
"Maafkan aku, aku memang seperti ini." Ucap Dareen dengan nada santai, "Ouh benar Kirana, ini Fanley menantu kesayanganku."
Mama Aksa, Fanley menatap Kirana sedikit kaget namun kemudian ia berpura-pura tak mengenal Kirana, "Tak biasanya Ayahku baik dengan seseorang, kau wanita yang menarik."
Kirana mengangguk, mereka kemudian menoleh ketika mendengar suara Piano.
Di sana Altezza dan Izumi sedang bermain bersama, duduk bersebelahan seperti sepasang kekasih.
"Izumi seorang Pianis, mereka sangat cocok tapi sayangnya tak bisa bersama." Ucap Fanley.
"Apa hanya karena dia Anak-" Kirana ingin mengatakan Anak diluar nikah namun tetap saja terasa tak sopan membicarakan orang lain.
"Kami tak pernah mempermasalahkan Altezza akan bersama siapa namun dengan Izumi yang merupakan saudara kandungnya tentu saja akan sangat bermasalah."
Kirana kaget, dia benar-benar tak menyangka alasan kenapa Altezza tak bisa bersama Izumi itu karena hal ini.
"Ayah aku akan pergi saja." Ucap Fanley dengan tatapan terarah pada seorang pria yang tertawa bersama pasangannya.
Dareen mengangguk mengerti, "Baiklah, kau pulang duluan saja."
Kirana menatap Altezza sejenak lalu menatap Fanley ragu, "Nyonya Fanley apa kau keberatan memberiku tumpangan?."
"Tentu saja tidak."
Kirana pergi bersama Fanley dan tanpa ia sadari Altezza melihatnya.
....
Kirana pulang setelah mendengar semua tentang Izumi dan Altezza, bagaimana hubungan mereka, Cinta mereka dan bagaimana Altezza berjuang mendapatkan Izumi.
Namun kemudian satu hal menghancurkan semuanya, Izumi adik kandung Altezza sendiri dari ibu yang berbeda.
Hal itu juga yang menyebabkan Fanley dan Ayah Altezza bercerai.
Diruang tamu ia mendapati Altezza yang duduk dengan mata terpejam seperti sebelumnya.
"Kau bertemu Mama ku?." Tanya Altezza menatap Kirana tajam.
"Em, aku juga sudah mengetahui semuanya."
"Tentang aku dan Izumi?." Tanya Altezza menahan amarah.
Kirana mengangguk.
"KENAPA KAU LAKUKAN ITU?."
Kirana tersentak kaget dengan teriakan Al, "Apa maksudmu?."
"Kenapa kau ingin tau tentang aku dan Izumi?." Altezza mendekati Kirana, "Apa kau berpikir bahwa kau adalah istriku jadi kau berhak untuk tau?."
"Tidak, Kirana. Kau hanya istri di atas kertas, didalam hatiku hanya ada Izumi." Tambah Altezza lagi.
"Aku tau, tapi apa aku tidak bo-"
"Tentu saja tidak boleh. Aku tidak perlu kau tau tentang diriku, aku tidak perlu untuk kau peduli padaku. Bahkan kau tidak perlu untuk berbicara denganku." Altezza terdiam sejenak dan memegang wajah Kirana, "Kau hanya pengganti sosok Izumi."
__ADS_1
"Aku tau." Kirana mundur beberapa langkah dari Altezza dengan mata berair, "Malam pernikahan bukankah kau mengatakannya?."
"Jika kau mengerti maka kau tidak perlu berlaku seenaknya lagi. Aku hanya perlu kau untuk berdiri di hadapanku seperti Izumi, tidak perlu berbicara, tidak perlu bertingkah. Muncul saja dihadapan ku dan berdiri diam."
"Bukankah kau hanya perlu membeli boneka kalau kau ingin sosok seperti Izumi? Tidak perlu menikahi ku, tidak perlu repot-repot denganku." balas Kirana.
"KIRANA."
"APA?." Kirana balas berteriak, ia lalu berusaha tenang dan menatap Altezza dengan senyum paksa, "Tuan Altezza yang terhormat aku akan melakukannya. Aku akan jadi sosok Izumi yang sempurna sampai kau tak mengira itu Kirana."
Butiran air mata membasahi pipinya, Kirana mengelap nya dengan kasar dan berbalik pergi.
"KIRANA KAU MAU KEMANA?."
"Aku akan kembali besok." Balas Kirana tanpa menoleh sedikitpun.
