
'Aku bosan sekali di sini', batin Kinara. Matanya melihat seisi apartemen yang kini ia tempati bersama suaminya.
Setelah suaminya berangkat, Kinara mandi dan membereskan seisi apartemen itu. Selebihnya, waktu ia habiskan dengan memencet-mencet remote TV, memindahkan channel tanpa tahu akan menonton apa.
Diliriknya HP di atas meja, tak ada panggilan sama sekali.
Huuffftt...
Kinara menghembuskan nafas berat lewat mulutnya.
Ddrrtt...ddrtt...drrtt
Ponselnya bergetar
"Hallo...", jawab Kinara tanpa melihat nama pemanggilnya.
"Hai sayang, lagi apa?", suara Erlangga membuat senyum Kinara terbit.
"Mas....aku bosan di sini. Bolehkah aku jalan-jalan?", tanyanya tanpa basa-basi.
Di ujung telepon, Erlangga tersenyum.
"Memangnya kamu mau jalan-jalan kemana, sayang?", Erlangga balik bertanya.
Kinara terdiam sejenak, memikirkan tujuan jalan-jalannya.
"Mmm...ya kemana gitu mas, aku gak tahu", jawabnya polos.
Terdengar suara tawa Erlangga yang terkekeh mendengar jawaban polos istrinya.
"Ih, mas, kok malah tertawa sih. Ada yang lucu?", Kinara protes.
"Maaf, maaf. Kamu memang lucu, bilang bosan dan mau jalan-jalan tapi gak tahu tujuannya kemana. Memangnya kamu mau cuma berputar-putar di tengah kota dan ujungnya nyasar?", Erlangga masih juga tertawa kecil.
Kinara mengerucutkan bibirnya, kesal.
"Terus gimana dong mas. Aku udah beres ngerjain semua urusan di sini. Apartemen juga udah rapi. Nonton TV, aku bosan, mas", rengeknya lagi.
"Ya udah gini aja. Sebentar lagi jam makan siang kan. Nanti aku jemput ya, kita makan siang di luar sekalian jalan-jalan", jawab Erlangga.
Mata Kinara berbinar bahagia.
"Ok mas, aku siap-siap dulu ya", jawabnya cepat.
__ADS_1
Erlangga meng-iya-kan dan telepon mereka pun berakhir.
Tok...tok...tok
"Ya, masuk", Erlangga baru saja mematikan panggilannya saat pintu ruang kerjanya diketuk seseorang.
"Selamat siang, mas...", suara perempuan yang tak asing di telinga Erlangga memaksanya memutar tubuhnya, melihat ke arah pemilik suara itu.
"Viona, ada apa kamu ke sini?", tanya Erlangga, seolah tak suka dengan kehadiran Viona yang tiba-tiba.
Viona tersenyum, dia berjalan dan duduk begitu saja di sofa yang ada di ruangan itu.
"Aku datang untuk minta maaf mas atas kejadian waktu itu. Maaf, aku sudah membuat istrimu salah paham".
Erlangga duduk di kursi kebesarannya.
"Tak apa. Tak perlu kau datang untuk membahas hal itu. Lagi pula istriku sudah menerima semua penjelasanku soal kejadian waktu itu", Erlangga menjawab tanpa menatap Viona. Matanya lebih fokus kepada berkas yang ada di atas meja.
Viona menarik nafas dalam.
"Mas, apakah kamu benar-benar sudah melupakan semua cinta kita? apakah kamu benar-benar sudah menganggap aku tak pernah ada di hidupmu?", suara Viona terdengar bergetar.
Erlangga menutup berkas yang tengah dibacanya dan melirik ke arah Viona yang nampak tertunduk.
"Aku tak ingin membahas soal itu lagi, please. Aku tahu aku sudah melakukan kesalahan dimasa lalu kepadamu dan kepada anak kita, Alya. Tapi aku sudah minta maaf soal itu. Sekarang aku sudah punya kehidupan yang baru dengan istriku, tidak bisakah kau mengerti itu?".
"Iya mas, aku tahu kamu sudah punya kehidupan yang baru. Aku tahu kamu sangat mencintai istrimu. Tapi mas, kamu juga harus tahu, sampai detik ini aku pun masih mencintaimu. Aku hanya ingin kamu memberiku kesempatan lagi untuk kita bisa bersama seperti dulu, bahkan lebih bahagia dengan adanya Alya, mas. Aku rela mas jika harus jadi istri keduamu, tak apa, aku mau", sesegukan Viona mengungkapkan isi hatinya.
