tanya Meta padaku sambil kami berdua berjalan menuju kantin.
"Iya, maklum kan di divisi aku ada yang resign jadi aku keteteran Met di atas." balasku sambil mengaruk kepala sedikit.
"Memangnya head kamu gak nyari penggantinya?" tanya Meta.
"Ya gak tau deh, Pak Wahyu kan begitu kelakuannya. Selama anak buahnya belum keteteran kerjaan di depan mata dia, dia gak akan nyari penggantinya Met." jelasku dengan sedikit kesal.
"Hahaha, tetep ya kelakuan dia masih menyebalkan! Heran kamu masih bertahan disitu, kalau aku jadi kamu sih bakalan pindah divisi aja deh." celetuk Meta dengan frontal.
"Ya gimana? Setiap aku mau pindah divisi, itu manusia selalu aja beralasan ke aku. Ya udahlah Met yang penting tiap bulan masih gajian hehehe dan setiap tahun masih dapat bonus." jawabku dengan santai.
"Iya deh iya, senyamannya kamu aja Anya." balas Meta yang tak mau memperpanjang.
Akhirnya kami berdua sampai di kantin, letaknya diluar gedung kantor kami. Berjalan tak jauh, sekitar 100 meter dari pintu masuk gedung. Disini sudah tak begitu ramai, karena jam makan siang sudah lewat. Aku dan Meta pun segera menentukan makanan apa yang akan kita pesan, setelah memesan kami pun segera berjalan mencari tempat duduk yang kosong.
Saat aku akan duduk, ada yang menegur Meta tak jauh dari posisiku.
"Met!" tegurnya pada Meta sambil mengayun-ayunkan tangannya memberikan isyarat.
"Ya Pak?" balas Meta yang kemudian menghampirinya. Aku masih berdiri diposisiku, karena takut jika aku ikut menghampiri Meta tempat kosong itu terisi oleh yang lain.
Tak lama Meta pun menghampiriku dengan sedikit berlari.
"Duduk disana yuk Anya!" ajak Meta padaku, aku yang menerima ajakannya itu pun menoleh sedikit ke tempat yang dituju.
"Disana? Itu kan ada Pak Arthur." ucapku yang melihat dari kejauhan.
"Iya sih, tapi emang kenapa?" tanya Meta sambil mengerenyitkan sedikit dahinya.
"Gak apa-apa tapi emang enak makan bareng sama atasan?" tanyaku kembali dengan ragu.
"Ya gak enak sih, cuma ya udah terlanjur dia lihat kita jadi mau gak mau kita gabung aja makannya." jelas Meta yang pasrah.
Aku berpikir sejenak, lalu akhirnya aku pun memberikan keputasan kepada Meta.
"Ya udah deh, yuk." kataku dengan setengah terpaksa.
Kami berdua pun akhirnya menghampiri meja tersebut, dari jauh bisa kulihat Arthur sudah melihatku dengan seksama.
"Pak teman saya boleh gabung ya?" tanya Meta yang minta permisi pada Arthur.
"Ya silahkan duduk saja." balas Arthur dengan tersenyum ramah padaku.
"Terima kasih Pak." jawabku dengan sopan.
Aku pun duduk disamping Meta, dan kini dihadapanku adalah Arthur sendirian yang tengah menikmati makannya.
"Kamu kok makan sore banget Met?" tanya Arthur memastikan anak buahnya.
"Iya Pak tadi ada yang harus dikerjakan." balas Meta menjelaskan.
"Memang anak-anak kerjaannya gak selesai kalau ngasih ke kamu?" tanya Arthur memastikan.
"Ya gitu deh Pak." jawab Meta sekenaknya.
Ini adalah Arthur Scott, jabatan dia sama seperti Wahyudi namun dia head divisi Marketing. Aku mengenalnya tiga tahun lalu ketika waktu baru masuk ke perusahaan ini. Namun aku dan dia hanya bertegur sapa sekenanya saja. Sejauh ini dia sikapnya ramah, baik, sopan dan menyenangkan jika diajak diskusi. Banyak suka mengobrol dengannya walau berbeda divisi, aku pribadi sih mengobrol hanya sekedar pekerjaan tidak untuk hal-hal lain.
