
"Hati-hati ya sayang. Kabari aku setibanya kamu di rumah. Kamu pulang ke rumah mama, ya. Nanti aku telepon Ajeng buat jemput kamu", rentetan pesan Erlangga mengiringi kepergian Kinara ke Bandung. Setelah dia memeluk dan mencium kening Kinara, Kinara pun naik ke dalam gerbong, melambaikan tangan dari balik jendela.
Hari ini dia pulang, Erlangga mengantarkannya ke stasiun Surabaya Kota. Jam 19.00 WIB, kereta yang Kinara naiki pergi meninggalkan Surabaya menuju Bandung.
Erlangga sudah menawarkan Kinara untuk pulang naik pesawat agar lebih cepat, tapi dia menolak. Kinara lebih senang naik kereta, ada banyak hal sepanjang perjalanan yang bisa dia nikmati.
'Hatiku berat melepaskan kepergianmu, sayang', batin Erlangga. Ada rasa sesak di dadanya. Dua minggu terakhir ini, kehadiran Kinara benar-benar mewarnai hidupnya. Jika bukan karena tugas dari sang ayah, sudah dari awal Erlangga tak ingin hidup terpisah dengan istri yang dicintainya itu.
"Hallo, Jeng. Besok pagi jemput kakak iparmu di stasiun ya. Dia sudah berangkat, baru saja. Kemungkinan sampai Bandung sekitar jam delapan pagi. Awas jangan telat, kakak gak mau sampai Kinara menunggu lama", Erlangga mendikte adiknya di ujung telepon.
"Iya iya. Kakak nih bawel dan galak ya, dasar otoriter", jawab Ajeng sebal. Ia segera mematikan telepon kakaknya, tak ingin mendengar ocehan yang lebih banyak dari sang kakak.
"Dasar, adik anarkis", sungut Erlangga sambil tersenyum sendiri.
Sepanjang perjalanan, Kinara memilih untuk tidur, memastikan dirinya besok turun dengan badan yang segar.
**
"Ma, Ajeng berangkat dulu ya jemput Kak Kinara", teriak Ajeng yang sudah bersiap di motornya.
"Iya. Lho, Jeng, masa kakakmu dijemput pakai motor sih. Ganti nih pakai mobil, kasihan kalau kakakmu kelelahan di motor", seru Bu Tria saat melihat Ajeng yang sudah siap tancap gas.
Ajeng menghela nafas berat. Dilepasnya helm, dan dia ambil kunci mobil yang diberikan Bu Tria.
"Ajeng berangkat ya ma...".
"Ya hati-hati. Jangan ngebut", pesan Bu Tria.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.45 WIB, Ajeng sudah stand by di depan pintu keluar utama stasiun.
Me:
Kak, aku udah stand by di parkiran pintu utama ya.
Ajeng mengirimkan pesan singkat kepada Kinara.
Kak Kinara:
Ok. Tunggu ya, bentar lagi keretanya berhenti nih.
Ajeng tersenyum membaca jawaban dari kakak iparnya itu.
Ajeng memilih duduk di dalam mobil sambil memutar lagu kesukaannya. Sesekali dia ikut bernyanyi.
Tok...tok...tok
Seseorang mengetuk kaca jendela mobil. Ajeng terperanjat, rupanya Kinara sudah ada di sana dengan seulas senyum. Ajeng segera membuka kunci pintu mobilnya.
"Sorry, lama ya nunggunya?", tanya Kinara begitu dia duduk di samping Ajeng.
"Enggak kok kak. Wiiihh...apaan tuh banyak banget? pasti oleh-oleh buat aku ya?", mata Ajeng berbinar melihat beberapa papper bag yang dibawa oleh Kinara.
Kinara hanya menjawabnya dengan senyum. Ajeng segera menyalakan mesin mobil dan melajukannya menuju rumah.
"Kakak rese nan ngeselin itu apa kabarnya kak di sana?", tanya Ajeng menanyakan kabar Erlangga.
"Kakakmu baik, dia sibuk banget, Jeng", jawab Kinara.
Ajeng mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ya dia emang gitu sih, sok sibuk. Oh ya jalan-jalan kemana aja kak di Surabaya?".
__ADS_1
Kinara nyengir dan nampak berpikir sebentar, "Gak kemana-mana, cuma makan ke resto, main ke mall sama mampir ke pantai".
