
Selepas sholat subuh, Kinara sudah sibuk berkutat di dapur. Dibukanya kulkas, tak terlalu banyak bahan makanan yang bisa ia masak.
Deg...
Jantung Kinara berdetak sesaat kedua tangan milik suaminya melingkar di pinggangnya.
"Mas, jangan gini ah, aku lagi masak lho ini", Kinara mencoba melepaskan pelukan suaminya.
Erlangga tak menggubris perkataan Kinara, ia justru semakin mengeratkan kuncian kedua tangannya di pinggang Kinara.
Kinara menghentikan aktivitasnya sejenak, "Mas, lepas dulu ya. Aku mau masak", ulang Kinara meminta suaminya melepaskan kuncian tangannya itu.
Cup
Erlangga mengecup lembut pipi Kinara, membuat Kinara tersipu karena hal itu.
"Aku rindu sekali sama kamu, sayang", bisik Erlangga di telinga Kinara.
Kinara hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya itu.
"Sayang, maafkan soal kemarin ya", kata Erlangga lagi. Ia mulai melonggarkan pelukannya, berganti memutar tubuh Kinara agar menghadap ke arahnya.
"Sayang, aku...", belum selesai Erlangga bicara, jari telunjuk Kinara sudah menutup mulutnya.
"Jangan diingat lagi, mas. Aku percaya sama kamu", kata Kinara pendek dengan dihiasi senyum manis di bibirnya.
Erlangga segera memeluk tubuh istrinya. Ia merasakan hatinya begitu hangat. Satu tangan Erlangga mendekap erat tubuh Kinara, sedang satu tangannya lagi mengangkat lembut dagu Kinara. Erlangga mencium bibir manis Kinara dengan penuh cinta, dan Kinara pun tak menolak hal itu.
**
"Mom, today, I will go to Aachen. I will meet grandma and our family there. Aku mau kabari mereka tentang acara pernikahanku", terdengar suara nyaring Elena dari balik telepon. Bu Tatiana meng-iyakan kepergian Elena.
Elena berangkat menuju rumah neneknya dengan perasaan riang. Pernikahannya dengan Farhan tinggal menghitung hari saja. Elena lihat kembali beberapa lembar undangan yang hari ini akan ia antarkan ke Aachen.
Ddrrtt...ddrrttt...drrttt
HP Elena bergetar, dilihatnya nama Farhan ada di sana.
__ADS_1
"Hallo...", sapa Elena.
"Hi, where are you, El?", tanya Farhan. Seharian ini dia tak melihat Elena di kampus.
"I driving to Aachen, Han. Aku mau menemui nenekku di sana untuk mengabarkan pernikahan kita", jawab Elena riang. Matanya fokus menatap jalanan.
"Kamu pergi sendiri ke Aachen?", tanya Farhan lagi.
"Ya, I going alone. Sorry, aku tidak mengabarimu", Elena tahu Farhan mengkhawatirkan kepergiannya.
"Ok, take care. Please call me when you have arrive there", kata Farhan mengakhiri teleponnya. Elena meng-iya-kan.
Perasaan Elena saat ini benar-benar bahagia. Dia masih tidak percaya jika sebentar lagi dia akan resmi menikah dengan Farhan Ganindra. Sosok laki-laki yang telah lama memikat hatinya.
Elena menyalakan tape yang ada di mobil, ia memutar lagu kesukaannya. Sesekali terdengar suaranya lirih mengikuti suara penyanyi lagu itu.
Sementara Farhan nampak gelisah. Entah kenapa perasaannya dari semalam terasa tak nyaman. Ada sesuatu yang mengusik hatinya, tapi entah apa.
Diliriknya HP di meja, ia kembali mencari-cari nama seseorang, Erik.
"Ya, kenapa, Han?", tanya Erik yang tengah sibuk berkutat dengan beberapa berkas di meja kerjanya.
"Lo lagi sibuk ya? gue mau tanya kondisi ibu sama perusahaan, gimana? Ok?", tanya Farhan.
"All is fine, Han, gue lagi diserbu sama berkas-berkas penting nih. Bukde Asri lagi sibuk nyiapin perbekalan buat nikahan lo, dan perusahaan juga aman terkendali kok. Besok gue sama papa mau menindak lanjuti kerja sama dengan Wijaya Group. Kita mau ke Surabaya lagi. Tumben lo nanya-nanya kabar Bukde Asri sama kantor ke gue", jawah Erik enteng.