Ia masuk kedalam mobilnya dengan air mata yang masih saja menetes, "Ah kenapa aku harus menangis?."
"Aku bahkan tidak menyukainya sedikitpun, jadi kenapa aku harus menangis."
"Altezza benar-benar kejam."
"Dia sangat jahat."
"Aku hanya ingin membantunya melepaskan obsesinya, apa aku salah? Kenapa aku harus dimarahi?." Ucap Kirana lagi.
"Arkhhh.." Kirana memukul stir mobilnya dengan kuat hingga tangannya sakit, ia yang tadinya sudah selesai menangis kini kembali menangis, "Tanganku sakit."
_&_&_
Suara langkah kaki terdengar, Altezza menoleh dan segera berdiri melihat wanita didepannya.
"Izumi, kenapa kau disini?."
"Maaf aku-" Kirana terbatuk, ia belum bisa menyesuaikan suaranya. Tapi dengan Altezza mengira bahwa dia Izumi, bukankah rencananya berhasil?.
"Kirana?."
Kirana tersenyum kecil dan duduk didepan Altezza.
"A-" Altezza sedikit bingung, ia ingin berbicara dengan Kirana tapi berhenti ketika mengingat apa yang dikatakannya kemarin.
Kirana menatap makanan nya didepan, ia ingin makan tapi- tidak perlu bertingkah. Hanya diam saja.
"Kau tidak makan?." Tanya Altezza.
Kirana menggeleng pelan dengan senyum kecil tanpa bersuara sedikitpun.
Sampai Altezza selesai makan, Kirana hanya tetap duduk diam.
"Aku pergi dulu."
Melihat Altezza yang sudah tidak berada di garis pandangnya, senyum Kirana luntur, "Ah begitu melelahkan."
Kirana mulai makan, ia sedikit mengantuk karena belajar Make Up tadi malam.
__ADS_1
Ya, setelah pertengkaran tadi malam Kirana pergi mencari seseorang yang bisa mengajarinya Make Up agar lebih mirip dengan Izumi.
Deringan telfon terdengar, Kirana tersenyum lebar melihat nama yang tertera.
"Aku tidak tau bagaimana harus berterimakasih lagi, sungguh."
"Kau sudah banyak membantuku sebelumnya, tidak perlu sungkan. Ouh benar, dia akan ke kotamu bulan depan. Aku harap kau segera bersiap."
"Guru, aku sudah punya suami. Aku tak yakin dia akan se-"
"Dia akan. Aku sangat mengenalnya. Kirana berhati-hatilah." potong suara diseberang sana.
"Baiklah."
Kirana menutup telfonnya, ia sedikit gugup dengan yang dikatakan gurunya itu.
Saat terdiam ia menatap pesan yang masuk, "Ah apa mereka membuat masalah lagi?."
Kirana menuju ke sekolah, ia sudah mengajukan cuti namun tampaknya anak-anak didiknya sama sekali tak bisa membebaskan nya.
Ia melangkah cepat ke kelasnya, namun tidak ada siapapun.
Melihat ada seorang siswa yang lewat, Kirana segera menghentikannya, "Dimana anak-anak?."
"Bu Kirana hari ini ada rapat dadakan, semua siswa sudah dipulangkan."
Kirana mengernyitkan dahinya, ia kemudian mendapat sebuah pesan lagi.
Datang ke gudang.
"Kirana." panggil seseorang.
"Ravindra? Kau disini?."
Ravindra mengangguk, "Aku ingin bertemu kepala sekolah, tapi ternyata mereka sedang rapat. Bagaimana denganmu? Kau tidak rapat?."
Kirana menggelengkan kepalanya, "Harusnya aku cuti, tapi anak-anak memanggilku."
"Anak-anak?." Ravindra melihat kedalam kelas yang tak ada siapapun.
"Mereka menyuruhku ke gudang. Aku akan pergi dulu."
"Bagaimana jika aku ikut?." Tawar Ravindra dan disetujui oleh Kirana.
Mereka berjalan menuju Gudang yang terletak dibawah, jalan ke sana tampak begitu gelap dan sedikit menyeramkan.
"Kirana apa benar mereka menyuruhmu kesini?." Tanya Ravindra tak percaya karena gudang nya sangat-sangat gelap.
"Benar, aku mendapat pesannya." Kirana menghidupkan senter dan mengarah kedalam.
Tiba-tiba...
Dor dor dor
Terdengar suara balon pecah, cahaya dan teriakan mulai memenuhi seluruh ruangan.
__ADS_1
"HAPPY BIRTHDAY BU KIRANA.'