
Erlangga masih memeluk erat tubuh Kinara.
Perlahan ia mulai melepaskan pelukannya dan memandang dalam wajah istrinya itu.
"Terimakasih sayang, kamu masih mau memberiku kesempatan", ujar Erlangga, tangannya menyentuh lembut rambut Kinara yang terurai.
Kinara hanya tersenyum. Jika dia mengingat kembali kejadian tadi siang di mall, dadanya terasa sesak lagi.
"Aku akan ceritakan semuanya kepadamu, agar kamu mengerti dan tak lagi salah paham", kata Erlangga hati-hati.
Kinara sebetulnya tak ingin mengungkit hal itu lagi, tapi rasa penasaran yang menyeruak dalam dirinya membuatnya duduk mendengarkan.
Akhirnya Erlangga bercerita tentang Viona. Mengisahkan bagaimana pertemuan awal mereka, hingga mereka menikah dan akhirnya bercerai.
Sepanjang mendengarkan cerita itu, perasaan Kinara benar-benar berkecamuk. Dia tak menyangka jika Alya, muridnya di sekolah adalah anak kandung suaminya dan Viona, sosok wanita yang baru saja dia kenal dan dijadikannya teman ternyata mantan istri suaminya. Kinara benar-benar tak habis pikir.
Terlebih ketika ia mengetahui bahwa perceraian Viona dan suaminya dimasa lalu terjadi karena keegoisan suaminya. Cerita yang serupa, yang didengarnya beberapa waktu lalu dari Viona.
'Bagaimana bisa dia bersikap seperti itu? dia yang aku kira baik, penyayang, pengertian, ternyata setega itu', Kinara sibuk dengan pikirannya sendiri
"Sekarang kamu sudah tahu semuanya. Tak ada lagi yang aku tutup-tutupi darimu, sayang. Tapi percayalah, setelah kejadian itu aku berjanji untuk berubah. Aku berjanji untuk lebih mencintai pendamping hidupku dimasa depan, dan itu kamu, sayang", Erlangga menggenggam erat kedua tangan Kinara.
Kinara tak tahu harus meresponnya dengan cara atau ekspresi yang bagaimana.
"Ketika pertama kali kedua orang tuaku mengatakan soal perjodohan kita dan aku setiap hari mengawasimu sekedar untuk tahu kamu seperti apa, terlebih saat aku ternyata membimbing skripsimu dan kita sempat pergi bersama, saat itu aku sadar, kehadiranmu membawa sesuatu yang berbeda dihidupku. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu", Erlangga masih berusaha meyakinkan Kinara bahwa dirinya kini sudah berubah.
Kinara mencoba tersenyum.
"Iya mas, terimakasih karena kamu sudah begitu mencintaiku. Lalu, soal Alya, bagaimana?", Kinara masih penasaran.
"Di sekolah, selama aku menjadi gurunya, Alya sering kali terlihat murung. Setiap aku tanya, Alya selalu menceritakan kesedihannya karena merindukan sosok ayahnya, bahkan saat hari ayah, dia menangis, dia sedih karena ayahnya tak datang. Hanya Oma Diah yang selalu mendampingi dan membujuknya", terang Kinara sendu. Terlintas kembali wajah polos Alya diingatannya.
Erlangga menarik nafas berat.
"Soal Alya, Viona beberapa kali menemuiku. Dia...dia memintaku untuk kembali kepadanya, bersama lagi seperti dulu dan menjadi sebuah keluarga yang utuh demi kebahagiaan Alya. Tapi aku tidak mau, aku tidak mungkin melakukan hal itu karena itu salah dan pasti akan menyakitimu. Lagi pula saat ini dan selamanya, aku hanya mencintaimu saja", jawab Erlangga hati-hati.
Kinara terkejut dengan kejujuran lain dari mulut suaminya. Dia tak menyangka jika sudah sejauh itu komunikasi Viona dengan suaminya selama ini.
"Maaf sayang, aku tak memberi tahumu jika Viona menemuiku beberapa waktu lalu", seolah Erlangga bisa membaca isi hati Kinara karena air mukanya yang berubah.
"Mas, jika dengan cara itu Alya bisa bahagia, tak apa. Aku merelakanmu kembali kepada Viona. Apa yang Viona bilang itu benar, kasihan Alya", bibir Kinara bergetar mengatakan hal itu.
