
Erlangga dan Kinara sudah duduk saling berhadapan di meja makan. Tak ada suara di antara mereka, hanya keramaian sendok, garpu dan piring saja yang saling beradu.
Sungguh, Kinara merasa tak nyaman dengan situasi seperti ini. Erlangga yang biasanya nampak bersikap manis padanya, kini memilih untuk diam dan tak menatapnya sedikitpun.
"Mmm...mas, a...aku...", Kinara mencoba memberanikan diri membuka suara. Tapi suaminya tak merespon apapun.
'Aduh, bagaimana ya aku memulai bicaranya?', Kinara sibuk menenangkan dirinya sendiri.
Erlangga sudah menghabiskan makanannya, dia segera berdiri, meninggalkan Kinara yang semakin merasa bersalah di meja makan.
Sepuluh menit kemudian, Kinara sudah selesai makan, merapikan meja makan dan mencuci piring kotor yang ada di washtafel. Ia ragu untuk kembali ke kamar, tapi dia juga tak nyaman jika harus saling berdiam diri dengan suaminya.
'Rumit sekali ternyata menikah itu. Sudah seperti perang dingin saja, huuffttt', ia menghela nafas berat.
Setelah membulatkan tekad, Kinara akhirnya memutuskan untuk menemui suaminya. Ia tak peduli akan direspon seperti apa, yang pasti dia harus meminta maaf.
"Ok, keep calm Kinara. Tahan emosinya, jangan sampai nangis, dan bicara dengan tenang", gumamnya sebelum membuka pintu kamar. Berkali-kali dia menarik nafas, sungguh menegangkan rasanya. Baru kali ini dia melihat sikap Erlangga sedingin itu kepadanya.
Perlahan pintu kamar itu dibuka, terlihat suaminya yang nampak sibuk menatap layar laptop di atas tempat tidur.
'Hmm...nampaknya dia sibuk', pikir Kinara hendak kembali menutup pintu kamar dan keluar.
"Jika ada yang mau kamu sampaikan, bicaralah cepat!", tetiba saja Erlangga bersuara. Kinara agak terkejut dibuatnya, ia kira suaminya tak menyadari kehadirannya di pintu itu.
Merasa mendapat lampu hijau, Kinara segera menghampiri suaminya yang masih fokus dengan laptopnya.
"Mas...aku...aku mau minta maaf soal...itu...", Kinara ragu melanjutkan ucapannya. Erlangga tak bergeming.
"Aku...aku minta maaf mas soal kejadian tadi sore. Aku tak bermaksud bersikap seperti itu, dan...dan aku...bukannya aku menolak, hanya saja...aku...", berbelit-belit sekali penjelasannya.
Erlangga mengalihkan pandangannya, menatap wajah istrinya yang nampak nervous dan serba salah.
"Tak apa. Aku mengerti. Mungkin memang kamu belum siap, aku tak akan memaksa sampai kamu benar-benar siap", suaranya terdengar tegas.
Kinara memberanikan diri menatap dalam mata suaminya, "Maaf mas...ini bukan hal mudah untukku. Aku...aku...hanya tak ingin mengecewakan orang lain jika sampai kita melakukannya. Itu artinya aku sudah sepenuhnya menjadi istrimu".
Erlangga mengernyitkan dahinya, "Mengecewakan orang lain? apa maksudmu?", tatapan matanya berubah tajam.
Kinara menelan salivanya, dia berusah keras menenangkan dirinya yang semakin gugup.
"Katakan, apa maksudmu? bukankah seharusnya aku yang kecewa karena kamu sudah menolakku berkali-kali?", intonasi suara Erlangga mulai meninggi.
__ADS_1
Spontan, air mata menggenang di pelupuk mata Kinara. Baru kali ini dia merasa dibentak oleh suaminya. Tapi dia berusaha menahan tangisan itu.
"Hari ini Viona datang ke sini, mas. Dia meminta hal yang sama padaku. Hal yang juga dia minta setelah aku menemuimu di Surabaya", akhirnya Kinara mencoba untuk jujur.
Mendengar nama Viona, dahi Erlangga semakin mengernyit.
"Viona? apa yang dia katakan padamu?", selidiknya.
Lagi, Kinara menelan salivanya, "Viona...dia...dia memintaku untuk memberinya kesempatan kembali padamu, mas", air mata itu pun mengalir. Kinara sudah tak bisa menahannya lagi, ucapan Viona terngiang-ngiang di telinganya.
Erlangga mendekatkan tubuhnya pada Kinara, dia menarik lembut tubuh istrinya, lalu mendekapnya dengan erat.
"Jadi karena itu kamu menolakku, hm?", Erlangga mengecup pucuk kepala istrinya. Kinara sesegukan menangis. Dia hanya menjawab pertanyaan suaminya dengan anggukan.
"Maaf jika akhirnya masa laluku mengganggumu, bahkan mengganggu hubungan kita. Percayalah, di hatiku untuk saat ini dan selamanya hanya ada kamu. Viona hanya masa laluku, sedangkan kamu adalah hidup dan masa depanku", ucapan Erlangga bagai aliran air yang memberikan kesejukan di hati Kinara yang sedang gundah.
"Tapi mas...Viona memintamu untuk Alya".
