
Usai berpesta dengan anak didiknya, Kirana kini berada di rumah sakit bersama Ravindra.
Ia sebenarnya lupa bahwa hari ini dia berulang tahun, namun orang orang yang menyayangi nya tidak melupakannya apalagi orang didepannya ini, ayahnya.
"Sebenarnya saat kecil aku sering ditinggal oleh Ayahku, tak pernah ada pesta Ulang tahun bahkan sekedar ucapan juga tidak. Namun ketika ayahku mulai disisiku, dia selalu mengingatnya dan merayakannya." Ucap Kirana sambil memegang tangan ayahnya, "Saat dia tidak ada uang pun, dia membawakan ku sebuah donat dengan lilin diatasnya. Walau kecil tapi kebahagiaanku sangat besar."
Kirana mengusap air matanya, akhir-akhir ini dia memang menjadi cengeng.
"Maafkan aku."
Ravindra mengangguk dan menepuk pundak Kirana pelan, "Jika ada masalah apapun katakan saja padaku. "
"Nanti sore apa kau ada rencana?."
Kirana menggelengkan kepala, "Memangnya kenapa?."
"Al tidak mengajakmu makan atau merayakan pesta?." Tanya Ravindra lagi.
"Tidak."
Altezza bahkan hanya menganggap dirinya boneka, apa yang harus dirayakan?
"Kalau begitu aku akan menjemputmu, Liam pasti senang karena makan malam bersamamu."
Mendengar nama Liam disebut Kirana tersenyum lebar dia juga sudah lama tidak bertemu dengan anak menggemaskan itu.
"Aku ada pekerjaan lain, kau mau ku antar pulang?."
Kirana menatap Ravindra dengan mata menyipit, "Kau lupa?."
Ravindra tertawa kecil dan memukul pelan dahinya, "Aku lupa kau membawa mobil sendiri. Kalau begitu sampai jumpa lagi."
..._&_&_...
Altezza memperbaiki kacamata nya dan mulai fokus lagi pada kertas didepannya.
"Kau datang?."
Kirana yang baru saja masuk tersenyum dan melangkah semangat menuju Altezza, "Aku membawa makanan kesukaanmu."
"Sebelumnya kenapa kau hanya menitipkannya?."
Kirana melirik Altezza kesal namun dengan cepat ia mengubah mimik wajahnya, "Bibi mengajukan cuti, ia harus menemani anaknya lagi."
Altezza mengangguk mengerti, ia beranjak berdiri dan mengacak pelan rambut Kirana, "Kau sangat imut."
Kirana terdiam kaku, ia merasa iri lagi terhadap Izumi.
"Kenapa kau diam?."
Kirana menoleh menatap Altezza yang sudah bersiap untuk makan.
"Kau mau makan denganku?." Ajak Altezza.
Kirana menggeleng, "Aku sudah makan sebelumnya. Karena tidak ada la-"
"Temani aku makan." potong Altezza.
Kirana yang tadinya ingin pergi kini duduk didepan Altezza dan melihatnya makan.
Saat ia makan, begitu tenang dan sangat tampan. Kirana menangis didalam hatinya, dia hanya boneka didepannya atau pengganti Izumi saja.
__ADS_1
Kirana benar-benar berharap Altezza mau menerimanya sebagai Kirana dan memperlakukannya dengan tulus.
"Setelah ini kau ikut aku ke Perusahaan Kiit Food."
"Baik."
Kirana tak bisa menolak karena itu perintah bukan ajakan. Belum lagi wajahnya yang sangat serius.
"Ei Izu-Kirana kan?." Tanya Keenan, ia meletakkan beberapa dokumen lalu duduk di samping Kirana.
"Iya."
"Wuah kau belajar make up? Kau sangat mirip dengan Izumi, aku hampir-"
"Ehem ehem."
Keenan melirik Altezza yang berpura-pura batuk dan segera menutup mulutnya, namun tak lama kemudian ia bicara lagi, "Kudengar kau berulang tahun tapi aku belum membeli hadiah mu."
"Tidak apa-apa, aku sudah punya banyak hadiah." Balas Kirana, ia mengingat hadiah yang diberikan muridnya dan juga Cakra.
Mereka sangat murah hati walau sebelumnya ia menolak tapi untungnya mereka memberikan makanan, kupon, bunga dan voucher yang bisa Kirana terima.
"Ei tidak bisa, besok pasti akan kuberikan."
"Terserah kau saja."
"Aku sudah selesai makan, ayo kita pergi." Ucap Altezza sambil membereskan bekalnya.
Keenan dan Kirana saling memandang, mereka melirik Altezza dengan wajah sedikit mengejek.