Terdengar suara Farhan menghela nafas dalam, "Gue...gue lagi gak enak hati aja, Rik. Dari semalam perasaan gue gak nyaman. Gue khawatir ada apa-apa sama ibu atau kantor atau sama lo di sana. Makanya gue tanya", terang Farhan.
"Di sini semuanya ok, Han. Sindrom calon manten kali tuh", goda Erik disertai tawa cekikikan yang membuat Farhan sebal.
"Apaan sih lo, Rik. Kek pernah aja ngerasain jadi calon manten", sindir Farhan tak mau kalah.
Di balik telepon, Erik memanyunkan bibirnya, kesal.
"Ya kali aja gitu Han. Gue emang belum pengalaman, tapi yang gue dengar dari orang-orang, emang kalau calon manten tuh suka gimana gitu perasaannya menjelang hari H. Lo nervous bro, keep calm aja ya. Seperti yang gue sering bilang, lo fokus di sana, fokus sama nikahan lo, urusan Bukde Asri, kantor dan perintilannya di sini, gue yang handle, ok?", Erik berusaha meyakinkan Farhan, meski ia tak paham betul dengan kondisi perasaan Farhan saat ini.
"Ok, thank's ya bro. Mungkin yang lo bilang ada benarnya juga, Rik. Gue nervous", jawab Farhan jujur.
__ADS_1
Selepas itu, Erik dan Farhan berbincang mengenai perkembangan perusahaan. Meskipun Farhan sibuk dengan studinya di Jerman dan ada Erik juga ayahnya yang mengambil alih pengelolaan perusahaan untuk sementara, tapi Farhan tetap tak lupa dengan tanggungjawabnya sebagai pemilik perusahaan itu. Dia memberikan banyak masukan dan pertimbangan kepada Erik terkait berbagai kerja sama Ganindra Group dengan perusahaan-perusahaan lainnya.
Sementara itu Elena masih dalam perjalanan menuju Aachen. Cuaca yang mulanya cerah, tiba-tiba berubah mendung. Langit mulai gelap dan tetes-tetes air hujan mulai membasahi kaca jendela mobil.
Elena memelankan laju kendaraannya. Ia amati kondisi langit dari balik kaca mobil, memang nampaknya akan segera turun hujan deras.
Ddrrtt...ddrrtt...ddrrtt
HP Elena bergetar lagi, kali ini nama ayahnya yang ada di layar. Elena segera memasang handsfree di telinganya.
"Have arrive, honey?", terdengar suara James Morris dari ujung telepon.
"No, dad. I still on road", jawab Elena sambil terus fokus mengendarai mobilnya.
"Oh, ok. Take care, honey", pesan sang ayah.
"Ok, bye", jawab Elena pendek.
Ia kembali fokus menyetir, dan tak lama, hujan pun turun dengan sangat deras. Elena semakin berhati-hati membawa kendaraannya.
Derasnya hujan membuat kaca jendela mobil tak terlalu jelas menampakkan kondisi jalanan, meskipun windscreen wiper terus bergerak, tapi tak cukup membantu karena hujan yang sangat deras disertai sambaran petir.
Elena mencoba mencari-cari tempat yang nyaman untuk ia menepikan mobilnya. Elena tak mau ambil resiko, dia memilih untuk berhenti sejenak, menunggu hujan reda.
Tak jauh dari posisi mobilnya melaju, Elena melihat sebuah restoran cepat saji. Ia bermaksud akan berhenti di sana. Elena menyalakan lampu sen kanan, memberikan kode kepada pengendara lain bahwa ia akan berbelok.
Perlahan-lahan mobil Elena menuju ke arah jalan berlawanan, dengan hati-hati sekali dia melajukan kendaraannya.
Brak...
Terdengar suara tabrakan yang keras di tengah guyuran hujan. Sebuah mobil truk menambrak mobil yang dikendarai Elena. Mobil Elena terdorong beberapa meter dari jalan, dan berhenti saat mobil itu menabrak bagian depan bangunan restoran cepat saji.
Semua orang yang ada di dalam restoran itu terkejut, bahkan ada yang berteriak histeris.
Kasir restoran yang melihat kejadian itu segera menghubungi polisi dan rumah sakit terdekat. Orang-orang yang terkejut sebagian menyelamatkan diri dari mobil Elena yang menabrak restoran dengan tiba-tiba, sebagian lainnya melihat dan berusaha menolong pengemudi mobil itu.
Suasana menjadi kacau dan suram. Hanya hujan deras yang menjadi saksi bagaimana Elena tak sadarkan diri di dalam mobilnya.
__ADS_1