
"Huuffttt...lelah sekali hari ini", gumam Kinara saat ia merebahkan dirinya di tempat tidur.
Seharian ini dia memang disibukkan dengan berbagai perlombaan peringatan hari ayah di sekolah. Kinara senang seluruh rangkaian acara berjalan sesuai rencana. Tapi dipikirannya masih terlintas wajah sendu Alya yang sempat menangis karena ayahnya tak datang.
"Kasihan sekali kamu, nak. Ayahmu keterlaluan, tak pernah mengunjungimu, padahal kamu anak yang manis", gumam Kinara lagi.
Ia memalingkan wajahnya, melihat HP yang sedari pagi tak ditengoknya. Wajah lelahnya berubah sumringah saat ia membaca pesan dari suaminya, Erlangga.
Me:
Maaf mas, pesanmu baru aku baca. Aku baru sampai di rumah. Aku tunggu VC-mu nanti ya, aku mandi dulu 😘
Kinara tersenyum sendiri dengan pesan yang dikirimnya. Semenjak suaminya pergi dinas, Kinara merasa genit sekali tiap kali dia merespon pesan maupun telepon dari Erlangga.
'Aaahh...nikah tuh gini ternyata rasanya', Kinara memasang wajah gemas membayangkan dirinya dan Erlangga.
'Aku sudah gila sepertinya', batinnya sendiri sambil berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Jam 20.15 WIB
Erlangga mulai menghubungi istrinya. Dia begitu rindu dengan semua hal yang ada pada diri istrinya yang nun jauh di sana.
"Hai sayang", sapa Erlangga sesaat setelah Kinara menerima VC-nya.
Kinara tersenyum manis, "Hai juga...sayang", jawabnya malu-malu.
"Perasaan kita menikah udah lumayan lama, tapi kamu masih malu-malu begitu. Coba diulang, tadi panggil aku apa?", goda Erlangga. Dia memang paling senang membuat istrinya serba salah.
Kinara mengigit bibir bawahnya, "Mmm...hai juga, sayang", jawabnya lancar meskipun malu.
"Nah gitu dong. Kamu lagi apa? udah makan?", tanya Erlangga.
Kinara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Mas sendiri udah makan belum?", tanya Kinara balik.
"Udah dong, makanya semangat begini", jawab Erlangga sambil mengepalkan tangannya.
"Syukurlah kalau mas udah makan. Jaga asupan nutrisinya ya mas, jangan terlalu capek juga, nanti kalau sakit gak ada yang urus lho", ujar Kinara.
Erlangga tersenyum mendengar ucapan istri kesayangannya itu.
"Iya, kamu juga ya. Oh ya, kapan kamu libur sekolah? kalau ada libur, kamu ke sini ya sayang", pinta Erlangga.
Kinara nampak terdiam sejenak, "Mmm...kalau gak salah sih dua bulan lagi libur sekolah, mas. Lumayan lho dua minggu, aku usahakan ke Surabaya ya", janji Kinara.
__ADS_1
"Yaaahhh masih lama dong. Tapi tak apa, mas tunggu kamu di sini", kata Erlangga.
Kinara tersenyum, membuat Erlangga terus menggodanya sepanjang malam itu hingga Kinara meminta izin untuk beristirahat kepada suaminya.
**
"Pak, hari ini bapak ada jadwal meeting dengan Pak Burhan di Hotel Mentari", Soni, asisten pribadi Erlangga mengingatkan jadwal tuannya.
"Ok, ada lagi?", tanya Erlangga.
Soni melihat kembali buku agenda yang dipegangnya.
"Tidak ada, pak", jawab Soni cepat.
Erlangga menganggukan kepalanya. Ia kemudian meminta Soni untuk meminta Tari, sekretarisnya menyiapkan semua berkas yang harus dibawanya ketika meeting nanti.
Jam 4 sore di Hotel Mentari
Pak Burhan dan Erlangga sudah nampak berbincang serius membahas kembali kerja sama mereka. Ada beberapa kesepakatan baru yang mereka buat.
"Wah, saya kagum sekali dengan Anda, Pak Erlangga. Ide-ide Anda begitu cemerlang", puji Pak Burhan tulus setelah Erlangga membahas ide bisnis mereka.
"Bapak bisa saja. Saya masih harus banyak belajar dari pengusaha besar seperti Anda, pak", Erlangga balik memuji Pak Burhan. Membuat Pak Burhan tertawa lepas.
"Oh iya, saya hampir lupa memperkenalkan sekretaris saya. Ini Viona", Pak Burhan menunjuk Viona yang dijawab dengan anggukan kepala olehnya kepada Erlangga.
Erlangga membalas anggukan itu, dia berusaha profesional dalam urusan pekerjaan meskipun sebetulnya dia sudah mengenal Viona.
"Pak Erlangga ini masih sangat muda, apa Anda sudah menikah?", tanya Pak Burhan tiba-tiba, keluar dari konteks pembahasan bisnis mereka.
"Oh, ya pak, saya sudah menikah. Hanya saja saat ini istri saya tak ikut saya ke sini", jawab Erlangga lugas.
"Hooo begitu. Sudah punya anak?", tanya Pak Burhan lagi.
Erlangga tersenyum, "Sedang berproses, pak", jawabnya enteng.
Pak Burhan mengangguk-anggukan kepalanya, sedangkan Viona merasa sedikit kecewa dengan jawaban Erlangga.