"Hah? cuma gitu doang. Waduh, Kak Angga keterlaluan banget sih. Udah tahu pisah rumah, sekalinya istri datang gak diajak jalan-jalan, iiihhh ngeselin emang dia tuh", Ajeng ngomel-ngomel sendiri mendengar jawaban Kinara.
Kinara tertawa kecil melihat ekspresi Ajeng.
"Ya kan kakakmu sibuk banget, Jeng. Lagi pula aku juga lebih suka diam di apartemen kok".
Ajeng melirik ke arah Kinara. Dia tak percaya ada orang seperti Kinara yang lebih betah menghabiskan waktu libur panjangnya hanya dengan berdiam diri saja.
"Ck, kakak nih terlalu baik. Harusnya ya, kakak tuh protes dong sama Kak Angga. Kakak kan istrinya, berhak lah sekali-sekali merengek minta jalan-jalan", ucap Ajeng lagi memprovokasi, masih kesal rupanya.
"Yeeee...itu sih kamu", Kinara mencubit lembut lengan Ajeng, membuat Ajeng mengaduh dan akhirnya tertawa.
Tak terasa kini mereka sudah sampai di rumah. Bu Tria sudah menyiapkan menu spesial untuk menyambut kedatangan menantu kesayangannya itu.
"Assalamualaikum, ma...", Kinara mengucap salam dan mencium tangan ibu mertuanya.
"Waalaikumusalam, nak...sehat sayang?", tanya Bu Tria setelah ia melepas rindu dengan memeluk menantunya.
Kinara mengangguk senang.
"Ayo kamu makan dulu ya. Mama udah masakin makanan yang enak buat kamu", ajak Bu Tria.
"Mmm...Nara mau mandi dulu aja ya ma, bau dan lengket rasanya. Perjalanan jauh, di kereta Nara tidur terus", ucap Kinara dengan cengiran manis.
Bu Tria menganggukkan kepalanya.
"Oh iya ma, ini ada sedikit oleh-oleh dari Surabaya buat mama dan Ajeng", Kinara memberikan empat papper bag yang dibawanya.
"Padahal gak usah repot-repot begini, nak. Terimakasih ya, mama terima. Kalau kamu mau mandi dan istirahat, kamu bisa pakai kamar Erlangga, di sana", tunjuk Bu Tria ke arah kamar yang ada di dekat tangga.
Kinara mengangguk dan segera menuju kamar milik suaminya di rumah itu.
"Biarpun rese dan ngeselin, Kak Erlangga itu orangnya rapi dan perfect. Terkakhir dia di sini sampai sekarang isi kamarnya masih sama. Cuma aku dan mama aja yang sesekali menyapu dan membereskan hal yang perlu", tiba-tiba Ajeng menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
"Hebat ya kakakmu", jawab Kinara pendek.
Ajeng melenggang masuk ke dalam kamar dan dia membuka sebuah laci yang ada di nakas samping tempat tidur.
"Coba lihat ini", Ajeng memberikan sebuah album foto kecil yang diambilnya dari dalam laci itu.
Kinara menerimanya, lalu duduk di samping tempat tidur, membuka satu demi satu isi album tersebut.
Matanya membelalak, ia terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Yap, Kak Erlangga menyimpan foto kakak sedari kakak kecil, waktu dulu kita sering main bareng itu lho. Tapi semenjak Kak Erlangga kuliah keluar negeri, dia udah gak isi lagi album foto ini. Nah setelah dia balik ke sini dan jadi dosen, mulai lagi deh dia isi albumnya", terang Ajeng polos.
"Jadi selama ini kamu tahu kalau kakakmu itu...", Kinara tak melanjutkan ucapannya. Dia melihat beberapa potret dirinya semasa kanak-kanak dan saat masih kuliah. Ada beberapa foto kebersamaan Erlangga, Ajeng dan Kinara saat mereka kecil dulu. Kinara bahkan hampir lupa jika dulu mereka bertiga begitu dekat dan menjadi teman sepermainan.
Ajeng menggelengkan kepalanya, "Aku baru tahu soal ini setelah Kak Angga nikah dan dinas di Surabaya. Sebelumnya sih mana pernah aku bisa seleluasa ini masuk ke kamarnya. Dia itu galak banget, kak. Kalau ada orang yang sembarangan masuk ke sini, wah habis pastinya", Ajeng memeragakan adegan tangan yang memotong leher.
