Unknown Love

Unknown Love
Tertunda Lagi


__ADS_3

Ttiitt...ttiitt...tiitt


Jam weker di atas nakas sudah berbunyi, membuat Kinara segera membuka matanya. Ia matikan jam weker itu, lalu dia beranjak dari tempat tidurnya. Tak lupa, ia ikat kepang ekor kuda rambut panjangnya yang hitam terurai.


Sejenak, ia melihat suaminya yang masih terlelap di tempat tidur.


'Kamu pasti lelah sekali ya mas', gumamnya dalam hati.


Kinara tersenyum simpul dan segera mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat subuh.


Selepas sholat, dilihatnya Erlangga yang masih setia menutup kedua matanya.


"Mas, bangun mas, subuh dulu gih", Kinara mengusap lembut pundak Erlangga. Tak ada respon.


"Mas, ayo bangun. Ini udah mau jam lima lho, subuh dulu", Kinara mencoba menggoyang-goyangkan lengan Erlangga.


"Mmm...bentar lagi ya sayang, mas masih ngantuk ini", jawab Erlangga lirih dengan mata yang masih terkatup rapat.


Kinara berpikir mencari cara agar suaminya lekas bangun. Ia ingat, dulu kalau dia susah bangun, ibu biasanya akan memercikan air ke wajahnya.


Kinara segera berjalan ke kamar mandi, diambilnya setengah gayung air.


'Ide bagus. Pakai ini, pasti dia bangun', pikir Kinara jahil.


"Emh...ck, aduh, apa sih ini?!", Erlangga merasa terganggu, ada sesuatu yang dingin menerpa wajahnya.


Kinara manahan tawanya, ia senyum-senyum sendiri melihat Erlangga yang sudah mulai merasa terganggu tidurnya. Tangan kanannya masih terus memercikan air itu.


"Adduuh...ck, basah ini", suara Erlangga mulai meninggi dan dengan terpaksa akhirnya dia membuka kedua matanya.


Dilihatnya Kinara yang masih saja tersenyum, seolah menikmati ulahnya pagi ini.


"Nah kan, kalau begini mas pasti bangun", ujarnya penuh kemenangan.


"Kamu ya, nakal. Sini, aku hukum", Erlangga bergegas beranjak dari tempat tidurnya, dengan cepat dan sigap ia segera mengejar Kinara yang sudah lebih dulu melarikan diri ke kamar mandi dan mengunci dirinya di dalam.


"Sayang, ayo buka. Kamu nakal, kamu harus aku hukum", teriak Erlangga di depan pintu kamar mandi. Tangannya masih mencoba membuka pintu itu.


"Gak bisa. Mas gak bisa hukum aku, kan yang susah bangun mas sendiri. Udah sana mas sholat dulu", jawab Kinara tak mau kalah.


Erlangga akhirnya keluar dari kamar, ia menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur dan memilih sholat di kamar tamu.


Kinara masih betah bersembunyi di dalam kamar mandi. Ia menunggu beberapa saat untuk memastikan suaminya sudah tidak ada di depan pintu.


"Mas? hallo...mas?", teriak Kinara. Tak ada jawaban.


"Sepi, seperti Mas Erlangga udah pergi deh", gumamnya sendiri.


Ia segera membuka pintu kamar mandi itu perlahan-lahan sambil tersenyum senang penuh kemenangan.


Deg


Jantung Kinara berdegup, ia terkejut karena tiba-tiba saja sepasang tangan melingkar di pinggangnya.


"Ayo, tertangkap kamu sekarang ya", seru Erlangga membuat Kinara tak bisa bergerak.


"Aaaa...mas curang", Kinara berusaha melepaskan kuncian tangan suaminya.


"Salah sendiri, kamu jahat sama aku. Sekarang bersiaplah menerima hukumanmu", ucap Erlangga.


Kini tangannya dengan sigap membalikkan tubuh Kinara. Kinara sudah ada dalam dekapan Erlangga. Kepalanya menempel pada dada bidang Erlangga.

__ADS_1


"Mas, lepas. Aku minta maaf deh", Kinara merajuk.


Erlangga tersenyum dengan sikap manja Kinara yang tengah berusaha melepaskan pelukannya.


"Mas, ampun. Lepasin aku ya", Kinara masih terus merajuk.