"Keenan." panggil Altezza dengan penuh peringatan.
...
Kirana duduk didepan sedangkan Keenan dan Altezza duduk dibelakang sambil berdiskusi.
"Menurutmu mereka hanya akan meminta kita membuat kemasan nya saja? Maksudku bukankah ada kesepakatan bahwa bahan-bahannya berasal dari kita?." Tanya Keenan.
"Untuk kemasan dan desain perusahaan kita memiliki harga yang murah namun berkualitas dibanding yang lain. Namun untuk bahan mereka masih mempertimbangkannya."
"Kiit Food selalu membeli bahan dari petani dan pengusaha kecil. Kurasa mereka sudah membuat keputusannya." Kirana masuk kedalam pembicaraan mereka, ia mengenal Pendiri Kiit Food.
Walau ia sudah meninggal namun prinsip nya selama hidup pasti akan diteruskan belum lagi dia pasti masih ada kan?.
"Bukankah itu lebih mahal? Kenapa mereka melakukan itu?."
"Perusahaan mereka bukan hanya tentang keuntungan. Tapi manusia. Ya walau semua pengusaha mengincar keuntungan tapi Kiit Food sedikit berbeda." Ucap Kirana lagi.
"Sepertinya kau sangat mengerti tentang dia Kirana." Sindir Altezza.
"Aku hanya pernah mendengar sedikit tentangnya." Balas Kirana gugup.
"Sudah sampai." Ucap Kirana mengalihkan pembicaraan dan ia keluar dengan cepat.
Kirana menatap Gedung didepannya, sangat tinggi, "Aku akan membuat gedung 10 lantai tidak 100 lantai untukmu."
Kirana tersenyum sedih mengingat perkataan itu, dia berhasil hanya saja dia belum menikmati keberhasilannya ini.
"Ayo masuk." Ucap Altezza.
Kirana mengangguk, ia mengikuti Altezza dan Keenan hingga didepan sebuah ruangan.
__ADS_1
"Kirana, kau tunggu kami disini." Ucap Keenan membukanya pintu untuk Altezza masuk.
"Aku akan berkeliling." Balas Kirana cepat dan diangguki Keenan, "Satu jam lagi kau harus kembali."
"Baik."
Kirana berjalan mengeliling perusahaan itu, ia melihat orang-orang yang berlalu lalang sangat sibuk dengan pekerjaannya.
Kemudian ia sampai kesebuah ruangan, Kirana membukanya dengan pelan dan berseru kagum dengan ruangan yang ia lihat.
Ia memperhatikan lalu mendekat ke meja kerja berwarna biru gelap itu.
"Siapa kau?."
Kirana mengangkat wajahnya dan menatap seseorang yang masuk dengan ekspresi kaget.
....
"Pak Altezza, lihat apa yang dilakukan orang mu."
Wanita yang memergoki Kirana menyeret Kirana menuju ruang rapat dan mendorongnya kearah Altezza.
"Apa yang terjadi?."
"Dia masuk ke Ruang manager dan resep rahasia kami hilang." Ucapnya.
Kirana mengangkat alisnya, dia hanya melihat ruangan itu. Dia bahkan belum sempat menyentuh meja, "Kau menuduhku mengambilnya?."
"Lalu jika bukan kau?."
Kirana tersenyum tak percaya, "Lalu jika aku yang mengambilnya lalu dimana?."
"Dimana? Seharusnya sudah kau sembunyikan bukan?." Ucap Wanita itu lagi.
"Tuan Al, Apa maksudnya ini?."
Altezza menatap Kirana dengan alis mengkerut namun kemudian ia melirik Handphone nya, "Kirana kenapa kau melakukan itu?."
"Apa maksudmu? Aku hanya masuk ke-"
Plakk
Kirana memegang pipinya dan menatap Altezza tak percaya.
Altezza dia menamparnya, benar-benar menamparnya dengan kuat.
Rasa panas mulai terasa di pipinya dan juga matanya.
"Kau masuk kesembarang ruangan, bahkan jika kau tidak mencuri resepnya kau juga patut dicurigai." Ucap Altezza dengan nada mengejek, ia lalu menatap wanita yang membawa Kirana, "Aku akan meninggalkannya disini, kau bisa mengintrogasi dia sesuka hatimu."
"Bos ini?." Keenan menatap Kirana dan Altezza secara bergantian.
"Rapat nya akan dijadwalkan ulang. Aku pergi."
"Aku akan menemani Kirana." Ucap Keena.
"Terserah kau saja."
Altezza pergi tanpa menoleh sedikitpun.
Setelah nya seorang pria masuk dan menatap lurus ke arah Kirana, "Jadi hanya seperti itu Pria mu?."
__ADS_1