"Anya, kamu sudah lama yaa gak main ke lantai 3. Betah banget kamu di lantai 5." ledek Arthur padaku.
__ADS_1
"Iya Pak, maklumin aja ya! Soalnya Pak Wahyu berbeda gak seperti Bapak." candaku pada Arthur.
"Hahaha, ya dia sih kaku ya kek kanebo kering. Ampun deh.." balasnya dengan bercanda juga.
"Iya Pak betul.." sahutku lagi.
"Makanya Anya, kata aku juga pindah divisi aja sih ke Marketing. Masih ada yang kosong kan Pak?" tanya Meta pada Arthur untuk memastikannya.
"Ya ada, kamu mau ngisi di posisi itu Anya?" tanya Arthur kembali memastikan padaku.
"Engga ah, posisi kek Meta kan Pak?" tanyaku memastikan kembali.
"Iya, enak kerjaan Meta kok. Dibanding kamu di divisi operasional begitu cuma gendek doang sama kelakuan Wahyu." timpal Arthur mengompori.
"Ih engga ah Pak. Terima kasih deh dikasih posisi seperti Meta, yang ada aku mumet darah tinggi terus." celetukku dengan bercanda.
"Ya gak apa-apa seenggaknya di divisiku kamu bisa tersalurkan kalau kesal, kalo di divisimu kan yang ada kamu stroke karna gak bisa menyalurkan kesalmu. Hayoo gimana loh?" canda Arthur dengan sendikit senyum jahil.
"Enggalah Bapak, gak berlebihan begitu sih." kataku menimpali kembali.
"Eh tapi Nya bener loh kata Pak Arthur, kalau kamu di divisiku bisa tersalurkan kalau kesal. Dari pada kamu capek hati sekarang menahan doang sama Pak Wahyu." timpal Meta mengomporkan aku.
"Yeee sama aja nih ah, Bapak sama anak buah! Kompor meleduk..." jawabku dengan mengejek.
"Hahahaha, ya udah kamu pikir-pikir kembali aja ya Anya. Kalau memang minat untuk pindah ke divisiku. Mumpung aku belum minta pengajuan form karyawan baru ke divisi HRD kita." ucap Arthur yang kali ini memasang mimik muka agak serius.
"Iya Pak terima kasih untuk tawarannya, nanti aku infokan ke Meta kalau aku minat ya Pak." balasku dengan sedikit serius.
"Iya santai saja ya Anya.." ucapnya dengan senyum manis.
Aku terdiam sejenak melihat ke Arthur, entah kenapa aku menyukai dengan senyumnya itu. Tanpa sadar Athur pun melihat kepadaku membalas tatapanku padanya dengan tatapan mendalam. Aku memalingkan sejenak darinya, menghilangkan pemikiran yang tidak-tidak padanya.
(Stop Anya! Kenapa juga sih terang-terangan melihatnya begitu?!)
Gumamku dalam hati, yang kemudian mendeham sebentar untuk kembali lagi dalam pembicaraan antara Meta dan Arthur.
Akhirnya kami bertiga pun selesai membereskan makanan kami masing-masing. Arthur berpamitan duluan ke kantor, dikarenakan sudah ada tamu yang menunggunya.
"Meta kamu betah dikantor karena Pak Arthur ya?" tanyaku sambil berjalan bergandeng tangan dengan Meta.
"Iya Nya, aku bertahan karena dia. Kalau atasanku bukan Pak Arthur mungkin aku sudah resign dari beberapa bulan setelah masuk kantor." jawab Meta sambil menyedot minuman yang dipegangnya.
"Dia orangnya enak ya Met, ditambah sama bawahannya gak begitu galak tapi tegas. Jadi anak buahnya pun 'nyaman' dengan sikapnya itu." timpalku pada Meta.
