
Huuffttt....
Kinara membuang nafasnya dalam. Ia segera menghampiri Farhan yang masih setia menungguinya ujian sidang.
Kinara melihat Farhan yang nampak sibuk melihat-lihat layar HP-nya sampai ia tak menyadari kehadiran Kinara di sampingnya.
"Ehm...", suara Kinara memecahkan fokus Farhan.
"Eeh, Ra. Kok ada di sini? sejak kapan?", tanya Farhan sedikit terkejut. Ia segera memasukan HP-nya ke dalam saku jasnya.
Kinara menyunggingkan senyum manisnya, "Sedari Perang Dunia II", jawabnya pendeknya.
Farhan tertawa mendengar jawaban Kinara, "Ah kamu nih, asal jawabnya. Udah selesai ujiannya?", tanya Farhan lagi.
Kinara masih tersenyum dan mengangguk cepat sebagai jawaban.
"Wah, selamat ya. Akhirnya, pecah telor juga", seru Farhan.
"Iya nih Han. Aku lega banget, ya meskipun diujian terakhir barusan, Prof. Hani sempat bikin aku keder", Kinara membayangkan kembali apa yang dilaluinya tadi di ruang sidang.
Farhan tersenyum, "Tapi bisakan ngadepinnya? all is over".
Kinara dan Farhan tertawa bersamaan. Kinara benar-benar merasa bahagia, perjuangannya selama empat tahun di bangku kuliah, akhirnya selesai hari ini. Ya, meskipun dia harus menunggu pengumuman hasil yudisium, tapi setidaknya, hal berat yang selama ini terasa membebaninya sudah ia hadapi dengan baik.
Kinara masih berbincang dengan Farhan. Mereka berdua terlihat dekat dan akrab. Sesekali Farhan menatap Kinara dengan dalam, Kinara tak menyadarinya. Ia asyik bercerita, meluahkan semua perasaannya. Tanpa mereka sadari, sepasang mata sedari tadi melihat ke arah Kinara dan Farhan.
"Kinara Cyzarine, bisa ikut ke ruangan saya?", gema suara yang tiba-tiba membuat Kinara dan Farhan terkejut.
Kinara menoleh, dilihatnya Erlangga sudah berdiri tak jauh darinya, "I...iya, pak". Kinara segera beranjak dari tempat duduknya.
Erlangga sudah berbalik arah, melangkahkan kakinya menuju lift. Perasaannya begitu kacau karena sedari tadi dia harus menyaksikan kedekatan Kinara dan Farhan.
"Han, sorry ya aku ke sana dulu. Dosen pembimbingku manggil", Kinara berpamitan kepada Farhan. Farhan hanya menjawabnya dengan senyum tipis dan anggukan kepala.
Kinara segera berlari kecil, mengejar Erlangga yang sudah berdiri di depan lift.
'Mata itu, rasanya aku pernah melihatnya. Tapi dimana?', tanya Farhan pada dirinya sendiri.
Kinara berdiri di belakang Erlangga yang sedari tadi memilih diam menunggu tanda lift naik ke lantai itu.
Deg....
Jantung Kinara berdegup. Tiba-tiba saja Erlangga menggenggam tangan kanan Kinara.
__ADS_1
"Pp...pak, mohon lepaskan tangan saya. Ini di kampus", bisik Kinara. Ia merasa tak nyaman dengan tindakan Erlangga.
Erlangga bersikap seolah ia tak mendengar perkataan Kinara. Ia menggenggam tangan Kinara lebih erat, bahkan ia agak menariknya sedikit hingga Kinara berdiri tepat di sampingnya.
Perasaan Kinara campur aduk. Ada debaran yang tak biasa, ditambah dengan kekhawatiran ada orang lain yang melihat mereka seperti itu.
"Pak, saya mohon, lepaskan tangan saya", sekali lagi Kinara meminta, tapi Erlangga tetap tak menggubrisnya.
Ting....
Pintu lift terbuka. Erlangga menarik tangan Kinara untuk masuk ke dalam lift.
Di dalam lift, Erlangga masih diam seribu bahasa. Kinara pun sibuk membenahi debaran di dadanya. Ia yakin, wajahnya kini sudah memerah menahan buncahan rasa yang tak jelas itu.
Erlangga melirik sebentar ke arah Kinara yang sedari tadi memilih untuk menundukkan kepalanya.
'Masih saja kau seperti itu padaku', bisik hati Erlangga sambil menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.
Ting....
Pintu lift terbuka. Erlangga mempercepat langkahnya, tangannya masih menggenggam tangan Kinara. Kinara setengah berlari mengikuti langkah kaki Erlangga.
Tak butuh waktu lama, Erlangga sudah sampai di depan pintu ruangannya. Ruang 503. Ia segera membuka pintu itu, membawa masuk Kinara dan kembali mengunci pintu ruangannya.
"Duduklah", akhirnya Erlangga membuka suara.
