Unknown Love

Unknown Love
Masa Lalu


__ADS_3

Ddrrtt...drrtt...drrtt


HP Erlangga bergetar. Ada nomor tanpa nama yang muncul di layar. Sudah beberapa hari ini nomor itu menghubunginya, tapi tak pernah Erlangga gubris karena ia memang tak suka dengan nomor asing seperti itu.


Malam ini, sudah enam kali nomor itu mengontaknya. Akhirnya dengan sangat terpaksa Erlangga menerima panggilan yang ketujuh, ia berharap setelah itu nomor asing tersebut tak mengganggunya lagi.


"Heh, siapa ini? tak tahu sopan santun setiap hari menelepon, siapa kamu hah?!", Erlangga langsung berteriak kesal saat menerima telepon itu untuk yang pertama kalinya.


"Kamu, sudah lupakah denganku?", terdengar lirih suara seorang perempuan di ujung sana.


Deg....


Tetiba saja jantung Erlangga berdetak kencang, suara yang didengarnya itu seolah tak asing lagi baginya.


"Sayang, apakah kamu benar-benar sudah lupa denganku?", perempuan itu mengulang lagi pertanyaannya.


Erlangga tersadar dari ketertegunannya.


"Kamu...Vi...Viona", suara Erlangga terdengar ragu dan sedikit terbata-bata.


Perempuan itu tersenyum dari balik HP miliknya.


"Iya sayang, ini aku, Viona. Aku kira kamu sudah benar-benar melupakanku. Teleponku selama ini tak pernah kamu jawab", terdengar suara perempuan bernama Viona itu agak bergetar. Ia rupanya menahan rasa haru karena bahagia akhirnya Erlangga mau menerima teleponnya meski kasar sekali Erlangga membuka percakapan mereka.


"Mau apa kau menghubungiku? tidakkah kau punya rasa malu masih saja mencoba mengejarku? ingat, kita sudah selesai!", Erlangga memberikan penekanan pada kalimat terakhirnya.


"Aku tahu kamu sulit untuk memaafkanku, sayang. Tapi please, kasih aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Bisakah kita bertemu?", tanya Viona dengan merendahkan suaranya.


Erlangga menyunggingkan senyum sinisnya di balik telepon.

__ADS_1


"Semuanya sudah jelas, untuk apa lagi kita bertemu? percuma", jawab Erlangga ketus.


Viona menelan salivanya kuat-kuat. Ia tahu hampir mustahil Erlangga mau diajak bertemu setelah kejadian empat tahun lalu.


FLASHBACK


Plak...


Erlangga menampar pipi Viona, ia benar-benar marah dengan apa yang sudah Viona lakukan.


"Apa maksudmu ada di sana bersama lelaki itu hah?", tangan kanan Erlangga meremas dagu Viona yang terlihat ketakutan dengan kemarahan Erlangga.


"A...aku, aku tak melakukan apapun di sana, sungguh", Viona berusaha menjawab meski terbata-bata.


Erlangga memicingkan matanya, menatap sinis ke arah Viona.


"Bohong!!! katakan padaku, sudah berapa lama kamu berhubungan dengannya? katakan!!!", suara Erlangga meninggi. Tangannya melepaskan kasar dagu Viona.


Viona memeluk kaki Erlangga sambil berusaha menahan tangisnya.


"Percayalah, apa yang kamu lihat tadi, itu tidak sama dengan apa yang kamu pikirkan", Viona terisak di kaki Erlangga.


Erlangga mendorong kasar tubuh Viona. Ia tak ingin perempuan itu menyentuh tubuhnya lagi.


"Cih, aku tak sudi memaafkan istri sepertimu. Kamu kira selama aku tak tahu kamu sering pergi dengannya, menghabiskan waktu berdua sampai kau tidur dengannya tadi. Dimana harga dirimu, hah?", bentak Erlangga.


Viona menangis sesegukan, ia hanya bisa diam, menahan rasa sesak dan sakit. Erlangga, suaminya, tak memberikan kesempatan untuk menjelaskan keadaan sebenarnya.


