Unknown Love

Unknown Love
Cerita Ajeng


__ADS_3

Hari ini langit nampak mendung, sedari tadi malam hujan sepertinya masih setia membuat suasana semakin dingin.


"Berangkat, Jeng?", tanya Kinara saat melihat adik iparnya sudah rapi dengan blazer marun dan celana panjang warna senada. Rambutnya diikat rapi, tas tangan berwarna hitam nampak menggantung di tangan kanannya, sepatu heel berwarna hitam membuat tampilan Ajeng semakin elegan.


"Iya Ra. Masih hujan ya di luar?", tanya Ajeng yang sekarang sibuk mengenakan jaket untuk mengurangi rasa dinginnya.


"Ya, sepertinya hujan hari ini enggan pergi", jawab Kinara.


Ajeng melirik jam di tangannya, pukul tujuh pagi. Ada waktu satu jam lagi sebelum masuk kantor, dia memilih duduk kembali, berharap hujan mereda.


"Ra, aku mau cerita".


"Apa?", Kinara mengalihkan pandangannya dari laptop.


"Aku lagi dekat dengan seseorang di kantor", kata Ajeng tanpa ragu.


"Oh ya? siapa?", Kinara penasaran. Selama mereka bersahabat dan bahkan setelah Kinara menjadi kakak iparnya, baru kali ini dia mendengar Ajeng dekat dengan seseorang.


Ajeng tersenyum malu, "Namanya Erik. Dia wakil boss ku di kantor".


"Waaahh, orang penting dong. Gimana orangnya?", tanya Kinara lagi semakin penasaran.


"Ya sebetulnya usianya sedikit lebih tua dariku, beda dua tahunan lah. Tapi dia friendly banget, asyik diajak ngobrol, senang bercanda, dewasa dan sangat apa adanya", terang Ajeng. Wajahnya sudah merona menceritakan sosok Erik.


Kinara tersenyum simpul melihat perubahan air muka adik ipar sekaligus sahabat baiknya itu.


"Kamu suka?", tebak Kinara.


Ajeng gelagapan, "Iiiihhh...Ra, bu...bukan gitu. Aku...aku cuma merasa nyaman aja dekat dia. Dia juga gak pernah tuh bahas soal hubungan yang lebih serius".


Lagi, Kinara tersenyum simpul.


"Bukan enggak, Jeng, tapi belum", katanya enteng.


Semburat merah di wajah Ajeng semakin kentara.


"Eh Ra, keknya hujan udah reda tuh. Aku berangkat dulu ya", dia bergegas mengambil tasnya dan berlalu meninggalkan Kinara yang masih tersenyum melihat tingkah serba salah Ajeng.


"Dasar Ajeng, suka aja pakai pura-pura segala", gumamnya. Dia kembali melanjutkan aktivitas menulisnya di laptop.

__ADS_1


.


Ajeng sudah di lobi apartemen, dia duduk menunggu taksi online yang dipesannya barusan.


"Yaaahhh...ditolak. Ini driver kenapa sih?", Ajeng menggerutu, mendapati orderan taksi onlinenya gagal.


Diliriknya lagi jam di tangan, sudah hampir jam delapan.


"Mati aku, telat deh ini", dia sibuk mencari-cari nomor kontak atasannya di Divisi Desain, bermaksud mengabari jika dia datang terlambat karena tak kunjung mendapatkan kendaraan.


Selepas hujan begini, Ajeng enggan naik kendaraan umum. Apalagi ini jam kerja, sudah pasti penuh sesak.


"Ajeng...", sebuah suara yang tak asing di telinganya membuat Ajeng menoleh.


Sebuah senyum manis dari sosok yang dikenalnya membuat Ajeng terkejut.


"Lho, Erik?".


"Kamu sedang apa di sini? gak ngantor?", tanya Erik menghampiri Ajeng yang masih berdiri terpaku.


"Oh...ini, dari tadi aku nunggu taksi online gak datang juga, ternyata orderanku ditolak. Mana ini udah mau jam delapan. Aku mau ngabarin atasanku kalau aku telat", terang Ajeng.


Mobil sedan berwarna hitam itu pun melaju, membelah jalanan yang basah dan ramai kendaraan.


Erik memutar lagu-lagu milik Rio Febrian, membuat suasana di dalam mobil terasa berbeda bagi Ajeng. Canggung tapi romantis.


"Kamu sedang apa di apartemen? apa kamu tinggal di sana?", tanya Erik, matanya melirik sejenak kepada Ajeng. Sedari tadi Ajeng memilih diam. Entah kenapa hatinya merasa tak karuan saat bertemu dengan Erik.


'Aaahh...ini pasti karena curhatku tadi sama Kinara', Ajeng sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Jeng?".


"Eh ya...kenapa?", tanya Ajeng sedikit terkejut.


Erik tersenyum tipis, "Kamu melamun ya?", tebaknya.


"Oh enggak...maaf", Ajeng menundukkan kepalanya, dia berusaha keras menenangkan jantungnya yang semakin berdegup kencang.


"Kamu sedang apa di apartemen? apa kamu tinggal di sana?", Erik mengulang lagi pertanyaannya.

__ADS_1


"Oh itu...enggak. Kakakku dan istrinya yang tinggal di sana. Beberapa hari ini aku diminta menemani kakak iparku selama suaminya dinas di luar kota", terang Ajeng.


"Oh gitu", respon Erik pendek.


"Kamu sendiri, sedang apa di sana?", giliran Ajeng yang bertanya.


Erik tersenyum, "Semalam aku tidur di apartemenku. Sesekali aku ke sana".


"Waaah, kamu hebat ya punya apartemen sendiri", puji Ajeng tulus.


"Ya, itu salah satu investasi masa depan. Sayangnya masih belum lengkap", jawab Erik yang masih fokus menyetir.


Ajeng mengernyitkan dahinya, "Belum lengkap gimana?".


Erik menghentikan sejenak mobilnya, membuat Ajeng bingung.


"Lho kok berhenti? kita kan belum sampai ke kantor".


Erik tersenyum simpul, "Belum lengkap karena aku belum menikah. Apartemen itu ingin aku hadiahkan untuk istriku nanti", jawabnya yakin. Tatapan mata Erik begitu dalam menatap Ajeng membuat Ajeng salah tingkah.


'Perasaan apa ini?', batin Ajeng, menyadari ada yang tak beres dengan hatinya. Terlebih saat dia mendengar jawaban Erik barusan.


Wajah Ajeng spontan merona. Erik tersenyum melihat air muka wanita di depannya itu. Dia kembali menjalankan mobilnya, tak ingin membuat Ajeng semakin serba salah.


Sepuluh menit kemudian, Erik dan Ajeng sudah tiba di kantor.


"Ayo kita turun", ajak Erik.


Ajeng hanya mengangguk dan bergegas turun.


"Terimakasih untuk tumpangannya", kata Ajeng sebelum dia berlalu dari hadapan Erik.


"Tunggu", suara Erik menahan langkah kaki Ajeng.


"Ada apa?".


"Ucapan terimakasih saja tidak cukup. Aku ingin kita makan siang bersama, dan ku mohon, jangan ada penolakan", ucap Erik.


Ajeng hanya tersenyum tipis dan mengangguk, meninggalkan Erik yang masih menatap kepergiannya.

__ADS_1


"Kamu benar-benar menggemaskan", gumam Erik. Kakinya melangkah menuju ruang kerjanya, melupakan sejenak kebersamaan singkatnya tadi dengan Ajeng.


__ADS_2