
Erik sudah terlihat stand by di bandara, bersiap menyambut kedatangan Farhan, sepupu sekaligus bossnya. Diliriknya jam di tangan, "Sebentar lagi pesawatnya landing", gumam Erik.
Tak butuh waktu lama, terlihat Farhan melambaikan tangannya dari pintu kedatangan penumpang.
"Hai, Rik...", serunya senang hampir setengah berteriak.
Erik membalas lambaian tangan itu. Dihampirinya Farhan dan mereka langsung adu tinju kepalan tangan sebagai betuk salam keakraban.
"Wah Mr. Jerman is coming home", goda Erik sambil memeluk Farhan sejenak.
"Ah, bisa aja lo", tinju Farhan pelan di bahu Erik.
Erik terkekeh. Kini keduanya sudah ada di dalam mobil, melaju menuju rumah Farhan.
"Jerman apa kabar, Han?", tanya Erik dengan tetap fokus mengemudi.
Farhan mengernyitkan dahinya, "Pastinya Jerman baik, gak ada lo soalnya hahaha", Farhan tertawa renyah.
"Dasar lo, emang gue apaan?", Erik tak terima dengan jawaban Farhan.
"Virus", jawab Farhan enteng. Erik mengerucutkan bibirnya tak suka.
Perjalanan memakan waktu beberapa jam. Jarak Jakarta-Bandung apalagi dihari kerja, benar-benar terasa panjang, terlebih dengan padatnya lalu lintas.
Farhan memilih memejamkan matanya setelah dia berbincang dan bercanda dengan Erik. Dia melepaskan rasa lelahnya sepanjang perjalanan.
Mobil Erik sudah berhenti di depan rumah Farhan.
"Han, bangun, Han. Kita udah nyampe nih", Erik menepuk-nepuk pundak Farhan, dia masih lelap.
Farhan mengerjapkan kedua matanya, mengucek-uceknya sebentar lalu meregangkan otot tangannya.
"Hmm...udah sampai lagi, cepat juga ya", jawabnya masih terlihat mengantuk.
"Ck, cepat apaan. Sepanjang jalan lo tidur, lha gue? nyetir sendirian ditemani radio", jawab Erik protes.
Farhan meresponnya dengan senyum tipis. Dia segera turun, dan Erik membantu membawakan koper milik Farhan.
"Assalamualaikum...bu...", Farhan mengucapkan salam saat kakinya sudah menjejak di teras.
"Waalaikumusalam...", jawab seorang wanita yang suaranya sudah begitu Farhan kenal.
Bu Asri segera membukakan pintu dan menyambut kedatangan Farhan juga Erik.
Begitu pintu terbuka, Farhan segera memeluk ibunya. Melepaskan semua kerinduan padanya.
"Ya Allah, Han. Alhamdulillah kamu sampai juga", kata Bu Asri di tengah pelukan hangat anaknya.
"Iya bu. Farhan kangen sekali sama ibu", bisiknya lirih.
Bu Asri tersenyum. Dia pun sangat merindukan anak semata wayangnya itu.
"Ehem...", Erik berdehem memecahkan keharuan antara ibu dan anak.
Bu Asri dan Farhan melepaskan pelukan mereka.
"Bukde, aku dibiarin lumutan aja nih sama koper", rajuk Erik.
Bu Asri tersenyum, giliran Erik yang dipeluknya.
"Terimakasih ya nak, sudah jemput Farhan", ucap Bu Asri.
Erik mengangguk dan tersenyum.
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Erik memilih mengistirahatkan tubuhnya di sofa ruang keluarga sambil menikmati camilan yang sengaja disiapkan oleh Bu Asri, sedangkan Farhan memilih untuk membersihkan dirinya dan merapikan pakaiannya yang ada di koper.
"Ayo, sekarang kita makan bersama", ajak Bu Asri melihat Erik dan Farhan sudah siap.
Mereka pun menikmati hidangan di meja makan. Erik dan Farhan terlihat lahap sekali, Bu Asri senang melihatnya.
"Wah kalian ini, lahap sekali. Ayo ditambah lagi, makan yang banyak, ya".
__ADS_1
"Masakan bukde ku ini memang top", puji Erik tulus.
