
Kereta api yang Kinara naiki sudah sampai di Stasiun Surabaya Kota, diliriknya jam di tangan, pukul 08.00 pagi. Kinara segera bergegas turun dari kereta dan ia mencari tempat untuk sarapan pagi terlebih dahulu.
Pagi ini dia menikmati semangkuk nasi rawon yang lezat. Selesai dengan sarapannya, Kinara segera mengambil HP, mencari aplikasi taksi online untuk pergi menuju apartemen suaminya.
**
"Papa, bolehkah aku bermain di sana?", tunjuk Alya. Jari telunjuknya yang kecil mengarah ke balkon. Di sana ada taman kecil yang dilengkapi dengan ayunan rotan dan bunga-bunga yang sedang bermekaran.
Erlangga tersenyum, "Boleh, tapi hati-hati ya. Hindari tepian balkon".
Alya mengangguk cepat, dengan riang dia segera menuju taman kecil yang ada di balkon itu. Sementara itu, Viona baru selesai membersihkan mangkuk bekas mereka sarapan.
Erlangga duduk manis di sofa. Matanya sibuk menatap layar HP, berharap ada respon dari Kinara, namun tak ada.
"Weekend begini, kamu masih cek kerjaan, mas?", tanya Viona, ia meletakan dua cangkir teh manis hangat di meja.
Erlangga tak merespon pertanyaan Viona. Viona duduk di samping Erlangga, dan sesekali memperhatikan mantan suaminya itu.
"Mas, bisakah hari ini kita pergi ke taman bermain? Alya pasti senang jika kita bisa menghabiskan waktu bersamanya", ujar Viona lagi setelah ia menyeruput teh manis hangat miliknya.
Erlangga menghela nafas berat, "Pergilah, ajaklah Alya ke sana".
Viona menatap Erlangga dengan dalam, "Mas, tidakkah hatimu tergerak sedikit saja untuk bisa menerima kehadiran Alya sepenuhnya? aku tak memintamu untuk mengasuhnya, aku hanya ingin kali ini saja kamu meluangkan sedikit waktumu untuk menyempurnakan kebahagiaannya", kata-kata Viona menusuk.
Erlangga membalas tatapan Viona dengan tajam, "Dengar Vi, aku menerima Alya sepenuhnya sebagai putriku, tapi tidak berarti kita bisa bersama layaknya keluarga. Tidakkah kamu memikirkan bagaimana perasaanku dan perasaan istriku jika dia tahu soal ini?", intonasi suara Erlangga meninggi.
Viona menarik nafas dalam, "Jika perlu, aku akan memberitahu dia semuanya".
Ucapan Viona terdengar seperti ancaman di telinga Erlangga. Erlangga menarik lengan Viona dengan keras, membuatnya mengaduh kesakitan.
"Mas, lepas. Sakit, mas", Viona berusaha melepaskan cengkeraman tangan kekar Erlangga dari lengan kanannya.
"Apa kau mengancamku? dengar, jangan pernah berpikir untuk menemui istriku jika kamu ingin Alya tetap bahagia!!!", Erlangga memberikan penekanan yang kuat pada ucapannya. Ia kemudian melepaskan cengkeramannya dengan kasar.
Erlangga berdiri, ia tak ingin berbicara banyak dengan Viona. Tapi Viona lekas menarik tangan Erlangga.
"Mas, aku tidak bermaksud berbicara seperti tadi kepadamu, aku...", belum selesai berkata-katanya, Erlangga sudah melepaskan kasar tangan Viona dari lengannya membuat Viona terdorong dan ia menarik ujung kemeja Erlangga.
Viona jatuh di sofa dengan Erlangga ada di atas tubuhnya. Mata mereka saling beradu.
__ADS_1
"Surprise...", tiba-tiba saja terdengar suara dari arah pintu yang mengejutkan Viona dan Erlangga.
Kinara yang semula datang dengan sumringah begitu terkejut melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Bingkisan yang ia bawa terjatuh begitu saja dari genggamannya.
Erlangga sangat terkejut dengan kedatangan Kinara yang tiba-tiba, "Sayang, kamu...", belum selesai Erlangga bicara, Kinara sudah berlari keluar dari apartemen suaminya.
Erlangga segera menyadari posisi tubuhnya yang salah. Ia masih ada di atas tubuh Viona. Erlangga segera berdiri, ia berlari mengejar istrinya.
Air mata sudah menggenang di pelupuk mata Kinara. Dia tak menyangka jika kedatangannya ke Surabaya akan disambut dengan pemandangan yang menyayat hatinya.
"Mama, papa kemana?", tanya Alya yang tiba-tiba masuk karena tadi mendengar teriakan kecil.
"Papa keluar dulu sebentar, sini sayang", ajak Viona, ia meminta Alya untuk duduk di pangkuannya.
"Kita gak jadi jalan-jalan ya ma?", tanya Alya lagi.
"Mmm...kalau jalan-jalannya sama mama dulu, Alya mau? nanti pulangnya kita beli ice cream kesukaan Alya dan beli boneka juga, ya", bujuk Viona. Alya hanya mengangguk senang.
"Tapi papa gak ikut kita ma...", wajahnya berubah sendu.
"Lain waktu kita pergi sama papa juga. Sekarang papa ada urusan dulu, kalau kita tunggu pasti lama, nanti taman bermainnya keburu tutup lho", Viona masih mencoba membujuk putri kecilnya itu.
'Kamu tega, mas', batin Viona sesaat sebelum dia menutup pintu apartemen itu.
