Unknown Love

Unknown Love
Rindu


__ADS_3

Sore hari, Kinara dan Ajeng baru kembali ke rumah. Badan mereka terlihat lusuh dan kotor, maklum saja, hampir sepanjang hari ini keduanya membersihkan rumah keluarga Kinara yang cukup lama tak ditinggali.


"Eh Jeng, ini mobil Mas Erlangga kan ya?", ujar Kinara sesaat setelah Ajeng memarkirkan motornya tepat di samping mobil milik kakaknya.


Ajeng menoleh sedikit, "Iya kak. Kak Angga udah balik dari Surabaya kali ya?", Ajeng balik bertanya. Kinara tak menjawab, dia segera mengucapkan salam dan masuk ke dalam rumah.


Terdengar suara mama mertua menjawab salamnya.


"Baru selesai, Ra?", tanya Bu Tria saat Kinara dan Ajeng masuk ke dalam rumah.


Kinara tersenyum tipis, "Iya ma, maaf ya ma, kita baru kembali sore begini. Oh ya ma, apa Mas Erlangga sudah pulang ke sini?", Kinara melihat ke sekitar ruang keluarga.


"Lho, apa Angga gak kabari kamu, Ra? dia sampai sini tadi siang, sekarang dia ada di kamar, mungkin istirahat", jawab Bu Tria heran dengan pertanyaan menantunya itu.


Kinara tersenyum tipis dan segera masuk menuju kamarnya. Di lihatnya seseorang tengah berbaring di kasur.


'Benar, itu Mas Erlangga', batin Kinara.


Dia tak ingin mengganggu suaminya yang nampak tengah tertidur lelap. Kinara segera mengambil handuk dan baju ganti untuk membersihkan diri di kamar mandi dalam kamarnya.


Dua puluh menit berlalu. Kinara sudah selesai mandi dan merasa segar. Dia segera keluar kamar mandi, dan tanpa disadarinya Erlangga sudah duduk di ujung tempat tidur.


"Kamu baru pulang?", suara khas itu mengejutkan Kinara.


"I...iya mas. Maaf, aku berisik ya tadi mandinya sampai kamu terbangun?", Kinara merasa terkejut sekaligus tak enak hati karena sudah merasa mengganggu istirahat suaminya itu.


Erlangga tersenyum tipis, lalu beranjak menghampiri istrinya yang terlihat malu karena belum rapi di depan suaminya.


Deg...


Jantung Kinara berdegup karena Erlangga memeluknya dengan tiba-tiba.


"Aku sangat merindukanmu, sayang...", bisiknya lembut tepat ditelinga Kinara.


Kinara merasa ada desiran yang berbeda mendengar ucapan suaminya itu. Tanpa dia sadari, kedua tangannya membalas pelukan erat Erlangga.


"Kenapa mas gak kasih kabar kalau mau pulang hari ini?", tanya Kinara ditengah dekapannya.


Erlangga tak menjawab pertanyaan itu. Satu hal yang ingin dia lakukan saat ini adalah terus memeluk erat istrinya. Terbayang pemandangan tadi siang yang dia lihat saat Kinara, Ajeng dan Farhan tertawa lepas. Dia tak berharap istrinya bertemu kembali dengan Farhan, terlebih melihat wanitanya itu tertawa bersama Farhan, hatinya merasa tak rela.


"Mas...apa kamu sudah makan?", Kinara mencoba melonggarkan pelukan Erlangga yang dirasanya tak biasa.

__ADS_1


Erlangga melepaskan pelukannya dan ditatapnya wajah polos Kinara.


Cup...


Erlangga mencium lembut bibir istrinya itu. Lagi-lagi Kinara terkejut dengan tindakan Erlangga yang tak biasa dan dirasanya begitu serba tiba-tiba.


"Mm...mas...mmhh...", Kinara merasa sesak karena ciuman suaminya begitu dalam.


Menyadari keadaan istrinya, Erlangga segera melepaskan pautan bibirnya.


"Maaf sayang, aku terlalu rindu...".


