
"Selamat pagi, sayang", Farhan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Kinara yang tengah sibuk membuat menu sarapan pagi mereka.
"Selamat pagi, mas", jawab Kinara pendek. Mata dan tangannya fokus pada pisau dan sayuran yang sedang dia potong.
Cup
Farhan mencium pipi istrinya. Kinara sedikit terkejut dengan tindakan tiba-tiba Farhan kepadanya.
"Apa yang kamu masak pagi ini?", Farhan menjatuhkan dagunya di bahu Kinara.
"Aku sedang membuat soto ayam, mas. Mas jangan seperti ini, aku geli", Kinara sedikit menggerakkan bahunya.
Farhan tersenyum, "Aku ingin tetap begini bahkan jika bisa, aku ingin lebih dari ini", jawabnya santai.
"Maksud, mas?".
Farhan tak menjawab, dia justru memutar tubuh istrinya. Kedua tangannya masih mengunci pinggang ramping itu. Kinara terperanjat, pisau yang tengah dipegangnya terlepas.
"Mas...".
"Tatap aku, sayang", pinta Farhan lembut.
Jantung Kinara sudah berdegup kencang. Meski malu, dia memilih mengikuti keinginan suaminya itu. Kini matanya tengah beradu tatap dengan mata elang milik Farhan.
"Mas...", belum selesai Kinara bicara, tanpa izin Farhan sudah menautkan bibirnya pada bibir Kinara.
Farhan menciumnya dengan lembut dan dalam. Kinara tak menolak perlakuan suaminya. Meski dia masih merasa gugup setiap kali mereka sedekat ini, tapi Kinara menikmati semua perlakuan Farhan padanya.
Tangan Farhan dengan lembut mengusap punggung Kinara. Memberikan sentuhan kasih sayang kepada wanita yang begitu dicintainya. Kinara pun tak segan melingkarkan tangannya di leher Farhan.
"Bisakah masakanmu ditunda sebentar?", bisik Farhan lembut setelah dia melepaskan pautan bibirnya.
Kinara hanya mengangguk dan mematikan kompor yang sedang menyala.
Farhan tersenyum, kedua tangannya dengan cekatan mengangkat tubuh Kinara.
"Ya ampun, mas", Kinara memekik kecil. Kali ini dia benar-benar terkejut. Kedua tangannya spontan melingkar lagi di leher Farhan. Farhan tersenyum.
Farhan membawa Kinara ke dalam kamar mereka. Dia merebahkan tubuh istrinya di kasur.
Debaran jantung Kinara semakin cepat saat Farhan mengunci tubuhnya. Mata mereka kembali saling beradu tatap.
"Kamu cantik sekali, sayang", ucap Farhan memecah kesunyian. Tatapan matanya begitu lembut dan menyiratkan sesuatu yang tak biasa.
Kinara tersenyum, "Tentu aku cantik, mas. Aku ini perempuan, tidak ada perempuan yang tampan", jawabnya bercanda. Dia ingin mengurangi sedikit kegugupannya.
Farhan tertawa kecil memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
"Kamu tahu, sayang. Semakin aku melihatmu, semakin sulit rasanya menahan diriku sendiri", Farhan menautkan kembali bibirnya.
__ADS_1
Ciuman mereka kali ini lebih dalam dan menuntut. Kinara merasa hampir kehabisan nafas karena ciuman itu. Terlebih Farhan mengunci tubuhnya, membuatnya agak sulit bergerak.
Di atas tempat tidur, tangan Farhan bermain dengan lincah. Dia mulai berani menjelajahi bagian-bagian sensitif tubuh Kinara. Sesekali tubuh Kinara menggelinjang menerima perlakuan itu.
"Sayang, aku benar-benar menginginkanmu", bisik Farhan lembut di telinga Kinara.
Tubuh Kinara meremang. Dia paham maksud suaminya itu.
"Maaf jika aku tak bisa lagi menahannya. Aku benar-benar menginginkanmu", bisik Farhan lagi.
Kinara belum menjawabnya tapi Farhan sudah menjelajahi leher jenjang Kinara. Memberikan ciuman penuh gairah di sana.
"Aaahhh...mas", desah Kinara saat dia merasakan hisapan bibir Farhan yang berkolaborasi dengan tangan suaminya yang meremas dadanya.
Farhan tersenyum mendengar desahan istrinya. Dia senang dengan respon itu.
"Bisakah kita melakukannya sekarang?", tanya Farhan meminta persetujuan. Dia tak ingin memaksakan keinginannya meskipun hasrat itu sudah semakin sulit dia tahan.