"Iya, tapi kamu pikirkan lagi deh dengan tawaran Pak Arthur. Kan enak kita bisa satu divisi, jadi kalau curhat gak usah lewat chatting tapi bisa sebelahan hehehe..." canda Meta padaku dengan tertawa kecil.
"Iya sih, nanti ya aku pikirkan dahulu." balasku dengan senyum.
*****
"Kamu pulang sendirian?" tanya Arthur yang memergoki aku tengah berdiri menunggu ojek online didepan kantor.
"Eh Pak! Iya Pak aku pulang sendirian, tapi ini aku lagi nunggu ojek online datang Pak." balasku yang kaget ada Arthur tengah berdiri di sampingku.
"Pulang sama aku aja yuk? Rumah kamu dimana?" ajak Arthur padaku.
"Gak usah Pak! Deket kok apartemennya dari sini, lagian ini abang ojek onlinenya udah mau sampai." bantahku padanya, aku tak ingin merepotkan orang.
"Coba aku lihat abangnya udah sampai mana.." tanya Arthur yang tak percaya.
"Nih Pak.." balasku dengan menunjukkan ponselku padanya, namun kebetulan saat aku menunjukkan ternyata abang ojek online yang sudah kupesankan mencancel orderanku.
"Lah itu di cancel Anya." sahut Arthur dengan mimik muka heran.
"Loh iya ya Pak! Ih aku baru tau Pak." kataku dengan kaget dan heran.
"Gak usah! Udah ikut bareng aku aja. Searah kok jalur pulang aku ke apartemen kamu!" ucap Arthur dengan menahan ponselku tanda bahwa ia tak suka aku mengorder kembali.
"Tapi Pak?" kataku dengan ragu.
"Udah ayok! Kita ke parkiran mobil.." ajaknya padaku sambil melengos jalan menuju arah mobilnya.
Aku yang sudah tidak bisa mengelak pun mengikuti perintahnya, aku berjalan di belakangnya mengikuti ke mana arah mobilnya yang terparkirkan.
Tak lama dia pun membuka kunci jarak jauh mobilnya, dan bisa kulihat mobil sedan yang begitu mewah terparkir tak jauh dari jarak kita berjalan.
"Yuk Anya!" ajaknya kembali sambil masih berdiri didepan pintu mobilnya, aku pun segera berlari kecil menghampirinya.
"Ini aku boleh duduk dibelakang Pak?" tanyaku dengan muka bingung.
"Kok duduk belakang sih? Ya duduk depan lah.." balas Arthur yang bingung juga.
__ADS_1
"Ya engga Pak, takutnya kan Bapak gak enak kelihatan pulang bareng sama aku." kataku dengan meluruskan.
"Gak enak kenapa? Kalo kamu duduk dibelakang aku kayak supir-supir mobil online dong?" tanya kembali dengan mimik muka heran.
"Ya iya sih, tapi gak apa-apa nih Pak?" tanyaku kembali memastikan.
"Ya gak apa-apa emang kenapa sih? Gak enak mah kasih kucing aja udah." candanya dengan tertawa kecil.
"Yeh Bapak garing banget sih." balasku dengan bercanda.
"Ya iya sih, ampun deh kamu! Udah yuk masuk.." katanya dengan menyudahi perdebatan kecil ini.
Aku yang sudah tak ingin melanjutkannya pun segera membuka pintu mobil, kemudian aku pun duduk disampingnya.
"Pake seatbeltnya Anya." ucap Arthur sambil menggunakan seatbeltnya sendiri.
"Iya Pak iya." kataku sambil memasangkan sendiri.
"Duh kamu tuh lama ya pakai gini aja." ucap Arthur sembari memiringkan badannya ke arahku dan mengenakan seatbelt padaku.
Aku terkejut dengan perlakuannya itu, aku terdiam sejenak melihatnya. Tapi yang membuatku terkejut adalah bau parfum yang berada di tubuhnya itu membuatku harus menahan hidungku.
