Unknown Love

Unknown Love
Tertunda


__ADS_3

Selepas makan malam dan menggosok gigi, Kinara segera masuk ke kamarnya bersama dengan Erlangga.


"Hoooaammm....aku mengantuk sekali. Hari ini cukup melelahkan juga ya mas", Kinara menutup mulutnya yang mulai menguap.


Erlangga tersenyum, dilihatnya Kinara yang sudah bersiap untuk tidur.


Erlangga mematikan lampu utama, hanya dua lampu tidur di samping kasur saja yang dibiarkan menyala.


Erlangga segera menyusul Kinara yang sudah terlihat merebahkan diri di kasur.


"Sayang, apa kamu sudah sangat mengantuk?", tanya Erlangga lembut sambil memasukan tubuhnya ke dalam selimut yang sama.


"Iya mas, aku lelah sekali", jawabnya pendek dengan masih memunggungi Erlangga.


Erlangga menempelkan tubuhnya ke punggung Kinara.


"Sayang, ini malam pertama kita. Tidak bisakah kita menghabiskannya bersama?", bisik Erlangga di telinga Kinara, membuat Kinara merasa geli dan terpaksa membalikkan badannya.


"Mas, geli, jangan berbisik begitu", ujar Kinara.


Erlangga tersenyum melihat sikap istrinya, menurutnya itu menggoda sekali. Ia menarik tubuh Kinara hingga akhirnya menempel di dada bidangnya.


"Mas...", pekik Kinara kecil.


Tangan Erlangga mulai berani menjamah tubuh Kinara. Kinara merasa tak nyaman dengan tindakan suaminya, tapi dia tak bisa melawan gerakan tangan Erlangga yang terlalu kuat dan sigap mengunci tubuhnya.


"Aku ingin kita menikmatinya malam ini", bisik Erlangga membuat Kinara semakin merasa serba salah.


"Jangan lakukan malam ini mas, aku mohon", pinta Kinara lirih.


Dorongan dalam diri Erlangga semakin kuat, Erlangga sudah tak bisa lagi menahan hasratnya sebagai laki-laki.


Erlangga melonggarkan kunciannya pada Kinara. Disaat yang sama, Kinara memanfaatkan situasi. Ia segera mendorong tubuh suaminya agar menjauh darinya.


Erlangga tersentak sejenak, dia semakin berhasrat kepada Kinara. Tindakan Kinara yang tiba-tiba itu seperti sebuah tantangan baginya.


"Mas, maaf, bukan aku tak ingin melayanimu malam ini, tapi aku sedang haid, mas", suara Kinara hampir setengah berteriak.

__ADS_1


Erlangga yang sudah siap menerkam Kinara akhirnya berhenti. Ada raut kekecewaan di wajahnya. Ia membuang muka ke lantai, dan memilih duduk di pinggir tempat tidur, membelakangi istrinya.


Kinara menghela nafas lega. Dia tak menyangka jika Erlangga menginginkannya secepat ini.


"Mas, apa kamu marah?", Kinara menghampiri Erlangga yang masih duduk membelakanginya.


"Mas, kamu marah ya sama aku?", Kinara mengulang lagi pertanyaannya.


Erlangga menoleh dengan wajah yang kusut. Kinara menunggu jawaban dari suaminya.


"Mas...aku....", belum selesai Kinara bicara, Erlangga sudah memotong kalimatnya.


Erlangga menatap dalam wajah Kinara, "Kenapa sih kamu harus haid sekarang?", kalimat pertama Erlangga dengan wajah yang masih mengguratkan kekecewaan.


Kinara berjalan menghampiri Erlangga, ia duduk di samping suaminya itu. Kinara memegang tangan suaminya.


"Kamu kusut karena itu, mas?", tanya Kinara memastikan maksud Erlangga.


Erlangga mengangguk perlahan. Kinara tersenyum menahan tawa.


Akhirnya tawa Kinara meledak, "Ha...ha...ha...ya ampun mas, aku minta maaf ya. Habisnya kamu lucu sih, kenapa harus pasang muka kusut begitu hanya karena aku haid?".


Erlangga menghembuskan kasar nafasnya, "Sayang, kamu gak tahu atau pura-pura gak tahu sih. Aku sudah begitu berhasrat kepadamu, aku sudah siap menerkammu malam ini, tapi ah...kenapa kamu haid? tertahan sudah hasratku itu", wajah Erlangga masih nampak kecewa.


Kinara menatap dalam wajah suaminya, "Maaf ya mas. Haid itu kan siklus alami setiap perempuan, aku tak bisa mengaturnya semauku", kata Kinara mencoba menjelaskan keadaannya pada Erlangga.