Dia tak tahu pasti sebetulnya seperti apa perasaannya pada Erlangga. Meskipun Erlangga selalu mengatakan kata cinta padanya, tapi Kinara belum yakin dengan perasaannya sendiri. Entah apa yang terjadi dengan hatinya, ada perih yang dalam di sana saat ia terpaksa mengatakan hal itu.
"Tidak! aku tidak akan kembali pada Viona. Aku menerima dan menyayangi Alya sebagai anakku, bahkan aku akan ikut membesarkannya. Tapi tidak dengan cara seperti itu!", suara Erlangga meninggi, dia tak percaya Kinara bisa mengatakan hal itu dengan mudahnya.
"Tapi mas, Alya benar-benar membutuhkan kehadiranmu di sisinya".
"Dengar, aku akan selalu ada untuk Alya, tapi aku tidak harus melakukan hal yang tidak aku inginkan dan jelas akan menyakitimu. Alya bisa sesekali tinggal bersama kita atau aku bisa rutin mengunjunginya juga, bukan?", Erlangga tak terima dengan saran Kinara.
Kinara menarik nafas dalam, dia mencoba mengontrol kembali perasaannya.
"Aku minta maaf mas jika ucapanku tadi itu salah. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, kapanpun kamu ingin kembali kepada Viona, aku merelakanmu mas", Kinara bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar.
Erlangga segera menyusul Kinara lalu mendekapnya dengan erat.
"Tidak akan, aku tidak akan melakukan hal itu sekalipun kamu merelakannya. Aku mencintaimu, hanya mencintaimu saja. Please, jangan bicara lagi soal ini", bisik Erlangga lirih.
__ADS_1
Air mata menetes dari pelupuk mata Kinara. Sebetulnya dirinya pun tak bisa membayangkan bagaimana jika benar dia harus melepaskan Erlangga atau harus membagi cintanya dengan wanita lain.
Erlangga mengangkat dagu Kinara. Mata mereka saling menatap, seolah mengungkapkan perasaan mereka satu sama lain.
Erlangga mengusap lembut air mata Kinara, ia memajukan wajahnya lebih dekat dan cup, Erlangga mendaratkan ciuman lembut di bibir Kinara. Kinara tak menolak ciuman itu, meski ia masih kaku membalasnya, tapi entah kenapa, ia sangat menikmatinya.
Ciuman itu semakin dalam, nafas mereka seolah tertahan. Erlangga mengungkapkan semua cintanya dengan manis.
"Ayo, sekarang kita tidur, kamu pasti lelah", ujar Erlangga setelah ciuman mesra itu selesai. Dia menggendong tubuh Kinara dan merebahkan di sampingnya. Mereka terlelap saling memeluk.
**
"Besok aku kembali ke Bandung. Aku harus menemui mereka. Ya bagaimana pun caranya, aku harus menemui mereka", gumam Viona.
Diliriknya Alya yang sudah tertidur lelap di sampingnya. Ada haru yang dalam setiap kali Viona menatap wajah polos Alya saat tidur.
Bayangan masa lalu saat dia menjalani masa-masa kehamilan sendiri, melahirkan dan merawat Alya sendiri, selalu membuatnya menitikkan air mata. Hanya Oma Diah, ibunya yang selama ini selalu ada dan menguatkannya hingga ia bisa bertahan sampai sejauh ini.
"Hallo ma, besok aku dan Alya pulang ya. Mama mau dibawakan apa?", Viona menghubungi ibunya.
"Tak usah repot bawa oleh-oleh buat mama, nak. Kamu dan Alya pulang saja mama sudah senang. Mama kesepian di sini tanpa kalian", jawab Oma Diah.
Viona tersenyum, mereke berbincang sebentar sebelum telepon itu Viona akhiri.
**
Pagi menjelang, seperti biasa selepas sholat subuh, Kinara menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Erlangga memilih duduk sambil memeriksa email dari kantor.
Ponselnya bergetar
"Ya Son, kenapa?".
"Pagi pak, hari ini bapak ada jadwal meeting jam 8 pagi dengan perusahaan Ganindra Group. Mohon maaf saya kemarin lupa mengabarkan".
"Ok. Tempatnya di mana?".
"Kemarin Pak Erik, wakil direktur Ganindra Group meminta meeting diadakan di kantor kita, pak".
"Baik, siapkan semua hal yang dibutuhkan".
"Baik pak".
Kinara menghampiri suaminya dengan membawakan secangkir teh manis hangat.
"Meeting ya mas?", tanyanya.
"Iya, aku ada meeting jam 8 pagi", jawab Erlangga pendek.