"No, kamu harus dihukum!", jawab Erlangga, dengan cepat ia menggendong tubuh Kinara dan merebahkannya di atas tempat tidur.


Kinara semakin merasa gugup, terlebih saat dia melihat ekspresi suaminya yang dengan sengaja menunjukkan tatapan dan senyum yang nakal kepadanya.


"Mas, please, maafin aku. Aku kan tadi maksudnya baik", Kinara memohon, dia memundurkan tubuhnya menjauh dari Erlangga.


"Gak ada maaf. Kamu salah dan sekarang saatnya kamu dihukum!", jawab Erlangga dengan tatapan penuh hasrat.


"Tapi mas, aku...", belum selesai Kinara bicara, Erlangga sudah menindih tubuhnya. Menjepit kedua kakinya dan mengunci pergelangan tangannya.


"Aku suka melihatmu seperti ini. Sangat menggoda", bisik Erlangga di telinga Kinara. Membuat Kinara semakin gugup dan takut.


"Mas, aku mohon, lepaskan aku", untuk kesekian kalinya Kinara meminta.


Erlangga seolah tak memperdulikan rengekan istrinya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Kinara yang kini sudah begitu merona menahan malu dan rasa gugupnya.


"Mas...", ucapan Kinara berakhir dengan ciuman lembut Erlangga di bibirnya.


Erlangga melonggarkan pegangannya pada kedua pergelangan tangan Kinara. Kini tangannya memilih untuk bermain, menyentuh setiap inci tubuh istrinya.


Kinara merasa belum siap melakukan hubungan yang lebih jauh dengan Erlangga, tapi entah kenapa tubuhnya seolah sulit untuk menolak hal itu.


Ciuman Erlangga semakin dalam dan sudah menjalar ke leher Kinara.


"Aaahh...mas", Kinara mendesah dengan aksi Erlangga di lehernya. Erlangga menikmati aksinya itu, meninggalkan jejak lagi di leher jenjang nan putih milik Kinara.


Erlangga melirik sebentar, melihat wajah istrinya yang semakin merona. Desahan itu membuatnya semakin berhasrat. Tangannya kini bergerilya di area dada Kinara, menyentuh dan meremas lembut isi di dalamnya.


"Mas...", lirih Kinara. Ia tak tahu harus bagaimana menghentikan aksi suaminya itu.


Dddrrtt...ddrrtt...drrrttt


Ponsel Erlangga bergetar. Ia tak memperdulikan ponselnya, ia terus bermain-main dengan tubuh istrinya.


"Apa kau suka, sayang?", bisiknya lembut sesaat setelah ia menghisap dada Kinara.


Kinara tak menjawab, dia benar-benar merasa malu.


"Kali ini aku ingin kita menikmatinya bersama-sama. Aku akan melakukannya dengan lembut", bisik Erlangga lagi dengan mengusap lembut wajah Kinara.


Tubuh dan bibir Kinara seolah terkunci untuk mengantakan tidak. Ada perasaan aneh yang menjalari seluruh tubuhnya. Rasa panas yang membuatnya berharap suaminya berlaku lebih jauh lagi dari apa yang dirasakannya sekarang. Tapi akalnya tak menginginkan hal itu terjadi.


Ddrrtt...ddrrt...ddrrrtt


Ponsel Erlangga kembali bergetar. Erlangga masih tak memperdulikannya.


"Mas, ponselmu bergetar. Apa tidak sebaiknya kamu angkat dulu?", ujar Kinara membuyarkan fokus Erlangga.


Erlangga tersenyum, "Biarkan saja. Aku bisa melihatnya nanti, sekarang aku sedang sibuk menghukummu", jawabnya santai.


Ponsel Erlangga terus saja bergetar.


"Mas, lihatlah ponselmu sekarang. Mungkin ada hal penting", Kinara menahan tangan kanan Erlangga yang sudah siap melepas piyama atas Kinara.


Erlangga menarik nafas dan menghembuskannya kasar. Ia mengikuti saran Kinara. Ia beranjak dari posisinya yang tengah mengunci Kinara dan segera mengambil ponselnya.

__ADS_1


Dilihatnya nama Soni di layar.


"Ya kenapa, Son?", tanya Erlangga cepat.