"Iya lah, siapa dulu dong anaknya", jawab Farhan bangga.
Erik menatap heran ke arah Farhan, "Diih, ngaku-ngaku. Heh, ini yang masak Bukde Asri, bukan lo. Masakan lo sih mana enak", ejek Erik.
"Wah ngejek nih. Lain kali lo coba masakan gue, gak kalah enak kok sama masakannya ibu, ya kan bu?", tanya Farhan meminta dukungan ibunya.
Bu Asri hanya tersenyum melihat tingkah kedua anak laki-laki di depannya itu. Mereka bertiga kembali menikmati makannya.
"Wuuuaahh, kenyang perut gue", ucap Erik mengelus lembut perutnya, lalu mengambil potongan buah melon yang ada di meja ruang keluarga.
"Ck, gemblung lo ya. Bilangnya kenyang, tapi masih ngunyah", ejek Farhan.
Erik tak memperdulikan ucapan Farhan, dia lebih memilih menikmati dessert buah favoritnya itu.
"Han, gimana kabar Pak James dan Bu Tatiana? apa mereka baik-baik saja?", Bu Asri yang datang dari dapur langsung bertanya pada putranya.
"Alhamdulillah kabar mereka baik, bu", jawab Farhan pendek.
"Alhamdulillah. Ibu sebetulnya ingin sekali ke Jerman waktu itu untuk ikut melihat dan merawat Elena. Ibu merasa tak enak hati, sampai pemakamannya pun ibu tak datang".
"Tak apa bu, keluarga Pak James paham kok kondisi ibu di sini. Do'akan Elena ya bu", tatapan Farhan berubah sendu.
Bu Asri tersenyum tipis, "Pasti, nak. Kamu yang sabar ya, tetap tegar biar Elena bahagia di sana", Bu Asri mengusap lembut pundak Farhan lalu berlalu, meninggalkan Erik dan Farhan.
Farhan mengangguk. Selintas muncul lagi bayangan wajah Elena di benaknya.
'Aku rindu, El', batinnya sendiri.
"Oh ya Rik, perusahaan apa kabar?", tanya Farhan mengalihkan pembicaraan.
"All is fine, Han. Perusahaan kita sedang menjalankan proyek kerja sama dengan perusahaan Wijaya Group. Nilai investasinya lumayan besar".
Farhan mengangguk-anggukan kepalanya.
"Besok, gue mau masuk kerja ya Rik".
"Relaksasi kan gak berarti gue diam aja, Rik. Gue akan teringat terus sama Elena kalau gak ada kerjaan. Lagi pula sekalian gue belajar lah, anggap aja sekalian nyari bahan tesis gue", jawab Farhan pasti.
"Ok, besok lo bisa ke kantor. Kebetulan bokap gue lagi dinas ke Kalimantan. Sebulanan ada beliau di sana, gue kewalahan sebetulnya sama urusan kantor".
"Sip kalau gitu".
**
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali Farhan sudah terlihat rapi, dia menatap dirinya di cermin lalu keluar kamar untuk sarapan dan setelahnya bergegas ke kantor.
Farhan mengendarai mobilnya dengan cepat.
"Pagi bener bos jam segini udah masuk kantor aja", sebuah suara yang tak asing menyambut kedatangan Farhan di lobi kantor. Ya, itu Erik.
"Gue kangen sama kantor ini", jawabnya santai.
"Ngomong-ngomong, lo juga tumben jam segini udah ada di kantor", tanya Farhan heran.
"Gue tiap hari emang datang pagi. Kerjaan gue banyak, Han", giliran Erik yang menjawab santai.
Keduanya kini naik ke lantai 15, menuju ruang kerja direktur utama.
"Wah, senang rasanya bisa duduk di sini lagi", ujar Farhan saat ia menduduki kursi orang nomor satu di kantor itu.
"Welcome back, boss", jawab Erik dengan gaya menyambut.
Farhan tertawa melihat aksi sahabat sekaligus saudaranya itu.
Mereka pun berbincang mengenai beberapa kerja sama terbaru, perkembangan kantor dan banyak hal.
"Han, udah jam sembilan nih, gue balik dulu ke ruangan gue ya", Erik berpamitan. Farhan menganggukan kepalanya, dia sedang serius membaca berkas laporan dari Erik.
