Unknown Love

Unknown Love
Berita yang Mengejutkan


__ADS_3

Kinara bangun sebelum adzan subuh berkumandang. Dia benar-benar terlalu lelah dan nyenyak, matanya terbuka saat hari sudah berganti.


Kinara mengerjapkan kedua matanya, meregangkan tubuhnya sebelum dia beranjak merapikan tempat tidur dan keluar dari kamar.


"Sudah bangun, Ra?", tanya Bu Hasna yang mendengar pintu kamar Kinara terbuka.


"Mmhhh...iya bu", jawab Kinara sambil menggeliatkan tubuhnya. Dia melirik jam dinding yang ada di ruang keluarga, pukul empat pagi.


Bu Hasna menghampiri putrinya, "Kamu tertidur sampai berganti hari. Untung kemarin Farhan membantu bapak dan ibu membawamu masuk", ujar Bu Hasna sambil menyodorkan segelas teh manis hangat untuk Kinara.


Mendengar nama Farhan disebut, Kinara mengernyitkan dahinya. Dia bahkan tak ingat jika kemarin Farhan yang menjemputnya di bandara.


"Farhan? maksud ibu apa?", tanya Kinara heran. Dia menyeruput teh manis hangat pemberian ibunya.


Bu Hasna tersenyum memandang putri sulungnya itu.


"Lho kamu lupa, kemarin kan Farhan yang menjemput kamu dari bandara dan mengantarkanmu ke sini", jawab Bu Hasna. Kinara mencoba mengingat-ingat kejadian kemarin dan dia ingat dengan Farhan.


"Oh iya. Aku hampir lupa, bu", ucap Kinara sambil menyeruput lagi teh manis hangat di tangannya.


"Apa kamu tidak ada rencana untuk menikah lagi, Ra?", pertanyaan ibu dipagi buta itu membuat Kinara tersedak.


"Hati-hati kalau minum", ujar Bu Hasna sambil mengelus lembut punggung Kinara.


Kinara hanya mengangguk kecil sambil sesekali terbatuk-batuk.


"Pertanyaan ibu aneh", Kinara bersuara.


"Apanya yang aneh toh, Ra? wajar kalau ibumu bertanya seperti itu", Pak Prastowo menimpali. Rupanya dia tak sengaja mendengar percakapan istri dan putri sulungnya itu.


Kinara menoleh, "Bapak juga, masih pagi buat begini kenapa sih pada aneh", Kinara semakin merasa heran.


"Ya sudah, biar gak aneh, ayo kamu cepat berwudhu. Kita sholat berjama'ah, biar bapakmu yang ke mesjid", ajak Bu Hasna yang sudah beranjak menuju kamar Alisa untuk membangunkannya.


Pak Prastowo berpamitan pergi ke mesjid, sedangkan Kinara mengikuti saran dari ibunya untuk segera berwudhu dan bersiap melaksanakan sholat subuh berjama'ah bersama ibu dan Alisa.


.


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi saat Farhan menyelesaikan aktivitasnya berolahraga. Keringat nampak mengucur di dahinya.


"Ayo Han istirahat dulu", ujar Bu Asri yang datang membawakan minuman dan potongan buah semangka.


"Iya bu", Farhan menghentikan aktivitas olahraganya. Dia segera menghampiri sang ibu dan duduk bersama menikmati sajian pagi itu.


"Hari ini kamu jadi ke toko perhiasan?", tanya Bu Asri sambil menikmati kue-kue jajanan pasar yang tersaji di piring.

__ADS_1


Farhan menenggak minumannya, "Jadi bu. Nanti ibu ikut ya, bantu aku memilihkan cincinnya. Aku sudah menghubungi Pak Surya untuk membuat janji bertemu di tokonya", pinta Farhan.


Bu Asri menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


"Bu, bagaimana kalau nanti Kinara menolak lagi lamaran Farhan?", wajah Farhan berubah gusar. Bagaimana pun juga kemungkinan penolakan itu masih ada dan menghantui pikiran Farhan.


