
Mata Ajeng dan Farhan masih beradu tatap. Erik terheran-heran melihatnya.
"Hei...hei...hei...kalian berdua ini, apa sudah saling mengenal?", tanya Erik menatap Farhan dan Ajeng bergantian.
Farhan terperanjat dari keterkejutannya, begitu pun dengan Ajeng.
"Eee...anu, itu...aku...", Ajeng gelagapan.
"Ya, kita saling kenal. Ajeng itu teman gue semasa kuliah dulu", jawab Farhan.
Erik menggeleng-gelengkan kepalanya, "Ternyata dunia ini benar-benar sempit ya".
"Silahkan duduk", Farhan mempersilahkan Ajeng dan Erik. Mereka pun duduk di sofa bersamaan.
"Apa kabar, Jeng?", Farhan beranjak dari kursi kebesarannya. Ia berjalan, menghampiri Erik dan Ajeng di sofa.
"Kabarku baik, kamu sendiri apa kabar, Han? lama juga ya kita gak ketemu", jawab Ajeng.
Farhan duduk dan tersenyum, "Seperti yang kamu lihat, kabarku juga baik".
"Sebentar, gue masih bingung dengan keadaan ini", sela Erik.
"Gak perlu bingung gitu, Rik. Udah gue bilang, Ajeng ini teman sekampus gue dulu, malah kita juga satu organisasi, ya kan Jeng?", tanya Farhan menatap Ajeng seksama.
"Ya. Aku benar-benar masih gak percaya bisa ketemu kamu lagi, Han dan wow, kamu ternyata pimpinan perusahaan ini", puji Ajeng.
Farhan tersenyum tipis, "Aku hanya melanjutkan bisnis almarhum ayahku saja".
"Hmm...kalau kalian sudah saling mengenal, berarti kamu ok ya Han, menerima Ajeng masuk ke tim IT di perusahaan ini?", tanya Erik memastikan.
Farhan mengangguk, "Tentu. Sudah lulus verifikasi, bukan?".
"Oh pastinya. Gue sendiri yang memverifikasinya", jawab Erik bangga. Ajeng tersipu.
"Eh, sorry ya Jeng. Kalau diluar urusan kerja, aku sama Farhan ya begini ini. Kita sahabat dan sepupuan juga", terang Erik membuat Ajeng tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya.
"Pantas kalian nampak akrab. Oh ya Han, kamu tahu belum kalau Kinara udah nikah?", Ajeng menanyakan sesuatu yang sebetulnya tak ingin Farhan bahas.
Erik melirik sepupunya itu, dia bisa melihat semburat keengganan di wajah Farhan.
"Ya, aku tahu", jawab Farhan pendek.
"Lalu, kenapa kamu gak datang dihari pernikahannya? aku gak lihat kamu ada dipestanya saat itu", selidik Ajeng lagi.
Farhan menarik nafas berat dan dalam.
"Sebelum Kinara menikah, aku sudah berangkat ke Jerman, melanjutkan studiku di sana", jawab Farhan cepat.
"Wooww, kamu benar-benar penuh kejutan", ujar Ajeng.
"Siapa dulu dong ya, Farhan Ganindra", goda Erik sambil menyikut lengan Farhan.
"Ck, apaan sih lo, Rik", Farhan menatap Erik sebal. Erik justru tertawa kecil melihat ekspresi Farhan kepadanya.
"Studi kamu udah beres, Han?".
"Belum. Aku ke sini ambil cuti, hanya sebulan untuk cek perusahaan".
"Oh. Kinara pasti senang kalau tahu kamu ada di sini".
Wajah Farhan berubah tegang mendengar ucapan Ajeng.
"Please, jangan beri tahu Kinara tentang keberadaanku dan soal apapun yang kamu tahu tentangku, Jeng", pinta Farhan serius.
"Kenapa?", Ajeng mengernyitkan dahinya, heran. Seingatnya dulu, Farhan dan Kinara itu sangat dekat sekali.
"Ya gak apa-apa. Hanya saja, aku tak ingin menemui terlalu banyak orang. Tujuanku pulang ke sini bukan untuk itu", jawab Farhan lagi. Ajeng menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Ck, dari tadi gue cuma jadi tembok nih. Udah, sekarang lo balik kerja dan Ajeng, gue antar ke ruang IT, ya", Erik menghentikan perbincangan itu.
