
Kinara sibuk berkemas. Besok pagi dia akan pulang ke Indonesia untuk menghadiri pernikahan Ajeng dan Erik. Beberapa buah tangan sudah dia siapkan untuk orang tuanya, Alisa juga papa dan mama. Tak lupa kado spesial pun sudah Kinara siapkan untuk Ajeng.
"Ok, semua ready. Sebaiknya aku istirahat sekarang biar besok pagi tidak terlambat", gumam Kinara pada dirinya sendiri. Dia segera membersihkan diri sebelum tidur, dan tak lama, dia pun sudah terlelap ke alam mimpi.
.
Pak Prastowo, Bu Hasna dan Alisa sudah ada di Bandung sejak kemarin. Kepulangan mereka pun untuk menghadiri acara pernikahan Ajeng yang akan dilaksanakan tiga hari lagi sekaligus menyambut kedatangan Kinara.
Bu Hasna nampak cantik dan rapi mengenakan dress panjang. Begitupun dengan Alisa yang terlihat anggun mengenakan dress senada dengan ibunya. Malam ini mereka akan menghadiri undangan makan siang dari keluarga Pak Wijaya.
"Ayo, semua sudah siap?", Pak Prastowo beranjak dari tempat duduknya.
"Iya pak, ibu dan Alisa sudah siap", jawab Bu Hasna.
Mereka bertiga beriringan memasuki mobil yang sudah terparkir di depan rumah.
"Mas Wijaya bilang nanti akan ada tamu spesial yang datang menemui kita", ujar Pak Prastowo pada Bu Hasna.
Bu Hasna yang duduk di samping suaminya terlihat heran, "Siapa pak?".
Pak Prastowo menggelengkan kepalanya, "Entahlah, tapi Mas Wijaya bilang tamu ini hadir khusus untuk menemui keluarga kita".
"Wah...tamu agung ya pak", timpal Alisa.
Pak Prastowo tersenyum melihat anak bungsunya ikut bercengkrama.
"Bisa jadi begitu. Ya pokoknya kita lihat saja nanti, siapa tamu spesial dan agung itu?", jawab Pak Prastowo.
Perjalanan tiga puluh menit pun berlalu. Pak Prastowo berbelok lalu memarkirkan mobilnya di depan sebuah resto.
Bu Hasna dan Alisa merapikan sedikit penampilan mereka, begitupun dengan Pak Prastowo. Setelah selesai, ketiganya berjalan beriringan memasuki resto itu.
"Selamat siang dan selamat datang", sambut Pak Wijaya hangat. Dia memeluk sahabat baik sekaligus besannya itu.
Bu Tria pun melakukan hal yang sama pada Bu Hasna sedangkan Alisa sibuk mencium tangan Pak Wijaya dan Bu Tria satu per satu.
"Wah Alisa sudah besar ya sekarang. Anak gadis makin cantik nih", puji Bu Tria saat melihat penampilan Alisa.
Alisa tersenyum, "Tante bisa aja, makasih", jawabnya pendek.
__ADS_1
Pak Wijaya mengajak keluarga Pak Prastowo untuk duduk dan mereka bercengkrama sambil menunggu hidangan yang sudah dipesan datang.
"Terimakasih sudah menyempatkan datang ke sini", Pak Wijaya membuka suara.
"Ah mas ini, jangan begitu. Kita ini kan keluarga, sudah seharusnya kami selalu menyempatkan waktu untuk bertemu", jawab Pak Prastowo ramah.
"Iya mas, mbak. Oh ya, Ajeng kemana? apa dia dipingit sampai tidak terlihat di sini?", Bu Hasna mencari-cari Ajeng.
"Ajeng sebentar lagi ke sini bersama calon suaminya dan tamu spesial yang akan menemui keluarga Yu Hasna dan Mas Pras", terang Bu Tria.
"Oh begitu. Hmm...kami penasaran sekali dengan sosok tamu ini. Tidak biasanya ada orang yang ingin bertemu dengan keluarga kami saat kami pulang ke Bandung selain keluarga Mas Wijaya", ujar Pak Prastowo.
Pak Wijaya dan Bu Tria tersenyum. Perbincangan mereka pun terhenti ketika Ajeng datang.
"Hallo semua. Selamat siang", sapa Ajeng ramah.
