
Farhan berkali-kali menatap layar ponselnya. Entah kenapa, semenjak kepulangannya ke Jerman, hatinya masih saja resah. Dia merasa terbebani oleh ucapan Ajeng yang memintanya untuk mengabari Kinara tentang kepulangannya ke sana.
"Kenapa sulit sekali untuk melupakanmu, Kinara?", gumam Farhan pada dirinya sendiri.
Dia merasa frustasi karena hal itu. Farhan sangat sadar diri jika wanita yang dicintainya itu kini sudah bersuami, tapi dia juga tak bisa membunuh perasaannya begitu saja.
"Tuhan, maafkan perasaanku", gumamnya lagi.
Dia palingkan wajahnya, menatap foto keluarga yang diambil saat dia melamar Elena.
"El, maafkan aku yang masih menumbuhkan perasaan ini pada wanita lain. Andai kamu masih di sini, kita menikah, mungkin keadaannya akan berbeda", Farhan merasa begitu lemah.
Panggilan telepon dari seorang temannya di kampus membuyarnya kegundahan hatinya. Farhan ingat bahwa hari ini dia ada janji untuk menemui narasumber, melengkapi tesisnya.
Sekembalinya ke Jerman, meski perasaan Farhan campur aduk, tapi dia berusaha belajar dengan baik. Mengejar masa studi secepat mungkin.
Pukul dua siang di Jerman. Farhan sudah menginjakkan kakinya disebuah perusahaan. Dia mendapatkan link ke perusahaan itu dari teman baiknya di kampus, Giovani.
"Farhan, how are you?", sebuah suara yang akrab di telinganya mengejutkannya sesaat setelah dia duduk di lobi perusahaan.
Farhan menoleh, dan dilihatnya wajah Pak James, ayah dari Elena Morris.
"Oh Sir, I'm good. Long time no see", jawab Farhan. Dia beranjak dari tempat duduknya dan langsung menghampiri Pak James.
Pak James nampak sumringah saat bertemu dengan Farhan. Dia memeluk erat lelaki yang hampir menjadi menantunya itu.
"What are you doing here?", tanya Pak James, dia ikut duduk dengan Farhan di kursi yang sama.
"I have an appoinment with the CEO of this company, for my thesis", terang Farhan dengan ramah.
"Oh...that's good. I feel so happy hear your study will be finish soon. Do you know, Mr. Johnson is my best friend".
"Really?".
"Yeah".
Sejenak, Farhan dan Pak James terlihat berbincang dengan akrab. Pak James mencoba berbicara dengan Bahasa Indonesia, dia rindu berbincang seperti itu dengan Farhan.
"Farhan, apa rencanamu setelah selesai study di sini?", Pak James menatap Farhan serius.
"Saya akan kembali ke Indonesia, pak", jawab Farhan cepat.
"And then?", tanya Pak James lagi.
__ADS_1
"I will leading my company there".
"Wow, menjadi pengusaha ya. That's great", puji Pak James senang.
Perbincangan mereka terlihat menyenangkan. Beberapa kali terlihat Pak James dan Farhan tertawa bersama. Pak James yang berbicara dengan Bahasa Indonesia berusaha mengimbangi candaan Farhan.
"Saya harap setelah selesai studi mu di sini, kamu bisa segera menikah. Bagi saya dan istri saya, kamu sudah kami anggap seperti anak kami sendiri", wajah Pak James berubah sendu. Farhan paham maksud ucapan lelaki paruh baya itu.
"Terimakasih pak. Beruntung sekali saya memiliki orang tua seperti bapak dan Bu Tatiana", ungkap Farhan jujur.
Pak James tersenyum tipis, "Elena pasti ikut bangga melihatmu sampai sejauh ini", ada kilatan kesedihan yang dalam di matanya.
"Do'a terbaik selalu saya kirimkan untuk Elena agar dia bahagia di sana", ucap Farhan. Dia pun masih merasakan beratnya kehilangan gadis sebaik Elena.
"Sorry, Mr. Farhan, right?", sebuah suara memecahkan kesenduan Pak James dan Farhan.
"Yes, I'm", jawab Farhan saat seorang wanita menghampirinya.
Rupanya wanita itu adalah petugas resepsionis yang memberitahukan bahwa Farhan sudah ditunggu oleh Pak Johnson di ruangannya.
Disaat yang sama, Pak James yang juga memiliki janji dengan sahabatnya itu ada di sana. Bersama dengan Farhan, dia menuju ruangan CEO.
Sesampainya di ruang CEO, Pak Johnson terkejut melihat kedatangan Farhan bersamaan dengan kedatangan Pak James. Mereka bertiga saling memperkenalkan diri dan perbincangan seru di antara ketiganya pun mengalir begitu saja.
Farhan merasa beruntung sekali, semua usahanya untuk segera menyelesaikan studi dipermudah. Pak Johnson yang ternyata paman dari sahabatnya, Giovani, begitu ramah dan kooperatif dengan Farhan. Ditambah dengan adanya dukungan dari Pak James yang meminta Pak Johnson dapat membantu Farhan dengan baik. Semua berjalan sesuai dengan rencananya.
Jam menunjukkan pukul tiga sore. Kinara yang sedang mengistirahatkan dirinya memandangi ponsel yang sedari pagi tak berbunyi.
