
Sebelum adzan subuh berkumandang, Kinara sudah bangun. Ia melirik Ajeng yang masih nampak lelap, lalu ia bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka dan berwudhu.
Kinara berjalan menuju kamar tidurnya, perlahan pintu kamar itu ia buka. Nampak Erlangga yang juga masih terlelap.
Suara adzan subuh mulai terdengar.
"Mas, bangun mas. Sudah subuh", Kinara mengusap lembut bahu suaminya.
Perlahan Erlangga membuka kedua matanya dan menyupitkannya.
"Mmmhh...iya sayang", jawabnya pendek dengan suara serak khas bangun tidur.
Kinara sudah terlihat rapi memakai mukena, tak lupa dia membangunkan Ajeng untuk ikut sholat subuh bersama.
Seusai sholat subuh, Kinara segera merapikan kamarnya lalu berkutat di dapur. Meskipun ini hari Minggu, tapi dia tetap sibuk memasak sarapan pagi untuk mereka bertiga.
"Rajin banget kak, weekend gini masak pagi-pagi", celoteh Ajeng yang sibuk membuat teh manis.
Kinara tersenyum, "Ya gimana lagi Jeng. Udah kebiasaan", jawab Kinara santai tanpa mengalihkan pandangannya dari tumisan bumbu yang mulai mengeluarkan bau harum.
"Hmmm...wanginya enak nih", puji Ajeng.
Lagi, Kinara hanya tersenyum simpul.
Pagi ini dia membuat mie goreng spesial, salad dan jus wortel.
Deg...
Kinara terkejut saat sepasang tangan melingkar di pinggangnya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Erlangga.
"Mas...lepas, malu sama Ajeng", bisik Kinara sambil berusaha melepaskan pelukan suaminya.
"Kenapa harus malu? biarkan saja Ajeng lihat, toh kita suami istri", kilah Erlangga. Dia semakin mengeratkan pelukannya.
"Mas...aku masih masak lho ini", Kinara mencoba membujuk suaminya lagi.
Erlangga justru semakin manja. Dia menciumi leher Kinara, membuat Kinara semakin serba salah.
"Ehm...duuuhhh...dikiranya aku patung apa ya", celetuk Ajeng melihat pemandangan romantis yang tak jauh dari tempatnya duduk.
Wajah Kinara merona, dia benar-benar malu dengan tindakan suaminya. Tapi sepertinya Erlangga tak memperdulikan celetukan Ajeng.
"Berwarna...", bisik Erlangga.
Dia tersenyum saat rambut panjang Kinara sedikit tersibak. Hasil perbuatannya semalam nampak jelas di sana.
"Apa sih mas?", tanya Kinara.
"Apa kamu tidak melihat cermin pagi ini, hm?".
Kinara menuangkan mie goreng dengan susah payah karena tangan Erlangga masih mendekapnya dengan erat.
__ADS_1
"Huufftt...aku sudah lihat. Itu pasti karena perbuatan kamu semalam ya?", jawab Kinara setengah berbisik. Dia tak mau Ajeng yang sedang fokus menonton TV mendengar perbincangan mereka, terlalu pribadi menurutnya.
"Kamu suka kan?", goda Erlangga. Tangan kanannya mulai tak terkontrol, ia meremas lembut dada Kinara. Kinara dibuat semakin serba salah.
"Mas, tolong, jangan macam-macam. Aku malu...", bisik Kinara lagi. Dia menepis tangan Erlangga yang akan mengulangi perbuatan nakalnya itu.
Erlangga terkekeh, dan cup, dia mencium pipi Kinara sebelum melepaskan pelukannya.
"Aku mandi dulu ya", pamitnya. Kinara mengangguk kecil.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh tiga puluh pagi. Mereka bertiga sudah duduk bersama di meja makan. Kinara dan Ajeng pun nampak sudah segar.
"Waaahh...aku kangen banget sama masakan Kak Kinara. Tadi mencium aromanya saja aku udah lapar", Ajeng mulai meramaikan suasana.
"Dasar, rakus", ejek Erlangga. Tatapan peperangan pun mulai nampak di antara kakak adik itu.
"Hmm...jangan mulai deh kalian ya", Kinara memberi peringatan, dengan telaten dia mengambilkan nasi dan lauk-pauk untuk suaminya. Tak lupa jus wortel sudah dia siapkan juga.
"Uuuhh...so sweet banget sih. Kakak tuh beruntung banget tahu bisa dapatin sahabat baik aku", celoteh Ajeng lagi.
Kinara hanya tersenyum simpul.
"Iya lah. Kamu harus banyak belajar sama Kinara. Kalian ini kan seusia ya, tapi herannya kelakuan kamu jauh banget sama Kinara, Jeng. Kamu kekanak-kanakan, kapan dewasanya", komentar pedas kakaknya pagi ini membuat Ajeng kesal.
"Jangan banding-bandingkan aku sama Kak Kinara donh. Gini-gini juga aku perempuan mandiri", jawab Ajeng tak mau kalah.