"Jangan pesimis begitu, Han. Namanya juga ikhtiar, ya harus maksimal. Perkara nanti kamu diterima atau tidak oleh Kinara, itu biar Gusti Allah yang urus. Tapi perasaan ibu kok ya kali ini kuat sekali. Yakin gitu, Kinara pasti menerima kamu", ucapan tulus Bu Asri menerbitkan kembali harapan Farhan.


"Aamiin. Semoga kali ini Tuhan meridhoi ikhtiar Farhan ya bu", jawab Farhan optimis.


Selepas menikmati camilan paginya, Farhan segera membersihkan diri, lalu sarapan pagi dan bersiap menuju toko perhiasan.


Erik ikut serta mendampingi Farhan dan Bukde Asri.


"Lho, manten ini kok malah jalan-jalan", ujar Bu Asri saat dilihatnya Erik tengah asyik berbincang dengan Farhan di teras.


"Eh bukde. Tak apa bukde, aku ke sini mau menemani calon manten juga kok", jawab Erik dengan tatapan jahil ke arah Farhan. Farhan meninju bahu Erik dan membuat pemiliknya mengaduh kesakitan.


"Gak lucu", protes Farhan. Erik tertawa senang karena berhasil menggoda sepupunya itu.


"Yo wis, ayo kita berangkat sekarang. Ibu sudah siap ini", ajak Bu Asri kepada Farhan dan Erik.


Mobil pun melaju dan tak butuh waktu lama, mereka bertiga sudah sampai di toko perhiasan yang sudah bertahun-tahun menjadi toko langganan keluarga Ganindra.


"Selamat datang Bu Asri, mari masuk", sambut seorang pramuniaga toko dengan ramahnya.


Pak Surya mengeluarkan semua koleksi cincin terbaru yang ada di tokonya, dan pilihan Farhan jatuh pada cincin berlian model eternity ring.


"Pilihan yang bagus", puji Pak Surya.


Tak lupa, Bu Asri membantu Farhan memilihkan perhiasan lainnya sebagai hadiah untuk Kinara jika mereka menikah nanti.


"Semua pilihan ibu bagus sekali", giliran Farhan yang memuji selera ibunya. Bu Asri tersenyum mendengar sanjungan dari Farhan.


"Pasti ok dong, Han. Bukde Asri gitu lho", seloroh Erik yang juga sibuk memilih sebuah kalung sebagai hadiah tambahan untuk Ajeng, calon istrinya.


.


Sementara itu, Kinara dan Alisa sedang sibuk berkutat di dapur membantu ibu memasak. Tadi pagi mereka sekeluarga pergi ke pasar. Ada banyak menu yang harus dibuat hari ini. Ada pepes ayam, sup iga, sambal, lawar, tumisan, dan tak lupa dilengkapi lalapan. Memang keluarga Kinara pecinta makanan Sunda.


Setelah cukup lama berjibaku di dapur, semua menu terhidang di meja makan. Pak Prastowo yang memesan pepes ayam begitu lahap menikmati masakan buatan istri dan kedua putrinya itu.


"Wah, ibu dan kedua putri bapak jago ya masaknya. Ini kenikmatannya mengalahkan makanan resto", sanjung Pak Prastowo jujur.


"Bapak bisa aja. Ini yang membumbui dan masak banyak Kinara. Alisa tadi bantu cuci dan potong-potong ya. Kalau ibu cuma cek rasa aja sesekali", terang Bu Asri.

__ADS_1


"Iya. Kak Kinara jago juga tenyata masaknya. Ibu ada saingan nih", tambah Alisa.


"Makanya kamu juga yang rajin masuk dapur, biar bisa masak seperti kakak", jawab Kinara bangga. Alisa mengerucutkan bibirnya.


Suasana di meja makan nampak ceria dan penuh kehangatan keluarga.