Semua keluarga yang sudah menunggu kedatangan Ajeng beserta tamu spesial itu menjawab sapaan Ajeng bersamaan.
Ajeng datang bersama Erik, Farhan dan Bu Asri.
Ajeng segera menyalami keluarga Pak Prastowo satu per satu, lalu memperkenalkan Erik, Farhan dan Bu Asri.
"Terimakasih", jawab Farhan.
Erik yang sudah mengenal keluarga Ajeng nampak tenang dan menikmati pertemuan siang itu. Berbeda dengan Farhan yang kedatangannya ke sana memang untuk menyampaikan sebuah tujuan.
"Ok, sebelumnya aku minta izin untuk bicara ya pa, ma, om dan tante. Tamu spesial yang aku ajak malam ini, yaitu Farhan dan Bu Asri sengaja datang ke sini ingin bertemu dengan kita semua dan ingin menyampaikan sesuatu. Terutama kepada keluarga Om Pras dan Tante Hasna. Ayo, Han disampaikan", Ajeng melirik Farhan.
Farhan tersenyum tipis, dirinya benar-benar gugup saat ini.
"Terimakasih, Jeng. Jadi begini om, tante. Sebelumnya mohon maaf saya langsung bicara ke intinya saja. Jadi, saya datang ke sini dengan maksud baik karena itulah saya mengajak ibu saya juga. Saya teman kuliah Kinara saat di kampus dulu. Selama ini kami bersahabat baik meskipun setelah Kinara menikah kami sudah hampir kehilangan kontak karena saya juga menyelesaikan studi di Jerman. Pada kesempatan kali ini saya bermaksud untuk melamar Kinara, om, tante. Saya tidak tahu apakah ini saatnya tepat atau tidak, tapi saya harap om dan tante bisa menerima maksud baik saya dan keluarga", Farhan berhasil menyampaikan tujuan kedatangannya dengan baik.
"Iya, pak, bu. Putra saya ini bermaksud melamar nak Kinara. Oleh karenanya saya mendampingi kedatangannya ke sini untuk bisa bertemu langsung dengan keluarga Kinara dan keluarga almarhum Erlangga", tambah Bu Asri.
Pak Prastowo, Bu Hasna dan Alisa terlihat terkejut mendengar apa yang Farhan dan Bu Asri sampaikan.
"Pras, Farhan sebelumnya sudah menemui kami. Dia juga sudah menyampaikan maksud baiknya itu. Mas dan Tria sudah menyetujuinya. Kami tidak keberatan jika Kinara menikah lagi. Erlangga sudah cukup lama pergi dan kami pikir perjalanan hidup Kinara masih panjang. Dia berhak bahagia, dia berhak memiliki pendamping hidup lagi. Ajeng sudah bercerita banyak tentang Farhan begitu pun dengan Erik juga sudah mengenalkan sosok Farhan kepada kami. Kami bisa menerima Farhan untuk Kinara", terang Pak Wijaya.
Memang sebelum pertemuan keluarga besar siang ini, beberapa waktu yang lalu Erik mengajak Farhan untuk menemui keluarga almarhum Erlangga. Bersilaturahmi sekaligus meminta izin kepada Pak Wijaya dan Bu Tria untuk bisa melamar Kinara, menantu merek sebelum Farhan akhirnya bisa bertemu dengan kedua orang tua Kinara.
__ADS_1
"Iya Mas Pras, Yu Hasna. Aku dan Mas Wijaya tidak keberatan sama sekali kalau Kinara menikah lagi, apalagi nak Farhan ini lelaki yang baik. Kami yakin dia bisa mencintai dan menjaga Kinara. Kinara sudah kami anggap putri kami sendiri, tentu kami menginginkan dia bahagia", imbuh Bu Tria.
Pak Pras dan Bu Hasna saling menatap. Terlihat Pak Pras menarik nafas dalam, sejenak tatapannya menerawang, memikirkan sesuatu. Alisa memilih menyimak semua kejadian yang terjadi di depannya itu.
"Terimakasih nak Farhan dan Bu Asri sudah berkenan datang dan menemui keluarga kami. Jujur saja, saya terkejut sekali mendengar hal ini, tapi saya bisa memahami keadaan dan saya percaya nak Farhan adalah lelaki yang baik dan kelak bisa menjaga putri kami, Kinara. Saya tidak bisa memutuskan, mungkin suami saya yang akan memutuskannya. Kalau saya pribadi bismillah bisa menerima maksud baik nak Farhan dan keluarga", ujar Bu Hasna.