Farhan tersenyum. Tak lama, Ajeng pun pergi meninggalkan ruangan Farhan, dia pergi bersama Erik ke ruang IT.
'Aku harap tak pernah lagi bertemu denganmu, Kinara Cyzarine', batin Farhan.
**
"Huuffttt...capeknyaaaa...", Ajeng menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga sesampainya dia di rumah.
"Nih, buat kamu", Kinara tiba-tiba datang dengan dua gelas jus mangga.
"Wwaahh...makasih banyak kakak iparku sayang. Tahu aja kalau adik cantiknya ini haus dan capek", ujar Ajeng sambil meminum jus miliknya.
"Gimana hari pertama kerja di kantor? seru?", tanya Kinara.
"Ya seru kak. Tapi ternyata kerja tuh capek ya kak", Ajeng meregangkan kedua tangannya.
Kinara tersenyum melihat ekspresi Ajeng.
"Namanya juga kerja, Jeng, ya pasti capek lah".
"Iya. Do'ain aku betah ya di sana", pinta Ajeng. Kinara menganggukkan kepalanya.
"Oh ya, kamu kerja dibagian apa? apa nama perusahaannya?", tanya Kinara penasaran.
"Aku di IT, ngembangin web perusahaan gitu deh kerjaanku"
Kinara menganggukkan kepalanya, "Nama perusahaannya apa, Jeng?".
"Ganindra Group", jawab Ajeng pendek.
Deg
Jantung Kinara berdegup saat mendengar Ajeng menyebut nama perusahaan itu.
"Nama pemiliknya siapa?", tanya Kinara lagi.
"Erik Mahendra", jawab Ajeng santai.
"Oh...", Kinara menganggukkan kepalanya. Ternyata dugaannya salah.
"Aku masuk kamar dulu ya kak, mau bersih-bersih nih, lengket badanku", ujar Ajeng setelah dia menghabiskan jus mangga miliknya.
"Ok"
"Oh ya kak, mama mana?", tanya Ajeng sebelum berlalu.
"Mama belum pulang, masih di butik", jawab Kinara.
Ajeng tersenyum dan dia pun pergi meninggalkan kakak iparnya yang masih duduk menikmati jus miliknya.
Dddrrtt...drrrtt...drrttt
Sebuah panggilan masuk membuat fokus Kinara yang sedang asyik menonton TV menjadi buyar.
"Ya hallo...", jawabnya tanpa melihat siapa yang memanggil.
"Hai sayang, kenapa gelap?", seru suara diujung telepon.
Kinara gelagapan, rupanya panggilan yang masuk itu video call.
"Oh, mas, maaf...", Kinara membetulkan ponselnya.
"Kamu lagi apa sih sayang, sampai salah nerima telepon?", tanya Erlangga.
"Oh ini mas, tadi aku lagi nonton TV", Kinara berjalan ke kamarnya.
__ADS_1
"Oh. Kamu sendirian? mana mama sama Ajeng?".
"Ajeng, ada. Dia baru pulang kerja, kalau mama masih di butik".
"Hooo...anak manja itu kerja? kerja dimana dia?", Erlangga penasaran.
"Iya mas, ini hari pertamanya kerja. Dia bekerja disebuah perusahaan. Mmm...apa ya namanya, aku lupa, mas", jawab Kinara berbohong. Dia enggan menyebut nama perusahaan itu karena membuatnya mengingat seseorang.
"Hmm...baguslah kalau dia sudah bekerja. Oh ya kabar kerjaanmu sendiri gimana, sayang?".
"Semuanya baik kok mas. Mas udah makan?".
"Belum, sayang. Aku baru pulang ke apartemen nih. Hari ini jadwal meetingku agak padat".
"Mas pasti lelah. Jangan lupa makan ya mas, biar mas gak sakit. Habis itu segera istirahat".
Erlangga tersenyum senang dengan perhatian istrinya.
"Iya sayang. Kamu juga, jaga makan dan istirahatmu, ya", pesan Erlangga balik.
Kinara menganggukkan kepalanya. Tak lama video call mereka pun usai.