"Berapa lama kamu haid?", tanya Erlangga penasaran.


"Yaaa sekitar satu minggu lagi baru selesai", jawab Kinara enteng.


"Apa? itu lama sekali. Tidak bisakah dipercepat untuk segera selesai?", Erlangga memasang wajah memelas, membuat Kinara kembali menahan tawanya.


"Mas, kan sudah aku bilang, ini siklus alami. Maaf ya", Kinara masih mencoba memahamkan suaminya.


Akhirnya Erlangga hanya bisa pasrah menerima kondisi istrinya yang belum bisa ia sentuh sampai satu minggu ke depan.


Erlangga memindahkan tubuhnya, ia kini bersandar di kepala tempat tidur.

__ADS_1


"Sayang, kemarilah", Erlangga membuka kedua tangannya, meminta Kinara untuk merebahkan diri di dadanya.


Kinara tersenyum, dia segera menghampiri Erlangga. Meskipun dia masih merasa aneh dan kikuk, tapi dia tak ingin semakin mengecewakan suaminya malam ini. Kinara pun merebahkan kepalanya di sana, Erlangga mendekapnya dengan erat. Ada rasa hangat di sana.


"Oh ya sayang, apa kamu tidak penasaran dengan pengirim paket-paket misterius yang dulu sering kau dapatkan itu?", tanya Erlangga, tangannya mengelus lembut rambut Kinara. Sesekali dia mencium pucuk kepala istrinya.


Kinara mengernyitkan dahi, "Kok mas tahu kalau dulu aku sering dapat paket tanpa nama?", Kinara bertanya sambil mengangkat sedikit kepalanya, ia kini menatap Erlangga.


Erlangga tersenyum, "Ya tentu saja aku tahu, karena aku lah si pengirim semua paket tanpa nama itu", katanya sambil memencet lembut hidung Kinara.


Kinara terkejut mendengar jawaban Erlangga.


"Jadi, selamanya ini yang mengirimkan hadiah liontin, hiasan meja, parfume, dan buket white rose itu, kamu mas?", Kinara masih tak percaya dengan pengakuan suaminya.


Erlangga menganggukkan kepalanya. Ia merasa geli melihat wajah istrinya yang nampak seterkejut itu.


"Tapi...kenapa mas lakukan itu semua?", tanya Kinara lagi.


"Ya itu karena aku mencintaimu, sayang", jawab Erlangga enteng sambil memberi kecupan manis di kening Kinara.


Kinara tersenyum, "Aku sempat takut lho mas dapat hadiah-hadiah itu", ungkap Kinara jujur.


"Tapi semua pemberianku, kamu pakai kan?", tanya Erlangga sambil menunjuk liontin berpermata hijau yang masih tergantung indah di kalung milik Kinara.


Kinara mengangguk, "Sayang mas kalau gak dipakai, bagus semua dan aku suka".


Erlangga mencium lagi kening istrinya, "Dulu aku tak tahu harus melakukan apa untuk bisa mendekatimu. Makanya aku coba mengirimkan paket-paket itu untuk melihat apakah kamu menyukainya atau tidak? dan aku senang saat pertama kali melihatmu mengenakan hadiah pertama dariku, liontin itu. Aku pun tak menyangka jika kamu akan menjadi mahasiswi yang skripsinya aku bimbing. Kesempatanku semakin besar untuk bisa mengenalmu dan dekat denganmu", Erlangga meluahkan isi hatinya.


Kinara refleks membalas kejujuran suaminya itu dengan memberikan ciuman manis di pipis suaminya. Tindakan itu membuat Erlangga terkejut. Ternyata Kinara yang sedari tadi nampak kaku, kini mulai bisa menikmati kebersamaan mereka.


"Terimakasih ya sayang", kalimat sayang pertama yang keluar dari bibir Kinara. Erlangga tersenyum mendengarnya.


"Meskipun kita menikah karena dijodohkan, tapi aku janji mas, aku akan belajar untuk mencintaimu dengan segenap hatiku, dan berjanjilah kamu pun akan mencintaiku dengan tulus", lanjut Kinara sambil menunjukkan jari kelingkingnya meminta Erlangga untuk memenuhi janji itu.


Erangga segera menyambut kelingking istrinya, "Aku janji, tak usah kau minta pun aku akan selalu mencintaimu". Kinara merasa damai mendengar jawaban suaminya.


Malam semakin larut, Erlangga dan Kinara memilih untuk beristirahat. Kinara melabuhkan kepalanya di dada Erlangga, dan Erlangga memeluknya dengan erat, berjalan bersama ke alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2