"Maaf, mas. Bisakah kita menundanya untuk nanti malam? pagi ini aku harus ke kampus. Ini hari pertamaku kuliah setelah cuti panjang kemarin", jawab Kinara ragu. Wajahnya yang merona karena tindakan Farhan sebelumnya membuat ekspresi Kinara begitu menggemaskan.
Farhan menarik nafas dalam dan melepaskan kuncian tubuhnya dari Kinara.
"Hmm...baiklah. Maaf, sudah membuatmu seperti ini di pagi hari", jawab Farhan kecewa.
Kinara segera mendudukkan dirinya. Dia menatap suaminya yang duduk di sampingnya.
"Sekali lagi aku minta maaf, mas. Aku janji, nanti malam aku tidak akan mengecewakanmu seperti ini. Aku bisa saja tidak masuk kuliah hari ini tapi aku akan melewatkan banyak hal. Aku ingin segera menyelesaikan studiku di sini, mas", Kinara mencoba memberikan pengertian.
"Mas...", Kinara masih menunggu respon suaminya.
Farhan tersenyum, "Tak apa, sayang. Kamu tidak perlu minta maaf. Justru aku yang salah memintanya sepagi ini", Farhan memeluk istrinya.
Ada rasa hangat yang menjalar di tubuh dan hati Kinara.
"Apa mas tidak marah padaku?".
Farhan mengecup lembut kepala Kinara, "Tidak, aku sama sekali tidak marah. Jangan pikirkan lagi, tapi penuhi saja janjimu nanti malam, ya".
Kinara mengangguk cepat. Kali ini dia benar-benar akan mempersiapkan dirinya.
"Ayo, selesaikan masakanmu dan kita sarapan bersama", ajak Farhan mencairkan suasana.
Keduanya bergegas keluar dari kamar. Farhan memilih bersantai di ruang tamu sambil menghubungi Erik untuk menanyakan kondisi kantornya di Indonesia, sedangkan Kinara kembali sibuk menyelesaikan pekerjaannya di dapur.
"Hallo, Han".
"Hallo, Rik, sorry, gue ganggu ya?".
"Enggak, Han. Kenapa?".
__ADS_1
"Gue mau tanya kabar kantor, Rik".
"Oh, kantor aman, Han. Semua urusan pekerjaan dan proyek perusahaan berjalan sesuai rencana".
"Bagus kalau begitu. Gue titip kantor ya, Rik. Kabari gue kalau ada apa-apa".
"Siap, boss. Oh ya Han, ada beberapa berkas yang gue kirim lewat email. Cek segera ya".
"Ok, thank's, Rik", telepon itupun berakhir.
Farhan kini sibuk memeriksa email dari Erik. Matanya nampak serius mengamati satu demi satu isi email itu.
"Mas, ayo kita sarapan. Aku sudah selesai memasak", Kinara datang menghampiri suaminya.
Farhan tersenyum dan segera menutup emailnya, "Ok, sayang".
Sepasang suami istri itu kini sudah duduk bersama di kursi meja makan. Nampak semangkuk soto ayam yang masih terlihat mengepulkan asap.
"Hmm...aromanya enak sekali", puji Farhan.
"Mas makan yang banyak ya", Kinara mengambilkan mangkuk yang diisi nasi lalu menyiramkan kuah soto ke dalamnya.
Farhan menikmati hidangan sarapan paginya dengan lahap bahkan dia menambah nasi dan kuah sotonya.
"Masakanmu benar-benar enak, aku suka", lagi, Farhan memuji.
"Terimakasih, mas".
"Oh ya, jam berapa kamu ke kampus?".
"Sekitar jam 09.00, mas".
"Aku akan mengantarmu, ya".
"Iya, mas".
"Oh ya mas, ibu apa kabar? aku belum menghubungi ibu semenjak sampai di sini", lanjut Kinara yang teringat pada ibu mertuanya.
"Nanti kita telepon ibu setelah kamu selesai kuliah, ya".
"Iya, mas".
"Jika kuliahmu sudah selesai, hubungi aku, aku akan menjemputmu".
"Tidak perlu, mas. Mas mengantarku saja, pulangnya biar aku sendiri saja, mas. Aku tidak ingin merepotkan mas seperti itu", tolak Kinara halus.
"Aku tidak merasa direpotkan. Aku cuti dan ada di sini untuk bisa bersamamu. Jangan membantah, hubungi aku jika kuliahmu sudah selesai".
"Baiklah, mas".
__ADS_1
Sarapan pagi itupun terasa manis dengan perbincangan sederhana mereka.