Kinara tersenyum, 'Sibuk sekali suamiku ini', batinnya.
"Mmm...mas, ada yang mau aku sampaikan", ucap Kinara ragu-ragu.
"Apa?", Erlangga menyeruput teh manisnya.
"Lusa aku harus kembali ke Bandung, mas".
__ADS_1
Erlangga mengernyitkan dahinya.
"Secepat itu? kenapa? apa kamu masih marah sama aku atau kamu gak betah tinggal di sini?", Erlangga memberondong Kinara dengan pertanyaan.
Kinara menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bukan mas, bukan begitu maksudku. Aku di sini sudah dua minggu lebih. Nah, tanggal 20 nanti aku ada rapat dewan guru di sekolah untuk persiapan tahun ajaran baru, jadi aku harus pulang lebih cepat untuk mempersiapkan itu semua", terang Kinara.
Erlangga menarik nafas dalam.
"Oh begitu. Sayang, sebetulnya aku ingin sekali kamu tetap di sini bersamaku. Tidak bisakah kamu berhenti bekerja? aku akan menjamin semua kebutuhanmu", pinta Erlangga.
Kinara terdiam sejenak.
"Mas, aku percaya kamu bisa memenuhi semua kebutuhan bahkan keinginanku. Tapi seperti yang aku bilang dulu, bagaimana pun keadaannya aku ingin tetap bekerja agar ilmuku tetap bisa bermanfaat bagi banyak orang dan itu juga sudah passionku, mas", jawab Kinara hati-hati.
Kali ini giliran Erlangga yang terdiam mendengar jawaban istrinya itu.
"Aku janji mas, aku akan menjaga diriku dengan baik selama aku bekerja dan kita tinggal terpisah seperti sebelumnya. Aku juga akan tetap memenuhi kewajibanku saat aku bersamamu atau pun saat aku jauh, ya", Kinara memegang tangan Erlangga.
Erlangga tersenyum, ada rasa sejuk di hatinya.
"Baiklah kalau itu maumu. Aku izinkan. Tapi soal kewajibanmu sebagai istri, kapan aku bisa memintanya?", tanya Erlangga menggoda.
"Maksudnya mas?", Kinara belum mengerti maksud perkataan suaminya.
Erlangga tersenyum nakal, tatapannya berubah liar melihat Kinara. Tindakan itu sudah menjelaskan maksud pertanyaan Erlangga kepadanya.
"Mmm...kalau soal kewajiban yang itu, aku...aku...mmm...mas bilang jangan dipikirkan lagi", jawab Kinara gugup, wajahnya sudah mulai merona. Dia sengaja menjawab dengan menundukkan wajahnya, malu.
Erlangga masih saja menggodanya. Tangannya mulai menyentuh pinggang Kinara, menarik tubuh istrinya untuk mendekat.
"Kenapa? sulit ya untuk kamu jawab, sayang", bisik Erlangga di telinga Kinara yang membuatnya merasa geli.
Jantung Kinara berdebar lebih kencang saat Erlangga mulai mencium rambutnya dan menyentuh lembut lehernya.
"Mas...", Kinara berusaha menolak, tapi pergerakan Erlangga lebih cepat. Kini dia sudah mengunci Kinara di sofa, bibirnya menciumi leher jenjang Kinara yang putih.
"Mas...", Kinara masih berusaha melepaskan dirinya, tapi gagal. Beberapa menit Erlangga masih menciumi leher Kinara. Membuat tubuh Kinara panas. Beberapa kali Kinara mendesah.
"Sudah, bangunlah", Erlangga mengangkat perlahan tubuh istrinya. Ia senang sudah meninggalkan jejak di sana tanpa disadari oleh istrinya.
"Kenapa sih mas selalu melakukan hal yang tidak-tidak begini?", Kinara protes. Ia merapikan kembali pakaiannya.
Erlangga tertawa kecil.
"Karena itu hakku dan itu kewajibanmu, sayang", jawab Erlangga enteng.
Kinara menundukkan wajahnya, malu. Dia sadar memang dirinya belum sepenuhnya menunaikan kewajiban sebagai seorang istri.
"Ayo kita sarapan", ajak Erlangga.
Kinara mengikuti suaminya ke meja makan. Pagi ini Kinara membuatkan sup ayam dan telur dadar.
"Wow, ini enak sekali sayang. Terimakasih sudah membuatkan ini untukku", puji Erlangga tulus.
Kinara tersenyum senang melihat suaminya lahap menyantap sarapan pagi buatannya.
__ADS_1