Selepas makan siang, Pak Prastowo mengajak istri dan kedua putrinya berkumpul di ruang keluarga. Momen seperti ini sangat jarang terjadi, apalagi setelah Kinara ke Paris, untuk bertemu saja susah.


Kinara ingat dengan buah tangan yang sengaja dia bawa dari Paris. Dia bergegas memberikan buah tangan itu kepada kedua orang tuanya dan Alisa. Bapak dan ibu mendapatkan sepasang mantel couple, sedangkan Alisa mendapatkan tas.


"Terimakasih kak oleh-olehnya. Aku suka, tasnya bagus banget", ujar Alisa sambil bergaya menenteng tas itu, membuat semua orang yang melihatnya tertawa.


"Sama-sama ABG genit", jawab Kinara. Alisa mencubit lembut bahu kakaknya.


"Mantelnya juga bagus ya pak. Bisa kita pakai kalau Semarang lagi dingin", giliran Bu Hasna yang memuji buah tangan Kinara. Tak lupa juga dia berterimakasih kepada putrinya itu.


Kinara senang melihat kedua orang tua dan adiknya menyukai apa yang dia berikan.


"Jangan lupa buah tangan untuk keluarga mertuamu, Ra", pesan Pak Prastowo.


"Ada kok, pak. Sore ini aku akan mengantarkannya ke sana", jawab Kinara cepat.


Pak Prastowo mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ra, bapak mau tanya. Apa pendapatmu tentang Farhan?".


Deg


Jantung Kinara berdegup mendengar nama Farhan disebut lagi. Terlebih hari ini sudah beberapa kali bapak dan ibu menyebut nama itu.


"Memangnya kenapa pak? kok bapak dan ibu tahu Farhan dan menanyakan dia?", tanya Kinara heran.


Pak Prastowo dan Bu Hasna saling berpandangan. Bu Hasna memberikan anggukan kecil pada suaminya seolah memberikan kode.


Pak Prastowo menarik nafas dalam, "Mungkin kamu akan terkejut, tapi bapak dan ibu berharap kamu bisa mendengarkan ini dengan baik".


Kinara menunggu apa yang akan dikatakan kedua orang tuanya.


"Beberapa hari yang lalu sebelum kepulanganmu ke sini, keluarga mertuamu mengundang kita semua untuk makan siang bersama dan ternyata disaat yang sama Farhan dan keluarganya ikut serta. Bapak dan ibu awalnya juga bingung, tapi akhirnya kami mengerti kenapa ada Farhan di sana. Farhan menyampaikan kepada bapak, ibu, Alisa, dan keluarga Mas Wijaya kalau dia bermaksud untuk melamar kamu".


Kedua mata Kinara membelalak, dia seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Mulanya bapak dan ibu tidak ingin menyampaikan hal ini sekarang karena nanti ada masanya Farhan berbicara juga sama kamu. Tapi bapak pikir tidak ada salahnya kamu tahu dari sekarang. Bapak dan ibu sudah berbincang banyak dengan Farhan, pun dengan keluarga mertuamu, bahkan Mas Wijaya dan Mbak Tria sudah klop dengan Farhan. Mereka berharap kamu menikah lagi. Farhan lelaki yang baik. Bapak bisa melihat ketulusan dan keseriusannya kepadamu. Tapi semua keputusannya ada sama kamu, Ra. Kamu mau menerimanya atau tidak, bapak dan ibu akan selalu mendukung setiap pilihanmu, nak", Pak Prastowo mengakhiri ucapannya.


"Aku senang lho kak kalau Kak Farhan jadi kakak iparku. Udah ganteng, baik lagi", tambah Alisa yang membuat perasaan Kinara makin tak karuan.

__ADS_1


Kinara masih tak bergeming. Dia mencoba mencerna semua yang didengarnya. Sungguh berita yang mengejutkan, sangat tiba-tiba dan di luar perkiraannya. Hatinya kembali kacau, pun dengan pikirannya. Saat ini Kinara merasa tidak bisa berpikir jernih.


__ADS_2