
Mata Kinara terlihat sembab, mengingat perbincangannya dengan Viona tadi siang. Perasaannya kacau. Dia memang belum tahu pasti seperti apa perasaannya pada Erlangga. Tapi mengingat ada wanita lain yang meminta suaminya, rasanya itu seperti mimpi buruk.
Ia ingin sekali menyampaikan keresahannya pada Erlangga. Tapi Kinara memilih tak mengatakannya, ia hanya akan bercerita jika suaminya sudah kembali dari Surabaya.
'Jam lima sore', bisik Kinara, sesaat setelah melihat jam di dinding kamarnya. Ia beranjak dari tempat tidur untuk segera merapikan dan membersihkan diri.
Lima belas menit berlalu, selepas mandi, Kinara menyiapkan makan malam.
Tok...tok...tok
Terdengar suara ketukan di pintu depan. Kinara segera bergegas, ia meninggalkan sejenak masakannya di dapur.
"Selamat datang di rumah, mah", sambut Kinara kepada ibu mertuanya.
"Terimakasih, nak", jawab Bu Tria dengan penuh senyum.
Bu Tria merebahkan badannya di atas sofa ruang keluarga. Kinara segera bergegas, membawakan segelas teh manis hangat untuk ibu mertuanya itu.
"Kamu selalu seperti ini menyambut mama pulang, padahal mama bisa ambil minum sendiri", kata Bu Tria saat menantunya itu menyimpan gelas teh di meja.
Kinara hanya tersenyum mendengar ucapan ibu mertuanya itu.
"Nara tinggal sebentar ya ma, tadi Nara lagi masak buat makan malam", pamit Kinara, dijawab anggukan kecil dari Bu Tria.
Jam 19.30 WIB
Di meja makan sudah tersaji ayam goreng, sayur lodeh dan tempe bacem.
"Waaahh...kakak tahu banget sih kalau aku kelaparan", seru Ajeng ketika dia melihat sajian menu malam ini.
"Iiisshhh...kamu ini, ayo duduk", perintah Bu Tria.
Ajeng segera menarik kursinya dan dengan lahap menikmati makan malam mereka.
"Oh ya nak, besok papa mau pulang", kata Bu Tria ditengah suapan makannya.
"Wah, jam berapa papa sampai, ma?", tanya Kinara antusias.
"Sekitar jam empat sore kalau tidak ada perubahan jadwal penerbangan", jawab Bu Tria.
"Aku mau telepon papa ah, minta dibelikan oleh-oleh", seru Ajeng riang.
Kinara dan Bu Tria tersenyum melihat tingkah manja Ajeng.
"Oh ya ma, besok pagi Nara mau nengok rumah dulu ya. Sudah lama gak ditengok, mau Nara bersihkan dan khawatir ada yang rusak di sana. Sebelum papa sampai, Nara pastikan Nara sudah di rumah", izin Kinara pada Bu Tria.
"Aku ikut dong kak. Kebetulan besok kan weekend ya, aku bosan di rumah. Refreshing dari kerjaan kantor, boleh dong bantu kakak", sambut Ajeng cepat.
Kinara menganggukkan kepala. Bu Tria pun mengizinkan mereka berdua pergi.
**
__ADS_1
Pagi-pagi sekali Kinara dan Ajeng sudah berangkat dari rumah. Mereka memang ingin merapikan rumah lama Kinara.
Sesampainya di sana, terlihat halaman rumah yang kotor dan rerumputan yang mulai tumbuh tinggi.
"Wiihh...kak, jadi horror ya rumah ini", tatap Ajeng miris.
"Makanya Jeng, yuk kita beresin", ajak Kinara.
"Oh ya, satu lagi, kalau kita lagi berdua gini, jangan panggil kakak, panggil nama aja kek biasanya", tambah Kinara.
"Ok", jawab Ajeng cepat.
Mereka berdua berbagi tugas, Ajeng merapikan bagian luar rumah termasuk halaman depan, sedangkan Kinara sibuk merapikan bagian dalam rumah.
Cukup lama keduanya membersihkan seisi rumah itu.
Jam 11.00 WIB
Kinara mengajak Ajeng beristirahat, mereka menikmati dua porsi nasi padang lengkap dengan dua gelas jus jeruk yang sengaja Kinara pesan dari aplikasi online.
"Ih sumpah ya kak, aku berasa kuli", ujar Ajeng dengan mulut penuh.
Kinara tertawa kecil mendengar ucapan Ajeng, "Emang, cocok banget kamu Jeng jadi kuli".
Ajeng mengerucutkan mulutnya sebal.