"Dengar, Alya memang anakku dengannya, tapi tak berarti aku harus kembali dengan Viona hanya untuk memberikan cinta kasihku kepada Alya. Aku mencintaimu, sungguh. Jangan dengarkan lagi perkataan Viona, dan jangan pernah menemuinya lagi, ya", Erlangga menatap dalam mata Kinara.
"Tapi mas...", belum selesai ucapannya, Erlangga sudah menutup bibir Kinara dengan ciuman yang dalam dan hangat.
"Ayo kita sholat bersama, setelah itu kita istirahat. Pikiranmu pasti lelah sepanjang hari ini", Erlangga menunjukkan senyum manisnya. Kinara mengangguk. Mereka pun mengambil wudhu dan sholat bersama di kamar itu.
.
"Sudah, bu", jawabnya pendek.
Bu Asri menarik nafas dalam, berat rasanya membayangkan kembali kepergian Farhan ke Jerman.
"Ibu kenapa? ada masalah?", tanya Farhan melihat air muka ibunya yang berubah.
Bu Asri menggelengkan kepala dan tersenyum tipis.
"Ndak nak. Ibu baik-baik saja. Ibu hanya khawatir dengan keberangkatanmu lusa. Ibu pasti kesepian lagi di sini", jawabnya sendu.
Farhan paham bagaimana perasaan ibunya. Setelah kepergian ayahnya, memang hanya dia lah yang membersamai ibunya di rumah ini. Dulu, saat Farhan mengutarakan keinginannya untuk melanjutkan kuliah di Jerman, ekspresi seperti ini pun dia lihat.
"Bu, maafkan Farhan ya. Farhan terpaksa harus meninggalkan ibu lagi. Farhan janji, secepatnya Farhan akan menyelesaikan studi Farhan di sana dan kembali lagi ke sini", Farhan membungkukkan badannya, mencium kedua tangan ibu kesayangannya itu.
Bu Asri tersenyum, "Iya nak, tak apa. Ibu mengerti keadaan dan pilihanmu. Belajarlah dengan baik di sana, ya", pesan Bu Asri yang dibalas dengan anggukan pasti Farhan.
__ADS_1
Setelah makan malam usai, Farhan kembali ke kamarnya. Memastikan semua barang-barangnya siap dan memastikan semua urusan kantor tertangani dengan baik.
"Hallo, Rik...".
"Ya Han, kenapa?".
"List kerjaan yang belum gue selesaikan udah gue kirim by email ya. Lo cek dan nanti selesaikan", perintah Farhan.
"Ok boss. Ada lagi?", tanya Erik.
"Mmm...gak ada. Thanks ya Rik".
"Yes, Pak Boss".
Selepas menghubungi Erik, ingatan Farhan terpaut pada Kinara. Pesan Ajeng agar ia mengabari Kinara tentang keberangkatannya ke Jerman mendadak mengusik hatinya.
"Haruskah aku mengabarinya?", Farhan gundah.
.
Kinara dan Erlangga sudah bersiap untuk tidur.
"Kemarilah", ucap Erlangga sambil menepuk dadanya yang bidang.
Kinara segera menghampiri suaminya, meletakkan kepalanya di sana dan melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Erlangga.
Erlangga tersenyum, dia mengusap dan mengecup pucuk kepala istrinya.
"Sayang...kita sudah menikah cukup lama, hampir satu tahun. Sampai kapan aku harus menunggu kamu siap?", pertanyaan Erlangga yang tiba-tiba itu membuat Kinara sedikit terhenyak.
"Apa mas begitu menginginkannya?", tanya Kinara ragu. Dia paham maksud pertanyaan Erlangga hingga membuatnya tak berani menatap wajah suaminya itu.
Erlangga tertawa kecil, "Pertanyaan macam apa itu? tentu saja aku menginginkannya. Aku ini suamimu dan aku lelaki dewasa yang normal. Bagaimana bisa kamu bertanya seperti itu, hm?", Erlangga mengangkat dagu Kinara. Wajah Kinara merona.
"Ya...ta...tapi mas...".
"Tapi apalagi? apa yang kamu takutkan dariku? jika kamu masih takut karena Viona, itu sudah kita bahas tadi. Sekarang, alasan apalagi yang mau kamu berikan istriku sayang?", Erlangga mendekatkan wajahnya. Kinara bisa merasakan hembusan nafas hangat menerpa wajahnya yang semakin memerah.
"A.. aku...aku...takut mas. Aku...aku tidak tahu harus memulai dari mana?", jawabnya polos.
Jawaban itu membuat Erlangga hampir tertawa lepas, namun dia menahannya. Dia mengerti, hal seperti itu tentu adalah yang pertama kalinya bagi Kinara. Dia paham rasa takut dan kebingungan yang dirasakan oleh istrinya kesayangannya itu.
__ADS_1
"Hmm...sayang, kamu tak perlu takut. Aku sudah berjanji untuk melakukannya perlahan-lahan, dan kamu tak harus bingung memulai dari mana, biar itu menjadi tugasku. Tugasmu menikmatinya saja, ya", goda Erlangga yang sudah mulai ******* bibir istrinya yang selalu terlihat menggoda baginya.