Unknown Love

Unknown Love
Keputusan II


__ADS_3

"Gimana rencana kita, sayang? berhasil?", tanya Erik di telepon.


"Iya sayang, kita berhasil. Tadi papa sama mama dapat kabar dari Om Pras kalau Kinara mau menikah sama Farhan", seru Ajeng senang.


"Wah akhirnya. Kalau begitu, kita harus urus juga persiapan pernikahan mereka, ya".


"Siap, semua pasti aku atur".


"Ok, kalau gitu kamu istirahat ya".


"Siap bos".


.


"Sudah siapa, Han?", tanya Bu Asri saat Farhan keluar dari kamarnya.


"Sudah, bu", jawab Farhan pendek.


Bu Asri tersenyum melihat penampilan putra semata wayangnya itu.


"Anak ibu tampan sekali", puji Bu Asri.


Senyum Farhan mengembang, "Siapa dulu dong ayah dan ibunya".


Bu Asri tersipu, dan tak lama mereka pun berangkat menuju rumah keluarga Kinara.


"Kakak kenapa tegang begitu?", tanya Alisa yang sedari tadi melihat kakaknya hilir mudik tanpa tujuan di dalam kamar.


"Ciiieee...yang mau ketemu camer dan calon suami", goda Alisa jahil.


Kinara berkaca pinggang, "Ih kamu nih Al. Disaat genting begini malah godain kakak".


Tawa Alisa meledak, "Habisnya kakak lucu. Masa mau ketemu Kak Farhan aja segugup itu. Kakak sama Kak Farhan kan udah berteman lama, udah saling kenal baik. Aneh tahu kalau kakak nervous akut begini".


"Ck, kamu mana ngerti perasaan orang yang mau nikah", seloroh Kinara.


"Ciiieee...yang udah siap nikah, ha ha ha", lagi, Alisa menggoda kakaknya.


Suasana di dalam kamar Kinara sedikit gaduh, membuta Bu Hasna harus menenangkan kedua putrinya itu.


"Kalian ini ribut kenapa sih? ayo siap-siap, sebentar lagi Farhan dan ibunya datang", perintah Bu Hasna dari balik pintu.


Kinara dan Alisa segera menghentikan keributan mereka. Keduanya kini sibuk berkutat di depan cermin.


"Menurut kamu penampilan kakak gimana, Al?", Kinara meminta pendapat adiknya.


Mata Alisa dengan jeli memandangi kakaknya dari bawah sampai atas tanpa terlewat.

__ADS_1


"Sempurna", jawab Alisa pendek.


Memang penampilan Kinara malam ini nampak sederhana namun anggun dan cantik. Alisa membantu kakaknya berdandan.


Dari luar terdengar suara Pak Prastowo dan Bu Hasna menyambut kedatangan tamu yang ditunggu-tunggu.


"Mari masuk", ajak Pak Prastowo.


Farhan dan ibunya melangkah memasuki ruang tamu.


"Mohon maaf kami mengundang Bu Asri dan nak Farhan untuk makan di rumah, tidak di luar", Pak Prastowo membuka pembicaraan.


"Tak apa, pak. Terimakasih sudah mengundang kami kemari", jawab Bu Asri.


Bu Hasna datang membawa minuman dan camilan.


"Silahkan, bu, nak Farhan", tawar Bu Hasna ramah.


"Lihat bu, calon memantu kita ini tampan dan gagah ya", puji Pak Prastowo memuji Farhan.


Bu Hasna menganggukkan kepala tanda setuju dengan suaminya.


"Bapak bisa saja. Bapak jauh lebih tampan dan gagah daripada saya", Farhan balas memuji.


Suasana di ruang tamu pun menjadi ramai dengan sedikit canda dari Pak Prastowo.


"Tadi siang alhamdulillah putri kami sudah memberikan keputusan terkait lamaran tersebut. Jadi, maksud saya dan keluarga mengundang Bu Asri dan Farhan untuk makan malam di sini adalah bagian dari hal penting ini", lanjut Pak Prastowo.


Jantung Farhan berdebar. Tebakannya kali ini tepat, undangan makan malam keluarga ini adalah untuk membahas hal yang meresahkan itu.


"Jadi, bagaimana keputusan Kinara, pak, bu?", Bu Asri menatap Pak Prastowo dan Bu Hasna bergantian.


"Terkait keputusannya, biar putri saya yang menyampaikannya langsung. Tolong bu, panggil Kinara dan Alisa ke sini", pinta Pak Prastowo. Bu Hasna segera masuk untuk memanggil kedua putri mereka.


"Nara, Alisa, ayo keluar, nak", suara Bu Hasna terdengar lembut dari balik pintu.


Berkali-kali Kinara mencoba menarik nafas untuk menangkan dirinya.