"Sekarang pergi dari hadapanku. Aku tak ingin melihatmu lagi, pergi dan aku ceraikan kamu!!!", pernyataan itu seolah menjadi petir yang tiba-tiba menyambar telinga Viona.

__ADS_1


Viona masih tak percaya dengan apa yang didengarnya itu. Ia diceraikan begitu saja tanpa diberi kesempatan untuk menjelaskan semua kesalah pahaman ini.


"Mas, aku mohon, aku....", belum selesai Viona bicara, Erlangga sudah menyeret tubuhnya keluar dari rumah tinggal mereka. Viona memohon-mohon agar tidak diusir dari rumah. Tapi kemarahan Erlangga sudah tak bisa dibendung lagi.


"Mas, tolong maafkan aku, mas. Tolong buka pintunya, berikan aku kesempatan untuk menceritakan semuanya", ratap Viona dari balik pintu. Tapi ratapan itu tak membuat hati Erlangga luluh. Ia sudah menutup rapat pintu hati dan pintu rumahnya bagi perempuan bernama Viona Adiwinata.


Viona merasa usahanya gagal. Akhirnya dengan langkah gontai, dia meninggalkan rumah itu dengan membawa sejuta luka di hatinya, dan sebuah harapan hidup yang sedang tumbuh di rahimnya.


**


Viona masih terdiam di balik teleponnya. Bayangan masa lalu saat Erlangga marah dan mengusirnya kembali berkelebat.


Ada sesak dan perih di dadanya. Tapi Viona tak pernah sekalipun melupakan apalagi membenci Erlangga. Meskipun Erlangga sudah bertindak gegabah dimasa lalu bahkan sudah menceraikannya begitu saja.


Air mata Viona menetes, ia berusaha bertahan hidup untuk buah hati yang dilahirkannya. Sekarang pun dia berusaha menelepon Erlangga agar putri kecilnya mendapatkan haknya kembali, mendapatkan ayahnya dan kasih sayangnya.


Viona sudah tak peduli dengan dirinya. Dia sudah pasrah Erlangga akan menganggapnya perempuan seperti apa. Satu hal yang dia tahu, apa yang sudah terjadi dulu adalah sebuah kesalah pahaman besar.


"Sayang, kamu boleh membenciku bahkan jijik melihatku. Tapi aku mohon, sekali ini saja kita bertemu. Ada hal penting yang sudah sejak lama ingin aku sampaikan padamu. Setelah kita bertemu, aku janji, aku akan benar-benar enyah dari hidupmu. Aku tak kan mencoba menghubungimu ataupun muncul di hadapanmu lagi, selamanya, aku janji", Viona masih berusaha membujuk Erlangga.


Terdengar suara Erlangga menghembuskan nafasnya berat.


"Ok, aku mau menemuimu tapi ini bukan berarti aku memaafkan wanita sepertimu. Aku hanya tak ingin hidupku dibayang-bayangi lagi oleh orang seperti dan berhentilah memanggilku sayang, karena aku tak sudi mendengarnya dari mulutmu!!!", pedas sekali kata-kata Erlangga.


Viona hanya tersenyum mendengar jawaban suaminya itu. Perjuangan dia beberapa hari ini akhirnya membuahkan hasil.


Viona menyebutkan jam dan tempat pertemuan mereka. Tak lama, telepon pun ditutup Erlangga begitu saja.


Viona mendekati tempat tidurnya. Di sana nampak seorang gadis kecil yang cantik tengah tertidur lelap sambil memeluk boneka beruang kesayangannya.

__ADS_1


"Nak, besok kita akan bertemu papa. Do'a kita selama ini akhirnya terjawab. Kamu akan melihat papamu untuk pertama kalinya", gumam Viona sambil mengusap lembut rambut putri kesayangannya. Ia hapus genangan air mata yang sudah menggelayut di kedua kelopak matanya dan dia pun memilih terlelap di sisi putri kecil cantik itu.


__ADS_2