
"Kamu boleh menuduhku apapun, mas. Tapi sekejam itukah mulutmu berkata buruk kepada darah dagingmu sendiri?", suara Viona semakin bergetar. Ingin sekali saat itu dia meluahkan semua tangisannya, tapi tak mungkin dia lakukan karena ada Alya di dekatnya.
Entah kenapa, hati Erlangga seperti tertusuk ribuan anak panah saat Viona menjawabnya seperti itu.
"Aku selama ini berjuang untuk hidup, bertahan demi Alya. Meskipun kamu telah menuduhku, menghinaku, bahkan menceraikanku begitu saja, tapi cinta kasihmu kepadamu masih aku jaga, mas. Aku hanya ingin kau hapus kesalah pahamanmu kepadaku, dan...dan cobalah untuk mengakui dan menerima Alya. Anak kita tak bersalah, dia hanya korban dari keegoisan kita selama ini", kata Viona lagi.
Erlangga terdiam, ditatapnya dalam wajah Alya yang nampak serius mewarnai gambar.
"Maaf, aku tak bermaksud berkata buruk tentang Alya. Aku...aku hanya terkejut dan...ah, aku tak tahu benar atau tidak semua perkataanmu itu", jawab Erlangga dengan wajah yang nampak resah.
"Mas, hari itu sebelum ke hotel, aku pergi ke dokter kandungan karena sudah satu bulan aku terlambat haid. Ku kira aku kelelahan tapi setelah diperiksa, ternyata aku hamil. Hatiku senang luar biasa, aku berencana sepulang kerja aku akan memberitahukan berita gembira itu kepadamu, tapi rencanaku gagal. Justru dengan terpaksa aku harus menerima semua kepahitan itu", suara Viona terdengar lebih tenang, dia bisa kembali menguasai dirinya.
Erlangga menundukkan kepalanya. Ia mencoba mencerna semua ucapan Viona. Bayangan peristiwa hari itu berkelebatan kembali dalam ingatannya. Ada rasa bersalah yang dalam di hatinya. Apa yang Viona katakan benar, dia terlalu emosi saat itu dan tak memberikan kesempatan kepada istrinya untuk bicara. Padahal, dua tahun lamanya mereka menjalin hubungan sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah, seharusnya Erlangga mengenal Viona dengan baik.
"Aku masih sangat mencintaimu, mas. Aku sudah berjuang sendiri selama empat tahun ini untuk membesarkan anak kita, dan sekarang lihatlah, dia tumbuh dengan baik. Alya hanya memiliki satu kekurangan saja...", kalimat Viona menggantung.
"Apa?", Erlangga menatap Viona.
Viona menarik nafas dalam, "Alya membutuhkan kehadiran dan kasih sayangmu, mas".
Deg...
Jantung Erlangga kembali berdegup. Ada getaran yang tak biasa di hatinya, terlebih saat dia kembali menatap Alya. Tanpa Erlangga sadari, matanya kini berkaca-kaca.
Kesenduan itu buyar sejenak, ketika pelayan resto datang mengantarkan pesanan mereka.
"Alya, sini", Erlangga tetiba saja memanggil nama Alya sambil tersenyum dan menempuk kedua kakinya, memberikan kode untuk Alya duduk di pangkuannya.
Alya menghentikan gerakan tangannya yang sedang asyik mewarnai. Ditatapnya Erlangga, lalu dengan cepat Alya menggelengkan kepalanya.
Viona menghampiri Alya dan memeluk putrinya yang terlihat ketakutan melihat perubahan dan sikap Erlangga kepadanya.
__ADS_1
"Tak apa, sayang. Ayo pergilah ke papa. Om ini papanya Alya", terang Viona.
"Papaku?", tanya Alya seolah tak percaya. Selama ini dia tak pernah tahu papanya dimana. Mamanya hanya bilang kalau papa Alya sedang bekerja di luar negeri, jadi belum bisa kembali pulang.
Viona menganggukan kepalanya pasti, "Iya, itu papanya Alya. Papa Erlangga", jawab Viona penuh haru.
Erlangga merentangkan kedua tangannya, membuka pelukan untuk Alya.
Alya segera berlari kecil menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Erlangga, papanya.