"Keep calm, kak. Aku selalu dukung kakak", Alisa menyemangati kakaknya, Kinara tersenyum.


"Ayo kita ke depan. Bu Asri dan Farhan sudah ada di sana", ajak Bu Hasna setelah kedua putrinya keluar dari kamar.


Perasaan Kinara campur aduk. Dia benar-benar gugup. Dia tidak tahu harus memasang ekspresi seperti apa untuk bisa berhadapan dengan Farhan dan ibunya.


"Nah ini bu, Kinara dan Alisa", Bu Hasna meminta Kinara dan Alisa mencium tangan Bu Asri sebagai tanda hormat.


"Dua putri yang cantik", puji Bu Asri tulus.

__ADS_1


Setelah bersalaman, Kinara duduk di samping ayahnya, sedangkan Alisa duduk di sebelah ibunya.


"Karena Kinara sudah di sini, nak Farhan siap ya mendengar jawabannya. Bapak harap, apapun keputusan putri bapak, semoga Bu Asri dan Farhan bisa menerimanya", terang Pak Prastowo.


"Iya pak, bu. Saya akan menerima apapun keputusan dari Kinara", jawab Farhan.


Kinara masih berusaha menyembunyikan wajahnya. Dia hanya melirik sebentar ke arah Farhan dan mata mereka beradu. Kinara merasakan wajahnya memanas karena gugup dan malu di tengah situasi ini.


"Jadi, bagaimana keputusannya, nak?", tanya Pak Prastowo pada Kinara.


Kinara menarik nafas dalam dan dicobanya untuk mengangkat wajah dan bersikap tenang.


"Sebelumnya terimakasih ibu dan Farhan berkenan menemui keluarga Nara. Jujur saja untuk mengambil keputusan ini bukanlah hal yang mudah, ada banyak hal yang Nara pertimbangkan. Ibu dan Farhan tentu tahu kondisi Nara seperti apa dan ya, semoga keputusan ini menjadi keputusan terbaik untuk semuanya. Bismillah...Nara menerima lamaran Farhan dan bersedia untuk menikah dengan Farhan", suara Kinara terdengar lirih.


"Alhamdulillah...", seru Bu Asri dan Farhan bersamaan. Keduanya terkejut sekaligus bahagia mendengar keputusan dari Kinara.


"Apa kamu serius, Ra?", tanya Farhan seolah masih tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


Kinara tersenyum dan mengangguk pasti.


Ada kilatan keharuan dikedua mata Farhan dan Bu Asri. Penantian yang panjang dan berliku terbayar sudah malam ini.


"Alhamdulillah Kinara menerima lamaran Farhan dan siap untuk menikah. Terkait hal itu, saya dan kelurga Mas Wijaya sudah mengaturnya, bu, Han. Jika Bu Asri dan Farhan tidak keberatan, bisakah pernikahan dilaksanakan lusa berbarengan dengan pernikahan Ajeng dan Erik?", tanya Pak Prastowo.


Bu Asri dan Farhan terkejut, keduanya saling bertatapan sejenak.


"Apa itu tidak terlalu cepat, pak, bu?", tanya Bu Asri.


"Tidak. Kami justru berharap secepatnya Kinara dan Farhan untuk menikah. Kinara sendiri sudah menyetujuinya, iya kan nak?", Pak Prastowo melirik Kinara yang menjawab dengan anggukan.


"Kapanpun, pak, bu, saya sangat siap menikahi Kinara", jawab Farhan spontan.


Suasana di ruang tamu itu menjadi riuh dengan ucapan syukur dan perbincangan tentang persiapan pernikahan Farhan dan Kinara.


"Ibu hampir lupa, Han. Ibu membawa ini ke sini", Bu Asri mengeluarkan sebuah kotak cincin.


Itu adalah cincin yang Farhan pesan saat pertama kali berniat mengutarakan niat baiknya kepada keluarga Kinara.


"Sekarang cincin ini bisa dipakaikan pada Kinara sebagai tanda menerima lamaranmu", terang Bu Asri.


"Iya bu. Ibu yang pasangkan, ya", pinta Farhan.


Kinara mengulurkan tangannya dan Bu Asri memasangkan cincin itu di tangannya. Pak Prastowo dan Bu Hasna begitu terharu melihat pemandangan ini. Sementara Alisa sibuk mengambil gambar.


Meski semua terkesan serba mendadak, tapi kesungguhan Farhan pada Kinara semakin dalam. Mata mereka saling beradu sesaat, menghadirkan senyum kebahagiaan di wajah dan hati keduanya.


"Terimakasih kamu sudah berkenan membuka hati untukku", ucap Farhan sesaat sebelum makan malam keluarga dimulai.

__ADS_1


__ADS_2