Kinara merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Pikirannya melayang, kembali mengingat seseorang yang sudah begitu lama dia rindukan.
"Ganindra Group, apa itu perusahaanmu, Han?", gumam Kinara sendiri.
"Tapi setahuku, keluargamu tak memiliki perusahaan selain usaha catering milik Bu Asri", gumamnya lagi.
'Aaaahhhh...aku ini kenapa sih, masih saja memikirkan dia. Dia saja belum tentu masih mengingatku', batin Kinara. Ia akhirnya memilih untuk tidur, tak ingin mengingat hal yang dirasanya tak perlu.
**
Sementara itu, di ruang kerjanya Farhan masih terlihat sibuk, padahal jam sudah menunjukkan pukul 20.45 WIB.
Erik masuk ke dalam ruangan itu tanpa mengetuk pintu.
"Ya ampun bro, jam segini lo masih betah di kantor sama berkas-berkas ini, ck. Ayo balik", ajak Erik.
"Bentar lagi, Rik", jawab Farhan tanpa mengalihkan kedua matanya dari berkas yang tengah ia baca.
"Han, ingat ya, lo balik ke sini buat relaksasi, bukan buat jadi orang gila kerja begini. Lo kenapa sih? sejak tadi siang ngobrol sama Ajeng, air muka lo berubah", selidik Erik yang kini sudah merebahkan dirinya di sofa.
Farhan tak menjawab pertanyaan Erik. Dia lebih memilih untuk terus menyibukkan dirinya.
"Soal Kinara ya?", tanya Erik lagi.
Pertanyaan Erik kali ini membuat Farhan menghentikan pekerjaannya.
"Benar kan tebakan gue. Han, lo bilang udah move dari dia. Lo juga udah jatuh cinta kan sama almarhumah Elena. Terus kenapa juga lo jadi begini hanya karena diingatkan lagi soal Kinara? oh come on bro, dia udah punya orang lain", kata-kata Erik begitu menusuk perasaan Farhan.
Farhan menghembuskan nafasnya kasar.
"Gue emang udah move on dari Kinara, dan ya, semua yang lo bilang itu benar. Gue juga cinta sama Elena. Tapi Elena sekarang udah gak ada, Rik. Hati gue berat menerima ini semua. Gue susah payah melupakan Kinara dan membuka hati buat Elena, tapi....aaaarrggghhh...takdir tak berpihak sama hidup gue", Farhan menahan kekesalan yang entah sejak kapan mulai kembali merajai hatinya.
Erik beranjak dari sofa, dia hampiri sepupunya itu.
"Gue emang gak tahu rasanya jadi lo kek gimana, Han. Tapi gue bisa lihat dari tatapan mata lo, jauh di lubuk hati kecil lo yang paling dalam, lo masih menyimpan rasa cinta buat Kinara kan?. Lo emang cinta sama Elena, tapi gue rasa cinta itu tak sebesar cinta lo buat Kinara", ucap Erik saat dia mendudukan dirinya di ujung meja kerja Farhan.
Farhan terdiam mendengar kata-kata Erik. Akalnya tak bisa menerima itu, tapi hatinya pun tak menolak kebenaran yang didengarnya.
"Sorry, kalau kata-kata gue nambah beban di hati dan pikiran lo. Gue hanya mencoba mengerti keadaan lo dan menyadarkan diri lo yang sebenarnya. Ingat Han, Kinara udah jadi milik orang, Elena juga udah gak ada, gue paham ini berat buat lo, tapi gue juga gak mau lo terus terpuruk dan membohongi diri lo sendiri. Setelah ini, gue harap lo benar-benar bisa membuka hati dan pikiran lo dengan baik. Berdamailah sama takdir dan diri lo sendiri, ya", Erik menepuk pundak Farhan.
Farhan lagi-lagi menarik nafas dalam. Dia tak ingin membantah semua perkataan Erik padanya.
"Thank's ya Rik. Gue beruntung punya saudara sekaligus sahabat kayak lo. Gue akan coba lagi. Yuk balik", ajak Farhan penuh senyum.
Erik pun membalas senyuman itu, akhirnya mereka berdua meninggalkan kantor untuk pulang.
__ADS_1