Kinara segera menarik punggung kursi yang ada di depan meja Erlangga. Erlangga sendiri sudah duduk di kursinya. Ia terlihat beberapa kali menarik nafas dalam, membiarkan Kinara dengan kebingungannya.
"Kamu tahu kenapa aku membawamu ke sini?", tanya Erlangga, seolah ia bisa membaca kebingungan Kinara. Kinara menjawabnya dengan gelengan kepala.
Erlangga menarik tubuhnya ke depan, kini ia bisa menatap Kinara dengan lebih dekat.
"Angkatlah kepalamu. Lihat aku", ujar Erlangga.
Perlahan Kinara mengangkat kepalanya, dilihatnya mata Erlangga menatap tajam ke arahnya. Mata mereka saling beradu, Kinara berusaha mengendalikan dirinya.
"Aku tidak suka melihatmu terlalu dekat dan akrab dengan laki-laki itu", suara Erlangga terdengar lembut namun terdengar kesal.
Kinara menelan salivanya. Ia masih mencoba mencerna perbincangan mereka.
"Ma...maksud bapak, Farhan?", Kinara bertanya untuk memperjelas.
"Aku tak tahu siapa namanya. Tapi yang jelas, aku tak suka melihatmu berbincang akrab dan dekat seperti tadi, dan satu lagi, saat kita berdua seperti ini, jangan memanggilku 'pak'. Biasakanlah kamu panggil aku 'mas' seperti yang sudah kita sepakati", Erlangga menatap lebih dalam ke arah Kinara.
__ADS_1
"Maaf, mas", jawab Kinara pendek.
Erlangga menghela nafas lagi. Ia berusaha keras mengontrol emosinya.
"Sayang, dengar, aku tak melarangmu berteman dengan siapapun atau dengan lelaki manapun. Aku hanya memintamu untuk mengurangi keakraban, itu saja. Terutama dengan teman lelakimu yang tadi itu. Dia, aku bisa melihatnya dengan jelas, dia menyukaimu, sama seperti aku menyukaimu", Erlangga menurunkan intonasi suaranya. Ia menyampaikan semua luahan hatinya kepada Kinara.
Kinara hanya bisa terdiam. Panggilan 'sayang' dari Erlangga kepadanya benar-benar membuat wajahnya semakin panas, merah menahan malu.
Erlangga tersenyum melihat wajah Kinara yang terlihat begitu merona.
Ia beranjak dari tempat duduknya, berjalan perlahan mendekati Kinara yang masih mematung di kursinya.
"Kamu itu calon istriku. Sebentar lagi kita akan menikah. Bukan aku melarangmu berteman, hanya saja, aku tak ingin ada lelaki lain yang jatuh cinta kepadamu", ujar Erlangga lirih, ia memutar kursi Kinara dengan posisi menghadapnya. Erlangga membungkukkan badannya, dengan kedua tangannya memegang pegangan kursi di samping kanan dan kiri.
Deg....
Lagi, debaran di dada Kinara semakin tak beraturan. Selama ini, dia tak pernah sedekat itu dengan lelaki, bahkan dengan Farhan sekalipun. Sekarang, di depannya berdiri seorang lelaki dengan jarak wajah mereka yang kurang dari lima senti.
Erlangga menyunggingkan senyum manisnya, ia memajukan wajahnya, membuat Kinara serba salah. Kinara menarik kepalanya mundur, sulit, karena posisinya duduk.
'Ya ampun, dia ini mau apa sih', pikiran Kinara sibuk bertanya-tanya dan waspada dengan tingkah Erlangga.
"Wajahmu merona, cantik", bisik Erlangga tepat di telinga kanan Kinara.
Deg....
Rasanya Kinara mau pingsan menahan debaran yang semakin tak karuan. Erlangga bisa melihatnya, ia segera menarik tubuhnya, karena sebetulnya dirinya pun merasa gejolak yang luar biasa untuk lebih dekat dengan Kinara. Tapi ia tak ingin itu terjadi sebelum Kinara sah menjadi istrinya.
Sejenak, ruangan itu hening. Kinara dan Erlangga seolah tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
"Sekarang kau boleh keluar. Maaf, sudah membuatmu seperti ini", Erlangga membuka suara kembali.
Kinara hanya menunduk dan menganggukkan kepalanya. Ia segera beranjak dari tempat duduknya, hal yang ingin dia lakukan sedari tadi.
Tanpa bersuara, Kinara berjalan ke arah pintu.
Ceklek, kunci pintu ruangan itu pun terbuka.
Deg....
"Berjanjilah, kau hanya akan mencintaiku saja", tanpa Kinara sadari, Erlangga berjalan mengejarnya. Ia menarik tangan Kinara, membuat tubuh Kinara berbalik tiba-tiba dan mendarat tepat di pelukan Erlangga.
Kinara terdiam, ia masih terkejut dengan apa yang tengah terjadi dengan dirinya, sedangkan Erlangga masih memeluknya dengan erat. Tanpa mereka sadari, Farhan menyaksikan pemandangan itu.
__ADS_1