
"Apakah Cinta pertama sehebat itu?."
Kirana memandang Cakra, mereka berada di pantai memandangi laut yang membentang dihadapan mereka.
Angin yang harusnya membuat tubuh dingin pun tidak menembus kulit mereka.
Cakra yang masih merasa marah dan Kirana yang masih merasa sedih.
Pernikahan mereka selama belasan tahun kandas karena wanita yang disebut Cinta pertama.
Apakah cinta pertama sehebat itu?
"Kupikir tidak." Ucap Kirana, "Karena hanya ada Cinta Pertama bukan Cinta pertama dan selamanya."
"Dia tidak sehebat itu." Lanjut Kirana.
"Lalu kenapa papaku lebih memilih dia?." Tanya Cakra masih tak percaya, ia tau Papa dan Mamanya akhir-akhir ini sering bertengkar.
Dulu mereka sering bertengkar karena pekerjaan namun sekarang karena ada orang ketiga.
Yang lebih Cakra benci adalah Mamanya yang tak mau berpisah.
"Saat ini mungkin terlihat seperti Papa kamu membuang Mama kamu tapi sebenarnya kebalikannya. Mama kamu yang bahkan ku lihat sebagai seorang istri yang sempurna sejak awal mungkin dia tidak pantas untuk Papa kamu. Dia terlalu luar biasa hingga Papa kamu merasa tertekan karena cahayanya." Ucap Kirana dengan sedikit tawa.
Kirana menepuk pundak Cakra, "Mama kamu sudah memutuskan ingin keliling dunia, dia juga ingin melanjutkan karya nya. Aku juga sudah mengatakan bahwa kau akan ke asrama dan menjadi seorang Gamers, mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu."
Cakra mengangguk dan memeluk Kirana, "Terima kasih Kak Kirana."
"Tapi ini pasti bukan terakhir kalinya." Tambah Cakra dengan senyum lebar.
"Aaaah setelah kau kehilangan aku, kau mendapatkan 4 orang murid lain. Aku sedikit khawatir jika kau nanti nya melupakanku."
Kirana hanya tersenyum, mereka menyaksikan Matahari tenggelam.
Begitu indah hingga mereka tak dapat memalingkan wajah mereka.
..._&_&_...
Kirana membulatkan matanya dan segera turun, ia tak mengira setelah pesan singkat itu Altezza akan datang kerumahnya.
"Al apa yang kau lakukan disini?." Tanya Kirana.
"Menjemputmu."
Kaca mobil kemudian terbuka menampakkan dua sosok imut yang sedang melambai kearahnya.
"Mereka ingin bermain denganmu, jadi aku menjemputmu." Ucap Altezza.
Kirana menatapnya tajam, "Bukankah besok kalian akan sekolah?."
"Liam akan masuk siang dan Melodi dia akan pergi ke luar kota besok."
"Tiba-tiba?." Tanya Kirana.
Altezza mengangguk, "Itu sebabnya dia ingin mengajakmu bermain sebelum pergi."
__ADS_1
"Baiklah, kalian tunggu aku sebentar."
_&_&_
Mereka bermain dengan puas hingga
Kirana kelelahan.
Kirana menatap Altezza yang juga tampak bersenang-senang, pendapatnya tentang Altezza kini berubah.
Ia pikir Altezza tidak lagi tampak menyeramkan tapi menyenangkan.
Wajah dingin yang selalu ia tampilkan kini semakin berkurang.
Biasanya dia akan menatap Melodi dengan kesal dan dingin, namun ia tampak akrab dengannya.
Semakin lama mengenal Altezza, Kirana pikir ada banyak hal menarik tentangnya.
Altezza menghampirinya ia memegang sebuah balon, diujung balon itu terdapat sebuah kotak.
Kirana mengernyitkan alisnya dan tiba-tiba Altezza berlutut didepannya, "Will You marry me?."
Kemudian petasan muncul di langit dengan tulisan 'Marry me Kirana'.
Kirana terdiam sejenak, ia tidak tau ingin mengatakan apa.
Semua orang bertepuk tangan dan berseru 'Terima' kecuali Liam.
"JANGAN TERIMA!."
Setelah beberapa menit Kirana diam ia kemudian mengambil cincin dari Altezza lalu menutup nya.
Ia mengangkat tubuh Altezza untuk berdiri kembali lalu memeluknya, "Maafkan aku."
Senyum diwajah Altezza luntur ia melepaskan pelukan Kirana dan menatap matanya.