Wajah Kinara merona, dia masih canggung dengan perlakuan Erlangga kepadanya. Terlebih cukup lama mereka tinggal terpisah, hal-hal seperti itu masih terasa aneh untuk Kinara meskipun sebelumnya dia dan Erlangga pernah melakukannya.


"Mm...mas, aku rapikan diri dulu ya", ucap Kinara dengan wajah yang masih menunduk. Ia berlalu dari hadapan suaminya.


Erlangga tersenyum simpul melihat tingkah istrinya itu.


'Dasar, masih saja kaku', gumam Erlangga.


Ia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya juga.


"Lama amat kak gak keluar kamar. Habis kangen-kangenan ya sama Kak Angga?", goda Ajeng ditengah aktivitasnya mengiris bawang merah.


Kinara hanya tersipu malu. Dia enggan menjawab.


"Oh ya, malam ini papa akan sampai rumah. Tadi papa kasih kabar kalau pesawatnya baru landing", terang Bu Tria memecahkan kebisuan di dapur.


Kinara dan Ajeng hanya menganggukkan kepala.


"Aku udah gak sabar nunggu hadiah yang papa bawa buat aku", serunya girang. Kedua matanya mengerjap genit.


Kinara tertawa kecil melihat tingkah adik iparnya itu.


"Jangan pikirkan hadiah terus, Jeng. Ayo selesaikan tugasmu!", perintah Bu Tria.


Di meja makan sudah terhidang soto ayam, empal, dan beberapa menu khas Indonesia.


"Wah...ini pasti buat menyambut ke datanganku ya", seru Erlangga tiba-tiba. Dia senang sekali melihat ada banyak makanan tersaji di meja makan.


Tangannya mulai jahil, mencomot beberapa lauk yang ada di sana.

__ADS_1


"Iihh...mas, jangan gitu ah", Kinara menepis tangan suaminya yang sudah bersiap mengambil perkedel.


"Lho, ini semua kan buat aku, sayang...", jawabnya cuek.


Keramaian di meja makan pun buyar saat sosok yang dinanti-nanti itu datang.


Pak Wijaya tiba dengan membawa banyak buah tangan. Bu Tria menyambut kedatangan suaminya dengan hangat. Begitu pula dengan Ajeng yang sumringah melihat banyak oleh-oleh yang dibawa ayahnya. Erlangga dan Kinara pun tak ketinggalan menyambut kedatangan sosok penuh wibawa itu.


.


Sementara itu, Farhan tengah termenung di kamarnya. Kilatan bayangan wajah Kinara tadi siang berkelebatan dalam ingatannya.


"Ternyata kamu gak banyak berubah ya, Ra. Kamu masih sama seperti dulu. Andai saja...", Farhan bicara sendiri. Lamunannya terhenti, berganti dengan senyum manis yang melukiskan dua lesung pipinya.


Tok...tok...tok...


Terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Han, ayo kita makan malam", terdengar suara ibunya memanggil.


Farhan segera bergegas keluar, menuju meja makan.


"Tumben kamu makan selahap itu, Han", ujar Bu Sari yang heran melihat porsi makan putranya yang tak seperti biasa.


"Iya bu, Farhan lagi lapar", jawabnya pendek.


Bu Sari tersenyum mendengar jawaban Farhan.


"Han, sampai kapan kamu mau sendiri?", tanya Bu Sari ditengah makan malam mereka.


"Memangnya kenapa, bu?", tanya Farhan tanpa mengalihkan pandangannya dari piring.


"Ya ndak apa-apa, Han. Ibu cuma khawatir kamu terlalu lama bersedih setelah kepergian Elena", kata Bu Sari lagi hati-hati.


Farhan menghentikan sejenak makannya, ditatapnya wajah teduh sang ibu.


"Ibu jangan khawatir, Farhan udah ikhlas kok dengan kepergian Elena. Do'anya ya bu biar jodoh Farhan didekatkan", senyum manisnya terulas.


Bu Sari membalas senyuman itu dengan anggukan.


"Ibu selalu mendo'akan yang terbaik untukmu, nak".

__ADS_1


__ADS_2