Farhan, Bu Asri, Ajeng dan Erik tersenyum bersamaan mendengar ucapan Bu Hasna.
"Farhan ini sepupu saya, sekaligus boss dan sahabat saya. Saya mengenal baik Farhan sedari kecil, om, tante, dan bisa saya pastikan Farhan adalah lelaki yang baik. Farhan sangat menjaga perasaan dan memuliakan perempuan. Dia bukan pribadi yang mudah dekat dengan sembarang perempuan. Jadi, kalau dia sudah tertarik, pasti dia akan langsung melamar dan menikahinya. Dia juga pekerja keras, pribadi yang cerdas dan visioner. Saya berkata seperti ini bukan karena dia sepupu saya, tapi memang itulah kenyataannya", Erik ikut bersuara.
"Jangan berlebihan begitu, Rik", sanggah Farhan. Dia menyikut Erik.
"Ini gak berlebihan, Han. Memang kenyataannya seperti itu kok", Erik bersikukuh. Semua orang di sana tersenyum. Farhan merasa malu karena ucapan Erik meski benar yang Erik katakan, itu kenyataan.
"Ya, meskipun saya baru bertemu dengan Farhan, tapi saya bisa melihat itu saat bertemu langsung seperti ini. Jadi, bagaimana, Pras?", Pak Wijaya sependapat dengan Erik lalu melirik Pak Prastowo yang sedari tadi belum membuka suara.
"Hmm...baiklah. Saya sudah mendengarkan banyak orang bersuara di sini, dan saya juga sudah mempertimbangkan masa depan Kinara. Saya percaya dengan penilaian dari keluarga Mas Wijaya. Tentu Mas Wijaya paham betul bagaimana mengetahui karakter orang. Saya dan keluarga sepakat menerima maksud baik nak Farhan, tapi keputusan akhir tentu ada pada Kinara karena dia sudah dewasa dan berhak menentukan pilihan hidupnya sendir. Biar saat dia pulang nanti, dia yang akan memberikan jawaban finalnya", jawaban Pak Prastowo membuat semua orang yang hadir di sana berucap syukur.
"Terimakasih om, tante dan semuanya atas sambutan yang baik kepada saya dan keluarga", ujar Farhan.
Pak Prastowo, Bu Hasna, Pak Wijaya dan Bu Tria tersenyum kepada Farhan.
"Semoga nak Kinara pun bisa menerima maksud baik putra semata wayang saya ini", harap Bu Asri.
"Tenang saja bu. Aku yakin Kinara akan menerima Farhan", jawab Ajeng.
"Oh ya aku minta izin ya Om Pras, Tante Hasna, saat hari pernikahanku nanti, aku dan Erik mau buat momen khusus untuk Kinara dan Farhan. Aku ingin mereka juga bahagia dihari pernikahanku itu", lanjut Ajeng penuh semangat.
Pak Pras, Bu Hasna, orang tua Ajeng dan Bu Asri hanya mengangguk-anggukan kepala, menyetujui rencana Ajeng dan Erik.
"Kamu mau buat momen apa, Jeng?", tanya Farhan heran.
"Tenang, itu biar gue sama Ajeng yang urus, Han. Pokoknya lo ikut aja, ya", Kali ini Erik yang menjawab. Dia menepuk pundak Farhan. Farhan tak punya pilihan lain selain menerima rencana Erik dan Ajeng.
Keseriusan itu pun mulai mencair saat beberapa pelayan datang mengantarkan makanan. Perbincangan keluarga itu pun menjadi begitu hangat dan dekat. Sesekali tawa terdengar dari mereka. Farhan merasa tenang dan bersyukur, niatan baiknya untuk bisa memiliki Kinara disambut dengan baik bahkan saat ini dia sudah diposisikan seperti bagian dari keluarga besar Pak Prastowo dan Pak Wijaya.
"Bu, terimakasih sudah berkenan mengantarkan Farhan ke sini. Do'akan ya Bu agar kali ini Kinara bisa menerima Farhan", ucap Farhan kepada Bu Asri di sela-sela keriuhan makan siang keluarga itu.
"Tentu nak. Ibu pasti mendo'akanmu", jawab Bu Asri sambil memeluk lembut putra kesayangannya itu.
__ADS_1