'Dia anggap apa anakku Alya?', batin Viona, namun ia tak mungkin mengatakannya di sini.
"Pak Erlangga ini sudah hampir sempurna. Muda, tampan, sukses dan sudah menikah. Pak Wijaya pasti begitu bangga dengan Anda. Saya do'akan semoga Pak Erlangga dan istri segera dikaruniai momongan ya", ucap Pak Burhan.
"Aamiin...terimakasih banyak pak", jawab Erlangga senang.
Waktu terus berjalan, tak terasa meeting antara Erlangga dengan Pak Burhan pun usai. Pak Burhan pamit terlebih dahulu. Viona mengantarkan kepergian bosnya itu hingga ke lobi hotel.
__ADS_1
Erlangga pun sudah bersiap kembali ke kantornya. Tapi seseorang menahan langkahnya.
"Maaf, apa saya bisa meminta waktu Anda sebentar?", Viona sudah berdiri di balik pintu saat Erlangga hendak keluar dari private room yang tadi dipakainya untuk meeting dengan Pak Burhan.
Erlangga mengernyitkan dahinya, "Apa masih ada urusan bisnis yang belum selesai?", tanya Erlangga balik.
Viona menatap wajah Erlangga, "Tidak pak, ada hal lain yang ingin saya sampaikan. Bisakah bapak meluangkan waktu bapak sebentar?", Viona mengulang pertanyaannya dengan nada bicara yang masih begitu formal.
Erlangga memberikan kode kepada Soni agar meninggalkan mereka berdua. Soni menganggukan kepalanya dan pergi meninggalkan Erlangga dengan Viona.
"Ada apa?", suara Erlangga terdengar datar.
"Bisakah kita bicara di dalam, mas?", Viona menatap Erlangga.
Mereka pun kembali ke dalam private room dan berbincang berdua.
Erlangga tak bersuara, dia memilih duduk diam menunggu Viona bicara.
"Mas, maaf aku sudah menyita waktumu. Jujur saja, pertama kali kita bertemu beberapa hari yang lalu itu, aku terkejut. Tak menyangka sekarang kamu menjadi seorang direktur utama di perusahaan Wijaya Group", Viona mulai membuka suara. Erlangga masih terdiam dengan ekspresi datar dan dingin.
"Aku tidak tahu jika Wijaya Group itu adalah perusahaan milik keluargamu, dan aku juga tidak tahu jika bosku bekerja sama denganmu. Tapi ya apapun itu, aku merasa senang bisa bertemu lagi denganmu, mas", lanjut Viona.
Erlangga melirikan mata tajamnya, "Kamu meminta waktuku hanya untuk mengatakan semua hal tak penting itu?".
Viona menelan salivanya. Ternyata sikap dingin Erlangga masih belum berubah. Berbeda sekali pembawaannya saat bersama Pak Burhan dengan apa yang dilihat Viona sekarang.
"Maaf mas, aku sudah membuang waktumu. Aku...aku hanya berpikir...mmm...semenjak pertemuan pertama dan terakhir kali kita kemarin, waktu ada Alya. Setelah pertemuan itu aku terus memikirkanmu, mas. Tidakkah kamu ingin membuat kebahagiaan Alya sempurna?", tanya Viona dengan tatapan mata yang dalam, membuat Erlangga sedikit merasa tak nyaman.
"Maksudmu apa?", Erlangga membetulkan posisi duduknya.
Viona menarik nafas dalam, ditatapnya lagi wajah mantan suaminya itu.
"Mas, aku membesarkan Alya seorang diri, itu rasanya berat sekali. Terlebih ketika dia terus bertumbuh hingga usianya sekarang. Kamu tidak pernah tahu mas, bagaimana anak kita, Alya melalui masa-masa yang berat. Bertahun-tahun aku harus berbohong padanya. Setiap kali dia menanyakan ayahnya siapa, ada di mana, kenapa tidak pernah pulang atau datang berkunjung, aku selalu mencari-cari alasan", mata Viona mulai berkaca-kaca.
Erlangga menarik nafas berat, ada rasa sesak dan rasa bersalah yang dalam di hatinya.
"Aku berjuang dan bertahan hidup demi Alya. Aku selalu berusaha menjadi ibu sekaligus ayah baginya. Aku senang sekali melihat ekspresinya kemarin saat dia akhirnya tahu bahwa kamu lah ayahnya. Aku...aku ingin Alya selamanya bisa merasakan kebahagiaan itu mas. Aku ingin kamu selalu ada untuknya", kini air mata Viona berderai.
Erlangga melirik ke arah Viona yang mulai sesegukan menahan tangis. Ia sebetulnya tak tega melihat keadaan Viona seperti itu. Terlebih dia sadar bahwa perceraiannya dulu dengan Viona terjadi karena kesalahannya.
"Aku mohon jangan menangis", hanya itu kalimat yang bisa Erlangga ucapkan saat ini.
Viona menghapus air matanya, "Mas, aku tahu sekarang kamu sudah menikah dengan Kinara. Aku tahu dia wanita yang baik, bahkan mungkin lebih baik segalanya dariku. Tapi, tidak bisakah kita kembali seperti dulu, mas? kita memulai hidup kita lagi bersama dengan Alya".
Erlangga terkejut dengan ucapan Viona. Dia tak menyangka Viona akan berbicara seperti itu kepadanya.
__ADS_1