"Aku kangen sama papa. Papa jangan pergi lagi ya", kata Alya lirih sambil sedikit terisak.
Erlangga merasakan kehangatan yang dalam di hatinya. Meski ia masih belum sepenuhnya bisa menerima semua kenyataan yang baru saja didengarnya itu.
Erlangga mengelus dan mencium kepala Alya berkali-kali.
"Maafkan papa ya nak. Papa sekarang ada di sini, dekat dengan Alya", suara Erlangga bergetar menahan haru.
**
Kinara mencoba menghubungi Erlangga berkali-kali, tapi hanya suara operator yang menjawab panggilannya.
"Mas Erlangga kemana sih? susah sekali aku hubungi. Hhh...mungkin dia masih sibuk", gumam Kinara pada dirinya sendiri.
Kinara hendak memberikan setumpuk undangan untuk diberikan kepada Erlangga karena undangan-undangan itu ditujukan untuk sanak saudara, teman-teman dan rekan kerja Erlangga.
"Aku kirimkan pesan saja agar nanti Mas Erlangga membacanya", lagi, Kinara berbicara kepada dirinya sendiri.
**
Sementara itu, Alya kini terlihat asyik mewarnai ditemani Erlangga. Tempatnya berpindah ke pangkuan papanya itu. Sesekali terlihat Erlangga menyuapkan ice cream ke mulut Alya yang begitu semangat menunjukkan kemampuannya dalam mewarnai gambar di depan papanya.
__ADS_1
"Terimakasih ya mas, kamu akhirnya berkenan menerima kehadiran Alya", Viona menatap wajah Erlangga dengan dalam.
Erlangga yang tengah menatap buku mewarnai milik Alya, mengangkat kepalanya.
Dia tersenyum sangat manis, "Sudah seharusnya aku menerima kehadiran anakku".
Viona membalas senyuman itu, 'Aku senang melihatmu bisa tersenyum setulus itu lagi, mas. Aku sangat rindu melihat senyumanmu', bisiknya dalam hati.
Jam sudah menunjukkan pukul 16.30 WIB saat Viona dan Alya harus berpisah dengan Erlangga.
"Aku mau papa ikut, ma....", rengek Alya. Dia tak ingin lagi berpisah jauh dengan papanya.
"Sayang, papa masih sibuk, masih banyak kerjaan. Nanti kalau papa sudah selesai, kita bisa ketemu sama papa lagi, ya", bujuk Viona sambil membungkukkan setengah badannya untuk mengimbangi Alya.
Alya memasang wajah masam. Mulutnya mengerucut tanda dia kecewa.
Erlangga menghampiri Alya, dia berjongkok di depan putri kecilnya itu. Ditatapnya lembut wajah Alya, dia pegang kedua tangan kecil Alya.
"Alya sayang, papa sayang sekali sama Alya. Maaf ya, kali ini papa belum bisa ikut Alya dan mama pulang. Betul kata mama, masih ada pekerjaan yang harus papa selesaikan. Tapi papa janji, kapanpun Alya mau ketemu sama papa, papa pasti datang. Sekarang Alya ikut pulang dulu sama mama", Erlangga coba memberikan pengertian kepada Alya.
Alya mengangguk pelan. Dipeluknya erat tubuh Erlangga. Alya bahkan meminta Erlangga menggendongnya ke dalam mobil mamanya.
"Papa janji ya kita ketemu lagi dan main lebih lama denganku", celoteh Alya sambil menunjukkan jari kelingking kanannya sebagai tanda perjanjian.
Erlangga tersenyum, dia menyambut jari kelingking anak manis itu, "Papa janji", Erlangga mengecup kening Alya.
Lagi-lagi Viona terharu melihat momen itu.
'Andai kita bisa berkumpul bersama lagi, mas. Tentulah kebahagiaan ini akan lebih sempurna', harapnya dalam hati.
Viona berpamitan kepada Erlangga. Erlangga melepas kepergian anak dan mantan istrinya dengan lambaian tangan dan senyuman. Hatinya kini terasa sangat luas setelah bertemu lagi dengan Viona dan Alya. Semua kesalah pahaman dimasa lalu sudah mulai Erlangga hapus dari memorinya.
__ADS_1