Makan siang mereka pun usai, rumah terlihat lebih rapi dan bersih.
"Oh ya Jeng, boleh aku tanya sesuatu?", tanya Kinara sambil menyeruput jus jeruk miliknya.
Kinara menarik nafas dalam, "Soal Mas Erlangga. Apa dulu dia pernah menikah?".
Ajeng menghentikan aktivitasnya menyeruput jus jeruk, ditatapnya Kinara dengan dalam.
"Mmm...gimana ya ceritanya. Ya, Mas Erlangga pernah nikah, kak. Tapi setahuku udah lama cerai sih".
Kinara mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kok kakak tanya soal itu?", selidik Ajeng.
"Oh eh, enggak...aku...aku...", belum selesai Kinara menjawab, pintu gerbang depan terdengar dibuka oleh seseorang.
"Selamat siang", sapa suara yang tak asing di telinga Kinara dan Ajeng.
Kinara bergegas menuju pintu, "Farhan?", serunya terkejut melihat sosok orang yang datang.
Farhan menyunggingkan senyum manisnya, lengkap dengan kedua lesung pipinya.
"Lho, kamu di sini, Han...", seru Ajeng tak kalah kaget dengan Kinara.
"Iya. Maaf mengganggu waktu kalian berdua", jawab Farhan kikuk.
__ADS_1
"Oh, enggak kok Han. Ayo masuk", ajak Kinara.
Di ruang tamu mereka bertiga duduk.
"Aku buatkan minum dulu ya, Han", Kinara beranjak dari tempat duduknya.
Farhan hanya mengangguk melihat Kinara pergi.
"Hei, kamu gimana sih, katanya jangan sampai Kinara tahu kamu di sini? sekarang malah datang sendiri ketemu dia", bisik Ajeng.
Farhan tersenyum tipis, "Ya setelah aku pikir-pikir, apa salahnya ketemu teman lama, ya kan?", jawab Farhan enteng.
"Dasar, gak konsisten", ejek Ajeng yang dibalas dengan tawa kecil Farhan.
Tak lama, Kinara sudah datang dengan secangkir teh hangat.
"Maaf ya Han, aku cuma bisa sajikan ini. Soalnya rumah baru diberesin", kata Kinara sambil menyimpan cangkir teh di atas meja.
"Tak apa, Ra. Oh ya, gimana kabar kamu dan Ajeng?", tanya Farhan basa-basi.
"Ya kek yang kamu lihat lah, kita baik-baik aja. Ya kan, Ra?", jawab Ajeng ketus.
"Iya Han, kabar kita baik, kok. Tumben kamu mampir ke sini, ada apa?", tanya Kinara tanpa ragu.
"Syukurlah kalau kalian sehat. Tadi aku lagi lewat sini, dan lihat pintu rumah ini terbuka, jadi ya aku pikir gak ada salahnya mampir sebentar", jawab Farhan.
Kinara mengangguk-anggukan kepalanya.
"Suamimu, gimana, Ra?", tanya Farhan lagi.
"Oh, Mas Erlangga, baik. Dia masih di Surabaya", jawab Kinara canggung.
"Duh, kalian ini udah kek mantan ketemu mantan aja deh, kaku gitu. Dulu aja, heboh dan akrab", celoteh Ajeng membuat Kinara dan Farhan semakin salah tingkah.
"Kamu sendiri, udah punya pasangan belum, Jeng?", tanya Farhan mengalihkan pembicaraan.
"Ck, jangan bahas itu, sensitif", tegas Ajeng.
Kinara dan Farhan tertawa bersamaan melihat ekspresi Ajeng.
"Kamu sendiri, gimana, Han?", tanya Kinara.
Farhan tersenyum tipis, "Aku...aku hampir menikah. Tapi Tuhan berkata lain, calon istriku meninggal karena kecelakaan", jawab Farhan sendu.
Kinara merasa bersalah dengan pertanyaannya itu, "Maaf Han, aku gak bermaksud.."
"Tak apa, Ra. Do'anya aja ya".
"Kita ikut sedih lho, Han. Semoga cepat dapat gantinya ya", tambah Ajeng.
Farhan menjawabnya dengan anggukan kecil dan senyum tipis.
__ADS_1
"Udah ah, jangan bahas yang sedih-sedih lagi. Kita bahas yang lucu-lucu aja yuk", celoteh Ajeng.
Akhirnya mereka bertiga bernostalgia masa-masa mereka kuliah dulu. Sesekali terdengar suara tawa pecah karena tingkah Ajeng yang jenaka. Tanpa mereka sadari, sepasang mata mengawasi kebersamaan mereka sedari tadi.