(Gila wangi banget! Padahal ini udah sore tapi dia masih wangi aja.)
Batinku bersuara.
Aku mengalihkan dengan membuang muka berlawanan arah dengannya.
"Sudah ya." ucapnya yang kemudian bangun membetulkan posisinya.
"Ehm, iya Pak." kataku dengan berpura-pura.
"Kamu kenapa? Kok pipi kamu merah sih?" tanyanya dengan muka bingung.
"Masa sih Pak?" kataku dengan tak percaya.
"Ngaca aja nih." ucapnya sambil memindah posisikan spion dalam mobil.
Aku pun melihat dikaca spion dan ternyata benar pipiku memerah, aku pun segera mengalihkan kaca tereebut. Aku menyadari bahwa pipiku memerah karena aku merasa gugup dengan perlakuan yang Arthur lakukan tadi.
"Pake blush on ketebelan kamu? Udah sore ya padahal.." celetuk Arthur dengan polos.
"Iya Pak." balasku sekenanya dengan malu.
(Sial malu banget!)
Gumamku dalam hati.
"Udah kan?" tanya Arthur yang sudah siap menjalakan mobilnya.
"Ya udah Pak." balasku dengan bingung.
"Oh ya udah kalau gitu.." jawabnya dengan bibir tersenyum kecil .
"Ih Bapak apaan sih? Garing banget dari tadi..." protesku sambil menepuk pelan pundak kirinya.
"Hahaha, ya enggak aku kan memastikan kamu udah siap jalan. Siapa tau kan ada yang ketinggalan atau apa gitu.." jelasnya dengan senyum sedikit jahil.
"Ya enggaklah Bapak.." balasku dengan sedikit sebal.
"Oke, oke..maaf yaaa..." ucapnya sambil tertawa kecil.
Akhirnya mobilnya pun dikemudikan meninggalkan area parkir kantor. Mobil pun mengarah ke jalur utama menuju apartemenku. Di dalam mobil aku sedikit canggung, karena kejadian tadi dan ditambah ini pertama kalinya aku pulang bareng bersama Arthur.
Walaupun kami beda lantai dan satu kantor, namun untuk hal ini sangat langka. Selama tiga tahun aku bekerja baru pertama kalinya aku pulang bareng dengannya dan diantarkan pula. Arthur tetap fokus menyetir, dari samping aku curi-curi sedikit pandang padanya lewat ujung mataku sebelah kanan.
"Eh, kamu ketahuan ngintipin aku..." ucap Arthur dengan sedikit menggunakan nada untuk meledekku.
"Ih engga sih Pak." bantahku yang ketahuan.
"Bohong kamu jadi gendut yaaa..." ucap Arthur yang mengancamku sambil mengejek.
"Ah Bapak jahat banget sih..." protesku yang tak sengaja mencubit pelan lengan kirinya.
"Aduh..duh sakit sih.." rintihnya dengan mimik muka mengejek.
"Ya Bapak...jahil ajakan ke aku..." jawabku dengan mimik muka sebal padanya.
"Hahahaha, lagian serius-serius amat sih?" ucapnya dengan tertawa kecil.
"Ya tapi tadi aku gak lihatin Bapak kok." ralatanku masih dilayangkan padanya.
__ADS_1
"Kalau beneran juga gak apa-apa sih. Gak usah malu-malu..." jawabnya dengan sedikit menggodaku.
Aku hanya terdiam mendengar ucapannya itu. Tak mau menanggapi ucapannya itu karena aku tak mau berprasangka lebih jauh lagi terhadap Arthur. Tapi aku masih sedikit terkejut, ternyata dia masih bisa diajak bercanda seperti ini kepadaku. Berbeda jauh saat dia ada dikantor, apalagi jika sedang berhadapan dengan anak buahnya, dia terlihat santai namun tegas dari raut wajahnya yang dipancarkan.