"Maaf pak, saya mengganggu bapak sepagi ini. Saya baru mendapat kabar dari sekretaris Pak Burhan kalau pagi ini beliau ingin menemui bapak sebelum beliau kembali ke Jakarta", jawab Soni.


"Di mana? jam berapa?", tanya Erlangga lagi.


"Jam tujuh pagi, di kantor bapak", jawab Soni lagi.


"Ok, kamu posisi di mana? siapkan semua keperluan pertemuan itu, ya", perintah Erlangga.


"Saya sudah ada di kantor, pak. Baik, akan saya siapkan semuanya".


"Bagus. Saya siap-siap dulu", Erlangga mengakhiri panggilan itu.


"Siapa mas?", tanya Kinara yang kini sudah duduk di ujung tempat tidur sambil mengancingkan piyamanya.


"Asistenku. Pagi ini aku ada meeting mendadak dengan klien", jawab Erlangga dengan wajah suram.


Kinara mengerutkan keningnya.


"Kok mukanya kesal gitu sih mas? ya udah kalau ada meeting mas segera siap-siap. Nanti aku buatkan sarapan", kata Kinara enteng.


Erlangga menatap istrinya yang sibuk merapikan tempat tidur.


"Telepon tadi itu menganggu hukumanku padamu", ujar Erlangga pendek sambil berlalu ke kamar mandi.


Kinara hanya tersenyum mendengar jawaban suaminya.


'Untung saja ada telepon itu, kali ini aku selamat lagi', batinnya riang.


Selepas merapikan tempat tidur, Kinara segera ke dapur. Pagi ini dia menyiapkan omelet telur penuh dengan toping sayuran dan sosis untuk sarapan pagi dirinya dan suaminya. Tak lupa ia sajikan secangkir teh manis hangat dan segelas susu favoritnya.


"Ayo mas, kita sarapan", ajak Kinara ceria.


Erlangga duduk dan mulai menyeruput teh manis miliknya.


"Biarpun tadi aku gagal menghukummu, tunggu saja nanti malam, aku pastikan kamu akan benar-benar mendapatkan hukuman itu", ujar Erlangga santai sambil menikmati omelet miliknya.


Glek


Kinara menelan salivanya membayangkan hal buruk apa yang akan terjadi pada dirinya nanti malam.


"Mas, mmm...maaf ya, aku...aku...", Kinara ragu untuk meneruskan kata-katanya.


Erlangga melirik ke arah Kinara, "Apa?".


Kinara serba salah. Jika ia katakan, ia khawatir menyinggung perasaan suaminya, tapi jika tidak, maka dia sendiri yang membohongi dirinya.


"Soal hukumanku itu...bisakah mas menggantinya dengan cara yang lain? jujur saja mas, aku masih belum siap. Aku benar-benar minta maaf. Aku tahu itu hakmu dan semestinya aku tak menolak, tapi aku...", suara Kinara tercekat.


Erlangga paham perasaan dan pikiran istrinya. Melakukan hal intim bagi Kinara tentu bukanlah hal mudah, terlebih ini kali pertama dalam hidupnya.


Erlangga memegang tangan Kinara, ditatapnya dalam dan teduh wajah istrinya yang malu-malu.


"Kamu gak perlu minta maaf, sayang. Itu memang hakku, tapi aku juga tidak mau memaksamu untuk melakukannya. Apa yang aku lakukan tadi, itu hanya menggodamu saja karena kamu sudah menjahiliku saat aku tidur. Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap, ya. Jangan pikirkan itu lagi", ucapan Erlangga kembali meneduhkan hati Kinara.


"Ayo senyum, aku mau berangkat kerja dengan diiringi senyuman manis darimu", goda Erlangga setelah ia menghabiskan sarapan paginya.


Kinara mengguratkan senyum manis di bibirnya. Ia bantu merapikan penampilan suaminya, mencium punggung tangan Erlangga dan mengantarkan kepergiannya hingga depan pintu.

__ADS_1


"Aku berangkat ya sayang. Hati-hati di sini, jangan lupa makan dan telepon aku", pesan Erlangga sebelum pergi. Tak lupa ia memberikan kecupan sayang di kening Kinara, membuat hati Kinara merasa berbunga-bunga.


__ADS_2