"Halah, mandiri dari mana? masih gelendotan sama papa dan mama", Erlangga makin sengit mengomentari adiknya sendiri.
Akhirnya pertentangan kakak adik itu pun berhenti.
Selepas sarapan pagi, Erlangga nampak sibuk berkutat dengan ponselnya. Baru saja ponsel itu disimpan di atas nalas, sudah ada panggilan masuk lagi.
Ddrrtt...drrtt...drrtt...
"Ya hallo..."
"...."
"Oh ok. Siapkan segala keperluan untuk keberangkatan besok".
Erlangga menutup teleponnya.
"Siapa mas?", Kinara heran, diakhir pekan begini suami masih saja nampak sibuk menerima panggilan.
"Dari asistenku. Besok aku harus meninjau proyek di Surabaya. Aku pergi dinas lima hari", jawabnya berat.
"Mas pergi lagi?", tatap Kinara sendu.
"Hanya lima hari. Aku janji secepatnya aku pulang, sayang", Erlangga mengelus lembut kepala istrinya.
Kinara mengangguk kecil. Entah kenapa ada perasaan tak nyaman di hatinya saat tahu suaminya akan pergi jauh lagi.
__ADS_1
"Jeng, mas besok harus ke Surabaya. Di sana ada proyek penting yang harus mas tinjau langsung. Kamu jangan pulang dulu ya sampai mas kembali. Nanti biar mas yang bilang ke papa sama mama, kamu di sini temani Kinara".
"Ok mas dengan senang hati", jawab Ajeng riang.
.
Sementara itu, Bu Asri, Farhan dan Erik baru sampai ke bandara. Jam sepuluh pagi ini jadwal keberangkatan Farhan ke Jerman.
"Ibu, Farhan pamit ya. Do'akan Farhan selalu", pintanya. Dia memeluk erat tubuh sang ibu yang sudah mulai nampak semakin sepuh.
"Tentu nak. Kamu gak usah minta, ibu selalu mendo'akanmu. Kabari ibu jika kamu sudah sampai di sana", pesan Bu Asri yang dijawab dengan senyuman manis Farhan.
"Rik, makasih ya lo udah urus semua kebutuhan gue. Titip ibu sama kantor. Kabari gue segera kalau ada apa-apa", kali ini giliran Erik yang mendapatkan pesan dari Farhan.
"Iya sip, Han. Lo gak usah terlalu banyak pikiran. Gue jamin Bukde Asri sama kantor aman", balas Erik meyakinkan.
Farhan mengangguk dan memeluk Erik. Suara panggilan keberangkatan pun terdengar. Farhan mencium santun tangan ibunya, kemudia berlalu diiringi lambaian tangan Bu Asri dan Erik.
Ada rasa sedih yang dalam di hati Farhan saat ia menatap kembali wajah sang ibu. Diusianya saat ini, sebetulnya ingin sekali dia memiliki pendamping hidup yang bisa menemani ibunya setiap kali dia pergi. Tapi cita-cita itu masih sebatas harapan dan do'a.
"Ayo Bukde, kita pulang", ajak Erik. Bu Asri pun melangkah meninggalkan pintu masuk keberangkatan setelah Farhan benar-benar hilang dari pandangan matanya.
"Rik, apa Farhan tidak pernah cerita tentang perempuan?", tanya Bu Asri.
"Maksud Bukde?", tanya Erik heran.
"Itu lho, cerita siapa gitu yang kira-kira kelihatan dekat sama Farhan".
"Pacarnya maksudnya?", Erik mencoba menebak.
"Iisss...mana mau dia pacaran. Bukde cuma khawatir sama Farhan, dia memang masih muda, tapi dua kali dia bersedih karena perempuan", terang Bukde Asri lugas.
"Farhan gak pernah cerita tentang siapapun, Bukde. Hanya...", kalimat Erik menggantung, membuat Bukdenya membalikkan badan menatap menyelidik keponakannya itu.
"Hanya apa?".
"Hanya...dia masih memikirkan Kinara", jawab Erik hati-hati.
"Hmm...Kinara lagi. Memang sedari zaman kuliah dulu, sepertinya Kinara ini istimewa untuk Farhan. Sayang, bukan jodoh", jawab Bukde Asri sendu.
"Ya kita do'akan aja Bukde biar jodohnya Farhan dekat. Sekalian do'akan Erik juga ya Bukde", Erik nyengir, berusaha menceriakan suasana.
"Kamu udah ada calon toh?", selidik Bukde Asri lagi.
"Ayah dan ibumu ndak cerita sama bukdemu ini", katanya lagi.
"Masih PDKT, Bukde", jawab Erik kikuk.
Bukde Asri tersenyum mendengar kejujuran Erik.
"Yooo wis toh, ndak apa-apa, namanya juga usaha. Bukde do'ain jodoh kamu juga dekat yo".
__ADS_1
Erik tersenyum senang mendengar jawaban Bukde kesayangannya itu.