__ADS_1
Kini Erik sudah duduk di kursi kebesarannya. Dia pun kembali berkutat memeriksa email, berkas dan menerima beberapa telepon.
Bipp...bipp...bipp
Telepon di meja Erik berbunyi.
"Ya, ada apa?".
"Maaf pak, kata resepsionis, di bawah ada orang yang mencari bapak".
"Oh ya, siapa?"
"Kalau saya tidak salah dengar, namanya Ajeng, pak".
"Ok, minta dia masuk ke ruangan saya".
Tak lama seseorang mengetuk pintu ruang kerja Erik. Erik menjawabnya dan mempersilahkan orang di luar untuk masuk.
"Hai", sahut orang yang datang.
Erik mengalihkan pandangannya dari berkas yang sedang ia pelajari.
"Hai, Ajeng. Selamat datang dan silahkan duduk", Erik menyambut kedatangan Ajeng dengan ramah.
Ajeng mengangguk, dia tersenyum lalu duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
Erik nampak menelepon seseorang, tak lama datang OB yang masuk membawakan dua gelas teh manis hangat. Dia berlalu setelah Erik mengucapkan terimakasih.
"Silahkan diminum", tawar Erik. Kini dia sudah duduk di dekat Ajeng.
Dilihatnya Ajeng yang nampak rapi dengan balutan kemeja putih, outer blazer hitam dan celana panjang formal.
'Cantik', batin Erik.
"Mmm...jadi mas, soal tawaran kerja itu gimana ya?", tanya Ajeng, membuyarkan fokus Erik yang sedang menikmati pemandangan indah di depannya.
"Oh ya, soal itu. Mmm...jadi begini, kebetulan di kantor ini kita sedang mencari orang untuk bagian IT. Lebih tepatnya sih bagian web design. Kami membutuhkan orang yang kreatif, loyal, pekerja keras dan berpengalaman untuk bisa mengembangkan web perusahaan ini. Gimana, kamu bisa?", tanya Erik menatap Ajeng.
Ajeng terdiam sejenak, "Basicku bukan di sana sih, tapi aku yakin bisa. Aku pembelajar yang baik dan cepat", jawabnya penuh percaya diri.
Erik tersenyum senang, "Bagus kalau begitu. Aku suka optimisme mu. Kemampuanmu berbahasa asing pun aku yakin akan sangat berguna. Nanti pekerjaanmu akan dibantu oleh tim. Jadi aku harap kamu pun terbiasa dengan team work dan target, ya", terang Erik lagi.
"Ok, kapan aku bisa mulai bekerja?", tanya Ajeng.
"Kalau kamu siap, hari ini juga kamu sudah bisa mulai bekerja".
"Baik, I'm ready", jawab Ajeng semangat. Nampak senyuman bahagia terulas di bibirnya yang ranum.
'Aaahh...menggemaskan sekali dia', batin Erik lagi.
"Oh ya, sebelum bekerja, aku akan memperkenalkanmu pada boss besar di perusahaan ini. Kebetulan dia baru datang dari Jerman. Ayo ikut aku", ajak Erik.
Tanpa banyak bicara, Ajeng mengekor.
"Oh ya mas, setahukan kalau rekrutmen pegawai itu kan dilakukan HRD ya. Tapi aku, kenapa langsung diterima kerja begitu saja?", tanya Ajeng heran. Dia bertanya saat mereka berdua berjalan ke ruangan direktur utama.
Erik menghentikan langkahnya, "Hanya orang dengan kualitas tertentu saja yang bisa langsung berhadapan denganku dan diterima bekerja olehku", terang Erik enteng.
Erik melanjutkan langkahnya. Ajeng hanya mengangguk, bingung.
Erik mengetuk pintu ruang direktur, dan terdengar suara seseorang mempersilahkan mereka masuk.
"Maaf, pak, saya datang membawa pegawai IT kita yang baru", Erik membuka suara.
Orang yang dimaksud direktur itu pun memutar kursinya dan melihat siapa yang Erik bawa ke ruangannya.
"Lho, Farhan?!".
"Ajeng?!"
Sepasang mata bertemu dan keduanya saling menatap tak percaya.
__ADS_1