Sementara itu, Erlangga masih mencoba mengejar Kinara. Ia melihat istrinya berlari di lobi apartemen.
"Kinara, tunggu!!!", serunya. Tapi teriakan itu tak dihiraukan oleh Kinara. Istrinya tetap berlari, Erlangga bisa melihat mata Kinara yang memerah.
'Dia pasti menangis, dia salah sangka. Aku harus mengejarnya', perasaan Erlangga berkecamuk.
Kinara menghentikan langkahnya disebuah taman yang tak jauh dari apartemen suaminya. Ia mencari bangku di tempat yang tak terlalu banyak orang.
'Kenapa kamu melakukan itu, mas? aku kira keterpisahan kita selama ini tetap bisa membuatmu menjaga diri', batin Kinara dengan air mata yang semakin deras mengalir.
"Sayang...", suara Erlangga membuyarkan kesendirian Kinara. Tapi Kinara tak ingin menatap suaminya.
"Sayang, aku...aku bisa jelaskan soal yang tadi", Erlangga mendekati Kinara perlahan.
Kinara masih menangis, bahunya terlihat bergetar karena menahan isakan yang menyesakkan dadanya.
__ADS_1
"Sayang, kamu salah paham dengan apa yang tadi kamu lihat. Percayalah, aku tidak mungkin melakukan hal yang bisa melukai hatimu", Erlangga sudah duduk di samping Kinara. Ia menatap Kinara yang duduk memunggunginya.
"Tolong, berhentilah menangis. Hatiku sakit melihatmu menangis seperti ini", ucap Erlangga lagi, ia memeluk Kinara dari belakang.
Kinara masih terisak, ingin sekali ia menepis pelukan itu, tapi entah kenapa hati kecilnya menahannya.
"Sayang...aku mohon, maafkan aku. Bicaralah padaku", bisik Erlangga lirih.
Kinara mencoba menenangkan dirinya, ia rasakan pelukan erat dari suami yang begitu ia rindukan.
"Mas, kedatanganku ke sini untuk menemuimu, memberikanmu kejutan tapi ternyata justru aku yang terkejut. Apa selama kita hidup terpisah mas sering bermesraan dengan perempuan itu?", tanya Kinara. Suaranya bergetar karena menahan tangis dan emosi dalam dirinya.
"Tidak sayang. Aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun selama di sini, termasuk juga dengan wanita yang tadi kamu lihat. Kejadiannya tidak seperti yang kamu pikirkan", jawab Erlangga dengan lembut.
Kinara melepaskan pelukan suaminya. Kini ia duduk berhadapan dengan Erlangga, Kinara menatap tajam wajah suaminya yang nampak bersalah.
"Lalu, maksudnya tadi itu apa mas? siapa dia? mudah sekali perempuan itu ada di apartemenmu dan dia...dia...ah", Kinara tak sanggup melanjutkan kata-katanya, terbayang kembali adegan mesra yang tadi ia lihat antara suaminya dengan perempuan asing itu.
Erlangga memegang kedua tangan Kinara, "Sayang, dengar, aku akan jelaskan semuanya kepadamu. Perempuan yang tadi kamu lihat, dia itu mantan istriku. Dia tiba-tiba datang ke apartemenku untuk mempertemukanku dengan anak kami dulu. Maaf aku tak menceritakan soal ini kepadamu".
Mata Kinara membelalak, ia tak percaya dengan apa yang didengarnya. Erlangga ternyata pernah menikah sebelumnya, bahkan dia punya anak dan dia tak menceritakan hal itu pada Kinara.
"Kenapa kamu gak pernah cerita soal itu semua, mas? kenapa baru sekarang kamu bilang?", air mata Kinara menetes lagi.
Erlangga menyeka air mata istrinya, "Maafkan aku. Aku kira itu hanya masa laluku yang tak harus kamu tahu. Aku ingin menjalani sisa hidupku dengan bahagia bersamamu. Apa yang sudah terjadi dimasa lalu, cukuplah itu jadi pelajaran bagiku. Kamu, masa depanku, cinta terbaik di hidupku saat ini", terang Erlangga dengan tatapan mata yang dalam dan teduh.
"Lalu, kenapa kalian bisa bermesraan seperti tadi? apa kamu masih mencintainya, mas?", tanya Kinara sesegukan.
Erlangga memeluk erat tubuh istrinya, "Tadi kami sempat beradu mulut. Apa yang kamu lihat, itu murni ketidak sengajaan saja karena aku mendorong wanita itu agar tak menyentuhku. Tapi dia menarik ujung kemejaku sampai kami hilang keseimbangan dan ada di posisi itu. Percayalah sayang, saat ini dan selamanya, hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cintai", Erlangga mencium lembut pucuk kepala Kinara.
Ada rasa damai di hati Kinara saat mendengar penjelasan dari suaminya. Meskipun ia tetap mengingat kejadian tadi dengan baik, tapi Kinara memilih untuk mempercayai Erlangga.
"Benarkah itu?", tanya Kinara, ia mengangkat wajahnya untuk bisa menatap Erlangga yang masih erat memeluknya.
Erlangga tersenyum, "Tentu saja. Aku tidak akan mungkin menikahimu jika aku tak cinta", jawaban Erlangga mengembangkan kembali senyum di bibir Kinara.
"Jangan menangis lagi, ya. Maaf, aku sudah membuatmu meneteskan air mata karena kebodohanku", bisik Erlangga lirih.
Kinara membalasnya dengan anggukan kepala dan memeluk erat suaminya.
__ADS_1