Kinara dibuatnya tertawa.
"Seram juga ya kakakmu itu", Kinara tertawa kecil.
"Ya udah, aku mandi dulu ya Jeng. Oh ya, semoga kamu suka sama oleh-olehnya", ucap Kinara sebelum dia berlalu untuk membersihkan dirinya.
Selepas mandi, Kinara merapikan pakai-pakaiannya. Lalu dia bercermin. Tak ada meja rias di dalam kamar itu. Hanya ada sebuah cermin dan sebuah rak gantung yang agak kosong. Hanya ada beberapa frame kecil yang berhiaskan foto-foto Erlangga di rak gantung itu. Selebihnya, rak gantung lain berisi banyak buku yang tertata rapi.
Kinara menyimpan beberapa perlengkapan make up-nya di sana dan ia mengambil sebuah frame foto. Terlihat wajah Erlangga yang dihiasi senyum sumringah saat ia wisuda doktornya.
__ADS_1
Kinara tersenyum melihat foto itu.
"Aku masih tak menyangka jika kamu adalah masa depanku, mas. Aku rindu", gumamnya lirih memeluk foto suaminya.
Drrrtt...drrrtt...drrtt
Ponsel Kinara bergetar, wajahnya nampak bahagia melihat nama suaminya tertera di layar. Ia segera mengangkat panggilan video itu.
"Ya mas".
"Kamu sudah sampai, sayang?".
"Iya mas, sudah. Maaf, aku belum mengabarimu. Tadi sampai di rumah, aku langsung mandi, beres-beres dan ini baru selesai".
"Syukurlah, mas khawatir, lama menunggu kabar darimu".
"Mas..."
"Ya?"
"Aku...aku...", Kinara menggigit bibir bawahnya, ragu.
"Apa?"
"Aku...aku rindu, mas", jawab Kinara malu-malu. Dia bisa melihat wajahnya merona di cermin.
Erlangga tersenyum senang mendengar ungkapan hati istrinya. Dia bisa melihat jelas wajah Kinara yang sudah pasti merah merona karenanya.
"Baru juga sehari gak ketemu, masa sih udah rindu lagi? biasanya juga kamu datar aja sama aku", goda Erlangga.
"Mas...iiihh...", Kinara semakin malu dibuatnya.
Terdengar tawa kecil Erlangga di ujung video.
"Terlebih aku, sayang. Sedetik setelah keretamu berlalu, aku merasa tersiksa. Biasanya setiap pagi aku bangun, kamu ada di sampingku. Menyiapkan baju kerja dan sarapanku. Saat pulang kamu juga ada menyambutku. Aku tersiksa karena kamu tak ada", jawab Erlangga sendu.
"Maafin aku ya mas...", Kinara merasa bersalah.
"Tak apa sayang. Semoga secepatnya aku bisa kembali ke sana, kita tinggal bersama lagi, ya".
"Iya mas. Jaga diri baik-baik ya di sana. Awas lho, mas gak boleh nakal apalagi genit-genit", rajuk Kinara memasang wajah cemberut.
Lagi, Erlangga tertawa mendengar ultimatum istrinya.
"Mmmhh...masih gak percaya nih sama aku? aku kan sudah punya kamu. Kalau aku mau nakal dan genit ya pasti ke kamu, sayang. Buang-buang energi godain perempuan lain".
Godaan Erlangga semakin meronakan wajah Kinara.
Tok...tok...tok
"Nak, ayo kita makan", terdengar suara Bu Tria memanggilnya.
"Iya ma, sebentar lagi Nara keluar", jawab Kinara dari dalam.
"Mas, aku makan dulu ya. Mama udah manggil nih".
"Iya sayang. Makan yang banyak, biar sehat. Salam buat mama sama Ajeng".
"Ok mas, mmmuuaaacchh", entah punya keberanian dari mana, Kinara mengerucutkan bibir merah mudanya. Bergaya seperti akan mencium suaminya.
"Kamu menggemaskan, sayang. Kalau saja kamu ada di depanku, sudah ku terkam habis, gak peduli kamu siap atau tidak", Erlangga masih menggoda istrinya.
__ADS_1
"Iiihh...mas, udah ya aku makan dulu".
"Iya sayang, mmmuuaaacchh", Erlangga membalas ciuman virtual istrinya.