Seumur hidupnya Altezza tak pernah ditolak dan kini dihadapan semua orang dia ditolak.
Dia ditolak oleh Kirana wanita yang biasa-biasa aja, hanya kemiripannya dengan Izumi saja makanya Kirana mendekatinya.
Namun dia menolaknya?
Kirana mencium pipi Altezza dan berbalik pergi dengan berpura-pura malu.
Semua orang bertepuk tangan mengira Kirana menerimanya.
Setelah beberapa saat semua orang membubarkan diri hingga tertinggal Liam dan Melodi, "Ciee yang-"
"Diam." Bentak Altezza menatap tajam Melodi ia kemudian menatap Keenan, "Bawa mereka pulang dan panggil supir."
Keenan mengangguk dan menyadari bahwa Kirana menolaknya.
Namun ia pikir itu bukan penolakan yang memalukan dihadapan semua orang.
....
__ADS_1
Kirana duduk menjauh dari orang-orang, ia merasa bersalah menolak Altezza namun ia juga tidak bisa menerimanya.
Pernikahan bukan hal kecil, ketika kata terima diucapkan maka itu akan menjadi permasalahan seumur hidup.
Kirana belum tau banyak tenang Altezza, peringatan Mamanya juga menjadi pertimbangan bagi Kirana dan terakhir setelah melihat hancurnya pernikahan orang lain Kirana merasa takut untuk menikah.
"Kau disini."
Kirana mengangkat wajahnya menatap mata Altezza yang tampak dingin terhadapnya.
Ia ingin berlari dari Altezza namun Altezza sudah menahan tangannya, "Kenapa menolak ku?."
"Maafkan aku." Kirana berucap tanpa melihat wajah Altezza.
"KENAPA?." teriak Altezza membuat Kirana terkejut.
"Kirana, apa selama ini kau tidak pernah menyukaiku?." Ucap Altezza dengan suara yang melembut
Kirana menggeleng sebagai jawaban lalu memeluk Altezza, "Aku sangat menyukaimu."
"Aku sangat-sangat menyukaimu hingga aku takut."
Altezza memeluk Kirana erat, "Kenapa harus takut? Aku akan menjagamu."
Kirana melepaskan pelukannya , "Aku takut kehilanganmu."
"Altezza kau satu-satunya pria yang aku sukai dalam waktu lama. Aku menyukaimu, sangat sangat menyukaimu tapi pernikahan bukan hal yang sederhana. Aku ingin kehidupan pernikahan yang bertahan selamanya." Ucap Kirana sambil memegang tangan Altezza dan menatap matanya dalam, "Aku belum banyak tahu tentang dirimu, aku juga tau aku belum pantas untukmu."
"Lalu maukah kau menungguku?." Tanya Kirana.
..._&_&_...
"Argh..." Altezza memecahkan vas didekatnya, ia menarik rambut nya frustasi.
"Keenan, kau percaya aku ditolak? Seribukalipun aku tidak percaya bahwa aku ditolak." Ucap Altezza.
"Dia bilang dia tidak pantas untuk diriku, dia menyadari hak itu namun dia tetap menolak ku." Altezza berucap dengan nada tak percaya.
Keenan menghela nafas pelan dan hanya melihat Altezza dengan datar, "Al setidaknya dia bilang dia menyukaimu juga kan?."
Altezza mengangguk, "Tapi bukankah itu aneh? Dia menyukaiku namun menolak ku, kenapa? Kenapa harus wanita itu yang mirip dengan Izumi?."
"Izumi bahkan tidak akan menolak ku jika bukan ka-" Altezza menghentikan ucapannya, lalu duduk di kursi dengan kasar.
Ia terdiam, berpikir akan sesuatu. Dirinya tidak bisa dengan mudah melepaskan buruan didepan matanya
"Karena dia bahkan tidak menerima setelah cara halus itu maka satu-satu nya adalah membuat dia berlutut memohon agar dia menikahi ku." Ucap Altezza pelan.
"Keenan." Panggil Altezza dengan mata penuh rencana.
"Hancurkan bisnis orang tuanya hingga ia tidak memiliki jalan untuk kembali kecuali menikahi ku dan juga-"
"Keluarganya, sepupunya atau yang mungkin akan membantunya. Hancurkan mereka juga."
"Tapi ini-" Keenan menelan saliva nya, apa Altezza akan sekejam ini pada Kirana yang telah bersamanya.
__ADS_1
"Altezza, kau ingin menghancurkan wanita baik itu?."