Erlangga tak nyaman dengan keadaan ini. Dia tak memungkiri jika Viona adalah cinta pertamanya. Cinta yang sangat ia syukuri kehadirannya, tapi kini keadaan sudah berbeda, hati Erlangga sepenuhnya dimiliki oleh Kinara meskipun ia belum tahu pasti bagaimana isi hati Kinara kepadanya. Satu hal yang Erlangga tahu, ia mencintai istrinya itu.
"Vi, please, jangan bahas soal itu lagi. Aku tidak mungkin mengkhianati istriku dengan kembali kepadamu. Permintaanmu itu sungguh tak masuk akal!", suara Erlangga meninggi, membuat bulir bening di mata Viona semakin deras mengalir.
"Aku akan menemui istrimu, mas. Aku akan ceritakan semuanya. Jika perlu, aku pun akan bersujud kepadanya untuk mengizinkanmu kembali kepadaku atau mengizinkan aku menjadi istri keduamu", ucap Viona tegas.
Erlangga membelalakan kedua matanya. Ia sungguh tak suka dengan ucapan Viona.
"Apa kau mengancamku, hah? jangan berpikir untuk melakukan hal bodoh itu hanya karena keegoisanmu sendiri. Aku akan menyayangi Alya, tapi tidak dengan cara seperti itu", Erlangga berdiri dari tempat duduknya dan menggebrak meja kerjanya dengan keras.
Viona terkejut dengan sikap Erlangga.
"Aku tidak mengancammu dan aku tidak egois. Kamu harus ingat mas, perceraian kita dulu terjadi justru karena keegoisanmu yang tak mau sedikit pun memberikan kesempatan kepadaku untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Aku sekarang datang kepadamu, bahkan aku mengemis-ngemis cintamu, tapi beginikah perlakuanmu padaku? aku hanya ingin Alya bahagia, itu saja", Viona memberikan penekanan pada kalimat terakhirnya sebelum ia keluar dari ruangan Erlangga.
Aaaaarrggghhh...
__ADS_1
Erlangga berteriak dan menarik kasar dasinya. Ia kesal dengan perbincangannya barusan.
Dddrtt...ddrrtt...ddrttt
Ponsel Erlangga bergetar.
"Ya hallo..."
"Mas, aku udah siap nih. Kamu udah sampai mana? katanya mau jemput aku"
"Oh iya, maaf sayang, aku hampir lupa karena tadi aku memeriksa beberapa berkas dulu. Tunggu lima belas menit lagi ya, aku akan sampai"
"Ok mas, aku tunggu. Hati-hati ya"
Erlangga segera mengambil kunci mobilnya. Kini dia berusaha meredam semua amarahnya.
"Tari, tolong sampaikan kepada Soni, handle semua pekerjaan saya hari ini. Saya mau keluar dan tidak akan kembali lagi ke kantor, ya", pesan Erlangga pada sekretarisnya sebelum ia berlalu.
"Baik, pak", jawab Tari cepat.
Erlangga melajukan mobilnya dengan cepat. Ucapan Viona masih terngiang-ngiang di telinganya. Berkali-kali dia memukul stir, kesal.
'Memang semua salahku. Andai dulu aku tak seegois itu, mungkin aku masih bersama dengan Viona dan Alya', batinnya berkecamuk.
Ia menyadari ketulusan cinta Viona, bahkan berkali-kali Viona mengatakan jika dirinya masih menjaga cinta Erlangga sampai saat ini. Tapi kehadiran Kinara di hidupnya sudah mengubah segalanya. Erlangga berusaha menjadi pribadi dan suami yang lebih baik untuk Kinara. Dia tak ingin masa lalunya terulang kembali.
Tok...tok...tok
"Ya sebentar", Kinara bergegas membukakan pintu. Dilihatnya Erlangga sudah berdiri di sana dengan seulas senyum yang manis di bibirnya.
"Hai sayang, ayo kita berangkat", ajaknya pada Kinara.
Kinara membalas senyuman suaminya, mengunci pintu apartemen dan pergi.
"Kamu cantik sekali sayang", Erlangga melirik istrinya yang kini mengenakan dress berwarna hijau mint dengan belt kecil berwarna hitam yang melingkar manis di pinggangnya.
"Terimakasih pujiannya, mas", jawab Kinara malu-malu.
Erlangga sangat suka dengan ekspresi istrinya itu.
'Wajahnya pasti merona', batin Erlangga sambil tersenyum tipis.
"Sini tanganmu", Erlangga menghentikan langkahnya dan menekukan tangan kanannya, meminta Kinara untuk menggandeng tangannya itu.
__ADS_1
Kinara tersenyum. Meski ia ragu, ia akhirnya menggandeng tangan suaminya.
"Nah kalau seperti ini kita lebih dekat dan romantis", bisik Erlangga membuat semburat merah di pipi Kinara semakin kentara.