Unknown Love

Unknown Love
Menikahlah denganku


__ADS_3

"Apa tidak ada yang mencari ku?". Tanya Altezza pada resepsionis.


"Tidak ada Tuan."


Altezza memiringkan kepalanya seharusnya saat dalam keadaan seperti ini dia harus mencari dirinya kan?.


Ia juga bahkan tak mendapat informasi dari Keenan tentang Kirana setelah kabar Kebakaran itu.


Dan juga Keenan entah dimana sekarang.


"Al." Keenan datang dengan nafas tersengal-sengal masuk kedalam kantornya.


"Ada apa?".


"Kirana menghilang."


Altezza mengangkat alisnya dan segera berdiri, "Apa yang terjadi?."


Keenan duduk didepan Altezza dan segera menjelaskan, "Setelah kebakaran terjadi, Papa Kirana kecelakaan dan sekarang dia dalam keadaan koma. Orang kepercayaan Papanya membawa lari uang untuk menggaji Karyawan, banyak orang yang mencari Kirana meminta pertanggung jawaban. Rumahnya yang di sita dicoret dan dilempari sampah, ia juga dimaki."


"Kenapa kau baru mengatakan ini sekarang?". tanya Altezza kesal.


Keenan berdecak pelan, " Itu orang yang ku suruh istri nya melahirkan, jadi selama 2 hari aku tidak mendapat kabarnya."


Altezza memijit pelipisnya dan membuka kacamatanya, "Segera cari Kirana, aku ingin dia ditemukan secepat mungkin."


"Baik."


"Ah cari juga dimana tempat Papanya dirawat." Tambah Altezza.


_&_&_


Kirana mengurung diri disebuah Kamar yang kecil dan juga gelap.


Ia bersandar dengan wajah tanpa ekspresi, matanya yang bengkak dan juga rambut nya yang acak-acakan.


Saat ini dia benar-benar kacau.


"Kirana bukankah kau guru? Bagaimana bisa tertipu?."


"Jika kau tak membayar kami, kami akan melaporkan mu dan ayahmu."


"Katanya dia cerdas tapi ternyata sangat bodoh, aaah uangku."


"Bodoh sekali! Kenapa Pak Lingga harus sakit sekarang?."


"Ei apa mungkin dia pura-pura sakit?." Ucap yang lainnya, kemudian mereka mendekati Papa Kirana dan ingin membuka oksigen nya namun segera dihalangi oleh Kirana.


"Bukankah Papa ku baik ke kalian? Aku hanya meminta waktu saja, aku tidak kabur dari kalian. Tidak bisakah kalian lihat, Papaku sedang berbaring diranjang itu. Disini aku yang tertipu, aku harusnya yang lebih marah karena bahkan kalian orang yang pernah papaku bantu bahkan tak mau membantunya. Tidak-"

__ADS_1


"Setidaknya mengerti saja, hanya mengerti. Tidak bisakah? Ha? Kalian pikir hidup kalian tidak ada campur tangan Papaku?." Ucap Kirana emosi, ia kemudian menunjuk Bibi yang berbicara kasar padanya, "Bi, saat anakmu masuk rumah sakit, menurutmu siapa yang membayar biayanya? Papaku. Kakek, bukankah tidak ada siapapun yang ingin mempekerjakan mu, tapi Papaku mau."


"Seribu kebaikan tidak apa tak dibalas dengan kebaikan, tapi setidaknya jangan menuduh Papaku. Dia sakit, memang nya siapa yang ingin sakit? Apalagi di keadaan seperti itu. Semuanya-" Kirana berlutut, "Aku berjanji akan membayar kalian, tolong berikan aku waktu."


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa." Kirana berteriak kencang kemudian menghembuskan nafas pelan.


Suara burung berkicau terdengar dari luar, Kirana menyibak gorden kecil itu dan membuka jendela.


Ini adalah rumah yang Papanya belikan untuknya, sebuah rumah kecil ditempat terpencil.


Rumah impiannya saat kecil.


Kirana menatap burung-burung yang beterbangan, juga kupu-kupu yang melewati dirinya.


Dari Kota ke tempat ini setidaknya membutuhkan waktu 3 hari perjalanan tanpa henti.


Perjalanan yang melelahkan, namun Mamanya sendiri memaksanya untuk pergi ketempat ini untuk menenangkan diri.


Mamanya pun tau Papanya membeli rumah ini, ia bahkan menanam banyak bunga dihalaman.