Tak ada pesan ataupum telepon dari suaminya di Surabaya. Ada perasaan gelisah yang mengusik, tapi dia tak berani menelepon lebih dulu karena khawatir suaminya masih sibuk bekerja.
'Kalau sampai nanti malam tak ada kabar, aku saja yang menghubunginya lebih dulu. Ayolah Kinara, jangan malu-malu, dia itu suamimu', batinnya sendiri.
Baru saja Kinara berusaha menenangkan hati dan memotivasi dirinya, ponselnya bergetar. Ada nomor yang tak dikenal muncul di layar.
"Hallo...".
"Hallo...selamat sore Nona Kinara, saya Leo, asisten pribadi Pak Erlangga. Saya ingin mengabarkan kondisi Pak Erlangga, nona".
Deg...
Jantung Kinara berdegup, "Kondisi Mas Erlangga? suami saya kenapa?", tanya Kinara cepat.
"Saat ini Pak Erlangga dirawat di rumah sakit, nona. Tadi siang beliau mengalami kecelakaan di lokasi proyek".
__ADS_1
Bagai disambar petir, berita buruk itu membuat Kinara terkejut dan spontan menumpahkan air matanya.
"Ba...bagaimana kondisinya sekarang? tolong kirimkan alamat rumah sakit tempat suami saya dirawat di sana", Kinara berusaha menahan air mata dan rasa sesak di dadanya.
"Pak Erlangga saat ini sedang berada di ruang operasi. Beliau mengalami pendarahan yang cukup berat di kepalanya. Saya akan kirimkan alamatnya segera. Saya harap nona dan keluarga bisa segera menyusul ke sini".
Telepon pun berakhir. Kinara menerima alamat itu lewat pesan pendek. Tanpa pikir panjang, dia segera berkemas untuk berangkat ke Surabaya. Dalam kondisi kalut, dia berusaha berpikir jernih, dikabarinya mama dan papa mertuanya juga Ajeng.
Ajeng yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya di kantor tak kalah kalut dengan Kinara. Sapaan Erik di lobi kantor ia abaikan. Air matanya pun tumpah, membayangkan keadaan kakak lelaki satu-satunya itu sekarang.
"Hallo...ma, Kak Angga....hiks...", sepanjang perjalanan menuju apartemen, air matanya berderai. Rupanya papa dan mamanya sudah lebih dulu menerima kabar itu dan saat ini mereka pun sedang dalam perjalanan ke apartemen untuk menjemput Kinara agar bisa berangkat bersama-sama ke Surabaya.
Setibanya di apartemen, Kinara memeluk erat mama mertunya.
"Ma...Na...Nara takut Mas Erlangga kenapa-kenapa", air mata Kinara mengalir deras. Sesegukan dia menangis di pelukan mama mertuanya yang berusaha menenangkan dirinya.
"Kita berdo'a, semoga Erlangga baik-baik saja ya nak. Mama tahu kamu pasti khawatir, sebentar lagi kita ke sana", ucap Bu Tria.
Kinara hanya mengangguk lemah. Dia tak ingin membayangkan bagaimana keadaan suaminya di rumah sakit. Pendarahan, dioperasi, semua itu membuatnya tertekan.
Sementara itu, Pak Wijaya berusaha menenangkan dirinya. Dia mafhum jika istrinya, putri dan menantunya itu bersedih. Dia pun merasakan hal yang sama, tapi sebagai seorang ayah sekaligus kepala keluarga, dia harus tetap bisa mengendalikan keadaan.
"Hallo...bagaimana? sudah siap?", Pak Wijaya terlihat sibuk berbicara dengan seseorang di telepon.
Tak lama, Ajeng tiba dengan mata yang tak kalah sembab dari Kinara.
"Papa....huuuuaaaa....Mas Angga...", dia langsung memeluk papanya, menumpahkan tangisannya di pelukan sang papa.
Pak Wijaya mengelus punggung putrinya itu, "Sabar, Jeng. Kita sekarang ke Surabaya ya. Kita sama-sama berdo'a untuk mas mu. Ayo, pesawat kita sebentar lagi akan berangkat".
Akhirnya mereka berempat segera menuju bandara. Kecemasan dan harapan nampak jelas di wajah mereka semua.
"Tolong agak cepat ya", pinta Pak Erlangga pada supir pribadinya. Mobil pun melaju cepat dan tak butuh waktu lama untuk mereka tiba di bandara.
Seseorang terlihat menyambut kedatangan mereka dan mengantarkannya sampai masuk ke kabin pesawat.
Kinara duduk bersebelahan dengan Ajeng. Tangan mereka saling berpegangan. Ajeng bisa merasakan betapa dinginnya tangan kakak iparnya itu, sesekali Kinara meremas tangan Ajeng untuk menahan kecemasan yang dalam di hatinya.
"Ra...semoga Mas Angga baik-baik aja ya", Ajeng yang sedikit demi sedikit sudah bisa mengendalikan dirinya kini berusaha untuk menyemangati Kinara.
Kinara hanya mengangguk lemah.
'Tuhan, tolong selamatkan suamiku. Sembuhkanlah dia', do'anya penuh harap.
__ADS_1
Pesawat pun sudah mengudara, membawa jutaan do'a dan harap di hati Kinara.
'Mas...bertahanlah, aku akan segera datang. Tunggu aku mas', bisik hati kecilnya. Air matanya menetes lagi.