Pantas saja setiap bulan mereka selalu pergi tanpa memberitahu kemana.


Kirana bahkan tak pernah tau, bahwa mereka benar-benar merasa bersalah karena dahulu dan sekarang rasa bersalah mereka pun bertambah.


Kirana menatap langit, "Hari ini masih cerah hanya hatiku yang berubah."


"Ada banyak hal bijak yang ku katakan pada orang lain, namun aku sendiri bukan orang yang bijak."


Kirana menatap kosong ke depan, masalahnya seakan-akan tak punya jalan keluar.


Bukan ia tak ingin berusaha mencari jalan itu sendiri namun ia terlalu takut melewati jalan itu.


Tok...tok..


Kirana menoleh dan mengernyitkan dahinya, siapa yang akan datang ke rumah nya ini.


Ia merapikan rambutnya sebentar dan saat akan membuka pintu suara telfon terdengar dari balik sakunya.


Kirana terdiam sejenak melihat nama di layar itu sebelum kemudian mengangkat nya.


"Jika tidak membayar biaya rumah sakit maka kami terpaksa harus mengeluarkan nya."


Kirana mengeratkan tangannya, ia tidak punya apapun lagi. Ia bahkan lari dari orang orang itu setelah memberikan Toko nya sebagai jaminan.


Dia juga tidak punya uang sepeser pun, bagaimana dia bisa membayarnya?.


"Kirana." Panggilan itu membuat Kirana terkejut, ia terdiam kaku mendengar suara itu lagi.


Perlahan Kirana membuka pintu, sosok yang sangat ia kenal muncul didepannya.

__ADS_1


Ia mendekati Kirana lalu memeluknya dengan erat.


Aroma ini dan pelukan ini.


"Al."


"Kenapa kau tidak menemuiku dan harus menanggung semua ini sendirian?."


Kirana mengangkat wajahnya menatap Altezza yang memandang nya penuh kelembutan, "Aku kira kau membenciku."


"Tidak mungkin." Altezza memeluk Kirana lagi, "Aku tidak mungkin membencimu."


"Kirana menikahlah denganku, aku akan membantumu."


Kirana berpikir sejenak kemudian mengangguk, "Baik, ayo kita menikah."


_&_&_


"Kenapa kau tidak mencari ku? Tidak mungkin kau hanya mengira aku membencimu kan?." Tanya Altezza.


"Aku pernah sekali mencari mu, namun sebelum aku bertanya aku melihat Jessica yang mencari mu dan mengatakan bahwa dia adalah pacarmu." Jawab Kirana, yah dia pernah ke rumah bahkan perusahaan Altezza namun setiap kali ia ke sana ia pasti akan melihat Jessica.


Altezza mengerutkan dahinya , "Jessica? Siapa dia? Aku tidak mengenalnya."


"Keenan kau tau Jessica?." Altezza menoleh ke arah Keenan yang tampak gugup.


"Dia... BA yang kau tunjuk untuk Peluncuran game baru." Jawab Keenan.


Altezza menyipitkan matanya lalu memukul Keenan dengan bantal kecil disebelahnya, "Bukankah kau yang memilihnya? Keenan kau..."


"Maafkan aku, aku tidak tau kalau dia senarsis itu." Jawab Keenan.


Kirana tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya, "Sudahlah. Ngomong-ngomong bagaimana kalian bisa tau aku disini?."


"Tentu saja karena dia mencari mu. Kirana kau tidak tau dia hampir gila kehilanganmu." Ejek Keenan pada Altezza, "Tapi bahkan dia tidak menyadari dia jatuh cinta padamu." lanjutnya dalam hati.


"Al maafkan aku."


"Tidak ada yang perlu di maafkan, karena kau sudah setuju menikahi aku maka kau tidak bisa menarik perkataan mu." Ucap Altezza menatap Kirana penuh peringatan.


Kirana tersenyum dan mengangguk, "Tentu saja. Ouh malam ini kalian akan tidur dimana?."


"Tentu saja di rumahmu." Jawab Altezza.


"Hanya ada satu kamar dan juga Al kau tidak mungkin tidur ditempat seperti ini."


"Kenapa tidak?." Altezza duduk di sebelah Kirana dan duduk dipundaknya, "Jika kau bisa tidur ditempat ini maka aku juga bisa, tapi..."


Altezza menunjuk Keenan, "Singkirkan dia dari sini."

__ADS_1


__ADS_2